
Wajahku tersentak ke samping saat tamparan keras dari Mamah telah mendarat di pipiku. Dia meluruskan telunjuk, menunjuk wajahku. "Kesalahan kamu yang pertama, karena udah bikin saya malu, hari ini."
Dia menampar pipiku yang lain. Wajahku tersentak ke samping sementara kepalaku merunduk. "Ini untuk, kamu yang udah lalai jagain Jasi."
Mamah kian menangkap kedua rahangku menggunakan satu tangan. Dia mengeratkan cengkeramannya dan mendekatkan wajahku pada pandangannya. "Sekarang, jawab! Kenapa Jasi sampai punya luka kayak gitu?!" Nadanya merendah senada dengan giginya yang terkatup erat.
"Mamah, ini salah Jasi-"
"DIEM!" Mamah menyentak Jasi untuk berhenti. Gadis itu terdiam dan merunduk.
"Beberapa hari lalu, kejadiaannya Jasi hampir diculik. Dia berhasil nyelametin dirinya sendiri dengan lompat dari mobil penculik, dan-"
"Apa?! Ulangi sekali lagi!" Mamah terbeliak bersamaan dengan itu, wajahnya semakin merah padam. Aku menjawab sesuai yang Mamah inginkan, "Jasi diculik, Mah."
Brak, PRANK
Aku dihempaskan hingga tubuhku terpental mengenai meja berbahan dasar kaca. Meja itu pecah sementara diriku meringis menahan sakit. Aku hendak bangkit, tetapi sikuku yang menumpu tak kuat untuk mengangkat tubuhku bangkit. Aku kembali jatuh.
Mamah kemudian menarik tanganku dan membuat pandangan kami saling menumbuk. Dia menangkap kepalaku menggunakan kedua tangannya. Dengan cengkeraman erat di rambut punggung kepalaku, dia mendekatkan wajah kami hingga beradu tatapan.
"Kamu akan tau selanjutnya. Ini cuma sebagian kecil dari apa yang mau saya kasih sebagai ganjaran buat kamu." Tatapan iblis Mamah kian nampak. Aku tidak memberontak atau menangis, yang kulakukan hanya mengikuti alur kesengsaraan yang digariskan Mamah.
Dia menggeretku ke kolam renang atas. Bukan tanganku, tapi rambutku yang digeret. Menaiki tangga dan menyusuri lorong. Kami telah sampai pada tujuan Mamah.
Kolam renang.
Kolam renang berair biru benhur dengan kedalaman yang hampir memenuhi seluruh tubuhku saat aku tenggelam di dalamnya.
Mamah menatapku di sampingnya. Tangannya yang menampakkan urat tanda seluruh tenaganya dikerahkan, masih menjambak rambutku. Sunggingan miring berpadu rona merah memenuhi wajah kian menambah kesan kejam baginya.
"Kamu- saya benci kamu." Mamah mengungkapkan dengan nada menggeram. Aku tersenyum tipis dan menatap Mamah dari samping, "aku tau, Mah." Mamah semakin kuat menarik rambutku. "Kamu mungkin ditakdirkan bernyawa, tapi tidak untuk hidup."
Aku menghela napas dan menatap lurus. "Aku ditakdirkan bernyawa, dan ditakdirkan hidup. Kehidupan adalah apa yang kita jalani selama bernyawa."
"Tapi, kehidupan adalah bahagia."
Aku menatap Mamah. Menyungging dan melunturkan segala persepsinya mengenai diriku dan apa yang kupunya tentang duniaku, "ya, hidup adalah bahagia. Aku juga punya itu."
Mamah melotot. Napasnya semakin kencang senada dengan emosinya yang semakin meningkat. Dia mendekatkan wajahku dalam pandangannya. Dengan menggeram, dia berkata, "sekarang kamu gak bahagia, dan sampai kapan pun saya gak akan buat kamu hidup bahagia."
__ADS_1
Aku balas memandangnya dari kedekatan. Semakin kukurangi jarak antara wajah kami, dan membuat pandangan kami saling menumbuk. "Mamah bukan Tuhan. Dan apa yang Mamah lakuin, cuma sebatas cobaan hidup aku yang dikirim Tuhan melalui Mamah. Semua yang hidup, akan ditakdirkan mengalami masa sulit dan bahagia. Aku juga akan ngalamin, dan, Mamah juga."
Byuur
Aku terjun ke kolam renang. Di sana, aku kesulitan merasakan hawa yang nyaman. Cuaca sedang dingin dan berendam di udara terbuka bukanlah suatu hal yang tepat. Tapi aku tahu, itu adalah hukuman yang mau diberikan Mamah, jadi untuk apa aku menunggu. Oleh Mamah atau dari diriku sendiri, hukuman yang kuterima tak akan bisa berkurang.
Mamah tak senang. Dari sana aku melihat wajah Mamah semakin tak enak dipandang. Dia terkepal sementara rona merah semakin kentara di seluruh wajahnya. Dia memanggil, "penjagaaa!"
Dan penjaga lingkungan rumah yang bertugas mengawasi lantai atas rumah kami langsung datang. "Iya, Bu."
Mamah menunjukku. Dengan tatapan kemenangan, dia menuturkan segala perintah untuk dikerjakan oleh penjaga, "ikat tangan dan kakinya! Jangan lupa, bawakan lakban dan tutup mulutnya."
"Ba-baik, Bu. Saya segera kembali." Penjaga hendak pergi, namun kembali terhenti, "tunggu!"
Dia berbalik dan merunduk menghadap Mamah.
"Setelah itu, tutup semua akses menuju ke sini. Jangan biarkan siapa pun sampai di sini. Tutup pintu dan biarkan dia menjalani masa hukuman sampai besok pagi."
Penjaga itu menatapku iba. "Ta-tapi-"
Mamah membuat kata-katanya terhenti dengan mengisyarat menggunakan telapak tangannya yang dijereng di depan wajah pak Penjaga.
***
Jasi berjalan mengendap saat larut malam lah tiba. Penerangan sudah dimatikan sebagian. Semua sudah tidur dan gadis itu menyusuri lorong menuju kamarku. Saat dia sampai, dia langsung membuka pintu kamar dengan memutar kenop. Menyapu pandangan dan tidak menemukan orang yang dia cari.
Itu, aku.
"Di mana kakak?" Dia masuk ke dalam. Mencariku di kamar mandi yang terletak di dinding lain dari kamarku. Tidak dia temukan.
Kemudian dia keluar dan berlari menuju kamar Mamah dan Papah. Dia sampai dan langsung membuka pintu tanpa mengetuk atau meminta izin untuk masuk.
Di sana, Mamah dan Papah masih tertidur lelap. Lampunya dipatikan dan mereka tidur saling memunggungi satu sama lain. Dinding pemisah berupa guling tertata rapih di antara keduanya. Semua terjadi seperti biasa.
Jasi berpikir sejenak. Apa pantas dia membangunkan Papah di jam begini? Tidak apa, menurutnya. Mereka bisa tidur lagi nanti, tapi bagaimana Jasi sendiri bisa tidur dengan pikiran yang masih melayang memikirkanku.
Dia mendekati Papah. Dengan mengendap-endap dia mengguncangkan tubuh Papah, coba membangunkan. "Pah," lirihnya. Papah hanya merespon dengan sedikit pergerakkan. Jasi kembali beraksi dengan menoel-noel bahu Papah dan kali ini, usahanya membuahkan hasil sesuai kemaunnya.
Jasi meluruskan telunjuk di depan bibirnya. Papah mengerti. Dia bicara dengan nada berbisik, "kamu ngapain di sini?" Jasi mengisyarat agar Papah ikut keluar bersamanya.
__ADS_1
Papah menuruti. Dengan pergerakan tanpa suara, dia keluar sambil menutup pintu dengan hati-hati. Sampai di luar, Papah mensejajarkan wajah pada wajah puteri kecilnya dengan berjongkok. "Kamu kenapa, malam-malam gini belum tidur?"
Jasi berkata dengan lirih, "Tadi pagi, Kakak dihukum lagi. Mamah nyeret dia ke atas terus sampai sekarang, dia gak ada di kamar."
Papah berdiri. Dia berpikir keras dan menemukan sesuatu yang melintasi pikirannya.
Di atas, selain ruangan kamar, cuma ada gudang dan halaman atas. Papah segera menuju gudang. Dia memperlekas langkah dan ketika sampai di gudang dia langsung membuka pintu.
Tak ditemukan siapa pun.
Papah menutup pintu cepat-cepat, dan mengajak Jasi keluar halaman atas. Ketika mereka sampai, pintu tak bisa dibuka. Sengaja dikunci dan kuncinya tidak ditemukan menggantung di pintu, seperti yang biasa.
Pikirannya langsung kacau. Dia semakin yakin bahwa aku diberi hukuman mengenaskan di luar sana. Maka, Papah langsung menghampiri Mamah. Dia menyentak tubuh Mamah untuk bangun. Dia membentak dan memaksa dengan keras agar Mamah lekas mencabut hukumannya yang semakin melampaui batas itu.
Mamah tetap diam. Dengan angkuh, dia bersedekap dan tidak mengucapkan apa pun. Semua itu semakin membuat Papah murka. Dia mencengkeram kedua lengan Mamah dan mengatakan akan memenjarakannya jika dia tak mau menuruti perintah Papah.
Mamah kalut. Selama ini, ucapan Papah yang disertai raut panas, selalu bisa dipegang. Dan jika dia berkata dengan marah, itu artinya apa yang dia katakan pasti akan dilakukan.
Papah memberi kesempatan dalam bentuk hitungan. Dia meminta Mamah agar memberitahu di mana kuncinya. Mamah merunduk sambil memejamkan mata, tak kuasa membendung rasa takut dalam hatinya.
Papah sampai pada hitungan terakhir. Mamah mengatakan, kuncinya dia pegang. Papah meminta dan Mamah memberikan kunci yang dia taruh di saku piyamanya. Papah lekas mengambil kunci itu. Dia bergegas ke halaman luar dan membuka pintu.
Sementara itu, Jasi memandang Mamah sambil menggeleng tak habis pikir. Mamah semakin malu dan merunduk atas perlakuan Jasi. Semua berawal dan berakhir padanya. Dia yang menghukum dan dia yang mendapat penindasan secara mental atas perlakuan kedua orang yang dia sayangi.
Jasi kecewa, tak kalah juga Papah. Mamah mengecewakan mereka hari ini, dan entah kapan kekecewaan mereka akan terbayar oleh perlakuan Mamah yang berubah menjadi lebih baik. Tidak ada kekerasan secara fisik dan tidak juga ucapan. Karena sejauh ini, segala yang Mamah perbuat baik secara fisik atau ucapan, selalu berakhir buruk bagiku.
Luka di sekujur tubuhku, selalu atas nama Mamah. Dan sampai hari ini, luka itu selalu sirna tanpa menyisakkan bekas kebencian dalam hatiku. Aku selalu memaafkan, tapi entah kapan, hari baginya meminta maaf kepadaku akan tiba. Yang dia lakukan hanya memberi luka dan menoreh yang lain sebelum luka itu mengering.
Karena padaku, ucapannya adalah luka, sentuhannya adalah luka, tatapannya adalah luka dan setiap hembus napasnya adalah luka. Seluruh dari dirinya adalah luka mendalam yang kuterima.
Namun luka itu adalah yang menghidupkan semangat hidupku hingga kini.
Ujian adalah proses hidup pertama yang selalu berhasil menyemangatiku. Aku hidup berkat semangat itu, dan hingga kini aku selalu memiliki pegangan, bahwa, "kelak akan ada bahagia," setelah datangnya sengsara.
Aku berpegang teguh, dan semua itu berhasil mengukuhkan imanku untuk tidak kufur dan keluar dari apa yang sudah digariskan dalam takdirku.
Adalah aku, yang berteduh di bawah naungan derita dan berdiri di atas impian bahagia.
^^^Azzahra, 19 Maret 2010~^^^
__ADS_1
***