Dunia Untuk Zahra

Dunia Untuk Zahra
Tingkatkan Pendapatan atau Luka


__ADS_3

Anggita menopang dagu saat dirinya duduk manis di meja makan bundar berukuran minim di dapurnya. Galuh dan Ratih juga berada di sana.


Sepiring tumis kangkung berada di atas meja.


On first time, Anggita memasak atas tata cara yang diajarkan Bunda. Ya, walau masih selevel tumis kangkung, tetapi itu berarti besar bagi Anggita. Hingga untuk lebih meyakinkan diri atas masakan yang dibuatnya, dia tak lupa melibatkan Galuh sebagai pemilik lidah pertama yang akan mencicipi rasa dari tumis kangkung itu.


Galuh tersenyum manis. Apa pun rasanya, harga yang diberikan pasti akan sangat mahal. Demi Anggita tidak ada seuntir kalimat buruk pun yang akan dituturkan Galuh. Segalanya akan dia lakukan demi melihat senyum bahagia sang puteri, tidak terkecuali berkata bohong.


"Ayo, dicoba, Ayah!" Anggita antusias saat mengatakannya, membuat Galuh kian menarik piring untuk mendekat dan meraih sendok yang tersedia.


Anggita sangat antusias, dia tidak pernah menyentuh masakannya sama sekali sebelum sang Ayah yang mencicipi dan memberi nilai untuk masakan pertamanya. Dia menunggu, sementara Galuh kian terdiam sejenak untuk membandingkan tumis itu dengan yang biasa dibuat Ratih.


Jelas saja, banyak yang beda. Banyak yang kurang dan bagi Galuh tetap tidak ada yang kurang pada masakan itu. Lidahnya tertutup untuk merasakan rasa tidak enak pada segala yang dibuat Anggita. Dia tersenyum lebar dan saat matanya berbinar cerah Anggita langsung tahu maksudnya. Gadis itu langsung berdiri dan mendekati sang Ayah untuk melangsungkan pelukan hangat.


"Ayah setuju, dong, kalau gak ada guru masak terbaik dari Bunda?" Anggita bertanya saat pelukannya semakin dieratkan. Sementara itu, Galuh tersenyum lebar dan menjawab, "jawab-enggak?"


Anggita melepaskan pelukan. Dia berdiri tegap sambil memegang tangan Ayahnya. "Jawab!" Galuh tertawa kecil. Sempat untuk menoleh Ratih saat isterinya itu justru mengalihkan wajah, Galuh kian kembali menatap Anggita. Rautnya sedikit berubah usai mendapatkan respon buruk dari Ratih, sebelum akhirnya dia kembali tersenyum saat menjawab puterinya, "Bunda kamu itu terbaik dalam segala hal. Ayah gak perlu nunggu pertanyaan kamu untuk bilang kalau Bunda kamu adalah yang terbaik dalam bidang masak."


Ratih tersinggung. Dia menatap Anggita saat Galuh menolehnya. Mencari alasan untuk keluar dari perbincangan yang sudah melantur itu, dia memilih alasan, "Bunda- oh iya, ada lipetan baju yang belum beres. Bunda ke kamar dulu, ya!"


Anggita mengangguki dengan sunggingan lebar. Galuh menjatuhkan wajah. Sedangkan Ratih kian sudah beranjak meninggalkan suasana hangat yang terjadi di meja makan itu.


"Bunda itu pemalu, ya, Ayah? Kalo kita ngomongin dia, dia suka nyari alasan buat nyembunyiin wajah." Anggita bertanya sambil terkikik pelan. Galuh tersenyum terpaksa, dia tahu yang sebenarnya dan itu adalah hal lain dari yang dipikirkan Anggita.


"Bunda kamu itu pemalu, makanya dia manis banget."


***


Aku usai membereskan segalanya. Dari ujung tangga aku melihat Jasi dan Tina beranjak turun dengan bahagia. Pagi ini adalah awal baru, Tina akan menjadi murid dengan kelas tertinggi di sekolah SMA-nya, sementara Jasi akan menghuni kelas yang juga baru baginya di Sekolah Dasar.


Di meja makan sudah tersedia berbagai macam sarapan. Yang tidak memakan nasi akan memakan roti oles selai yang sudah kusiapkan rapih di atas meja itu.

__ADS_1


Aku berjalan membawa nampan berisi gelas kosong yang akan diisikan air minum atau susu. Dan dari ujung sana aku melihat Mamah dan Papah berjalan bersisian. Mereka semua hendak menuju meja makan. Semua sudah berpakaian rapih hendak memulai aktivitas di luar rumah.


Mamah merapihkan posisi dasi yang dipakai Papah. Sedangkan Papah terlihat risih akan apa yang dilakukan Mamah. Ah, itu sudah biasa terjadi. Mamah dan Papah adalah orang tua yang sering membuat jenaka dari pertengkaran mereka. Tapi tidak sering, karena kerapkali pertengkaran itu justru mengakibatkan perpecahan antara mereka. Saling berdiam diri selama tujuh hari tujuh malam dan berpisah ranjang selama hari yang disebutkan.


Mamah dan Papah adalah sepasang suami-isteri yang jarang bersikap romantis. Setiapkali, yang mereka tunjukkan hanya sikap saling ribut dan tidak mau berkata manis satu sama lain. Itu membuat Tina dan Jasi muak, dan aku harus berulang kali menjelaskan kepada mereka, bahwa pertengkaran dalam rumah tangga itu bukan hal yang jarang terjadi. Itu biasa, dan orang tua kami itu sangat sibuk, pasti mereka lelah dan keributan akan terpancing saat lelah mereka telah melanda.


Balik lagi pada suasana pagi ini...


Semua sudah duduk rapih di meja makan panjang itu. Papah duduk di kursi kepala meja makan, Mamah di sisi Papah dan kedua Saudariku berada di kursi yang lain.


Aku menuangkan air di masing-masing gelas yang sudah kusediakan. Jasi tersenyum saat aku menghampirinya. "Aku mau susu, Kak!" Dia memintanya maka aku mengambilkan teko berisi susu, lantas kutuangkan sesuai yang dia minta.


Aku sudah usai melaksanakan tugas rutinku sebelum makan. Aku beranjak duduk, tetapi terhenti. "Sudah saya bilang, makanan saya bukan seperti ini. Saya diet dan harus mengurangi makan makanan yang berlemak." Mamah menyentak saat tangannya mendorong piring berisi makanan yang tidak sesuai maunya. Aku kembali beranjak. Mulai melakukan yang Mamah mau dan mengganti lauk makan dari sarapan Mamah.


Saat di dapur, aku melihat jam dinding. Astaga, ini sudah terlalu terlambat. Aku lebih bergegas.


Semua selesai dan aku kembali ke meja makan.


"Sini, Kak! Kita makan. Kakak belum makan, kan?" Jasi melambaikan tangan menyuruhku datang. Aku tersenyum manis dan mendekati meja. Kami sarapan bersama di meja makan itu. Seringkali aku melihat Jasi, dia seperti memendam rasa iba padaku. Namun saat itu terjadi, aku langsung mengalihkan perhatiannya dengan menanyakan sesuatu, "kamu gak gugup, kan? Hari ini kamu bakal jadi murid dari guru yang baru." Mendengar ucapanku, dia tersenyum, menggeleng antusias dan berkata, "enggak dong, Kak."


Baiklah, aku usai menyantap sarapan. Supir datang untuk mengajak Jasi berangkat ke sekolah. Dia menyalami tanganku dan melambaikan tangan perpisahan. Setelah aku melihatnya berlalu, cepat-cepat aku mendatangi kamarku dan mengambil tas. Aku lantas memperlekas langkah keluar rumah untuk pergi ke sekolah.


Ini adalah rutinitasku. Aku bangun di awal pagi dan menyelesaikan segala pekerjaan pelayan rumah tangga. Semua harus rampung setelah seluruh anggota rumah bangun. Dan saat itu terjadi aku juga harus sudah beres menyiapkan sarapan. Benar-benar singkat waktu yang kupunya untuk menyelesaikan segalanya, karena aku juga tidak boleh meninggalkan sekolahku.


Aku berada di sekolah dengan tingkatan terendah di daerahku. Sekolah dengan biaya pendaftaran yang sangat minim dan mendapat fasilitas jauh lebih kurang dari yang didapat Tina di sekolah elitenya.


Di sekolahku, aku hanya belajar dan mencari ilmu pendidikan tanpa ada kelas belajar tambahan seperti yang didapat orang lain dari sekolah elitenya. Itu sebabnya, waktuku di sekolah hanya sebentar dan setelahnya aku akan kembali pulang untuk mengerjakan segala pekerjaan rumah.


Dan saat aku sampai rumah, maka di sana aku akan disambut oleh adik kecilku yang juga baru sampai dari sekolah. Selisih waktu kami sepulang sekolah hanya sedikit. Jasi terlebih dulu dan aku datang beberapa menit setelahnya.


Aku akan menjaga Jasi selama orang tua kami sedang bekerja di kantor milik Papah. Selama itu aku akan menyambi pekerjaan kecil yang tidak membutuhkan keseriusan dan fokus lebih yang akan membagi konsentrasiku bagi Jasi. Fokusku hanya untuk menjaga Jasi. Itu kata Mamah.

__ADS_1


***


Ayah Anggita, Galuh adalah karyawan sebuah perusahaan induk yang berdiri sejak lama di daerahnya. Dengan bekerja sebagai Supervisor di perusahaan tersebut, Galuh telah dianggap berhasil mencukupi kebutuhan keluarga kecilnya dengan pundi-pundi rupiah yang dia dapat.


Telah lama Galuh mencari penghasilan cukup di perusahaan itu, kini atasannya memberi jabatan lebih tinggi baginya. Jabatan sebagai Menejer.


Jauh, jika seorang karyawan berpangkat Supervisor tiba-tiba dinaik pangkatkan menjadi seorang Menejer. Namun, kegigihan dan sikap tekun seorang Galuh telah berhasil mencuri hati atasannya untuk mengangkatnya menjadi Menejer.


Selama ini, banyak orang yang mengamati perilaku Galuh mengatakan, bahwa Galuh tak hanya tekun dalam bekerja. Sikap rendah hati dan penolongnya juga sering membuat siapa saja tak enggan menyerahkan hati untuk mendukung setiap langkahnya. Hingga jabatan sebagai Menejer yang diberikan kepadanya, tak sama sekali menciptakan kontra. Justru semua setuju, semua senang dan berbahagia untuk teman baiknya itu.


Namun ada yang mengganjal di balik rejeki ini. Jabatan baru yang lebih tinggi dengan jumlah gajih yang jauh lebih banyak akan sangat menguntungkan, tetapi sedikit masalah yang dia terima adalah, "Bandung. Itu tempat kelahiran Anggita, tempat kelahiran puteri pembawa sialan itu, dan kota penuh kenangan manis yang berujung pahit bagi kami." Dengan itu, Galuh seringkali berpikir lama. Tercenung di suatu sudut tempat dan mempertimbangkan perintah Bosnya.


Haruskah membuka lembaran baru kehidupan dengan membuka luka lama, atau tetap menutup luka itu dengan menolak rejeki besar ini?


Ratih membuka hordeng pintu dapur. Di nampan yang dia bawa, sudah tersedia secangkir kopi hangat dengan sepiring biskuit di sisinya. Dia meletakkan nampan itu di meja. Sofa sudah diisi dengan Galuh yang sedang duduk tercenung sembari menopang dagu dan memutar otak.


"Terima aja rejeki ini. Allah gak ngasih rejeki kepada hamba-Nya dengan tujuan untuk mendapat penolakan." Ratih langsung bicara pada intinya saat dia mengambil posisi duduk di sofa jauh dari tempat Galuh duduk. Tangannya meraih kaus kaki yang diletakkan asal oleh suaminya, dimasukkan ke sepatu dan diangkat bersamaan dengan tubuhnya yang beranjak naik.


Galuh terdongak. "Aku gak mau nyakitin kamu dengan dateng lagi ke kota itu."


Ratih menjatuhkan sepatu tak kasar. Dia berbalik dan menatap suaminya dengan sedikit sunggingan. "Saya tersakiti setiap hari. Hidup di atas bayang-bayang kesengsaraan puteri saya, adalah pisau yang udah nyakitin saya setiap hari."


Galuh menjatuhkan wajah sambil menggigit bibir dalam. Dia mengerutkan wajah karena berkecambuk mendengar perkataan Ratih.


Ratih melunakkan nada, "Andai kamu tau."


Perkataannya demikian sangat singkat, namun duri yang terkandung dalam perkataan itu teramat banyak. Hingga berhasil menusuk relung hati Galuh terdalam.


Ratih pergi setelah sepercik air mata yang mengalir di pipinya diseka kasar. Galuh menatap hampa pada hordeng ruangan kamar yang menghilangkan punggung Ratih. Dia bicara dengan nada lunak, "andai kamu juga tau, aku gak bisa kehilangan kamu apa pun yang terjadi. Pilihannya saat itu cuma satu, ngorbanin hak anak itu."


***

__ADS_1


__ADS_2