
Hari ini diadakan meeting mendadak. Kara dan yang lainnya telah berada di ruangan, menunggu Lucas dan sekretarisnya datang.
Sebelum itu, Icha nampak sedikit mendekat ke Kara dan mulai bertanya sesuatu yang langsung dilirik oleh direktur.
"Eh, Na. Lo deket, ya sama pak CEO? Gue liat-liat beberapa hari ini kalian selalu tiba di perusahaan barengan!"
Karena mulut Icha yang lumayan ember dan suara yang tidak bisa pelan, akhirnya dia menjadi sorotan di sana.
"Ahaha, enggak. Mungkin karena emang kebetulan aja. Lagian mana mungkin pak CEO tertarik sama cewe kayak gue!"
"Huh, sadar diri juga kamu. Pak Lucas jelas nggak akan tertarik sama karyawan biasa kayak kamu!" sentak direktur membuat seisi ruangan sedikir terkejut.
Kara yang tak senang langsung menatap sengit direktur.
"Iya, tetapi direktur juga belum tentu dilirik. Pak Lucas, mah punya selera yang tinggi!" balas Kara sembari menatap ke arah lain, tetapi ucapan itu jelas dia tujukan pada si direktur.
"Kamu!"
"Selamat pagi semuanya!"
Lucas masuk dengan sekretarisnya. Kara juga semakin sebal melihat ekspresi angkuhnya.
Akhirnya meeting dadakan itu selesai juga. Setelah semuanya telah keluar dari ruangan, Kara masih berada di sana. Dia memainkan ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang.
Setelahnya dia hendak keluar, tetapi baru saja akan menuju pintu, ada suara seseorang yang berada tak jauh dari ruangan itu tengah berbicara dengan sangat terburu-buru.
Kara mencoba mendekat dan mendengar seseorang itu menyebutkan tentang alamat yang jaraknya tidak jauh dari rumahnya.
Sepulang dari kerja, Kara bergegas pergi ke alamat yang telah disebutkan tadi. Beruntung saat itu Lucas sedang keluar bersama sekretarisnya, jadi Kara tidak perlu ambil pusing.
Setibanya di sana, Kara meminta pak supir untuk berhenti tepat di sebelah sebuah pohon besar. Setelah membayar, dia kembali berjalan sembari melihat-lihat ke area sekitar.
"Hmm, sepi juga di sekitar sini!"
Belum saja dia tiba di pekarangan rumah tersebut, sebuah mobil memasuki halaman rumahnya. Kara langsung berlari dan mengintip dari balik tembok. Beruntung rumah tersebut tidak memiliki satpam, karena memang kecil.
Dia melihat direktur keluar dari mobil itu dan seorang karyawan. Setelah mereka masuk, dia juga ikut berjalan dan mengintip dari balik jendela.
Kalian bayangkan saja posisi Kara seperti seorang penguntit amatiran.
Dia melihat di ruang tamu ada tiga orang sedang duduk dengan seorang perempuan yang menatap mereka takut-takut. Samar-samar Kara bisa mendengar suara kalau kedua orang itu menyuruh perempuan tadi untuk segera pergi dari sini, secepatnya.
Kara akhirnya memilih untuk pergi saja dan akan datang nanti malam. Diperjalanan, dia melihat dua pasang anak tengah bergandengan tangan dengan ibunya. Kebetulan saat itu sedang lampu merah, jadilah mobilnya berhenti.
Kara melihat ketiganya menyebrang sembari sesekali sang ibu mencandai anak-anaknya hingga tertawa lepas. Kara saat ini benar-benar merindukan sang ibu. Sosok yang selalu menemaninya dari kecil hingga akhirnya dia datang ke sini.
Tak terasa matanya berair hingga sang supir taksi menotice hal itu.
"Mbak lagi ada masalah, ya?" tanyanya yang kemudian kembali melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Nggak, saya cuma kangen sama mama saya."
Supir taksi tersebut hanya tersenyum.
"Pasti mamanya orang yang hebat sampai-sampai bisa buat mbak nangis. Saya juga kangen sama mama saya yang ada di kampung, sayangnya saya belum ada kesempatan untuk pulang."
Kara tak pulang, karena dia meminta supir taksi untuk mengantarkannya berkeliling saja.
"Loh, kenapa emangnya mas?"
"Selalu aja ada halangan buat pulang. Uang tabungan saya selalu nggak cukup buat pulang kampung mbak!"
"Hmm, masnya mau nggak saya rekomendasiin kerja di perusahaan, tapi jadi OB?"
"Saya takut mbak kalo kerja di perusahaan gitu. Soalnya banyak kasus OB hampir nggak pernah digaji!"
Kara nampak tersenyum, memang tersirat ketakutan dan rasa ingin bekerja lebih giat di matanya.
"Perusahaan ini punya papa saya, nanti saya rekomendasiin ke masnya. Tenang aja, karyawan di sana selalu digaji tepat waktu, kok. Kalo rajin bakalan dapat bonus dan bisa cuti kerja asalkan alasannya jelas."
"Beneran mbak? Wah, makasih banyak. Iya, mbak saya mau. Itung-itung punya pengalaman kerja di perusahaan. Bukan masalah gak bersyukur sama bosen jadi supie taksi, cuma ini mobilkan bukan punya saya."
"Iya mas. Bagi nomornya, ya nanti saya kirim sms."
"Siap mbak!"
Mereka akhirnya tiba di depan sebuah restoran dengan hari yang semakin sore. Kara sudah menawarkan untuk mentraktir supir tersebut, tetapi kata supir tersebut ingin langsung pulang saja dan mengabarkan ibunya yang ada di kampung.
Posisi Kara berada di pojok restoran dekat jendela, sementara orang yang dia kenal ada tepat di sebelahnya.
Saat itu Kara mencuri-curi obrolan mereka dan sesekali dia terkejut.
"Waaw, obrolan yang menarik!" ucapnya dengan meminum teh hangat.
"Anjir, seriusan?"
Kara sudah seperti orang gila yang berbicara sendiri. Beruntung orang-orang itu tidak terlalu peduli.
"Wah, gila. Gak akan gue biarin, dasar kutu beruang!"
Malam harinya Kara mulai beraksi menggunakan sepeda kesayangannya. Setibanya di sana, dia mengintip. Rumah itu cukup tenang, padahal tadi dia desak untuk segera pergi.
Baru saja akan melangkah, Kara seperti mendengar langkah kaki dua orang.
Bergegas dia bersembunyi di balik pohon yang kebetulan tempat itu minim cahaya. Dia juga mendengar dua orang itu sedang berbicara.
"Kata bos, kita nggak boleh sampek gagal buat nangkep dia!"
"Iya. Rencana ini udah bos buat dari sehari yang lalu."
__ADS_1
"Kalo nggak salah nama orang yang mau diculik itu ... Kana, kan?" tebaknya membuat Kara langsung terkejut.
Mendengar itu Kara langsung paham. Mengapa ad karyawan yang sengaja bertelponan di dekat ruangan yang ada dirinya.
Kara sendiri sudah tersenyum. Jika dia tidak cepat sadar maka pasti dirinya akan terjebak siasat mereka.
Setelah situasi aman, Kara memilih untuk pulang saja. Dia melihat jam yang berada di tangannya sudah menuju jam satu.
Setibanya di rumah, Kara membuka pintu secara perlahan walaupun tidak ada yang mendengarnya. Begitu pintu tertutup, Kara yang hendak berjalan menuju kamar pun dikejutkan dengan suara bersin yang berasal dari ruang televisi.
Dia melangkah menuju saklar lampu, lalu mulai menekannya. Setelah ruangan itu terang, barulah dia melihat siapa yang berada di sofa depan televisi.
Kara sedikit terkejut melihat siapa yang ada di sana. Itu adalah Lucas yang entah sejak kapan berada di ruang televisi.
Dia melihat pria itu tertidur dengan pulas, wajah tenangnya cukup membuat orang lain ingin berlama-lama memandanginya.
Kara yang saat itu seperti terbuai pun menyentuh anak rambut Lucas, lalu mulai menyingkirkannya ke atas. Dia sendiri entah sejak kapan sudah jongkok di dekat sofa. Menatap lekat-lekat wajah pria yang beberapa tahun lalu masih menjadi misterius bagi Kara.
Baru juga akan menyentuh pipi Lucas, pria itu lebih dulu membuka mata dan mencekal tangan Kara membuat gadis itu tersentak.
Lucas yang melihat siapa itu langsung wajahnya berubah tersenyum. Kara spontan melepas cekalan Lucas dan langsung berdiri canggung.
"Ekhem. Kalo mau tidur itu jangan di sini."
Lucas semakin tersenyum lebar kala mendengar itu.
"Tadi saya nggak bisa tidur jadi coba buat tidur di sini!"
"Ya, yaudah. Nggak ada urusannya juga sama gue!"
Kara pun langsung melongos pergi membuat Lucas tertawa kecil melihatnya. Dia sadar kalau Kara sedang menahan malu akibat kepergok olehnya hendak menyentuh pipinya.
Keesokan paginya, Kara berangkat ke perusahaan cabang seperti biasa. Baru saja tiba, dia sudah disambut dengan amukan direktur.
"Denger. Hari ini pemilik perusahaan akan datang ke sini. Kalau misalkan beliau bertanya, apakah ada keluhan, maka kalian harus menjawab tidak. Awas aja kalo sampek kalian ngadu yang nggak-nggak!"
Sesaat sebelum pergi, direktur itu melihat Kara.
"Ini juga. Udah jam berapa ini dan kamu baru datang. Kamu kira perusahaan ini punya kamu apa?" tanyanya sembari menatap tajam ke arah Kara.
"Telat semenit doang!" balas Kara sembari membuang pandangannya ke sembarang arah.
Karyawan yang lainnya semakin spechless dengan ucapan Kara yang terkesan tak peduli.
"Apa kamu bilang, cuma semenit? Perusahaan ini bukan punya kamu, jadi kamu harus bisa tepat waktu. Saya bisa buat kamu dipecat!" ancamnya.
Di sisi lain Kara hanya tersenyum remeh.
"Lo pikir gue takut sama ancaman kuno itu? Oke, kita bakalan buktikan. Siapa yang akan ditendang keluar dari sini dan satu lagi. Gue bakalan pastiin perbuatan kotor lo sama antek-antek lo bakalan kebongkar di depan semua orang!"
__ADS_1
Bersambung...