Duplicated World

Duplicated World
23| What a pleasant surprise


__ADS_3

Sekretaris Lucas kini mulai menuduh-nuduh kalau Karalah pengkhianat itu, karena hanya dia yang terakhir kali berada di perusahaan. Apalagi dia juga yang meminta untuk lembur.


     "Pasti dia pelakunya. Dasar pengkhianat, kamu sudah mencuri data-data perusahaan dan memberikannya pada pesaing perusahaan ini."


Direktur yang sejak tadi amarahnya tertahan pun, akhirnya meledak juga.


    "Sudah saya duga. Dia ini memang dari awal tidak beres. Selalu saja membangkan peraturan di perusahaan dan mencemooh saya. Dasar, ternyata kamu manusia buruk!"


Sekretaris pun kembali melanjutkan.


     "Saya pikir, kita harus menuntut dia. Pecat dan jangan biarkan dia mendapatkan pekerjaan di manapun!" sahutnya dengan tersenyum.


Kara yang sejak tadi diam sembari mengangguk pun akhirnya angkat bicara.


    "Kenapa lo berdua yang heboh? Papa sama Lucas aja diem doang!"


Mendengar kata 'papa' semuanya menjadi semakin terdiam terutama si sekretaris dan direktur.


     "Kalian seenaknya menuduh anak saya membocorkan data-data perusahaan. Mulut kalian benar-benar kurang pendidikan sampai-sampai menghina anak saya!"


     "Kejutaan!"


Kara pun mulai menunjukan video rekaman. Ternyata itu adalah sekretaris Lucas yang di mana tengah mencari-cari data-data perusahaan.


Seketika tubuhnya membeku, dia bahkan tidak tahu harus berbuat apa.


     "Untungnya gue cepet-cepet pasang kamera tersembunyi di salah satu rak buku punya Lucas, jadi bisa terhindari dari fitnah lo!"


Kara kini kembali memutar video di mana direktur tengah bertelponan dengan seseorang dan menbahas tentang penggelapan uang.


    "Ini gue rekam waktu di atap. Gimana, pengambilan videonya keren nggak?"


     "Gue udah cocok belum jadi aktris? Akting gue keren, kan?"


Kara tersenyum mengejek pada direktur dan si sekretaris. Dia melihat betapa dekatnya Lucas dengan perempuan ular itu, membuatnya melangkah mendekati pria itu dan mulai mendorongnya menjauh.


     "Gue sama Lucas yang udah atur semua ini. Lo itu keponakan dari bu Mita atau direktur tercinta kita dan lo udah ngincer posisi sekretaris sejak lama saat bu Mita ngasih kabar kalo CEO baru belum ditentukan. Gue juga tau di mana lo kuliah dan alamat rumah lo."


     "Btw, data-data perusahaan yang lo bilang itu cuma berkas-berkas yang gak penting dan yang lo kira dia pesaing perusahaan papa gue, lo salah besar. Dia itu temen gue waktu SMA dan gue yang minta dia buat berpura-pura deketin lo sambil ceritain kalo dia pesain perusahaan papa gue!"


      "Polisi udah di luar buat nunggu kalian. Bukan kalian berdua doang, tetapi sama dua orang yang dari tadi udah ketakutan setengah mati di belakang direktur!"


Mereka spontan menengok. Itu adalah si kacamata dan gadis yang sempat ditatap tajam oleh Lucas.


    "Tentu saja gue udah nyiapin bukti-bukti yang akurat buat masukin kalian ke dalam penjara. Terlebih, lo yang buat rencananya!"


Kara kali ini menatap si sekretaris sembari tersenyum.


     "Akhirnya tugas gue kelar juga. Bisa nyantai di rumah sambil liat berita kalo kalian mendekam di penjara."


.

__ADS_1


.


.


Pagi itu, Kara sedang bersantai di balkon kamarnya. Dia menikmati teh hangat sembari sesekali tersenyum. 


Dia ingat jelas bagaimana ekspresi mereka saat ketahuan. Jadi, bagaimana bisa Kara yakin bahwa mereka ada pelakunya?


Jawabannya adalah ...


Ingat saat Kara pulang dari rumah yang di mana direktur telah melakukan rencana untuk menjebaknya. Secara tidak sengaja dia bertemu dengan saksi aslinya.


Waktu itu sebelum pulang, dia menyempatkan diri untuk mampir ke salah satu restoran yang buka selama dua puluh empat jam.


Dia memesan makanan dan menunggu dengan sabar. Hingga akhirnya dia mendengar dua orang gadis yang duduk tak jauh darinya berbicara mengenai salah satu dari mereka yang mau pergi ke luar negeri.


Kara terus menguping hingga dia mendengar gadis itu menyebutkan nama perusahaan Hendra dan membuatnya langsung mendekat.


Itulah bagaimana Kara akhirnya berhasil mencari pelakunya.


Saat hendak menyeruput teh, ponselnya pun berdering. Kara spontan menjawab panggilan itu tanpa melihat siapa si penelepon.


    "Halo?"


Hatinya terlalu gembira saat merasa bahwa bebannya telah berkurang banyak.


     "Sudah lama kita tidakk berbicara, saya tau kamu pasti jauh baik-baik saja, apalagi melihat bagaimana kamu tersenyum dan menikmati segelas teh hangat!"


     "Lucas! Gak lucu tau. Ngapain pake acara ngomong kayak gitu!"


     "Hm, Lucas? Memangnya suara saya kedengaran seperti sepupumu itu?"


Kara mengernyit, lantas melihat nomornya. Itu nomor tidak di kenal.


    "Please, gak usah macem-macem sama gue. Suara lo aja mirip, apalagi cara ngomongnya!"


     "Apakah semirip itu? Bagaimana bisa kamu menyimpulkan bahwa saya adalah sepupu kamu?"


Akhirnya Kara diam, apalagi saat dia melihat Lucas di balkon sebelah. Pria itu baru saja tiba dengan membawa laptop, tak lupa melambai pada Kara.


     "Baby, kenapa kamu diam? Apa kamu masih yakin saya ini Lucas?"


Kara akhirnya mematikan panggilan itu. Bulu kuduknya berdiri, siapa sebenarnya orang misterius itu. Dia berpikir bahwa ini akan berakhir, ternyata tidak. 


Malam harinya, dia hanya berbaring tanpa bisa tidur. Bahkan rasa kantuk pun enggan menghampirinya.


Sejenak dia termenung, lalu beranjak dari sana menuju dapur. Sudah jam dua belas tepat dan perutnya tiba-tiba minta di isi.


Kara melihat tidak ada apapun yang bisa di makan. Menurutnya masih jam dua belas, jadilah dia memilih untuk membeli sesuatu di toserba.


Setelah memakai hoodie hitamnya dan mengayuh sepeda, Kara benar-benar menikmati suasana malam dengan bintang yang menghiasi langit.

__ADS_1


Sesekali dia bersenandung hingga tiba di tempat yang dia tuju. Setelah membeli apa yang dia mau, Kara hendak membayar sebelum akhirnya seseorang dengan jas hitam dan parfum yang maskulin menabraknya hingga terjatuh.


     "Ah, maafkan saya. Saya tidak melihat anda!"


Kara hanya tersenyum dan mengucapkan tidak apa-apa. Setelah membayar di kasir, dia keluar dari sana dan hendak pergi ke sepedanya. Sebelum akhirnya dia melihat bagaimana sepeda kesayangannya itu dilindas oleh mobil milik pria tadi.


    "Aaggh! Sepeda gueee," dia berteriak dan menjatuhkan belanjaanya, lalu berlari mendekat.


Pria itu tentu saja langsung berhenti dan segera turun. Dia terkejut melihat bagaimana sepeda Kara kini telah rusak.


     "Maafkan saya nona. Sepertinya saya sudah merusak sepeda anda!"


Kara menatapnya kesal!


    "Ya, lo pikir aja. Ini sepeda kesayangan gue, lo bisa bawa mobil nggak, sih? Kalo udah tua, minimal pake supir, lah!" sentaknya saking kesalnya.


Saking kesal, dia sampaing membanting sepeda yang tadi hendak dia angkat.


    "Begini saja. Saya akan menyuruh salah satu anak buah saya untuk membawa sepeda nona ke bengkel dan ini kartu nama saya!"


Pria itu memberikan Kara sebuah kartu nama, awalnya dia tidak mau menerimanya, tetapi melihat bagaimana kondisi sepedanya dia pun mengambilnya tanpa ragu.


      "Mari saya antar dengan mobil saya!" ucapnya ramah.


      "Nggak usah, gue bisa jalan. Awas aja kalo sepeda gue gak beres dalam waktu dua hari, gue bakalan bilang ke papa!"


Kara akhirnya mengambil kembali barang belanjaannya, lalu mulai bergegas pulang.


Keesokan harinya, Kara melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul delapan pagi. Dia bahkan tak melihat saudari kembarnya di manapun.


Hingga akhirnya Kara memutuskan untuk mencuci muka dan keluar dari kamar.


Sesaat dia merasa rumahnya sedikit berbeda. Jelas berbeda, bagaimana bisa rumahnya sangat sepi?


Tidak, biarpun hanya ada maid dan Kana, rumahnya masih terlihat seperti ada kehidupan.


Namun, berbeda dengan yang ini. Dia bahkan tidak bisa menemukan siapapun.


     "Hello! Papa? Kana? Kalian di mana?"


     "Liaam! Lucass! Woe, kalian di mana?"


"Gila, gue sampek teriak begitu, anehnya nggak ada yang denger. Pada liburan tanpa gue kali, ya?"


Setelah sarapan dan mandi, Kara melihat jam menunjukan pukul sepuluh. Bahkan ponselnya pun terlihat tidak ada panggilan sama sekali atau minimal pesan.


"Fiks, mereka liburan tanpa gue!"


Bersambung...


Hayo, kira-kira mereka pada ke mana?

__ADS_1


__ADS_2