
Kehidupan yang dinanti-nantikan oleh Kara dan Kana akhirnya terwujudkan. Mereka memiliki keluarga yang utuh dengan satu kakak laki-laki walaupun hanya kakak angkat.
Kana juga langsung dekat dengan Ani, mengingat gadis itu sangat membutuhkan sosok ibu sebagai penopang hidupnya.
"Kana seneng, akhirnya kita sekeluarga bisa ngumpul dan Kana bisa ketemu sama mama. Pokoknya Kana seneeeng banget!" ucapnya dengan memeluk Ani dan tidak ada niatan untuk melepaskn pelukannya itu.
"Andai mesin itu nggak tercipta, mama nggak bakalan ketemu sama papa kalian. Mama bersyukur dipertemukan dengan laki-laki yang bertanggung jawab kayak papa kalian."
Ani menatap Hendra dengan penuh rasa haru. Dia tahu rasanya membebesarkan anak seorang diri sangatlah melelahkan dan menguras banyak tenaga, tetapi keduanya tetap sabar. Apalagi saat melihat anak-anaknya tumbuh dengan sehat.
Ani menangis, dia terlalu senang sampai-sampai tak bisa menahan air matanya. Mario selaku anak tertua hanya bisa tersenyum. Dia beruntung dan bersyukur telah diadopsi oleh keluarga yang penuh dengan kasih sayang. Dia juga tumbuh besar bersama Kara dan selalu diberi perhatian dan dukungan oleh Ani dan adiknya itu.
"Ma, makasih, ya. Kalo aja hari itu mama nggak dateng ke panti asuhan terus adopsi Rio, Rio nggak bakalan tau gimana nasib kedepannya. Rio bersyukur bisa ada di sini dan ngerasain kehangatan sebuah keluarga. Rio amat sangat bersyukur. Sebagai anak tertua, Rio janji bakalan jagain adik-adik Rio yang manis ini."
Mario menatap Kara dan Kana secara bergantian, sementara dua gadis itu berlari dan memeluknya.
"Ka, pokoknya Kana mau nanti kakak marahin Arkan. Dia dulu pernah selingkuhin Kana terus ngancem Kana. Untung aja ada kak Kara yang selalu ngelindungi Kana dan mau gantiin posisi Kana di sekolah!"
"Hehe, selagi kak Rio gak ada, Kara yang bakalan jagain Kana. Lagipula udah tugas seorang kakak untuk jagain adiknya!"
Hendra dan Ani senang melihat keakuran dan kedekatan ketiganya.
"Pesanan dataang!"
Datanglah empat pria yang tadi Ani suruh keluar untuk membeli makanan. Kara menebak mereka pasti kesasar, makannya baru datang. Padahal keempatnya pergi saat jam masih menunjukan pukul setengah sepuluh dan sekarang sudah jam sebelas siang.
"Maaf tante, kami datangnya telat. Soalnya Langit bawa mobil nggak bener. Liam udah nyuruh buat belok ke kanan, dia malah lurus terus!" ucap Arkan dengan meletakan makanan di atas meja.
"Iya, tuh. Padahal gue yang bener!" sambung Liam.
"Udah, sekarang ayo kita makan. Kara sama Kana udah kelaparan daro tadi!"
Ani melerai mereka, lantas membawa makanannya ke dapur.
Beruntung meja makan itu muat untuk mereka semua. Saat makan, Arkan terus-terusan menatap Kana. Sekarang dia sudah bisa membedakan kedua kakak beradik itu. Saat baru tiba di rumah Ani, mereka langsung diberi penjelasan yang sedetail mungkin.
Di sisi lain, Lucas juga diam-diam memandangi Kara.
"Ekhem. Tolong matanya di jaga, jangan liat-liat adek gue. Iya, gue tau mereka cantik, tapi nggak semudah itu buat dapet restu dari gue!" ucap Mario sontak membuat keduanya tersedak.
Kana dan Kara hanya tertawa kecil. Hendra bersyukur dia dipertemukan lagi dengan keluarga kecilnya.
Sore itu Kara menghampiri Hendra dan Ani yang sedang duduk di teras rumah.
"Papa, Kara mau nanya. Kira-kira gimana nasib perusahaan papa?"
Hendra nampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan anaknya.
"Menurut informasi yang udah papa cari di internet. Hanya manusia saja yang bisa kembali ke dunia asli, bangunan seperti rumah atau perusahaan tidak bisa."
"Terus keluarga papa gimana nasibnya?"
Hendra menatap putrinya, dia memaklumi rasa penasaran dari Kara.
"Ada sebuah kejadian yang menewaskan mereka semua, itulah kenapa Liam sama Lucas tinggal sama kita waktu itu."
Kara mengangguk paham.
"Kamu nggak mau ke kantor polisi?" tanya Ani sembari meminum teh.
"Ngapain?" tanya Kara membalik.
"Seenggaknya kamu harus selesaiin masalah kamu sama Deon. Mama tau, Deon itu anaknya baik juga sopan. Kamu cukup beri dia pemahaman kalo perasaan suka itu nggak bisa dipaksa, tetapi harus tumbuh dengan sendirinya. Mama tau kamu sebenarnya nggak terlalu benci sama dia, hanya kecewa aja. Mama tau betul, kamu dulu sering curi-curi pandang ke arah Deon. Selesaikan dengan cara baik-baik, ya?"
"Iya, deh. Kara cuma nggak habis pikir, kok bisa ada mesin kayak gitu di zaman modern kayak begin!"
"Justru ini zaman modern, manusia akan membuat alat-alat yang menurut kamu nggak masuk akal. Ponsel aja ada yang bisa dilipat, kenapa mesin kayak gitu manusia nggak bisa buat?" imbuh Hendra membuat Kara sekali lagi menganggukan kepalanya.
"Yaudah, besok Kara bakalan ketemu sama Deon."
"Saya ikut!"
Ketiganya lantas menoleh ke arah pintu, itu adalah Lucas.
"Biarin Saya yang mengantarkan Kara ke sana tante."
Ani tersenyum dan mengangguk.
"Sekalian besok kalian jalan-jalan. Ajak Lucas keliling kota, kan mereka baru di sini."
"Kalo gitu kita boleh ikut, dong?"
Lagi munculah kepala Arkan, Liam dan Kana dari balik pintu. Kara sudah menepuk dahinya dan menggeleng.
"Kalian jalan-jalan aja sendiri, mobil mama ada banyak haha. Nanti suruh kak Rio aja yang jadi supir atau Langit. Eh jangan, nanti kalian nyasar lagi!"
Malam harinya Kara berdiri di balkon kamarnya, dia menatap langit yang dipenuh dengan gemerlap bintang. Dia kembali mengingat bagaimana pertama kali datang ke dunia duplikat itu, lalu bertemu dengan Kana dan Hendra. Banyak masalah yang muncul di sana, pada akhirnya semua kembali pada tempatnya.
__ADS_1
Dia juga sempat membaca berita bahwa petinggi-petinggi yang terlibat sudah dijebloskan ke penjara. Kara sendiri penasaran dengan nasib Regan dan Novi dan di mana mereka sekarang?
Hanya Tuhan yang tahu.
Beruntungnya saat datang ke dunia duplikat, ponselnya tidak terikut kebawa. Ada sebuah notifikasi masuk dan itu adalah pesan dari grup kelas. Biarpun mereka telah lulus, tetapi grup tersebut tidak dibubarkan.
Pesan itu berisikan bahwa angkatan Kara mengadakan reuni, mereka juga menandai nama Kara agar gadis itu muncul. Dia tersenyum, teman-temannya masih mengingat dirinya.
Keesokan harinya dia dan Lucas sudah berhadapan dengan Deon, hanya saja dibatasi oleh sebuah kaca tebal yang tembus pandang.
"Gue di sini cuma mau bilang kalo gue udah maafin semua perbuatan lo. Juga cinta yang lo damba-dambakan itu nggak bakalan ada. Asal lo tau, cinta yang dipaksakan bakalan melahirkan kebencian nantinya. Gue gak mau hal itu terjadi. Gue tau hati gue sendiri, jadi jangan pernha coba buat ngomong kalo cinta bisa datang kapan saja."
Lucas menepuk bahu Kara, mencoba menenangkan gadis itu.
"Demi Tuhan Deon, gue cuma nganggep lo temen doang nggak lebih. Hanya aja gue berterima kasih karena lo udah mau perjuangin cinta lo walaupun pada akhirnya itu sia-sia. Gue cuma gak mau ada dendam lagi di masa depan nantinya jadi gue mau semua berakhir di ini. Anggap aja kita berdua orang yang nggak saling kenal. Lo nggak usah ngomong apa-apa, gue balik."
Deon hanya bisa terdiam mendengar semua ucapan Kara. Memang menyakitkan, tetapi inilah kenyataannya. Cinta tidak bisa kita paksa hanya karena kita menyukai seseorang itu.
Berjuang sewajarnya saja dan jangan sampai membuat harga diri menjadi taruhannya.
Setibanya di rumah, Kara menatap nanar seisi kamar. Dia hampir lupa mengenai pria yang dulunya akan dijodohkan olehnya. Segera Kara berlari menuruni anak tangga untuk menghampiri Ani yang berada di dapur.
"Ma, Kara mau nanya sesuatu!"
"Nanya apa sayang?" tanya Ani dengan memindahkan sayur ke dalam wadah.
"Si siapa itu namanya ... Randy, sekarang nasibnya gimana?" tanya Kara penasaran.
"Nggak tau. Dia tiba-tiba nggak ada kabar waktu kamu menghilang. Mama kira dia juga ikut kebawa ke dunia itu!"
"Huh, bagus, deh. Jadi Kara ga perlu liat mukanya lagi. Lagipul-"
Belum juga Kara melanjutkan ucapannya, tiba-tiba terdengar suara gaduh di depan.
"Ma, itu kak Rio lagi ngebentak siapa?"
Ani hanya mengendikan bahu, setelah meletakan sayuran di atas meja makan, keduanya pun bergegas pergi ke depan.
Kara dapat melihat bagaimana pria yang baru saja dia bicarakan kini sudah mencekram tangan Kana. Bahkan dia dengan kasarnya memaksa gadis itu untuk ikut dengannya.
Mendengar itu, Kara seketika naik pitam. Dia berlari dan langsung meninju wajah Randy hingga pria itu terhuyung ke belakang. Kana spontan berlari ke arah Kara dan bersembunyi dibalik tubuh sang kakak.
"Sekali lagi gue tau lo nyentuh adek gue, habis lo sama gue!" ancamnya dengan menatap nyalang pada Randy.
Pria itu sepertinya tidak tahu malu. Sudah membuat koma Mario, sekarang datang memaksa anak orang untuk ikut dengannya.
Terlihat raut wajah kebingungan, dia menatap Kara dan Kana secara bergantian.
"K-kok, wajahnya mirip?"
"Kenapa? Kaget, ya? Mending sekarang lo pergi dari sini sebelum papa gue dateng buat ngehajar muka jelek lo itu!" ancam Kara.
Randy nampak tertawa pelan, terkesan mengejek.
"Hahaha, papa? Bukannya lo anak haram? Papa dari man-"
Bugg
Lagi dan lagi sebuah tinju melayang ke arah wajah Randy, tetapi itu bukan dari Kara melainkan Lucas yang baru saja tiba bersama dengan yang lainnya.
"Jangan omongan kamu. Sekali lagi saya lihat kamu berlaku kasar ke Kara, saya tidak segan-segan untuk mengahajar kamu!"
Randy menatap Lucas sembari menahan rasa kram.
"Siapa lo? Dateng-dateng main ngehajar orang. Gak punya sopan santun!"
"Lo yang siapa. Lo udah buat kakak gue koma di rumah sakit, terus ngedesak mama buat jodohin gue sama lo dan setelah gue menghilang, lo juga ikutan menghilang kayak jailangkung. Sekarang lo balik dan maksa-maksa adek gue buat ikut lo? Sakit otak lo?" tanya Kara dengan menatap kesal ke arah Randy.
"Asal lo tau, gue udah punya calon laki. Jadi lo gak usah ngarep buat nikah sama gue. Gue tau pikiran busuk lo. Lo mau nikah sama gue cuma buat meras harta mama gue. Lo bilang ke mama mau nikah sama gue demi menebus dosa lo karena udah buat kakak gue koma. Sampai mati gue gak sudi!"
Hendra akhirnya datang menghampiri keributan itu, bersaman dengan Liam, Langit dan Arkan.
Arkan sendiri yang melihat Kana sudah gemetar ketakutan pun bertanya.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Pa, ini dia pelakunya. Dia yang udah buat kak Mario koma dan seenaknya maksa mama buat jodohin Kara sama dia. Hajar aja pa!" ngadu Kara membuat Randy menelan salivanya.
Dipukul Kara dan Lucas saja sudah sangat amat sakit, bagaimana jika para pria itu juga ikut memukulinya. Tanpa sepatah katapun, dia lantas melarikan diri dengan mobilnya.
"Huuu, cemen. Baru gitu doang udah kabur."
Ani mendekati Kana dan memeluk gadis itu.
"Kamu yang tenang, ya sayang. Banyak orang yang akan melindungi kamu. Lihat tadi gimana kak Kara mukul mukanya, pasti sakit banget!" Ani mencoba menenangkan anak bungsunya itu.
"Kana cuma shock aja ma. Tiba-tiba dia datang terus seret-seret Kana buat masuk ke dalam mobilnya, Kana takut."
"Udah, tenang aja. Selagi ada Kara, nggak bakalan ada siapapun yang berani ngusik keluarga kita. Ngomong-ngomong di sini juga ada, kok saksi dari pukulan gue!"
Kara menatap Arkan yang saat itu langsung malu, dikarenakan pandangan mereka tertuju padanya.
"Gue minta maaf. Lupain, ya masa lalunya. Gue janji nggak bakalan ngulang lagi, restuin gue sama adek lo, lah Kar. Kita, kan temen!"
Kara menaikan satu alisnya.
"Nggak semudah itu. Lo harus bisa buat adek gue percaya sama lo lagi dan yang terpenting, lewatin dulu kak Mario!"
Mario menatap Arkan dengan penuh remeh, walau sebenarnya hanya bercanda saja. Lucas tiba-tiba berdehem hingga semua perhatian tertuju padanya.
"Maaf mengganggu waktu curhat, tetapi saya ingin menyampaikan satu hal."
"Apa itu kakakku tersayang?" tanya Liam yang penasaran.
Lucas tiba-tiba berjongkok dan menunjukan cincin pada Kara. Semuanya sontak terkejut apalagi Kara. Dia sekarang menjadi gelagapan sendiri.
"Maukah kamu menikmati sisa-sisa hidupmu bersama saya? Saya tau ini tidaklah romantis dan kamu tidak menyukai hal-hal seperti itu, tetapi saya serius Kara sama kamu. Saya sudah menunggu dari lama untuk ini, om Hendra juga sudah memberikan restu. Semalam saya sudah berbicara dengan tante Ani dan juga disetujui, tetapi semuanya tergantung kamu. Saya tau juga kamu tidak begitu percaya pada laki-laki apalagi setelah kejadian yang menimpa Kana, tetapi saya berjanji akan memperlakukanmu seperti ratu dan tidak akan membiarkanmu mengalami kesengsaraan. Tolong berikan saya kesempatan untuk masuk ke dalam hati kamu!"
Raut wajah Lucas benar-benar serius, apalagi pipinya yang sudah bersemu merah. Kana sendiri sudah menutup mulutnya, dia tak percaya akan melihat adegan kakaknya dilamar secara langsung.
"Terima, dong kak Kara. Kak Lucas rela melajang sampai saat ini demi kakak. Sekalipun kak Lucas dulunya belum pernah lihat wajah kakak, tetapi kak Lucas yakin kalo kakak itu takdirnya."
Kara menggaruk lehernya yang tidak gatal, dia menjadi salah tingkah sekarang.
"Ahahaha, ka-kalau gitu ... Tanya aja sama kak Mariooo!"
Kara tiba-tiba berlari menaiki anak tangga menuju kamar, sesungguhnya dia benar-benar malu apalagi jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih kencang.
Lucas menjadi kebingungan dan menatap Mario.
"Kalo gue, sih tergantung jawaban Kara. Hidup berumah tangga nantinya yang menjalani kalian berdua jadi gue gak punya hak buat ikut campur. Cuma ada satu pesan gue. Jaga dia kayak gue, selama ini dia selalu dimanja di rumah. Biarpun begitu dia selalu berusaha untuk terlihat mandiri. Dia tidak pernah berpacaran, itulah kenapa Kara bingung menyikapinya. Maklumin saja!"
Ani mengangguk setuju.
"Walaupun kelihatan keras kepala, tetapi hatinya lembut. Dia suka tersentuh dengan hal-hal kecil seperti ini jadi tolong untuk kamu jaga dia. Tante percaya sepenuhnya ke kamu sebagaimana Hendra percaya ke kamu."
Tiba-tiba Kara menampakan diri dari atas tangga lantas berteriak.
"Pokoknya kalo mau ngajak nikah, harus yang romantis. Nanti malam ajakin gue jalan, lah atau pergi ke cafe. Minimal romantis dikit jadi cowo!"
Setelahnya Kara kembali ke dalam kamar, dia harus menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus.
Mendengar itu, senyuman Lucas mengembang. Dia sangat amat senang dengan jawaban Kara.
"Kana, lo mau juga nggak gue ajak jal-"
"Nggak mau. Kana masih trauma sama Arkan. Mending Arkan ngajak jalan Langit aja, Kana mau sama mama aja!"
Liam dan Mario akhirnya tertawa terbahak-bahak.
"Bwahhaha ... "
SELESAI
Ini tamat ya.
Sebenarnya pengen banget berhentiin ini cerita, tetapi dari pihak editor nggak ada jawaban apa-apa, jadi dilanjutin aja wkwk.
Kira-kira nasib Regan gimana, ya?
Jangan lupa mampir ke ceritaku yang lainnya, ya.
__ADS_1
Judulnya "The Island"
Makasih ^^