Duplicated World

Duplicated World
22| Plan


__ADS_3

Hari ini pemilik perusahaan tidak jadi datang dan akan kembali besok. Kara yang saat itu sedang sibuk, terpaksa harus datang ke ruangan Lucas. Pasalnya sejak sejam yang lalu, pria itu sudah memanggilnya melalui karyawan yang berbeda-beda, tetapi Kara enggan datang.


Anggap saja dia masih malu akan hal semalam.


Baru saja membuka pintu, Kara dikejutkan dengan pemandangan yang kurang menyenangkan. Di mana dia melihat si sekretaris sedang membenarkan posisi dasi Lucas. Terlihat juga raut ketidaksukaan dari pria tampan itu.


     "O-oh, maaf saya mengganggu. Saya akan kembali lagi setelah anda tidak sibuk!"


Lucas segera menepis tangan sekretarisnya, lantas berjalan mendekati Kara.


     "Kamu jangan salah paham. Saya nggak meminta dia untuk benerin dasi saya. Dia yang tiba-tiba data-"


     "Pak Lucas kenapa ngurusin karyawan kayak dia? Saya sebagai sekretaris bapak merasa seperti tidak ada gunanya!" protesnya membuat dia menjadi pusat perhatian sekarang.


Kara menautkan alis, baru kali ini seorang sekretaris protes seperti ini.


     "Bapak tertarik sama karyawan rendahan kayak dia? Padahal pendidikan saya jauh lebih bagus dibandingkan dia."


     "Huahahahaha!"


Mendengar Kara tertawa terbahak-bahak, membuat gadis itu seketika kesal.


     "Eh, kuda lumping. Kalo ngomong yang bener aje. Iya, sih gue kagak kuliah itupun gara-gara papa gue. Eh, lupa. Gak boleh bongkar rahasia!"


Kara menatap Lucas sembari tersenyum. Dia ingin membuat sekretaris itu kepanasan dengan aksinya.


     "Nanti pulang bareng lagi, ya? Kalo gitu gue balik kerja lagi. Byee!" ucapnya sembari mengedipkan mata satu ke Lucas.


Hari itu, saat sedang jam makan siang. Kara dan beberapa karyawan menikmati makanan di kantin. Lalu, tibalah seorang gadis yang menghampiri meja Kara.


     "Tolong selesaikan laporan ini dalam dua jam, karena kita akan melakukan meeting bersama klien baru. Ingat! Laporan ini sangat penting, jadi buat dengan seksama."


Kara yang melihat laporan di depannya pun langsung menautkan alisnya.


Sebelum pergi, gadis itu kembali menatap Kara dan mengucapkan sesuatu.


    "Dan tolong untuk menjaga batasan, kamu hanya karyawan rendahan. Berani sekali menggoda CEO!"


Jika dia tidak di tahan oleh dua rekannya, maka dipastikan bahwa wajah gadis itu sudah penuh dengan lebam biru.


    "Fu*k! Dalam dua jam? Emang dia kira ini makalah yang buatnya tinggal nyontek di internet apa?" kesalnya.


Beberapa karyawan di sana nampak iba, mereka yakin bahwa Kara saat ini menjadi sasaran empuk bagi mereka yang memiliki kekuasaan tinggi.


Setelah menyelesaikan makan siangnya, Kara bergegas menuju tempatnya dan mulai membuat laporan. Saking seriusnya, dia sampai tak sadar ada yang mengawasinya secara diam-diam.


Dua jam kemudian, Kara akhirnya menyelesaikan laporan tersebut. Pundaknya pegal, terlihat dari bagaimana dia menggerak-gerakan pundaknya itu.


     "Akhirnya kelar juga. Ini gue buat dengan sepenuh hati, jadi kalo sampek berantakan bakalan gue garuk mukanya si mak lampir itu. Oh iya, ada satu hal lagi yang harus gue lakuin!"


Akhirnya meeting pun dimulai, di sana ada klien yang nampaknya sangat menanti pertemuannya.


Kara sendiri sudah duduk di sebelah ketua tim mereka.


Setelahnya, meeting mulai berjalan dengan lancar hingga kerjasama semakin disepakati. Klien pun pergi dan menyisahkan penghuni perusahaan cabang saja.


     "Kerja bagus. Siapa yang membuat laporan ini?" tanya Lucas, Kara hendak menjawabnya, tetapi seseorang sudah lebih dulu berucap.


    "Sa-saya pak."


Semua karyawan yang ada di sana terutama Kara pun menatapnya penuh keheranan, kecuali beberapa orang yang bermasalah dengan Kara tentunya.

__ADS_1


     "Heh, ngawur. Orang itu gue yang buat!" sela Kara membuat keadaan tak terkendali.


     "Bohong pak, saya sendiri yang membuatnya. Saya memiliki bukti yang kuat!"


Belum juga Lucas menjawab, Kara sudah mendahuluinya.


     "Kalo gitu coba jelasin setiap detail dari laporan yang udah lo buat? Pastinya lo tau, dong secara rinci laporan sendiri!" tantangnya sembari tersenyum.


Di sisi lain, gadis itu sudah terlihat panik bahkan tangannya bergetar dan menggenggam tangan yang lain.


     "Kok, diem? Lo kira gue bodoh!"


Kara akhirnya mengeluarkan ponselnya dan mulai menunjukan bukti dia mengerjakan laporan tersebut.


    "Ini laporan yang gue buat, sengaja gue foto sekalian sama laptopnya biar kalian gak ngira gue copy punya dia. Sekretaris pak Lucas sendiri yang datang ke gue dan nyuruh gue buat ngerjain ini laporan selama dua jam!"


Kara menatap tajam pada gadis itu, di sisi lain sekretaris Lucas nampak membuang pandangannya ke arah lain.


     "Memang saya yang menyuruh kamu untuk membuatnya, teta-"


     "Mau ngeles apa lo?"


Lucas hanya bisa menggeleng melihat tingkah Kara. Gadis itu benar-benar sulit untuk meredam emosinya.


     "Sudah cukup!" sentak Lucas membuat seisi ruangan menjadi hening.


     "Lain kali langsung berikan laporannya pada saya, agar saya tau siapa yang mengaku-ngaku laporan orang lain menjadi miliknya!" ucapnya tegas sembari menatap tajam ke arah gadis tadi.


Saking kesalnya, Kara lebih dulu keluar dari sana demi bisa meredam emosinya.


Di rooftop, Kara menghirup banyak udara dan mulai berteriak kencang.


Detik berikutnya dia mulai membuang napasnya lelah.


     "Lo nggak boleh nyerah, Kara. Inget, misi lo buat ngungkapin pengkhianat yang udah ngerugiin papa."


Ketika hendak berbalik, dia melihat seseorang baru saja membuka pintu rooftop. Beruntung di sana ada tumbukan kardus yang bisa dia gunakan sebagai tempat sembunyi.


Kara menguping setiap pembicaraannya dan tak lupa untuk merekamnya. Beruntung saat itu dia membawa ponselnya.


Setelah hampir setengah jam, akhirnya orang itu meninggalkan rooftop.


Terlihat bibirnya tersenyum sumringah, seperti baru saja mendapatkan harta karun yang banyak.


     "Licik juga ide lo, tapi gue ikutin. Bakalan gue ladenin!"


Saat hampir menjelang tengah malam, Kara baru saja menyelesaikan tugasnya. Dia melihat keadaan di sekitar sudah sangat sepi bahkan lampu di beberapa ruangan telah dimatikan.


    "Kelar juga! Habis ini pulang, mandi terus tidur. Eh, makan mie instan dulu kali, ya?"


Sesaat setelah merapikan barang-barangnya, Kara seperti mendengar suara pintu terbuka. Di saat hening begini, telinganya jadi sensitif akan suara.


Kara mulai menutup laptopnya dan melangkah mencari di mana ada pintu yang terbuka.


Setelah mencari-cari dan mencoba membuka pintu satu persatu, hanya tersisa ruangan milik Lucas. Awalnya dia ragu ingin masuk, tetapi mendengar suara benda jatuh membuat rasa penasarannya semakin bergejolak.


Dibukanya pintu secara perlahan dan mulai mengintip. Dia melihat ada cahaya ponsel dan seseorang tengah mencari-cari sesuatu. Saat orang itu sudah menemukan apa yang dia cari, Kara bergegas kembali ke tempat kerjanya.


Sepulang dari sana, Kara membuka laptop dan mulai memasukan sebuah file pada benda itu.


     "Bagus. Dengan begini, gue bisa nendang mereka keluar dari perusahaan papa!"

__ADS_1


Setelah selesai mandi, Kara berniat mencari mie instan di dapur. Begitu tiba, yang dia temukan adalah Lucas yang sedang memasak sesuatu.


    "Belom tidur lo?" tanyanya dengan membuka laci di dapur yang tenyata tidak ada mie instan.


    "Saya lapar jadi memasak empat mie instan!"


Kara spontan menengok ke arah kompor dan benar saja. Ada kulit mie yang berceceran di atas meja.


     "Lo habisin mienya semua? Gue makan apa, dong?" protesnya dengan menatap lesu ke arah Lucas.


     "Saya masak ini untuk kita berdua. Saya tau kamu pasti lapar."


Hendak menolak, tetapi apalah daya. Perut Kara ternyata lebih jujur dari mulutnya.


    "Kamu dengar sendiri, bahkan perutmu sudah memberi sinyal. Duduklah dulu, mienya akan segera matang."


Saking sudah lapar, akhirnya Kara hanya diam dan mengikuti kata-kata Lucas.


Mereka akhirnya menikmati mie tersebut dengan Kara yang tak menatap Lucas sekalipun. Walaupun begitu, pria itu tak menuntut banyak. Dia senang hanya dengan makan berdua bersama Kara, terlebih gadis di depannya itu nampak sangat lahap.


Hingga akhirnya Kara tersedak mie, lalu mulai terbatuk-batuk. Lucas yang khawatir pun segera menuangkan air ke gelas dan memberikannya pada Kara. Gadis itu meneguk habis airnya.


Keesokan paginya, sesuai dengan apa yang diucapkan oleh direktur. Ketua pemilik perusahaan akan datang melihat-lihat.


Kara sengaja datang terlambat agar dia mendapatkan peringatan lagi dari direktur. Dipecat sekalipun Kara tidak akan takut, toh perusahaan cabang itu milik papanya.


Setibanya di perusahaan, Kara langsung melenggang pergi menuju tempat pertemuan. Begitu dia membuka pintu, dirinya langsung disambut dengan ocehan sang direktur. Bahkan manajer pun sudah kelihatan muak mendengar perempuan itu terus-terusan mendumel hal-hal yang sepele.


     "Ini juga, selalu saja datang telat. Kamu itu niat kerja nggak, sih?"


Kara langsung berdiri di dekat sang manajer. Ternyata Lucas juga belum datang.


     "Kamu kira, kamu ini CEO? Cuma karyawan biasa aja udah berani macem-macem. Setelah pertemuan dengan ketua, angkat barang-barang kamu dari sini. Dasar nggak becus!"


Kara hanya bisa tersenyum, membuat yang lainnya menatapnya keheranan terutama si direktur.


     "Kenapa kamu senyum? Kamu kira apa yang saya katakan itu omong kosong? Saya bisa, loh buat kamu nggak dapat pekerjaan di manapun. Kebetulan saya ini orang kepercayaan ketua pemilik perusahaan, jadi kamu jangan macam-macam sama saya!"


Sebelum tertawa Kara meledak, datanglah Lucas, sekretarisnya dan ketua perusahaan.


Semuanya memasang wajah tegang, kecuali Kara. Gadis itu juga nampak dengan tenang mengeluarkan laptopnya membuat sang direktur geram bukan main.


Setelah perkenalan dan hendak mengucapkan sesuatu, tiba-tiba sekretaris Lucas mulai mengusik suasana.


    "Ya ampun. Pak, data perusahaan kita bocor!" ucapnya spontan membuat mereka semua menatapnya dengan wajah penuh keterkejutan kecuali Kara tentunya.


Lucas nampak menautkan alis dan menatap sekretarisnya itu.


     "Maksud kamu?"


     "Saya mendapatkan informasi kalau ada yang sengaja membocorkan data-data perusahaan pada pesaing kita. Pak, di sini pasti ada pengkhianat!"


     "Astaga, bagaimana bisa hal itu terjadi? Karyawan di sini semuanya lama dan mereka tentu tidak akan membocorkan data-data perusahaan!" ucap sang ketua dengan memasang wajah terkejutnya.


    "Siapa yang terakhir kali berada di perusahaan?" tanya Lucas memastikan.


Semua karyawan langsung menatap Kara, tetapi gadis itu hanya tersenyum dan mengendikan bahunya.


     "Gatau, deh!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2