Duplicated World

Duplicated World
26| Rescue mission


__ADS_3

Kara menatap map yang berada di depannya dengan seksama. Wajahnya kali ini berubah menjadi lebih serius dibanding dengan yang lainnya.


Menurut kesaksian Liam, dia saat itu terbangun tepat jam dua dinihari. Rasa haus menerjang tenggorokannya, hingga dia harus turun ke dapur untuk minum.


Namun, baru saja membuka pintu kamar, dia mendengar suara seseorang menabrak pintu. Liam yang saat itu masih setengah mengantuk menghiraukan suara tadi dan terus berjalan menuju dapur.


Setelah selesai minum dan kesadarannya kembali pulih pun hendak berjalan kembali ke kamar, tetapi dia terkejut kala melihat pintu depan yang terbuka lebar.


Liam mengira Hendra baru saja tiba dan lupa menutup pintu dan segera saja dia menutupnya tanpa tahu bahwa Kana telah dibawa pergi. Bukankah mereka kecolongan sangat jelas sekali?


Setelah melihat lokasi tempat kemungkinan Kana disekap, Kara hendak bergegas pergi. Namun, Hendra justru meminta gadis itu untuk tinggal saja di rumah. Takut jika rahasia besar mereka akan terbongkar.


Awalnya Kara memang setuju, tetapi dia tentu tidak akan tinggal diam begitu lama.


Kana menggunakan sebuah gelang di mana Hendra telah memasang sebuah alat untuk mengetahui posisinya dan benda itu selalu aktif.


Setelah kepergian para pria itu, Kara membuka laptop dan mulai mengutak-atiknya.


Beruntung dia juga sempat menyambungkan lokasi Kana ke laptop, sehingga dia juga bisa memantau pergerakan adiknya itu. Matanya menatap serius pada titik merah yang berada di tengah-tengah bangunan megah.


Dia pun mulai mencari tahu daerah mana sang adik di sekap.


Setelah beberapa menit, akhirnya dia mengetahuinya. Letaknya berada di belakang mansion tua milik salah stu petinggi di tempat ini. Kara tersenyum kala dia berhasil meretas sistem keamanan di mansion itu.


Dia juga sempat mencari tahu tentang mansion tersebut di internet dan menemukan beberapa informasi penting. Kara sengaja menunggu hingga sore tiba, maka saat itu dia akan segera beraksi.


Ketika jam sudah menunjukan pukul setengah tujuh malam, Kara mulai menggunakan hoodie hitam, lalu membawa beberapa bubuk cabai yang dia ambil dari dapur.


Dia menatap sebuah pisau kecil yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.


     "Kali aja ada aksi bunuh-membunuh!"


Malam itu Kara merasa seperti akan menjadi malam yang berkesan untuknya. Dia mengendarai sepeda lain, karena sampai saat ini orang itu belum juga mengirimkannya. Cukup kesal, tetapi ada yang lebih penting dari itu.


Setelah cukup lama mengendarai sepeda, dia akhirnya tiba di dekat pagar mansion tua itu. Kara lantas bergegas mendekat dan mengintip. Sejak siang tadi, dia tidak mendapatkan kabar apapun dari Hendra atau yang lainnya.


Matanya menangkap beberapa penjaga di sana. Dia tersenyum dan menatap betapa megahnya mansion tua itu.


     "Lantai dua, dekat ruang baca!"


Dia sudah melihat beberapa aktivitas pelayan di mansion itu dan para penjaga yang akan bergantian setiap dua jam sekali.


Dia berjalan lagi hingga tiba di belakang mansion. Melihat tak ada penjaga sama sekali, dia tersenyum.


     "Let's go!"


Dia melompati pagar itu, beruntung itu hanya pagar biasa bukan yang dilapisi dengan listrik. Dia melihat peluang untuk memanjat dan langsung saja naik melalui pohon yang tumbuh hingga cabangnya mengenai balkon salah satu kamar.


Setelah berhasil, dia mengintip dan melihat kamar itu tidak ada yang memasukinya.


Kara langsung bergerak menuju pintu dan mengintip dari sana. Dia melihat ada salah satu pelayan bersih-bersih yang melewati kamar tersebut, langsung saja Kara menariknya dan menyumpal mulut perempuan itu agar diam.


Tak lupa dia memukul belakang leher perempuan tersebut, tak peduli dia patah leher atau tidak. Nyawa adiknya adalah yang terpenting sekarang.


Setelah pingsan, Kara segera mengganti pakaiannya. Tak lupa menggunakan masker yang sudah dia siapkan dari rumah. Bumbu cabai tadi dia letakan di dalam saku baju pelayan.


Dia keluar kamar dengan sikap tenang, lalu mulai membawa alat bersih-bersih tadi. Dia hanya berjalan hingga salah satu pelayan menghampirinya.


    "Kamu ini lambat banget, sih. Tuan muda bisa marah kalo kamu lama. Cepat, banyak yang harus kamu bersihkan."

__ADS_1


    "Di mana ruangannya? Aku sedikit lupa karena tempat ini lumayan luas!" tanya Kara, dia berharap pelayan di depannya ini mengerti.


    "Kamu lurus saja, nanti akan ada penjaga yang berdiri di depan pintu, itu ruangannya. Cepat!"


Setelah mengangguk, Kara bergegas pergi. Matanya menatap lurus hingga dia bertemu dengan ruangan yang dia cari.


    "Datang juga. Cepat, sebentar lagi tamu penting tuan muda datang."


Pintu terbuka dan menampilkan seorang pria dengan jas biru itu tengah duduk sembari minum.


    "Cepat bereskan semua. Tamu penting bakalan datang jadi jangan sampek nyisahin satu kotoran!" perintahnya.


Kara sempat memperhatikan wajah si tuan muda itu dan mengejutkan.


    "Kok dia bisa ada di sini?" batinnya kebingungan sembari memungut sampah.


Kara juga memperhatikan setiap sudut, tidak ada cctv. Itulah mengapa dia tidak tahu tempat ini.


Akhirnya ruangan itu bersih juga, baru akan pergi, tiba-tiba seseorang yang ditunggu masuk. Sayangnya Kara segera menunduk dan berjalan melewatinya begitu saja, jadi tidak sempat melihat wajahnya.


Saat sedang mencari-cari letak ruang baca, Kara tak sengaja mendengar beberapa pelayan yang baru saja melewatinya bergosip. Mereka berbicara mengenai pria yang tadi.


Mereka bilang bahwa pria itu adalah salah satu orang yang paling banyak diincar dari kalangan gadis-gadis kaya. Banyak yang sudah berusaha mendekatinya, tetapi pria itu tak menanggapinya sama sekali. Bahkan ada rumor yang mengatakan, dia bukan straight yang berarti seorang g*y.


     "Informasi yang nggak berguna!" ucapnya sembari menatap mereka dari kejauhan.


Lorong tempat dia berdiri sekarang benar-benar sepi saking luasnya tempat itu.


     "Benarkah?"


Kara tersentak dan langsung melihat ke belakang, tetapi matanya ditutup oleh tangan. Kara hendak menepis, sayangnya seseorang itu mencekal dua tangan Kara dan mendorongnya ke tembok.


      "Duh, siapa, sih ini? Jangan iseng, deh!" ucanya kesal.


Kara bisa merasakan adanya deru napas di dekat telinganya.


     "Apa yang kamu lakukan di sini? Masuk ke kandang harimau tanpa tahu bahayanya. Apa kamu berniat menyerahkan diri?"


Dia kenal suara itu.


     "Ugh! Gue gak ada urusan sama lo. Mending lepasin gue!" balasnya kesal.


     "Kamu tau ... "


     "Nggak!" sentaknya.


Beruntung di sana tak ada siapapun kecuali mereka berdua.


     "Saya belum selesai bicara. Adikmu itu tidak ada di sini. Kamu di jebak!"


Kara tercengang mendengarnya.


    "Kamu bisa lihat sendiri siapa pria yang tadi duduk di ruangan itu. Dia sengaja mengambil gelang milik adikmu dan membawanya ke mari, sedangkan adikmu ... "


Pria itu menggantung kalimatnya membuat Kara penasaran setengah mati.


     "Apa? Adek gue baik-baik aja, kan?" tanyanya khawatir.


     "Saya tidak bisa menjaminnya, tetapi bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?" tawarnya dengan menunjukan senyum menawannya.

__ADS_1


     "Nggak usah macem-macem. Kesepakatan apa pula?"


Tubuh gagah pria itu semakin menghimpit Kara membuat gadis itu panik bukan main


     "Setelah saya berhasil menyelamatkan adikmu, saya baru akan membicarakan kesepakatannya dan ini berlaku hanya untuk hari ini!"


Kara tahu bahwa tidak akan ada waktu lagi untuk bernegosiasi, apalagi nyawa sang adik sedang dipertaruhkan sekarang. Terlebih yang menculik Kana adalah orang dengan dendam yang memiliki dendam besar.


     "Oke. Asalkan adek gue selamat!"


Pria itu nampak tersenyum, walaupun Kara tidak dapat melihatnya, tetapi dia yakin.


Jam menunjukan pukul setengah sembilan malam, beruntungnya pria tadi sedang mengalihkan perhatian musuh Kara sehingga gadis itu dengan mudahnya melarikan diri tanpa ketahuan.


Kara menatap mansion tua itu dengan perasaan yang campur aduk. Di sisi lain, dia memikirkan nasib adiknya yang menjadi tawanan dari musuhnya.


Kara juga menyalahi atas kebodohan dirinya yang tidak bisa membedakan mana jebakan dan bukan.


Setelah menjauh dari kawasan itu, terlihat pria tadi berpamitan pada seorang lelaki yang jelas umurnya sama dengan Kara.


Begitu dia menaiki mobil, ekspresi yang tadinya tersenyum berubah menjadi datar. Tatapan matanya tajam serta mulut yang terus memerintah untuk pergi ke tujuan selanjutnya.


Kara tiba di sebuah taman, karena terlalu lelah untuk mengayuh, dia akhirnya memilih untuk beristirahat saja.


     "Kirain bakalan ada adegan baku han-"


Belum saja Kara melanjutkan ucapannya, dia mendengar seperti suara seseorang yang meminta tolong. Awalnya dia tidak mau mempedulikannya, tetapi suara itu terus-terusan terdengar.


Terlanjur kesal, dia lantas mulai mencari sumber suara tersebut yang ternyata berasal dari balik rumput hias di tepi taman.


Baru akan melihat siapa itu, Kara mendengar suara dua orang pria yang seperti mencari-cari sesuatu.


    "Kemana perempuan itu pergi?"


    "Haduh, buruan cari. Kalau nggak, kita yang akan jadi korban penyiksaan untuk menggantikan dia!"


Kara sedikit membeku di tempat, apalagi saat salah satu pria itu menatapnya.


Akhirnya mereka menghampiri Kara dan mulai bertanya.


     "Maaf, mengganggu waktunya. Apakah nona melihat seorang perempuan yang berada atau lewat di sini?"


Kara terdian sejenak, sebelum akhirnya menjawab.


     "Nggak. Orang gue baru dateng, tuh sepedanya. Lagian ngapain, sih nyari orang malam-malam begini?"


Kedua pria itu nampak frustasi dan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Detik berikutnya mereka kembali menatap Kara, lalu melihat satu sama lain sembari tersenyum.


     "Gimana kalau nona saja yang ikut dengan kami? Kebetulan, kami tau tempat yang menyenangkan!"


     "Betul. Nggak baik perempuan sendirian malam-malam begini!"


Mereka tersenyum seperti orang cabul hingga membuat Kara merinding. Dia menatap mereka dengan ekspresi jijik.


     "Dih, gak sudi."


Baru saja Kara akan melangkah pergi, tiba-tiba salah satu dari mereka mulai mencekal tangannya.


    "Eits, mau ke mana?"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2