Duplicated World

Duplicated World
28| A secret room


__ADS_3

Kara lantas menutup pintu dan mulai berlari menuju ruangan lain untuk bersembunyi. Dia memasuki salah satu tempat di mana terdapat sebuah pintu rahasian di bagian bawah karpet.


Namun, tidak mudah baginya untuk mengetahui hal tersebut. Kara sendiri harus bersembunyi di balik lemari.


Beruntung saat itu ada lemari kosong dan entah untuk apa benda tersebut di letakan di dalam perpustakaan.


Ya. Kara memasuki sebuah perpustakaan dengan banyak sekali buku-buku yang lumayan tebal. Sesekali dia mengintip dari balik lemari demi bisa memastikan bahwa keadaan sudah aman.


Dia bisa mendengar dengan jelas bagaimana suara gaduh di luar.


     "Brengs*k, cepat cari dia. Jika dia lolos dari sini, maka kalian semua akan saya kirim ke neraka!" bentak pria itu penuh rasa frustasi.


Kara bisa mengenali suaranya, sangat amat familiar. Saat pintu ruang perpustakaan terbuka, seseorang dengan jas hitam itu masuk. Kara penasaran sekali dengan wajah pria tersebut, mengapa juga dia selalu menyembunyikannya.


Pria itu terus membelakangi lemari hingga akhirnya dia berbalik, Kara sendiri sudah membeku di tempat saat tahu kenyataan dari wajah pria tersebut.


     "What the ... Kok, mukanya mirip sama tetangga gue?" tanyanya dalam hati.


Kara shock melihat bahwa pria yang selama ini tidak ingin menunjukan wajahnya dan terus-terusan mengganggunya, ternyata wajahnya sangat mirip dengan anak dari tetangganya.


Walaupun mereka jarang berinteraksi, tetapi Kara pernah beberapa kali ke rumahnya dan berkontak mata dengannya setidaknya sekali.


     "Gila, apa jangan-jangan dia punya kembaran? Ah, masa. Waktu itu tante Sita nunjukin album masa kecil Deon, nggak ada, tuh foto kembarannya. Emang ini dunia udah sinting kalo kata gue!"


Kara terus membatin hingga pria mirip Deon itu pergi.


Dia baru bisa keluar dan bernapas lega. Saat menginjakan kakinya di atas karpet, Kara terkejut dengan ketukannya. Terdengar seperti ada sesuatu yang kosong di bawah kakinya.


     "Kok, suaranya beda?"


Kara mulai menyingkirkan karpet tersebut dan melihat ada sebuah pintu.


      "Wow, keren juga rumahnya. Ada ruangangan di dalam ruangan, eh gimana, sih?"


Dia mulai mencoba untuk membukanya, beruntung bahwa itu tidak terkunci. Saat pintunya terbuka,  Kara dapat melihat ada tangga menuju ke bawah. Baru saja akan masuk, dia mendengar suara tembakan dari arah luar.


Kara sontak berlari ke arah jendela dan mengintip dari sana. Sebagian anak buah pria mirip Deon itu telah ditangkap oleh orang-orang yang menggunakan jas dan kacamata hitam.


Lantas ada yang keluar dari dalam mobil dengan meletakan satu tangan di dalam saku.


    "Gue gak bisa liat jelas, siapa itu? Sok, keren banget!"


Dia lantas teringat kembali akan ruang rahasia itu. Kara bergegas masuk dan tak lupa menutup pintu, dia juga sudah tidak peduli apa yang akan terjadi di luar, padahal Kana belum dia temukan.


Kara dapat melihat di dalam sana ada banyak kabel yang saling menyambung. Dia memperhatikan salah satu kabel merah dan mengikutinya hingga ke depan sebuah mesin.


     "Gak mungkin, kan mesin ini yang diucapin sama perempuan itu. Sedikit tidak masuk akal, tapi bolehlah kita utak-atik sedikit!"


Kara melihat ada beberapa tombol di sana, ada salah satu tombol yang benar-benar menarik perhatiannya. Tanpa pikir panjang, Kara mulai menekan tombol berwarna hijau itu.


Setelah sekitar sepuluh detik, Kara merasa tidak ada yang terjadi sampai dia mendengar seseorang sedang berjalan menuruni anak tangga dan menuju ke sini.


     "Mampus, ada orang. Aduh, sembunyi di mana ini?"


Kara akhirnya bersembunyi di belakang mesin itu, tetapi sebelumnya dia menekan kembali tombol yang tadi.


Jantungnya berdetak lebih cepat, dia sangat takut ketahuan.


     "Fu*k, pasti ada yang menekan tombol ini tadi. Terus, ke mana juga Kara. Tidak mungkin dia pergi dari sini secepat itu. Bahkan kekacauan bertambah parah saat orang-orang Arkan datang. Mau apa mereka sebenarnya!"


Kara melongo saat pria itu menyebutkan nama Arkan. Tidak mungkin pria yang sudah menyakiti adiknya itu berada di sini juga.


      "Bagaimana pun caranya, saya harus membawa Kara pergi. Tempat ini, ah maksud saya adalah dunia buatan ini sudah tidak aman. Mesin ini sudah terlalu tua untuk menahan semuanya. Membawa Kara saja sudah cukup, kita bisa hidup berdua di pulau terpencil tanpa adanya orang lain!"


Mendengar itu, bulu kuduk Kara berdiri. Dia merinding hebat, apakah pria itu memiliki obsesi padanya?


Saking tidak tahannya, Kara sampai harus menampakan diri dan berteriak di depan pria itu, lantas melemparinya dengan sepatunya.

__ADS_1


     "Dasar orang sinting. Gue nggak kenal lo, seenak jidat mau bawa gue kabur!"


Dia terkejut saat melihat Kara yang sudah berdiri di depannya. Lantas sepatu gadis itu melayang tepat di wajahnya hingga menimbulkan bekas.


Sebelum pergi, Kara mulai merusak tombol-tombol dari mesin itu hingga rusak. Dia lantas menendang sekali perut pria tersebut dan pergi.


      "Kara, tunggu!" teriaknya, tetapi gadis itu justru menunjukan jari tengahnya sembari menjulurkan lidahnya mengejek.


     "Wle, ogah!"


Saat Kara sudah keluar dari sana, dia tidak sengaja menabrak seseorang hingga terjatuh.


    "Aduuh, pake acara jatuh segala!"


Kara melihat ke depan dan itu adalah Arkan. Keduanya terdiam, terutama pria itu.


     "Loh, k-kok?"


Arkan terlihat kebingungan melihat Kara.


     "B-bukannya Kana tadi ada di bawah?"


Ah, jadi itu alasannya dia sampai terkejut. Ternyata Arkan belum mengetahui bahwa Kana dan Kara adalah saudara kembar.


     "Adek gue di mana?" tanya Kara pada Arkan.


     "A-adek lo a-"


     "Dimana?" sentaknya.


     "Adek lo ada di bawah, gimana bisa kalian kembar?"


Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Arkan.


     "Kepo lo!"


Namun, ketika dia keluar ada hal yang membuatnya tercengang. Mereka kini sudah bukan berada di halaman rumah milik pria yang mirip dengan Deon itu, tetapi ada di tengah-tengah jalan.


Pada saat kejadian, suasana di sekitar memang sudah sepi dikarenakan masih jam setengah tiga dinihari.


Kara sampai mengucek matanya sebanyak tiga kali, karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


     "Loh, inikan jalan yang mau ke arah sekolah gue. Kenapa tiba-tiba udah ada di sini?"


Kara juga bisa melihat raut terkejut dari yang lainnya, terutama Kana dan Hendra.


Dia lantas mengingat ucapan gadis yang berada di rumahnya itu bahwa ketika mesin itu rusak, maka mereka bisa kembali ke dunia yang asli.


     "Jadi yang dia bilang itu beneran terjadi?"


Tiba-tiba dia merasakan seseorang memeluknya dari samping dan itu adalah Kana.


      "Kak Karaa! Akhirnya Kana liat kakak lagi."


      "Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Kara dengan memegang kedua pipi adiknya.


      "Hehe, baik."


Hendra lantas mulai mendekati Kara dan Kana.


       "Sepertinya papa ngerti sekarang. Mesin yang sering para petinggi bicarakan itu ternyata memang benar adanya. Papa juga sempat mencari tahu, tetapi nggak banyak informasi yang didapat. Kira-kira kenapa kita bisa kembali ke sini?"


Kara mulai mengingat bahwa dia sebelum lari ke sini, sempat menekan-nekan tombol dari mesin itu hingga rusak.


       "Tadi Kara yang rusakin mesinnya."


Belum selesai keterkejutan itu, tiba-tiba polisi datang ke tempat mereka dan meminta semuanya untuk mengangkat tangan.

__ADS_1


      "Jangan bergerak, semuanya angkat tangan kalian!"


Mereka terkejut lantas mulai mengangkat tangan secara serempak.


      "Pak, sudah dipastikan bahwa dia adalah anak yang hilang itu."


Mereka menatap Kara, sepertinya Ani mencari-cari keberadaan Kara hingga saat ini.


Saat sedang berpatroli, salh satu polisi melihat mereka yang berdiri di tengah jalan dan merasa familiar dengan wajah Kara.


Keluarlah Arkan dengan wajah penuh emosi menyeret pria tersebut ke luar, dia juga terkejut melihat mereka yang tiba-tiba sudah berada di jalan raya.


      "Pak, sepertinya mereka-mereka ini orang yang terseret masuk ke dalam dunia buatan orang itu. Melihat bagaimana wajah kebingungan mereka, pelakunya juga sudah ada di sini!" ucap salah satu anggota kepolisian.


Ketua polisi lantas mendekati Arkan.


     "Kami akan menangkap saudara Deon atas kasus pencurian mesin terlarang dari museum. Mesin itu dulunya dibuat untuk memindahkan sebagian penduduk bumi ke bumi buatan agar setiap negaranya tidak terlalu banyak penduduk. Sayangnya beberapa tahun kemudian, mesin itu menghilang secara misterius. Bahkan pihak kami sudah mengerahkan detektif terbaik, tetapi tetap tidak menemukan jejak pelakunya. Beruntung saat itu ada saksi mata yang melihat bahwa saudara Deon terlihat keluar dari belakang museum dengan beberapa orang. Ada bukti berupa rekaman dan foto. Kami akan membawa saudara Deon untuk menindaklanjuti kejahatannya."


     "Tidak, tunggu. Sa-saya mau bicara dengan Kara. Biarkan saya berbicara dengan dia!" mohon Deon pada polisi.


Ketua polisi lantas menatap ke arah Kara yang nampak kebingungan.


     "Ya, okelah. Gue juga penasaran apa alasan dia sampek nekat nyuri mesin itu. Kita bicara di kantor polisi!"


Di perjalanan, Kara tak henti-hentinya tersenyum. Akhirnya dia akan bertemu dengan mama begitu juga dengan Kana. Gadis itu terlihat sangat berdebar-debar menantikan pertemuan pertamanya dengan mamanya.


     "Kak, Kana nggak sabar mau ketemu sama mama. Akhirnya kita sekeluarga bisa ngumpul bareng, Kana seneng. Sejujurnya dari kejadian ini, Kana bersyukur walaupun nggak masuk akal, sih."


     "Iya, kita akan bertemu dengan mama juga keluarga besar mama. Pasti nenek sama kakek seneng banget punya cucu yang lain."


Di kantor polisi, Kara meminta mereka untuk menelepon mamanya. Ani termasuk orang yang dikenal, mengingat latar belakang keluarganya yang bukan sembarang orang.


Kara akhirnya mulai berbicara berdua saja dengan Deon, tentu saja dengan pengawasan seorang polisi.


     "Jelasin apapun yang mau lo katakan. Gue gak butuh alasan jadi cepat sebelum keluarga mama gue dateng!"


Deon nampak menatap mata Kara, tetapi gadis itu enggan melihatnya.


     "Sa-saya sebenarnya melakukan ini semua agar bisa dekat dengan kamu. Saya sudah menyukai kamu semenjak kamu pertama kali datang ke rumah. Hanya saja, saya tidak berani untuk sekedar mengajak berkenalan. Setelah lulus SMA, saya baru tau kalau ada mesin yang menduplikat dunia. Jadi saya mencari tau pastinya dan itu berada di museum, jadi saya berniat mencurinya."


Kara masih fokus mendengarkan walaupun tidak mau melihatnya.


      "Saya tau saya salah, tetapi saya sudah terlanjur mencintai kamu. Semua yang saya lakukan semata-mata hanya ingin bersama kamu. Saya juga rela meninggalkan orang tua saya demi kamu!"


Kara merinding mendengar itu, tetapi dia mencoba untuk tetap tenang.


      "Segala cara saya lakukan agar menjadi orang paling berpengaruh di dunia duplikat itu hingga akhirnya saya berhasil meraihnya dan membawa kamu ke sana. Mengenai peraturan saudara kembar itu, saya yang membuatnya. Hanya untuk menakut-nakuti saja. Saya mohon, berikan saya satu kesempatan. Biarkan saya membuat kamu mencintai saya juga!"


Kara yang sudah tidak tahan lantas meninju wajah Deon.


     "Sinting lo. Cuma demi gue, lo sampek ngelakuin semua ini? Lo nggak tau apa, gara-gara mesin itu banyak ketidakadilan terjadi di sana. Bahkan petinggi-petinggi juga cuma diem-diem doang nikmatin duit mereka. Lo kalo mau bertindak, seenggaknya mikirin konsekuensinya. Lagipula siapa, sih pembuat mesin gak guna itu? Eh, berguna deng. Aah, pokoknya semua ini salah lo. Sampai mati gue gak akan suka sama lo, asal lo tau gue ini lesb*!" kesalnya.


Saking kesal, Kara sampai mengatakan bahwa dia menyukai perempuan. Pikirannya kacau mendengar penjelasan Deon.


Deon sendiri menatap penuh kemirisan. Memang, Kara adalah gadis yang keras kepala, itulah mengapa dia harus melakukan hal tersebut.


     "Pak, mending jeblosin langsung ke penjara, sekalian penjarain seumur hidup biar gak meresahkan."


Kara pun pergi dari sana. Baru saja akan menghampiri yang lainnya, tiba-tiba dia dipeluk orang wanita paruh baya.


     "Sayang, akhirnya kamu kembali. Mama sangat khawatir, setiap malam mama cuma bisa nangis mikirin kamu. Mama seneng akhirnya kamu kembali!"


Kara yang awalnya kesal akhirnya kembali tenang. Dia membalas pelukan Ani dan kemudian menangis.


     "Maafin Kara ma, selama ini Kara nggak jadi anak yang nurut. Kara selalu nuntut mama buat nyeritain siapa sebenarnya papa Kara. Kara juga sempat mikir kalau Kara anak diluar nikah. Maafin Kara!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2