Duplicated World

Duplicated World
27| A truth


__ADS_3

Kara menatap kesal para pria di depannya itu, langsung saja dia menendang selangkannya hingga membuat lelaki dengan memiliki luka di pipi itu terduduk kesakitan.


     "Jangan sentuh gue!" ucapnya kesal.


Pria lainnya yang tidak terima pun hendak menghajar Kara, tetapi gadis itu yang lebih dulu memukul wajahnya dan tak lupa menyikut serta memukul tekuk pria berbadan lebih besar itu dan berakhir dengan dirinya tumbang ke tanah.


Kara melihat mereka berdua dengan keadaan marah. Saat ini dirinya seperti orang yang tidak tahu menahu mengenai apapun.


Dia juga bingung mau mencari ke mana Kana, sementara dirinya juga sudah memiliki kesepakatan dengan pria asing yang jelas-jelas belum dia lihat wajahnya.


     "Siaaal! Kenapa hidup gue jadi begini, sih?"


Lagi, dia mendengar suara dibalik rumput hias itu. Kara yang tersadar kemudian mulai membantu perempuan tersebut.


     "Astaga, gimana bisa lo punya luka sebanyak ini?"


Di rumah, Kara tengah mengobati luka yang bersarang di sekujur tubuh gadis itu. Dia meringis saat melihat perempuan dengan rambut sebahu itu hanya diam saja selama Kara mengobatinya.


     "Fiuh, selesai!"


Kara segera menutup kotak P3K itu dan meletakannya di atas meja. Lantas dirinya mulai duduk tepat di sebelah gadis tersebut.


     "Siapa ... Siapa yang melakukan hal sekeji ini ke lo?" tanyanya penasaran.


Gadis itu menengok dan tersenyum.


     "Apapun yang terjadi, jangan sampai berhubungan dengan dia!"


Kara mengernyit keheranan, dia siapa?


    "M-maksudnya?"


    "Dia sudah mengincarmu dari dulu, menciptakan dunia yang seharusnya tidak ada. Memanipulasi sebagian penduduk bumi untuk meninggalkan yang asli. Itu semua ulahnya! Aku dikurung selama kurang lebih tujuh tahun karena tidak sengaja mendengar pembicaraannya, lalu disaat dia akan memiliki mood yang buruk, aku menjadi korbannya."


Kara sendiri terkejut mendengarnya. Ini bukan seperti kisah pada novel-novel yang pernah dia baca.


      "Dia licik dan pintar mengatur segalanya. Membuat seakan-akan kita tidak bisa hidup tanpa bantuannya. Dia mencuci otak orang-orang yang berniat menentangnya. Dia juga sanggup menciptakan sebuah drama yang dramatis demi menarik perhatian orang yang dia suka!"


     "Kamu Kara, kan?" tanyanya yang kemudian diangguki oleh gadis itu.


Wajah terkejutnya masih tergambar jelas, apalagi saat gadis itu menyebut namanya.


     "Dia selalu mengawasimu dua puluh empat jam. Di manapun kamu berada, selalu dalam pengawasannya. Aku bukan bermaksud menakutimu, tetapi kamu sudah diincar sejak awal!"


     "Aku melihatnya sendiri bagaimana dia begitu tergila-gila padamu, menyimpan fotomu yang dia ambil dari berbagai sudut dan situasi apapun. Segala sesuatu yang terjadi di sini semua atas kehendak dirinya."


      "Dunia ini tipuan, aku ingin kembali pada dunia yang asli. Para petinggi juga sebagian menyembunyikan fakta mengerikan ini. Tidak ada waktu lagi untuk berpikir sekarang. Selamatkan adikmu sendiri, atau kamu tidak akan memiliki kesempatan untuk pergi darinya!"


Kara termangu, dia menatap gadis itu tanpa berkedip sejak tadi.

__ADS_1


     "Aku lupa. Ada satu hal penting yang harus kamu ketahui!"


     "A-apa itu?"


     "Di salah satu ruangan pada kekediaman pria itu, ada sebuah mesin. Benda itu mampu menciptakan dunia yang kita tempati sekarang. Jika kamu bisa menghancurkannya, maka kita bisa kembali pada dunia yang asli!"


     "Apasih, kok kayak nggak masuk akal gitu?" gerutunya kesal.


Kara menatap gadis di depannya itu dengan tatapan yang tak percaya.


     "Bisa dateng ke tempat ini aja butuh kepercayaan yang tinggi, ini mesin apa pulak."


     "Sulit dipercaya, tapi bolehlah di coba!"


Kara merasa ini adalah sebuah tantangan untuknya. Apalagi dia ingin sekali menguak mengenai dunia tempatnya berpijak sekarang.


Malam semakin larut, tetapi dia belum juga mendapatkan kabar dari Hendra dan yang lainnya. Selain khawatir, dia juga merasa memang tidak ada yang beres dengan seisi dunia ini.


Di jalanan yang sepi, nampak seorang gadis tengah melajukan sepedanya. Walaupun tidak tahu pasti di mana adiknya di sekap, tetapi Kara bisa mengikuti titik mereka yang dia lihat di ponselnya.


Kara bukan gadis yang ceroboh, dia sengaja menempelkan sebuah alat pelacak kecil di jas pria tadi.


Hampir setengah jam dia mengkayuh sepedanya hingga tiba pada sebuah jalanan yang menuju ke dalam hutan. Dia tahu bahwa hal ini tidak akan mudah, tetapi dia benar-benar harus melakukan. Ditambah dia mendengar ucapan dua pria yang hendak menangkap gadis yang kini sedang berada di rumahnya.


Menurut maps yang dia lihat, titik merahnya berhenti dan tak jauh dari tempatnya berdiri.


Dia terpaksa meletakan sepedanya di dalam semak-semak, lantas mulai berjalan kaki mengkuti jalan yang sudah ada.


Akhirnya dia memutuskan untuk jalan saja ke depan dan menemukan sebuah rumah dengan halaman yang luas. Tidak, ini hampir seperti mansion.


Dia menghentikan langkahnya di balik pohon dan mulai mengintip. Beberapa pria berbadan besar keluar dari halaman dan berjalan ke arahnya. Kara bergegas bersembunyi dan sepertinya mereka pergi ke mobil milik Hendra.


      "Kata tuan, gadis itu akan kemari. Kita diperintahkan untuk bersembunyi di dalam mobil itu sampai dia datang!"


Kara tentu dengan jelas bisa mendengarnya. Dia beruntung selangkah lebih cepat dari mereka.


Sekarang bagaimana caranya agar dia bisa menyelinap masuk tanpa ketahuan? Dia yakin bahwa Hendra dan yang lainnya telah tertangkap. Lalu, tuan siapa yang mereka masuk?


     "Masa Regan? Tapi tadi gue liat dia ada di mansion itu, dah. Terus siap, dong?"


"Lagian itu orang udah keluar aja dari penjara. Padahal, kan masa tahanannya harusnya dua belas tahun penjara. Enak aja nggak nyampek lima tahun udah keluar aja."


Sembari mengomel, dia juga mendapatkan sebuah ide untuk mengalihkan perhatian mereka.


"Pake cara itu aja, gak apa-apa hilang satu ponsel. Papa gue, kan kaya!"


Sebelum itu dia mengeluarkan kartu dari ponselnya dan kembali menyalakan, lalu merekam suaranya sendiri. Beruntung saat itu keadaan sepi dan suara dari ponselnya juga lumayan keras.


Dia mengucapkan beberapa kata lantas mulai meletakannya tak jauh dari mobil itu. Setelah di tekan play, lantas mulai berjalan menjauh ke tempat tadi.

__ADS_1


Suaranya mulai terdengar dan mereka terpancing. Keduanya keluar dengan terburu-buru, lantas mengikuti arah suara itu.


Kara pun tertawa sebentar sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka. Dia berhasil memasuki halaman yang luas itu dan tanpa penjagaan juga. Di sana ada banyak bunga, patung dan kolam ikan.


"Ternyata ada tempat bagus juga."


Saat berjalan, dia tidak sengaja menabrak sebuah patung. Beruntung patung itu keras, jadi tidak mudah jatuh.


"Aduh, pake acara kejedot segala!" keluhnya.


Meski begitu Kara tetap berjalan hingga dia berada di sisi kanan tempat itu. Dia mencoba menguping, tetapi percuma saja.


"Apapun yang terjadi, keselamatan Kana nomor satu!"


Baru akan melangkah, tiba-tiba Sarah mendengar suara teriakan yang familiar dari atas. Dia menengok dan melihat salah satu jendela terbuka.


Lagi, dia mendengar suara umpatan di sana. Kara juga kaget mendengarnya, detik berikutnya ada suara perempuan yang balik meneriakinya sembari mengatakan nama Kara.


"What? Kana ada tepat di ruangan atas. Oke, udah ketemu tinggal cari cara buat naik aja!"


Sesekali Kara mencoba memasang telinganya dengan baik, takutnya jika dia mendengar suara Hendra atau yang lainnya.


Kara mencoba mengintip dan dua pria tadi berlari masuk ke dalam rumah itu dengan tergesa-gesa.


Sesaat Kara hanya mendapatkan keheningan, detik berikutnya dia melihat bahwa banyak yang keluar dari dalam rumah dan berlari ke arah tempat tadi Kara meletakan ponselnya.


Kara memutuskan untuk berjalan lebih ke belakang hingga dia menemukan jendela dapur.


Dia mengintip dan beruntung area dapur benar-benar sepi.


"Oke, kesempatan gue buat masuk lewat sini!"


Sebelum itu, dia berpikir pasti akan ada cctv apalagi si pemilik rumah itu tahu bahwa dia akan datang. Setelah berusaha semaksimal mungkin untuk mencungkil jendela hingga akhirnya terbuka, Kara lantas mulai masuk.


Dia mengintip sejenak untuk memastikan area tengah tidak ada siapapun dan benar saja, memang tidak ada siapapun.


Terlalu mencurigakan juga sebenarnya, tetapi Kara harus bergegas pergi ke lantai atas.


Dia berjalan dengan cara mengendap-endap hingga akhirnya bisa tiba di lantai atas. Cukup menakjubkan, tetapi Kara tahu pasti pemiliknya ada di suatu ruangan.


Kara melihat ada banyak sekali pintu di depannya, membuat gadis itu frustasi.


"Waduh, banyak lagi pintunya. Masa harus buka satu-satu, yang ada ntar ketahuan!" gerutunya kesal


Tidak ada pilihan lain, selain membukanya satu-persatu.


Baru saja membuka pintu yang memiliki motif lumayan aneh, Kara dikejutkan dengan pemandangan beberapa orang sedang duduk sembari mendengarkan orang lain berbicara.


Sontak mereka menatap ke arah Kara dengah wajah yang terkejut. Gadis itu hanya bisa menyengir sembari melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Hai!"


Bersambung...


__ADS_2