
Rumah itu benar-benar tak ada penghuni sampai jam setengah tujuh malam. Dia frustasi dan hampir saja melapor pada kepolisian.
Sudah menelepon dan mengirim pesan, tetapi tidak ada yang mengangkat atau membalas pesan. Setelah selesai mandi dan menggunakan baju tidur dengan celana diatas lutut, Kara berjalan ke arah dapur.
Kala itu hari semakin gelap dan Kara hendak menyalakan lampu yang sayangnya itu tidak menyala. Sembari memakan cemilan dan meminum sekotak jus, dia bergerak menuju kamar.
Hingga jam tujuh tepat, suasana benar-benar hening. Beruntung ada cahaya dari ponsel dan laptop yang membuatnya tetap merasa terlindungi dari kegelapan.
Baru saja beranjak dari kasur dengan senter ponsel dia arahkan ke pintu, Kara seperti melihat ada yang mengintip tadi di balik pintu kamarnya.
Tiba-tiba jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, suasananya pun berubah menjadi mencekam. Ditambah dia mendengar suara benda jatuh dan berasal dari ruang tamu.
Kara menelan salivanya susah payah sebelum akhirnya dia memutuskan untuk berjalan menuju pintu.
"Huh? Tadi gue inget, kok kalo tutup pintu!"
Memang, Kara tadi menyempatkan diri untuk menutup pintu kamar. Juga, kamarnya jika dibuka tidak akan menimbulkan bunyi.
Matanya semakin was-was. Dia membuka pintu dan kembali melangkah. Baru saja menuruni beberapa anak tangga, lagi dia melihat ada bayangan di jendela, lalu hilang entah ke mana.
Kara mulai berjalan dan menyenteri tempat tadi, sayangnya tidak ada apapun di sana. Sebuah ketukan terdengar, mata Kara langsung menatap pintu putih itu dengan perasaan campur aduk.
Dia tidak sadar kalau keringat sudah mendominasi wajahnya saat ini dan napasnya juga mulai memendek.
Dia ingat, kalo memiliki kecemasan secara tiba-tiba dan rasa waspada yang tinggi terhadap sesuatu yang bisa saja membahayakan nyawanya.
Kakinya pun mulai gemetar dan dadanya perlahan nyeri.
Sebelum langkah berikutnya, lampu menyala dan terdengar suara teriakan sebelum Kara tumbang.
"Selamat ulang tahuunn!" teriak mereka serempak.
Bruk...
Sayangnya yang mereka dapati adalah tubuh Kara yang sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Melihat itu, Kana langsung melepaskan kuenya hingga jatuh ke lantai dan berlari ke arah Kara.
"Kak Karaa! Kakak kenapa!" teriaknya panik.
Lucas langsung menggendong Kara dan membawanya ke kamar.
Ternyata hari ini adalah ulang tahun Kana dan Kara. Hanya saja mereka ingin sekali merayakan punya Kara, itupun sesuai permintaan Kana.
Liam juga yang menyusun rencana untuk memberikannya kejutan.
Setengah jam kemudian, Kara tersadar. Penglihatan yang awalnya buram pun jelas. Dia melihat bagaimana wajah panik orang-orang itu hingga mereka merasa lega melihat Kara yang sudah siuman.
"Kakak, akhirnya siuman juga!"
Kara memilih untuk duduk dan melihat mereka menggunakan topi ulang tahun.
"Jadi, selama seharian ini kalian menghilang cuma buat ngasih kejutan?" tanyanya dengan menatap mereka satu persatu.
__ADS_1
Hendra memeluk Kara, dia sangat cemas tadi melihat putrinya yang tiba-tiba pingsan.
"Maafin papa sayang. Seharusnya papa nggak setuju buat ngasih kamu kejutan kalau tau kamu pingsan!"
"Iya kak, maafin kita."
"Ini bukan salah kalian, tapi tolong dong kejutannya yang biasa aja. Jangan pake acara ngintip-ngintip segala, creepy tau!" sahutnya.
Mereka langsung saling menatap dengan wajah penuh keheranan, sebelum akhirnya Kana kembali berucap.
"Kak, tapi tadi nggak ada yang naik ke sini. Kita semua nunggu kakak di bawah terus kak Lucas nggak sengaja jatuhin pot bunga, makannya bunyi!"
Ekspresi wajah Kara langsung berubah menjadi gelisah.
"J-jangan bercanda, ah. Nggak lucu! Terus siapa tadi yang berdiri di dekat jendela?"
"Oh, itumah gue!" ucap Liam dengan menunjuk dirinya sendiri.
"Awalnya mau sembunyi di jendela, tapi cahaya bulan terlalu terang, jadilah pindah!"
"Nah, jadi yang ngetok sekaligus ngintip di pintu depan tadi Lucas atau siapa?"
Mereka terdiam. Tidak ada yang berada di luar, Kana dan Hendra bersembunyi di belakang sofa, Liam yang awalnya mau di jendela pun pindah ke dekat meja telepon rumah, sementara Lucas berada di dekat anak tangga.
Napas Kara tercekat, bayangan tentang mata yang menatapnya dengan tajam membuatnya sulit berbicara.
Hendra yang sadar akhirnya memutuskan untuk menemani sang anak tidur di kamarnya. Dia tahu bahwa tidak ada yang beres di rumahnya. Inilah mengapa dia dempat menolak untuk meninggalkan Kara seorang diri di rumah sampai malam.
Tengah malam, gadis itu tak ada memejamkan mata, sementara Hendra dan Kana sudah tertidur pulas.
"Dari nomor nggak di kenal!"
Kara mulai membaca isi pesan tersebut dan membuatnya merinding bukan main. Isi pesan tersebut seperti ini.
"Ketika gelap, saya dengan jelas dapat melihat wajahmu. Saya berterima kasih pada mereka yang mau meninggalkan kamu sendirian sampai malam hanya untuk membuat kejutan. Wajah cemasmu juga sangat cantik apalagi saat melihat kamu berkeringat. Saya dapat melihat kamu, tetapi sulit bagimu untuk menemukan identitas saya. Suatu saat, kita pasti bertemu. Untuk itu, terima kado dari saya!"
Tiba-tiba sebuah ketukan dari pintu balkon terdengar. Kara menengok dan bergegas berjalan ke sana, lalu membuka pintunya.
Benar saja, ada sekitar tiga kado yang berjejer di bawah kakinya.
Saat hendak mengambilnya, bulu kuduknya meremang.
Keesokan harinya, dia terbangun dan melihat tiga kado semalam sudah berada di atas nakas. Kara bergegas mencuci wajahnya dan melihat isi kado tersebut.
Kado pertama yang berukuran kecil, dia mendapatkan sebuah kalung. Kara terkejut bukan main, karena yang dia tahu kalau kalung tersebut harganya sangat mahal.
Kado kedua yang berukuran sedang pun dia buka. Kara mendapatkan sebuah sepatu berwarna hitam.
Kado ketiga dengan ukurannya lebih besar dari sebelumnya memiliki isi sebuah gaun di mana bagian punggungnya terekspos dengan bebas.
"Buat apaan barang-narang beginian? Dikira ada acara dansa kali!"
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, menampilkan Kana yang datang dengan wajah penuh kegembiraan.
"Kak, Kana ada berita bagus!" ujarnya dengan mendekati sang kakak tanpa mempedulikan kasur yang berserakan dengan kotak kado.
"Nanti malam perusahaan papa bakalan ngadain acara karena ini adalah hari ulang tahun perusahaan. Bakalan ada pesta dansa dengan pakai topeng. Jadi selama acara berlangsung, tamu undangan wajib menggunakan topeng dan nggak boleh ada yang lepas. Kana udah pesan dua topeng yang cocok!"
Kana menunjukan topeng dengan ukiran yang unik. Kara tersenyum dan mengelus lembut rambut sang adik.
"Papa ngadain acaranya di mana?"
"Di apartemen punya temen papa. Ada satu ruangan khusus VIP yang luas dan itu untuk acara-acara besar. Papa udah sewa ruangannya dan undangannya juga udah di sebar dari semalam sama Langit."
"Jadi, kamu udah pilih dress mana yang mau di pake?" tanya Kara sembari melihat ke arah dress hitam itu.
"Udah. Warnanya senada sama topengku, merah. Jadi kakak pake topeng yang hitam!"
Kara hanya mengangguk, lalu mulai menyimpan kado-kado itu.
Dia lupa satu hal, kado ulang tahun untuk sang adik. Mereka, kan saudari kembar jadi ulang tahunnya samaan. Kara sendiri berniat membelikan Kana dengan sebuah tas yang sudah dia incar dari zaman sekolah. Entahlah masih ada atau tidak, tetapi hari ini Kara akan melihatnya.
Malam pun kembali datang. Kara menatap dirinya di depan cermin. Pakaian yang diberi oleh orang misterius itu ternyata bagus dan pas.
Bahkan aksesoris seperti kalung pun dia pakai. Sebelum pergi ke apartemen yang dia tuju, Kara menyempatkan diri untuk melihat pesan yang baru saja masuk.
Ternyata itu dari pria misterius. Dia akan datang juga, tetapi akan sulit bagi Kara untuk mencarinya. Bahkan ciri-cirinya pun dia tidak tahu.
Setibanya di sana, Kara langsung masuk tanpa menunggu. Kana sudah berangkat bersama Liam dan Lucas.
Kara memasuki ruangan yang hampir penuh itu dengan elegan, bahkan banyak pasang mata yang menatapnya.
Dia melihat Kana tengah sibuk dengan Hendra dan yang lainnya, jadilah dia memilih untuk tidak mendekat. Setidaknya dia memberikan sang adik kesempatan untuk berada di depan publik.
Saat sedang menikmati kue basah yang terhidang dengan rapi di atas meja, seseorang mendekati Kara. Tubuh tinggi dan tegap itu mampu menarik para gadis untuk melihat ke arahnya. Beruntung mereka semua menggunakan topeng, sehingga mereka tidak dapat melihat wajah satu sama lain dengan jelas.
"Selamat malam nona!"
Kara yang merasa tidak asing dengan suara itu, lantas mulai menengok ke arah kiri.
"Apakah nona yang sepedanya tidak sengaja saya tabrak waktu itu?"
Kara yang mengingatnya pun langsung tersedak. Gerakan cepat, dia mengambil air dan meminumnya sampai habis.
"Ooh, lo om-om yang ngehancurin sepeda gue. Eh, ini udah mau lewat dua hari. Mana sepeda gue?" tanyanya.
Perkataan tak sopan itu menimbulkan banyak pasang mata yang menatapnya dengan tak senang.
"Maaf, saya tidak memiliki nomor nona jadi bagaimana saya bisa menghubungi nona?"
Kara langsung ingat kalau pria itu sempat memberikannya kartu nama.
"Y-ya, cari tau, kek. Yaudah, pulang nanti gue bakalan hubungi lo. Awas aja kalo sepeda gue belom bener!"
__ADS_1
Pria itu tersenyum, beberapa gadis menjerit saat melihat dia senyum dengan sangat manis. Apalagi tahi lalat yang berada di bawah bibir, menambah kesan yang semakin mempesona.
Bersambung...