
Ada satu hal yang mengganjal di hati Kara. Pria itu sejak bertemu tadi, seperti enggan berjauhan darinya. Setelah pembicaraan mengenai sepeda selesai, Kara memilih untuk mencari kue lain yang belum dia coba.
Ternyata pria itu tetap mengikutinya dan tidak merasa aneh, hingga mendekati acara dansa. Dia mengajak Kara untuk berdansa yang sayangnya ditolak oleh gadis cantik itu.
"Maaf om, gue gak bisa dansa. Ntar malah kakinya yang gue injek!"
Dia tersenyum, tetapi senyuman itu Kara melihatnya dengan cara yang berbeda. Bibir kirinya cenderung tertarik lebih ke atas, sementara bibir sebelah kanan masih setia berada di tempatnya. Itu bukan senyuman yang penuh dengan hati, tetapi kepalsuan.
"Tidak apa-apa. Saya juga tidak bisa berdansa, lagipula ini adalah kesempatannya. Siapa tau kita tidak akan bertemu lagi!"
"Bagus dong kalo gak ketemu!" batinnya frustasi.
"Om ini p3d0, ya?"
Pertanyaan Kara spontan membuat pria itu menatapnya penuh keterkejutan.
"Habisnya ngintilin gue mulu. Gue ini masih umur belasan tahun, jad-"
"Nona, saya tau anda bukan seorang siswa lagi. Ada sudah lulus tiga tahun yang lalu!" bisiknya membuat Kara tercengang.
"Loh, kok tau? Jangan-jangan lo penguntit?"
Pria itu lantas tertawa kecil, dia merasa lucu melihat bagaimana wajah panik Kara.
"Bukan, untuk apa saya melakukan hal yang tidak berguna. Lagi pula saya hanya mencari identitas nona. Hal itu wajar, kan? Saya hanya ingin tahu nama dan umur anda."
Kara hanya bisa manggut-manggut dan tak mau ambil pusing lagi.
Setelah pesta dansa berakhir, Kara memilih untuk menjauh dan menikmati kue-kue yang ada. Baru saja akan mencomot satu kue, tiba-tiba ponselnya berdering.
Kara lantas mengambilnya dari dalam tas dan melihat siapa si penelepon. Itu adalah nomor yang tidak dikenal lagi. Dia mau tidak menjawabnya, tetapi penasaran juga.
"Halo!" ucapnya pelan.
"Kamu tidak melihat saya? Saya sejak tadi memperhatikan kamu, bahkan kamu sampai berdansa bersama pria yang jelas umurnya lebih tua dari kamu."
Spontan Kara langsung mencari-cari sosok laki-laki itu. Namun, tidak ada yang mrncurigakan. Terlebih semuanya sedang berfokus pada mc yang sedang berbicara.
"Kamu mencari saya? Hahaha, mustahil. Kamu tidak akan bisa mengetahui siapa saya sebenarnya. Kamu cantik juga menggunakan dress pemberian saya. Lumayan menggoda. Pastikan kamu tidak terlalu dekat dengan pria manapun, karena saya sekarang sudah mulai posesif. Teruslah menikmati kue sampai acaranya selesai, sementara saya akan memperhatikan kamu dari sini."
"Oh, fu*k!" umpatnya kesal sembari menatap ke arah ponsel.
"Gue paling benci sama permainan teka-teki. Bisa nggak langsung nampakin diri gitu."
Saat dipenghujung acara, Kara pun memilih untuk pulang lebih dulu. Dia sudah tidak sanggup menahan rasa kantuk sejak tadi. Baru saja akan memasuki lift, tiba-tiba seorang pria dari tempat yang sama juga masuk ke dalam lift.
Hanya ada mereka berdua, Kara pun menekan tombol nomor satu. Saat dipertengahan jalan, lampu tiba-tiba mati dan lift berhenti.
Suasana lift sekarang gelap total, dia bahkan kesulitan melihat sekarang. Beruntung dia memiliki ponsel.
"Tunggu. Ponsel gue di mana?"
Setelah mencari-cari di dalam tas dengan keadaan gelap gulita, Kara baru mengingatnya kalau benda pipih itu tak sengaja dia tinggalkan di atas meja.
"Siaal! Gue tinggalin di atas meja tadi. Kenapa nasib gue buruk banget, sih!"
Sesaat setelah Kara berhenti berbicara, dia merasa orang di sebelahnya terlalu tenang hingga mendengar deru napas yang pendek. Ingin tidak peduli, tetapi mereka satu lift sekarang.
"Eum, om, kak atau siapapun itu. Anda baik-baik aja?"
__ADS_1
Setelah bertanya begitu, kembali hanya terdengar suara napas. Detik berikutnya tangan Kara dicengkram dengan sangat kuat.
"E-eh, apa-apaan ini!" tanya Kara panik.
"To-tolong saya ... "
"Iya, tapi tolong apaan?"
"Saya kesulitan bernapas."
Kara semakin panik pula saat tahu pria itu penyakit asma. Apalagi tempat ini gelap dan pengap, tentu saja membuatnya panik juga.
"Aaghhh! Cuma ini jalan satu-satunya. Kalo kagak gue tolongin, nanti gue disangka pembunuh. Mas suami di masa depan, maafin bibir daku yang sudah tidak suci ini, hiks!" ucapnya penuh drama.
Kara akhirnya memberikan napas buatan pada pria asing itu. Setelah merasa dia sudah baik-baik saja, Kara duduk di sebelahnya dengan mengambil napas banyak-banyak, walaupun oksigen di sana semakin berkurang.
"Oalah, ini lampu kapan nyala. Woeee!"
Kara berteriak sembari menendang pintu lift.
"Apartemen apaan ini, lampunya dari tadi nggak nyala. Awas aja, bakalan gue komplen!"
Detik berikutnya Kara merasa suasana semakin panas dan oksigennya mulai menipis.
"Duh, mana gue sekarang yang mulai kesulitan napas!" batinnya.
Dia merangkak sedikit menjauh dari pria asing tersebut dan mencoba untuk menetralkan degupan jantungnya. Tak lama kemudian, lampu kembali menyala yang sayangnya Kara sudah pingsan lebih dulu.
.
.
.
Setelah penglihatannya tidak memburam lagi, Kara memperhatikan sekitar.
"Tadi gue di lift, kan? Siapa dong yang bawa gue ke mari?" tanyanya sembari bangun dan hendak pergi.
Dia berjalan ke arah meja resepsionis bermaksud bertanya berapa biaya rumah sakitnya. Namun, ternyata sudah ada yang membayarnya lebih dulu, bahkan dia diberikan sepucuk surat.
Kara hanya bisa tersenyum, lantas pergi dari sana dengan menggenggam surat tersebut.
Setibanya di rumah, terlihat seluruh anggota keluarganya menanti di sofa dengan rasa cemas. Begitu Kara membuka pintu, Kana langsung berlari dan memeluknya. Bagaimana tidak cemas?
Lucas menemukan ponsel Kara dan tanpa pemiliknya. Tentu saja mereka mengira gadis itu diculik, bahkan Hendra sudah meminta Langit untuk mengecek cctv di apartemen itu.
"Kakak dari mana aja. Kana khawatir tau. Kana kira kakak diculik!" ucapnya khawatir sembari menangis.
Kara tersenyum, dia lantas membalas pelukan sang adik.
"Tadi ada kejadian sedikit di lift, bangun-bangun kakak udah di rumah sakit. Lampu mati, jadinya lift berhenti jalan!"
Mereka semua akhirnya merasa lega dengan penjelasan Kara. Lucas nampak mendekati gadis itu dan memberikan ponselnya.
"Setelah ini, saya mau ngomong sama kamu. Cuma berdua!" ucapnya serius.
Kara hanya menganggukan kepala.
Malam itu mereka semua tertidur tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Musuh Kara di luar sana telah menyusun rencana untuk mengungkapkan jati diri gadis itu.
__ADS_1
Keesokan paginya, Kara bangun dan tidak menyadari ada yang aneh.
Saking lelahnya akibat kejadian semalam, dia hanya melenggang pergi menuju kamar mandi untuk mencuci wajah.
Setelah selesai, dia bergegas keluar dan mencoba membuka pintu. Sayangnya itu tidak mau terbuka. Sesaat pikirannya ngeblank, lalu kembali normal. Dia menyadari bahwa ini bukan kamarnya.
Pantas saja tadi dia melewati lemari, biasanya ada meja rias di sebelahnya, tetapi ini tidak ada. Matanya menatap sekitar dan tidak ada yang aneh, selain ruangan yang hanya memiliki lemari, kasur dan satu meja.
Kara melihat ke arah jendela, itu di pagar besi. Detik berikutnya dia baru sadar kalau dirinya telah diculik.
Kara spontan menggelengkan kepala, bagaimana bisa dia terculik?
Matanya menatap ke arah setiap sudut kamar, mengejutkan ada sekitar empat kamera cctv di sana. Kara langsung mendekati salah satunya dan mulai menatap kamera tersebut.
"Woe! Siapapun lo yang udah nyulik gue, lepasin gak? Ngapain mau pake acara nyulik gue? Gak ada gunanya!" teriaknya saking kesalnya Kara.
"Kampr3t, hooi!"
Baru akan melangkah menuju kasur, terdengar suara yang tidak asing lagi memanggil namanya secara berulang.
"Kara ... Kara ... Kara ... Kara ... "
"Berisiiikk!"
"Karaa!"
Gadis itu terkejut dan bangun dari tidurnya. Itu adalah Hendra. Wajah cemas pria itu semakin bertambah saat melihat anaknya mengigau.
"Mimpi ternyata!" ucapnya dengan mengusap pelan dadanya.
"Kara! Sekarang kamu cepat cuci muka dan ikut papa. Jangan banyak tanya, ini genting!" ucap Hendra membuat gadis itu hanya mengangguk, lantas berlari menuju kamar mandi.
Sebelum itu dia menyempatkan diri untuk memeriksa meja rias yang ternyata masih ada.
"Oh, aman!"
Saat ini mereka berada di basement milik Hendra. Di salah satu ruangan, sudha berkumpul yang lainnya yaitu Lucas, Liam dan Langit.
Kara menatap penuh keheranan pada mereka semua. Wajahnya tegang dan tak menunjukan ekspresi yang enak dilihat.
"Ngapa, sih? Kok, muka kalian keliatan tegang gitu. Nahan b*rak, ya?"
Liam dan Lucas langsung mendelik ke arah Kara yang tertawa pelan.
"Bukan waktunya ngelawak Kara!" sahut Hendra dengan mengeluarkan sebuah map.
"Map? Buat apaan?" tanyanya lagi.
Ketiga pria itu spontan menatap Hendra.
"Om belum jelasin apa-apa ke Kara?" tanya Lucas curiga.
"Om lupa. Jadi Kara, sekarang waktunya serius. Adik kamu sudah siculik!"
"Oh, Kana terculik. Pantesan gak liat dia dari tadi!" sahutnya santai membuat mereka keheranan.
"Eh, bentar-bentar. Terculik? Diculik? Apaa! Kana diculik?" teriaknya heboh, sampai-sampai Liam harus menutup kedua telinganya karena duduk di sebelah gadis itu.
Bersambung...
__ADS_1