FatiaAditya

FatiaAditya
Aditya


__ADS_3

Sudah tiga hari aku dirumah sakit, rasanya bosan sekali, udah makanannya hambar.


Aku juga rindu suasana sekolah, kumpul bareng sama temen temen. kira kira sekarang temen temen lagi pada ngapain ya?


Aku juga rindu suasana dipondok, rindu temen temen dipondok, dan juga rindu Umi dan Abah.


Aku menghembuskan nafasku, lalu kembali berbaring.


" Assalamu'alaiku. "


" wa'alaikumsalam. Abang kesini sendiri? Umma mana?"


" Umma ke Bandung jemput Umi sama Abah. Katanya pada mau kesini liat kamu. Waktu kemarin Abang telpon Umi langsung panik denger kondisi kamu. "


Akupun hanya mengangguk. Lalu tatapanku beralih kepada jinjingan yang dibawa oleh Bang Rey.


" Itu apa Bang?" tanyaku sambil menunjuk jinjingan yang Bang Rey bawa.


" Ini bubur sama buah buahan buat kamu. "


Bang Rey menyodorkan jijingan itu padaku dan ku ambil dengan senang hati.


" Wah.. enak nih.. Abang tau aja aku belum makan. "


" Dasar kamu ini ya... "


Bang Rey mengusap kepalaku yang tertutup jilbab dengan lembut.


" Ya iyalah dari tadi fatia pengen makan, tapi makanannya pada gak enak pada hambar semua. " ucapku sedih.


" Kesian bangetsih adik Abang ini. "


Akupun membuka kantong yang Bang Rey beri padaku, lalu aku ambil tuperware yang berisi bubur ayam.


" wawwhh.. pasti buatan Umma. "


" Iya, tadi sebelum berangkat Umma udah siapin bubur buat kamu. "


" Umma emang Umma ter the best lah. "


Akupun memakan bubur ayam buatan umma dengan lahap.


' Toktokk... ' ( suara ketukan pintu)


Bang Reypun membuka pintu lalu masuklah dua orang lelaki.


" Assalamu'alaikum. gimana kabarnya fat? udah mendingan belum. "


Tanya Bagas, ya lelaki itu adalah Bagas.


" Alhamdulillah udah baikan kok, malahan aku pengen cepet cepet pulang bosen. "


" Makanya semangat, biar bisa pulang. "


ucap Aditya sambil mengusap kepalaku.


Akupun yang diperlakukan seperti itu tiba tiba mematung.


" ehh... maaf reflek.. "


Aditya langsung menurunkan tangannya.


" iya gak apa apa. "


Hening... tidak ada percakapan.

__ADS_1


" De Abang mau beli makanan dulu dikantin. Kamu mau nitip sesuatu gak?"


" Enggak deh, fatia mau makan bubur buatan umma aja. "


" Yaudah Abang mau ke kantin dulu bentar ya. "


Bang reypun pergi dengan Bagas.


Hanya ada aku dan Aditya diruangan ini. Akupun merasa canggung sebenarnya, karna aku tidak terbiasa berduaan seperti ini dengan laki laki selain Abang dan Abi.


kami berduapun hanya saling diam, tidak ada percakan.


" hufft.. " Aku menghela napas.


Sebenarnya aku laper sekali dari tadi belum makan. Mau makanpun rasanya sungkan.


Aku bingung harus bagaimana?


Tiba tiba perutku berbunyi.


Aduh malu sekali rasanya, aku berharap Aditya tidak mendengarnya. Namun sepertinya dia mendengarnya.


Aditya menatap ke arahku, aku langsung memalingkan wajah kearah jendela. pasti sekarang ini wajahku memerah, aduhh... malu sekali mau ditaruh dimana wajah aku nanti. Rasanya aku ingin menghilang sekarang juga dari muka bumi ini.


" Kamu laper? " tanya Aditya tiba tiba yang sudah ada disampingku.


" Kalau laper makan aja, gak usah gengsi. Aku pamit pulang duluan tadi bunda chat suruh pulang. Cepet sembuh... "


Ucap Aditya diakhiri senyum tipis.


Baru kali ini aku liat dia ngomong panjang, biasanya selalu singkat.


Aku menggeleng gelengkan kepalaku.


" Emhh.. iya makasih dit. "


" Wa'alaikumsalam. "


...----------------...


POV ADITYA


Aku berjalan keluar menuju parkiran rumah sakit. Saat aku mau masuk kedalam mobil aku melihat laki laki paruh baya itu lagi, laki laki yang menembak fatia dulu.


Akupun berjalan mengikuti laki laki itu dari belakang. lelaki paruh baya itu berjalan kearah sebuah ruangan, ruangan itu tertulis


...Ruangan Psekiater....


Untuk apa dia kesini? saat aku mau mengikuti nya tiba tiba ada yang menepuk pundakku, akupun langsung berbalik.


" Lo ngapain ngendep ngendep gitu jalannya? "


Tanya Bagas.


" Enggak, gak kenapa napa."


elakku, bukannya aku gak mau ngasih tau tapi aku butuh waktu yang tepat untuk memberi tau.


Ingatanku berputan pada kejadian beberapa tahun yang lalu.


7 tahun yang lalu.


Hari ini aku berniat mau pergi kerumah ustadz untuk menyetorkan hafalan surah. Saat aku sedang berjalan aku mendengar suara teriakan seseorang, dan aku mengenal suara itu.


Aku berjalan cepat menuju suara yang kudengar, benar saja terlihat fatia sedang ditarik paksa oleh seorang laki laki.

__ADS_1


Akupun langsung berlari kearah fatia tapi aku kalah cepat fatia sudah ditarik paksa masuk kedalam mobil.


Lalu aku berteriak meminta tolong tapi lelaki itu malah membekap mulutku lalu memasukanku juga kedalam mobil. Mulutku disumpal oleh kain dan tanganku diikat oleh tali, kulihat fatia yang tak sadarkan diri dengan tangan dan kaki yang diikat dengan tali.


Mobil yang membawa kamipun berhenti. Lalu kami dibawa masuk kedalam rumah tua, rumah tua inipun terletak didaerah yang sepi dan hanya ada pepohonan saja disekelilingnya.


Kami dibawa masuk kesebuah ruangan. Dan ruangan itu ada banyak foto foto Ayah dan Abinya fatia dan juga lelaki itu. Sebenarnya siapa lelaki itu?


" Kalian jangan coba coba kabur dari sini, karna sampai kapapun kalian gak akan pernah bisa keluat dari sini. " ucap lelaki itu lalu keluar dan mengunci pintunya.


Akupun langsung berjalan kearah fatia.


" fatia... " panggilku sambil menepuk nepuk pipi fatia. gak lama mata fatiapun terbuka.


" Kak Ditya... tia takut... " fatia langsung memelukku erat.


" fatia kamu tenang aja, kamu percaya sama aku. Aku akan bawa kamu keluar dari tempat ini. "


Gak lama tiba tiba ada suara serine polisi berbunyi. lalu pintupun terbuka lelaki itu langsung menarik aku dan fatia kasar.


" Gimana bisa ada polisi pasti ini perbuatan kalian kan?" bentak lelaki itu.


lelaki itupun langsung menamparku keras.


Fatia yang melihat itu langsung menangis histeris.


" fatia.. jangan liat cepet kamu pergi. "


teriakku.


Tapi fatia tidak pergi dia terus menangis.


lalu saat lelaki itu mau menarik fatia.


Akupun melihat sebuah kayu didekatku, aku langsung mengambil kayu itu lalu memukul kepala lelaki itu dengan kayu dari belakang.


lelaki itu langsung mengeluarkan pistol lalu mengarahkannya kepadaku.


" Dasar bocah kurang ajar. " teriak lelaki itu marah.


Lelaki itupun mengeluarkan pistol dari saku celananya dan mengarahkan nya padaku.


'Dorr...'


Tiba tiba aku didorong oleh seseorang lalu terjatuh.


Aku membuka mataku tapi tidak terjadi apa apa, aku terkejut melihat fatia disebelahku bercucuran darah dikepalanya.


" fatia... fatia... "


Aku terus menepuk nepuk pipi fatia, tapi fatia tidak membuka matanya.


Lalu tidak lama polisi datang, tapi lelaki itu sudah kabur melarikan diri.


" FATIA..... "


Teriak Abi fatia lalu berlari kearah kami. Abi fatia langsung menggendong fatia keluar membawanya kerumah sakit.


Ayahpun menuntunku menuju mobil menuju rumah sakit. pikiranku kosong aku terus menatap tanganku yang penuh dengan darah fatia.


Aku dirawat dirumah sakit beberapa hari karna mengalami depresi yang lumayan berat, aku trauma karna kejadian itu.


Lalu saat keluar dari rumah sakit aku terkejut mendapat kabar bahwa fatia lupa ingatan, dan ada sebuah peluru dikepala fatia yang tidak bisa dikeluarkan karna cukup berbahaya. Apabila peluru itu dikeluarkan peluru itu akan meledak. Dan untuk mencegah kejadian itu fatia gak boleh setres dan banyak fikiran. Semakin fatia berusaha mengingat kejadian itu semakin berbahaya untuk fisiknya.


Dan semakin berjalannya waktu akhirnya fatia mengingat semuanya tapi tidak dengan aku. dan semenjak itu aku mengambil keputusan untuk pergi dari Bandung dan tinggal dijakarta.

__ADS_1


Nextt....


__ADS_2