
Tiga bulan telah berlalu. Minggu depan kami akan melaksanakan ujian semester. Dan minggu inipun mentari akan pulang dari luar negeri.
Aku dan yang lain sudah siap janjian untuk ke bandara menjemput mentari.
Aku berjalan menuju ruang tamu untuk berpamitan kepada Umma dan Abi.
" Kamu mau kemana?" Tanya Umma
" Fatia mau izin mau jemput tari di bandara. "
" Ohh, yaudah inget hati hati dijalan nya. " peringat Abi.
" Siap! cafe.. " ucapku sambil tertawa.
Saat aku keluar aku terkejut melihat Bang Rey yang sedang duduk dimotor dengan pakaian yang sudah rapih.
" Abang mau kemana? udah rapih aja?" Tanyaku
" Ya mau anter kmau lah. Kamu mau ke bandarakan?"
" Ya iya sih. " ucapku jadi bingung sendiri.
" Yaudah ayo naik, kesian yang lain udah pada nungguin. "
Akupun hanya menurut lalu naik ke motor Bang Rey. Lalu pergi menuju bandara.
...----------------...
Aku dan Bang rey sudah sampai dibandara, kami menunggu yang lain datang diparkiran. Tidak lama kemudian, Aditya, Bagas dan Nayla datang.
" Kalian udah dari tadi nungguin nya?"
Tanya Nayla
" Enggak kok baru aja dateng. " jawabku
30 menit telah berlalu
Mentari masih belum sampai. Menurut jadwal yang aku liat semestinya pesawat yang mentari taiki sudah sampai sekarang. Tapi kenapa mentari belum sampai ya?
Perasaanku mulai cemas entah tak tau kenapa.
" Aduh persaan aku kenapa tiba tiba gak enak ya... " Ucapku pada Bang Rey
" perasaan kamu aja kali dek. Abang yakin mentari pasti gak kenapa napa kok. "
Bang Rey berusaha menenangkanku. Walaupun sebenarnya Bang Reypun merasa cemas.
" Fatiaaa... " Teriak seorang wanita melambaikan tangannya sambil berlari kearahku membawa koper.
__ADS_1
" Mentari.. "
Aku langsung berlari kearah mentari.
Mentari langsung menghambur kedalam pelukanku. Kami saling berpelukan menghilangkan rasa rindu karna sudah lama tidak bertemu 4 bulan bagiku itu waktu yang lama.
" Aku kangen bangett.. sama kamu fatia. "
" Aku juga tar, kamu baik baik aja kan disana?" Tanyaku sambil menatap mentari.
" Yes, I'm ok"
" Kamu gak perlu khawatir sama aku fat.. " Lanjut mentari sambil tersenyum.
Tapi aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan mentari.
" Welcome back mentari. " Sambut Bagas sambil tersenyum.
Mentaripun langsung memeluk Bagas. Aku kaget melihat itu, begitupun dengan yang lain.
" Rese lo, gue chat dari malem gak dibales. Eyang nanyain lo tau gak. !" Kesal mentari sambil menjewer telinga Bagas.
" Sory.. sory.. gue gak tau hp gue rusak sumpah!" Bagas meringis kesakitan.
" Awas aja gue aduin lo ke Bunda. "
Ancam Bagas.
" Tunggu.. gue masih belum ngerti kalian kok deket sih?" Tanya Ucup.
Kamipun menatap kearah mereka berdua, meminta sebuah penjelasan.
" Kalian pacaran?" Tanya Bang Rey
" Kak Bagas.. sama Mentari?" Ujar Nayla tak percaya.
" Hahahahh... " Mentari dan Bagas langsung tertawa bersama.
" Sory.. aduh... gue sama tari itu adik kakak kandung. " jelas Bagas sambil meredakan tawanya.
" What.. ?"
" Iya kita adik kakak. Cuman beda berapa tahun aja."
" Tapi kalian kok gak mirip sih?"
" I don't now, orang orang juga pada bilang gitu. Aku sengaja bilang ke Bagas buat gak bilang kesemua orang kalau kita adik kakak. Karna gue gak mau punya kakak kaya dia yang selalu bikin onar, nyebelin lagi. "
Ucap mentari panjang lebar.
__ADS_1
" Tuh mulut pedes banget ya.. "
" So, Jadi gak ada yang tau kalian ini-
" Gue. " Potong Aditya.
" Kok lo tau, gak pernah bilang sama gue. "
ujar mentari kesal.
" Buat apa?"
" Gue sama Aditya udah deket dari kecil, jadi wajarlah dia tau. sebenarnya gue ngerahasiain ini juga semenjak Mentari masuk SMA. "
...----------------...
Malam yang sunyi, aku meminum teh hangat sambil memandang pemandangan langit malam hari yang begitu indah dihiasi bintang bintang dan bulan.
Angin menghembus pelan membelai wajahku.
" Sendiri aja, gak dingin?" Tanya Bang Rey duduk disampingku.
Aku hanya menggelangkan kepalaku lalu menyenderkan kepalaku pada bahu Bang Rey.
Aku menghembuskan nafasku pelan.
" Bang.. "
" Emhh.. "
Bang Rey mengusap kepalaku yang tertutup oleh jilbab.
" Fatia cape, kenapa penyakit fatia harus kambuh lagi, setelah sekian lama. "
" Abang yakin kamu pasti sembuh kok dek. Kamu kuat, kamu pasti bisa". Bang Rey tersenyum padaku.
Akupun memejamkan mataku dengan kepala yang masih bersandar pada bahu Bang Rey. Tak lama akupun tertidur.
" Kamu pasti bisa dek. Abang akan selalu siap menjadi tempat sandaran kamu disaat kamu rapuh, menjadi tempat segala keluh kesah yang kamu rasakan. Kamu gak sendiri, masih ada Abi, Bunda , dan Abang yang selalu ada untuk kamu. "
.
.
.
.
.
__ADS_1
* NEXT....