
Rasa pedas, manis, gurih, dan asin bercampur menjadi satu didalam mulut Ananta ketika menyantap bakso yang tadi dia pesan.
Namun, tidak lama ada lalat yang mengganggu aktifitas makannya.
"Hai." Lihat bahkan pria itu sedang tersenyum lebar kearah Ananta.
Ananta beserta kedua sahabatnya mengabaikan itu semua, karena memang tidak penting ingat tidak penting.
"Ta, kalo di liat-liat lo semakin hari semakin cantik aja deh."
Ananta sedikit mendongak, tidak lama memutar bola matanya malas ketika melihat pria di hadapannya.
"Tu 'kan makin gemes deh kalo lagi cemberut gitu."
Bella dan Keyra yang sedari tadi diam ingin muntah mendengar penuturan yang selalu di lontarkan oleh Ervin, pria yang selalu mengejar-ngejar Ananta.
"Ta, jangan diemin gue dong."
Saking kesalnya Ananta menatap malas Ervin yang selalu mengganggunya, "Berisik bego!"
"Sono pergi lo jamet!" Usir Bella karena dia juga jengah sedari tadi melihat Ervin, pria itu memang ganteng tapi menurut dia masih ganteng ayang babe nya.
"Pergi aja lo Vin nggak lihat Ananta ke ganggu ma kehadiran lo." Keyra ikut menimbrung dia juga risih ketika melihat Ervin mulu.
''Diem lo pada gosah ganggu." Ervin menatap tajam Bella dan Keyra.
Namun bukan Ervin namanya kalau menyerah dia terus saja menggombal dan mengajak Ananta berbicara. Tetapi Ananta diam saja mengacuhkan.
Sontak Ananta memejamkan matanya ketika ada seseorang yang menyiram ke arahnya dengan air, bukan itu saja bajunya juga basah karena orang itu menyiramnya sangat banyak.
"Heh lo pikir lo cuek kayak gitu cowok pada suka? nggak anjing! Bahkan pria bakalan eneg lihat tingkah lo yang sok jual mahal dan sok cantik kayak gitu!"
"Lo pikir lo cantik apa hah?! Kagak anjing!"
Ananta mendongak menatap orang yang sudah menyiramnya yang tidak lain tidak bukan adalah Ervin.
Bella mendekat dan mendorong Ervin, "Heh jamet lo berani-beraninya nyiram Ananta!"
Keyra juga menatap wajah Ervin dengan emosi, "Lo pikir lo keren, lo ganteng?! cuih lo tuh jamet tahu nggak jamet!"
Mereka berdua terus bertengkar beda dengan sang korban yang malah menatap nanar bakso nya. Bakso paling besarnya belom dia masuki kedalam mulut namun pria itu malah menganggu aktifitas makannya.
Tanpa di sadari perdebatan mereka memicu keheningan kantin dan menatap mereka dengan sesekali menyuapi makannya kedalam mulut serasa menonton sebuah pertunjukan drama live.
__ADS_1
Tidak jauh berbeda dengan meja anggota The Wolves mereka juga menatap heran kearah meja Ananta bersama kedua sahabatnya.
"Kenapa tu mereka?" Tanya Darel. Masih ada yang ingat dengan Darel dia juga inti geng The Wolves pria ini memang baru-baru ini pindah sekolah dengan alasan ingin mencari suasana baru.
"Paling juga masalah sama si Ervin." Jawab Agam dengan santai.
"Emang kenapa sama si Ervin?" Tanya Darel lagi karena pada dasarnya pria ini memang kepoan juga.
"Biasalah tu cowok setiap hari ngeja-ngejar mulu neng Kitty bahkan gue pernah denger tu cowok pernah nembak neng Kitty." Sekarang yang menjawab pertanyaan itu Ale.
"Lo kenapa?" Tanya Arga ketika melihat Ezriel yang langsung menatap Ale dengan datar.
"Tapi gue masih bingung tu cowok juga ganteng, tapi kenapa neng Kitty nolak ya. Bukan itu aja banyak cowok yang nembak neng Kitty tapi pada di tolak." Ujar Ale ketika mengingat kembali dimana para pria menembak Ananta dan pada akhirnya di tolak mentah-mentah.
Ezriel pria itu terus menatap kearah dimana tempat Ananta dan kedua sahabatnya duduk. Tidak lama pria itu berdiri dan melangkahkan kakinya dengan wajah datar khas nya.
"Lo mau kemana Riel?" Ujar Leo salah satu anggota inti geng yang juga berpindah sekolah mengikuti Darel. Karena tidak mendapat jawaban dengan terpaksa mereka mengikuti langkah Ezriel yang ternyata mendekati meja Ananta berada.
"Bukannya keren lo kayak gitu jatuhnya malah makin jamet!" Itu suara Bella dia memang selalu mengatakan Ervin dengan nama jamet.
"Apa sih lo anjing! Gosah ikut campur, urusan gue sama cewek sok jual mahal kayak dia!" Tunjuk Ervin kepada Ananta.
"Dih taik lo, dulu lo bilang Ananta cantik lah gemes lah taunya sekarang malah ngatain. Taik lo setan!" Keyra kini emosi kembali kepada Ervin.
Keyra dan juga Bella menatap kearah Ananta yang sedari tadi diam.
Ananta tidak lama mendongak dengan mata yang sudah berkaca-kaca jangan lupakan wajah yang masih basah dan baju yang basah sehingga mencetak bagian depannya.
Ezriel yang baru saja sampai di meja Ananta langsung menyampirkan jaket kebanggaan nya di pundak Ananta.
Ezriel yang melihat Ananta menangis sontak langsung mengepalkan kedua tangannya.
Perlakuan barusan membuat orang-orang menjatuhkan rahangnya tidak percaya dengan tingkah Ezriel. Inti dari The Wolves saja sampai melototkan matanya, kecuali dua orang.
Ezriel meninju rahang Ervin dengan kuat, "Sialan berani-beraninya lo sama cewek gue!"
Teriakan dengan nada dingin yang di lontarkan Ezriel membuat mereka menjatuhkan rahangnya kembali. Ezriel terus saja meninju Ervin dengan membabi buta sambil mengumpat.
"Bos malu bos lo stop jangan halu deh."
Celetukan dari Ale sempat memberhentikan Ezriel namun tidak lama pria itu kembali membabi buta. Sekaligus melampiaskan amarah yang selama ini pendam ketika melihat pria itu terus saja yang mengejar dan menganggu gadisnya.
"Sekali lagi lo ganggu cewek gue lo bakalan tahu akibatnya."
__ADS_1
"Bos lo jangan halu terus bos malu, kalo mau halu jangan ketinggian bos." Celetukan Ale lagi membuat Ezriel menatap tajam Ale.
"Ampun suhu."
"Udah bisa mati itu anak orang. Lo urus aja itu cewek lo." Lerai Genta yang sedari tadi dia melihat kebringasan Ezriel.
Ezriel menatap seluruh orang berada di kantin, "Dia..." Tunjuknya ke arah Ananta.
"Ananta itu cewek gue, milik gue ada yang berani sama Ananta lo pada urusan juga sama gue." Lanjutnya dengan nada dingin.
Ezriel menghampiri Ananta yang sedang menatap nya dengan mata berkaca-kaca kemudian memeluknya sebentar. Mereka berdua berjalan berdampingan tanpa embel-embel ada gendong ala brydal style.
Ananta dan Ezriel melewati Ervin yang sudah banyak lebam biru di wajahnya. Tidak lama Ananta berbalik dan meninju tepat di rahang Ervin dengan kuat.
"Sialan lo anjing! Gegara lo gue belom rasain betapa nikmatnya bakso gede mbak Andin!"
"Sialan lo Ervin! Gue kesel sama lo gue kesel!"
"Lo itu bukan ganggu gue aja tapi bikin gue nggak jadi makan bakso. Bakso gue aaa..."
Ananta kembali meninju rahang Ervin bertubi-tubi sekaligus melampiaskan kekesalan nya. Ananta meronta ketika ada seseorang yang memeluk dan menarik tubuhnya dari belakang.
Ananta terus meronta di pelukan Ezriel.
"Lepasin sialan! Gue mau kasih pelajaran ma tu cowok!"
"Lepasin El, lepasin."
Ezriel membalikan tubuh Ananta dan memeluk kembali, "Udah nggak papa, entar aku kasih bakso sepuas kamu."
"Hiks tapi aku pengen bakso mbak Andin." Jawab Ananta dengan sesenggukan.
Ezriel mengelus lembut surai Ananta dan sesekali mengecup puncaknya. Dia paham kenapa Ananta tiba-tiba mood nya naik turun karena hal sepele.
Dia tahu bahwa hari ini merupakan awal kedatangan tamu bulanan gadisnya.
Setelah kepergian mereka berdua, kantin masih hening mereka masih tidak percaya dengan keadaan yang barusan terjadi.
Bella mengerjapkan matanya, "Jadi tu bocah nangis gegara bakso nya belom ke makan?"
Keyra mengangguk membenarkan ucapan Bella, "Iya kita ketipu sama tu makhluk jadi-jadian, kita berdua udah capek-capek belain dan yang dia tangisin cuman bakso."
Mereka berdua saling menatap sebentar dan tidak lama mendengus. Keyra dan Bella mereka berdua pergi untuk menyusul Ananta.
__ADS_1