
Seorang gadis berdiri menatap langit di balkon kamar padahal cuaca malam ini cukup dingin tapi gadis itu malah memakai hotpants dan kaos pendek.
Gadis itu menunduk dan tersenyum tipis melihat tangan nya di lilit oleh sebuah perban.
Dia menjadi teringat kejadian siang di sekolah yang menimpa nya ternyata masih ada yang peduli dan membantu nya.
Keyra tahu bahwa gadis tadi yang menolong dan membantu mengobati tangannya akibat tersiram kuah bakso yang masih panas adalah teman kelasnya Ananta. Apakah gadis itu bisa dibilang teman.
Sangat lucu padahal Keyra tidak mempunyai teman namun kenapa dia menganggap Ananta sebagai temannya. Keyra juga sadar diri mereka mana mungkin mau berteman dengan seorang gadis pembully dan antagonis sepertinya.
Padahal yang Keyra tahu Ananta itu pribadi yang bodo amat dan cuek sama lingkungan namun kenapa gadis itu tiba-tiba menolongnya.
Dia mendengus ketika mengingat kembali si cewek menye yang menumpahkan kuah bakso ke tangannya beserta perlakuan dan perkataan Arga waktu di kantin.
Dia memang sudah biasa di perlakukan dengan kasar.
Keyra masuk kedalam kamar merebahkan tubuhnya di kasur dan menatap kamarnya yang bernuansa hitam dan abu-abu.
Sepi, sunyi, dingin dan gelap itulah definisi yang bisa di jelaskan kondisi kamarnya meskipun kamar ini besar dan mewah tapi kamar nya ini adalah tempat ternyaman di rumah ini.
Keyra mengambil ponsel membuka percakapan dengan Arga. Tidak lama kemudian dia mematikan layar ponsel dan menggenggam ponsel dengan erat. Tidak sanggup lagi membaca pesan yang selalu dia kirim itu.
Keyra tersenyum miris ketika mengingat kembali pesan yang banyak sekali dia kirim kepada Arga namun tidak ada satupun yang dibalas oleh Arga.
Bahkan Arga sering memblokir kontaknya dan ketika Keyra menanyakan apa alasannya pria itu mengatakan kalau dia itu berisik. Namun bukan Keyra yang diam dia mengganti nomor dan kembali mengirim pesan kepada Arga dan lagi-lagi di blokir mungkin ini sudah ke 10 kalinya Keyra mengganti nomor.
Tapi sekarang Arga tidak memblokir namun pria itu tidak pernah membalas ataupun membaca pesan dari Keyra.
Hampa dan sepi itulah kehidupan Keyra yang sebenarnya.
Pagi hari ini Keyra sudah rapi memakai baju seragam sekolah nya menatap pantulan di cermin dengan wajah datar dan kosong tidak lama kemudian dia tersenyum manis seolah beban yang di timpuk nya sudah lenyap. Padahal itu hanyalah topeng semata.
Menuruni tangga satu persatu dengan wajah berseri-seri namun senyuman yang tadi terbit perlahan-lahan memudar tergantikan dengan wajah sedih.
Keyra tersenyum manis berusaha menyembunyikan rasa kecewa dan sakitnya.
Arya_Papah Keyra menyimpan korannya dan menatap sang putri, "Hari ini Adik kamu berangkat sama kamu."
Keyra yang sedang mengunyah roti memberhentikan kunyahan nya, "Nggak mau dia bawa mobil aja sendiri."
__ADS_1
"Kamu tahu 'kan adik kamu itu nggak bisa nyetir mobil."
"Yaudah Sama Pak Mamat aja." Keyra melanjutkan kembali sarapan pagi nya.
Arya menatap tajam Keyra, "Kamu itu kenapa si nggak suka banget sama adik kamu."
"Karena dia itu bukan adik Keyra."
"Key kamu nggak boleh gitu gimana pun Maudy itu adik kamu juga."
Keyra menatap tajam wanita dihadapan nya, "Maaf ya saya nggak sudi ngaku dia adik saya cih."
"Keyra! Jaga sopan santun kamu sama mamah kamu!"
"Apa? Kan memang kenyataannya dia itu bukan adik saya bahkan wanita di hadapan saya itu juga bukan ibu saya."
"Key kamu kenapa gitu sama mamah."
Ujar Anggun_Mamah Keyra menatap wajah anaknya dengan mata berkaca-kaca.
Keyra bangkit dari duduknya dan mendelik, "Cih drama bahkan nafsu makan saya jadi tidak selera gegara anda."
"Keyra!" Bentak Arya bahkan tua bangka itu beranjak dan menampar pipi Keyra.
"Mas kamu kenapa tampar Keyra aku nggak papa kok." Wanita itu mendekati Keyra dan akan mengelus pipi Keyra tapi sebelum tangan itu sampai sudah Keyra tepis.
Keyra menatap tajam Anggun, "Jangan berani pegang pipi saya dengan tangan kotor anda."
"Keyra! Makin sini tingkah kamu makin tidak sopan kepada orang tua!"
Keyra mendengus, "Wajar karena tingkah laku saya menurun dari anda tuan."
"Jadi gimana tuan apakah jawaban saya salah?" Lanjut Keyra dengan pertanyaannya.
"Bicara yang sopan saya itu papah kamu Keyra!"
Keyra menahan tawanya, "Hahah Seorang ayah tidak mungkin menampar, menyiksa bahkan mengatai anaknya dengan kasar demi membela orang lain."
"Bahkan papah tidak tahu bahwa wanita yang selalu anda bela itu adalah wanita murahan." Keyra tersenyum sinis dan menatap tajam Anggun.
__ADS_1
"Kamu beraninya mengatai mamah kamu dengan murahan!"
Keyra tersenyum manis, "Terus kalo bukan murahan apa dong, *****? jablay? wanita malam? lacur hm?"
Arya sekali lagi menampar pipi Keyra dengan kuat bahkan saking kuatnya sampai Keyra menoleh. Rasa panas dan perih menjalar di pipi dan sudut bibirnya.
Keyra menatap ke arah tangga ketika mendengar suara langkah kaki terlihat adik perempuan nya sedang menatap pertengkaran.
Keyra menatap tajam adiknya ah bukan maksudnya orang yang menampung tinggal di rumahnya.
Keyra berbalik menatap papahnya dan berdecih, "Hebat anda sangat hebat terus saja tuan membela wanita itu dan anaknya."
"Wajar karena mereka adalah istri dan anak saya."
Keyra menganggukkan kepalanya berkali-kali, "Iyasih itu menurut anda tapi mereka berdua bukan keluarga saya"
"Sudahlah saya muak mendengarnya" Keyra melangkah pergi namun sebelum itu dia mengucapkan sesuatu.
"Oh iya saya cuman mengingatkan tuan penyesalan selalu datang di akhir jadi daripada sebelum menyesal anda lebih baik banyak tobat deh."
"Bukan itu saja karena anda juga harus sadar bahwa anda itu sudah tua jadi memperbanyak lah amalan."
Keyra terus melangkah bahkan gadis itu tidak mendengarkan teriakan dari papahnya. Memasuki mobil dan menutup mobil dengan kencang.
"Sialan." Umpat Keyra ketika melihat sudut bibirnya terdapat darah ketika dia bercermin pantas saja rasanya perih.
Ya seperti itulah kehidupan Keyra bukannya dia berlaku kasar dan tidak menghormati yang tua namun mereka sendiri yang membuatnya seperti ini sekarang.
Kurang kasih sayang dan selalu diperlakukan dengan kasar bahkan satu-satunya orang yang Keyra dulu banggakan sekarang perlahan sikap dan sifatnya berubah.
Bahkan papahnya sendiri tidak mempercayai ucapan selalu dilontarkan Keyra.
Keyra mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sekolahnya.
Dia jadi teringat sudah hampir seminggu ini dia tidak mengunjungi seseorang.
'Maafin Cassie ya, udah lama Cassie nggak dateng kesana.'
'Kalo Cassie nggak sibuk Cassie bakalan datang kok, tunggu aja.'
__ADS_1
Keyra menghela nafas, dia lelah dengan kehidupannya namun ada seseorang yang pernah mengatakan bahwa kita tidak boleh menyerah.
Karena setelah badai akan ada pelangi.