
Keyra kini sudah berada di pintu kelasnya, kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas. Kelasnya sedari tadi memang jam kosong karena para guru hari ini sedang melakukan rapat. Sehingga, dia bisa pergi ke taman belakang dan ketika Keyra masuk hanya terdapat kedua sahabatnya itu.
Keyra melihat dua sahabatnya itu sedang bermain ponsel masing-masing sambil tersenyum bahagia yang menghiasi wajah mereka.
Ananta menyimpan ponsel ketika Keyra yang tiba-tiba memeluknya. Dia menatap Bella dengan bingung, Bella mengedikkan bahunya pertanda tidak tahu.
"Key, lo kenapa?" Bukannya mendapat jawaban Ananta malah merasakan tubuh Keyra bergetar seperti sedang menangis.
"Lo kenapa Key?" Tanya Ananta lagi dengan khawatir. Masih tidak mendapatkan jawaban, Ananta dengan lembut mengelus punggung Keyra.
"Kalo mau nangis, nangis aja itu lebih baik dan biar lo tenang juga." Tubuh Keyra bertambah gemetar dan suara sesenggukan terdengar oleh Bella dan Ananta. Tangisan Keyra membuat Ananta dan Bella merasakan nyeri di hatinya.
Bahkan Ananta sendiri matanya sudah berkaca-kaca, dia itu tipe orang yang lemah ketika melihat orang menangis dan itu bisa membuat dia malah menangis juga.
Apalagi ketika mendengar tangisan Keyra yang sangat menyayat hatinya, perkiraan Ananta sepertinya perihal Arga lagi atau keluarganya. Ananta terus menepuk-nepuk punggung Keyra agar tenang.
Keyra melepaskan pelukannya menatap Ananta dan Bella dengan mata merah sehabis menangis. Da menghapus air mata menggunakan punggung tangannya sembari tersenyum tipis,"Makasih, gue sekarang udah tenang kok."
Mereka bertiga hanya diam, lebih tepatnya Bella dan juga Ananta yang menatap Keyra.
"Ta, hari ini gue boleh nginep di rumah lo?"
"Boleh lah, lagian hari ini gue di rumah sendirian"
Mendengar itu membuat Keyra tersenyum manis,"Makasih."
Ananta menoleh kepada Bella,"Kalo gitu lo juga nginep di rumah gue gimana?" Tanya nya kepada Bella
"Oke entar gue izin dulu sama mamih sama papih gue juga."
"Oh iya, gue cuman mau ngingetin atau ngasih tahu kalo gue itu tipe cewek kalo ditanya kenapa ketika lagi nangis bukannya berenti nangis malah makin nangis." Keyra menatap mereka berdua sambil tersenyum tipis.
€€€
"Tumben lo diem aja?"
Keyra menoleh ketika Ananta mengajukan pertanyaan nya. Dan dibalas dengan gelengan kepala serta senyuman tipis oleh Keyra. Pertanyaan itu membuat semua orang yang berada di meja itu menoleh kearah pemilik sumber suara.
Lebih tepatnya mereka berdua memang sedang di kantin. Bukan itu saja anggota inti The Wolves saja satu meja dengan Ananta serta kedua sahabatnya jangan lupakan si parasit yang selalu menempel dan mengikuti Arga.
Keyra kembali melanjutkan makannya dengan tenang dan itu mengundang kembali tatapan tanda tanya dari mereka semua.
"Bener biasanya lo tuh nempel-nempel mulu sama si Arga." Celetuk Ale dengan sinisnya. Keyra memberhentikan kunyahannya dan menatap Ale dengan raut datar.
Hening. Satu kata yang pantas dengan keadaaan saat ini. Biasanya meja itu akan ricuh dengan celotehan tidak bermutu dan pertengkaran antara Darel dan juga Ale. Namun, hari ini tidak tahu kenapa suasananya sedikit suram dan mencekam.
"Lo kenapa natapin Keyra kayak gitu?" Tanya Ale ketika mendapati yang Genta terus menatap Keyra dengan sedikit aneh mungkin. Ale pria itu memang mempunyai mulut yang memang minta di sleding mulu.
Pertanyaan itu membuat seluruh pasang mata menatap kearah Genta termasuk Keyra sendiri. Kecuali, Ezriel yang malah terus menatap Ananta dengan mata berbinar nya ketika melihat gadisnya itu yang sangat imut ketika makan dengan lahap dan mulut penuh bakso. Taulah yang bucin mah beda.
Genta menoleh kearah Ale dengan datar.
__ADS_1
Ananta menatap Genta dengan dalam, bukan karena cinta ataupun tertarik namun dia sedang menyelidiki sesuatu.
Dia kemudian tersenyum tipis.
Di novel memang diceritakan bahwa ada seseorang yang sangat mencintai tokoh antagonis dengan diam-diam.
Siapa lagi Kalau bukan Genta Fahlevi Abraham. Pria dengan sifat sebelas duabelas seperti Ezriel yang memiliki wajah datar dan dingin. Pria yang menjabat juga sebagai wakil ketua Geng The Wolves.
Di novel memang tidak ada yang tahu bahwa Genta sangat mencintai Keyra. Meskipun mencintai Keyra tetapi pria itu tidak pernah merebut Keyra dari Arga. Bahkan setelah kematian Keyra pria itu tidak pernah menyatakan cinta nya.
Keyra sendiri tidak tahu bahwa ada orang yang terpuruk setelah kematiannya siapa lagi kalo bukan Genta. Pria itu bahkan menyesal tidak pernah mengatakan bahwa dia mencintai Keyra, pria itu telat mengatakan nya.
Bukan itu saja satu-satunya orang selalu mengunjungi makam Keyra dan mengantarkan Keyra ke tempat peristirahatan terakhir hanyalah Genta.
Salah satu alasan lagi kenapa Ananta tadi pagi mengatakan bahwa Keyra harus stop mengejar Arga karena Keyra lebih baik bersama Genta. Orang yang sangat mencintai Keyra begitu dalam daripada pria brengsek itu yang tidak menghargai perjuangan nya.
Ananta juga memang dari awal datang ke dunia ini ingin membuat Keyra bersama Genta saja. Karena itu lebih baik. Keyra itu sebenarnya mempunyai cinta sejati. Seseorang yang selama ini Ananta lihat selalu menatap dalam diam kepada Keyra.
Ananta mengerjapkan matanya ketika ada seseorang yang menutup matanya.
"Jangan natap dia kayak gitu." Suara itu, sepertinya mas pacarnya cemburu.
Ananta perlahan melepaskan tangan Ezriel yang menutup matanya, dan menoleh ke arah pria yang tepat duduk di sampingnya.
Ananta melipatkan bibirnya kedalam menahan senyum ketika mendapati wajah cemberut Ezriel yang menurut dia itu sangat lucu.
"Jangan natap dia kayak gitu, aku nggak suka apalagi sampai senyum gitu."
Ananta malah mengelus lengan Ezriel sembari senyum tipis.
"Kok malah senyum si." Ujar Ezriel dengan nada jengkel.
"Lagian lucu si liat kamu cemberut kayak gitu kayak anak kecil tau."
Pipi, telinga dan juga leher Ezriel memerah mendengar gadisnya itu mengatakan dia lucu. Ezriel bahkan memalingkan wajahnya berusaha menutupi wajah nya yang memerah. Ananta menahan senyum kembali, kenapa mas pacarnya ini lucu si. 'Kan minta di gorok jadinya.
"Anji*g! Si Riel nge blushing bro." Ale dengan nada heboh sampai menabok-nabok lengan Darel yang memang tepat duduk di sampingnya.
"Sialan lo Ale-ale nggak sampai nabok gue juga kali." Ringis Darel sambil mengelus lengan nya yang terasa sakit dan panas.
"Yeh gue kan refleks cuy baru kali ini liat Riel nge blushing."
Ananta menatap semua orang yang berada di meja dia lupa bahwa masih ada orang-orang disini. Ezriel menatap tajam Ale, dan kembali menatap gadisnya. Ananta mengelus lengan dan tersenyum kepada Ezriel.
Ezriel menarik pinggang Ananta sehingga gadis itu semakin menempel dengan Ezriel.
Ezriel berbisik tepat di telinga Ananta,"Inget kamu itu cuman milik aku." Ucapnya dengan menekan di setiap perkataan nya lagi. Ananta yang mendengar nya hanya tersenyum tipis.
"Arga."
Suara yang di keluarkan oleh makhluk jadi-jadian menyebabkan semua yang berada di meja sekarang menatap Flora yang sedari tadi diam.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Arga dengan suara lembut, selembut pantat bagong bagi Ananta.
Ananta mendengus dan itu terdengar oleh telinga Ezriel,"Kenapa hm? Tanyanya dengan berbisik di telinga Ananta.
''Aku nggak suka sama mereka." Ananta menjawab sambil berbisik juga.
"Iyalah kamu 'kan suka nya harus sama aku."
Ananta memutar bola matanya malas, wahai Ezriel kenapa kau semakin aneh. Dia kemudian menatap Keyra yang hanya menatap datar Arga dan Flora.
Tanda tanya muncul lagi di kepala Ananta ketika melihat Keyra. Gadis itu aneh sekali.
"Entar pulang sekolah boleh antar aku ke toko bunga." Flora dengan nada lemah dan lembut. Arga mengangguk dan mengelus sebentar surai Flora membuat senyum gadis itu terbit dengan lebar.
"Biasa aja kali senyum nya. Bibir lo sobek tau rasa lo." Celetukan Ananta membuat pasang mata sekarang menuju ke arah Ananta.
"Kak Ana nggak suka ya sama Flora, sampai ngomong kayak gitu." Ujar nya dengan nada sesedih mungkin.
"Sok deket banget lo sampai panggil gue, Ana."
Ananta memang tidak suka ketika ada orang yang memanggilnya Ana dia lebih baik di panggil Ananta atau Ata tapi ingat bukan Ata gledek.
Bukan itu saja ketika mengingat nama Ana dia suka teringat dengan cerita novel genre transmigrasi yang kebanyakan nama Ana itu cewek polos dan menye-menye.
Flora yang mendengar menatap Ananta dengan berkaca-kaca, sehingga membuat Arga memeluk Flora untuk menenangkan nya.
Arga juga tidak mungkin dia membentak atau memperlakukan Ananta dengan kasar. Kalau sampai itu mungkin Arga harus mempertaruhkan nyawa karena Ananta adalah kekasih dari ketua Geng nya. Sehingga, yang bisa dia lakukan hanya menenangkan Flora saja.
Lagian dia tidak mungkin melawan kekuatan fisik dari Ezriel.
Ananta mendelik kepada Flora. Oh ayolah apa yang membuat Arga mencintai gadis itu. Padahal Keyra jauh lebih baik daripada babi di depannya.
Babi. Ya babi itu nama yang cocok buat gadis menye di depannya daripada Flora nama itu terlalu bagus untuknya.
"Heh! Emang Ananta bilang nggak suka sama lo gitu? Nggak 'kan?! lagian ya ngapain dia suka sama sesama cewek lagi!" Sarkas Bella yang memang gadis itu sedari tadi diam melihat kejadian itu. Dia lagi sibuk bermanja-manja dengan Leo sang pacar.
"Tapi kak Ananta kenapa ngomong nya kayak gitu sama Flora." Ujar Flora dengan sesenggukan.
"Diem lo mulut lo itu bau sampah." Sarkas Ananta dengan tajam.
Flora menunduk membuat gadis itu terlihat lemah dan seperti orang tertindas.
"Cih dasar lemah." Cibir Keyra dengan nada tajam.
Ananta menoleh kepada mas pacar nya,"El, aku ke kelas duluan ya?"
"Kenapa?"
"Aku males liat babi." Ananta berbisik lagi tepat di telinga Ezriel. Setelah mendapat persetujuan dari Ezriel. Ananta beserta kedua sahabatnya pergi dari kantin.
Tidak tahu saja setelah kepergian Ananta beserta kedua sahabat nya. Gadis yang disebut babi oleh Ananta tadi itu mengepalkan tangannya dibawah meja.
__ADS_1