Final

Final
Na Laya


__ADS_3


Aku akan mengenalkan diriku terlebih dahulu sebelum kisah ini dimulai.


Aku adalah seorang gadis yang tumbuh dari keluarga broken home. Ayah dan ibu ku berpisah saat aku berumur 10 tahun. Aku masih ingat, tepat di awal tahun baru setelah kembang api dinyalakan mereka berdua mengucapkan kata itu.


"Nak ... ibu dan ayah tidak bisa bersama lagi."


Diantara banyaknya kerumanan orang-orang yang tengah berbahagia menyambut tahun baru hanya aku saja yang tidak jadi berbahagia. Terlihat di mata ku, kedua orang tua ku masih tersenyum hangat setelah mengucapkan kata itu.


"Tapi kamu jangan khawatir. Kami akan menyayangi mu walau kami berpisah. Kamu bisa tidur di rumah ayah atau ibu."


Dan itu kebohongan manis pertama yang aku terima. Lalu setelah hari itu 360° kehidupan ku berubah.


Mereka saling mengoper ku sana-sini. Sikap ayah dan ibu ku turut berubah. Awalnya memang masih terasa manis di telinga ku lalu perlahan menjadi sarkas yang memilukan hati.


"Pergi ketempat ayah mu sana! aku sudah tak bisa mengurus mu lagi. Banyak yang harus ku pikirkan, bukan hanya kau saja!"


Aku masih mengingat bagaimana baik dan sayangnya ibu kepada ku sebelum ucapan sialan itu mereka sepakati. Ibu yang dulu bak malaikat perlahan telah berubah. Aku bahkan tak bisa mengenali wajah nya yang dulu dengan saat itu.


"Aku sudah lelah. Jangan hanya minta uang pada ku, sana minta pada ibu mu yang egois itu! kau pikir cari duit itu gampang?!"


Begitu juga pada ayah ku. Dulu saat di sekolah salah seorang guru bertanya kepada kami siapa yang paling kuat di keluarga kami, saat itu aku menjawab 'ayah ku!'. Ayah ku dulunya seorang penyabar. Dia juga ahli dalam memperbaiki barang bahkan sering diminta bantuan oleh para tetangga. Ayah ku juga selalu menyambut ku dengan ceria ketika aku pulang sekolah.


Namun lihatlah setelah kesepakatan yang mereka buat, perlahan mereka menunjukan sikap tak suka padaku.

__ADS_1


Aku yang masih kecil itu selalu bertanya-tanya, apa aku salah? apa penyebab perceraian mereka adalah aku? apa memang harus seperti ini jalan nya setelah mereka bercerai? mengapa aku disakiti seperti ini padahal aku masih kecil?


Pertanyaan itu terus menumpuk di kepala ku hingga aku beranjak dewasa. Seragam putih merah itu telah berganti dengan seragam putih abu-abu namun kenyataannya juga masih tetap sama. Kedua orang tua ku telah bercerai dan hasil perceraian itu memaksa ku untuk tumbuh menjadi gadis dengan luka dihati nya.


Aku hampir lupa ... nama ku Na Laya dan aku anak tunggal.


...- - - - - -...



Apa yang akan kamu lakukan ketika keluarga mu tak utuh lagi? Apakah kamu akan membiasakan diri dengan menerima kehidupan yang tak kamu sukai atau kamu akan memberontak dengan segala macam cara?


Dulu aku memilih yang kedua.


Orang dewasa selalu punya pilihan sedangkan anak-anak harus menerima yang dipilihkan oleh orang dewasa. Lalu setelah itu mereka lepas tangan. Sudahlah memaksa tak mau juga bertanggung jawab.


Kalian pasti bisa menebak jalan cerita ku selanjutnya.


Aku sudah bertumbuh menjadi seorang gadis muda yang bersiap menjalani 3 tahun masa-masa SMA dengan sendirian. Aku pikir kesepian sudah menjadi darah daging untuk ku.


Lalu seorang laki-laki datang, merusak rasa kesepian ku.


"Jadi juara pertama untuk semester 1 dari seluruh siswa-siswi disekolah ini jatuh kepada ... RADITYA PUTRA!"


Suara gemuruh tepukan tangan terdengar setelah perkataan kepala sekolah.

__ADS_1


Awalnya aku tak penasaran, aku juga tak ikut bertepuk tangan seperti yang lain. Namun, ketika suara nya mulai terdengar disitulah untuk pertama kalinya aku menemukan jawaban dari mimpi ku.


"Naya ... kamu sedang apa?"


"Naya! lihat aku membawa banyak kunang-kunang untuk mu."


"Naya jangan bersedih ... kan ada aku."


"Naya, aku menyukai mu! perasaan suka ku jauh lebih besar dari matahari."


Suara laki-laki itu telah menemani mimpi buruk ku sejak perceraian kedua orang tua ku. Berulang kali suara itu terdengar dan membuat ku merasa terbiasa. Aku merasa mempunyai seseorang dan untuk mendengarnya aku kembali tertidur. Bertahun-tahun aku menghabiskan hari-hari ku dengan tertidur. Obat dari rasa sakit ku hanyalah itu. Aku bahkan tak tau mengapa dan siapa pemilik suara itu. Hingga suara itu terdengar nyata ketika aku dalam kondisi sadar.


Sejak saat itu aku diam-diam menyukai nya.


Namun aku adalah gadis muda yang pasif. Tak banyak teman-teman yang mengenal ku. Aku juga bukan gadis yang mengejar-ngejarnya seperti yang dilakukan gadis lain.


Aku hanya berdiri jauh untuk melihatnya yang tengah bermain bola. Aku juga menjaga jarak ketika secara tak sengaja bertemu di kantin. Mungkin di mata orang lain akan terlihat seperti aku membenci nya tapi sebenarnya tidak. Sedangkan dia tak peduli dan juga tak melihat ku.


Aku tak ingin menerka-nerka. Cukup perasaan ku saja yang bisa ku raba. Aku juga tak ingin dia mengetahui tentang perasaan ku apalagi orang lain tau. Cukup aku saja.


Walau aku sudah menemukan pemilik suara yang menemani mimpi buruk ku, suara itu masih juga setia hingga kini. Tidak hanya muncul di mimpi buruk ku tapi juga menghiasi mimpi baik ku.


Obat itu ternyata tak selamanya pahit. Aku bahkan rela menikmatinya perlahan agar obat itu tak cepat habis. Tapi luka akan selamanya terasa menyakitkan walau mereka menghiasinya dengan perkataan 'luka indah' tetap saja itu adalah luka.


Dan luka kedua ku adalah dirinya.

__ADS_1


__ADS_2