
Sinar matahari perlahan memasuki kamar ku. Memaksa ku untuk segera bangun dari mimpi yang selalu berulang pada pria yang pernah ku cintai. Matahari selalu sama baik dikondisi ku sekarang maupun 5 tahun lalu. Yang berbeda hanya aku.
Aku duduk ditepi ranjang tanpa memperdulikan sinar matahari yang akan menghangatkan kaki ku. Aku menyukai rasa hangat, apalagi di peluk dan di cium. Tapi sepertinya itu tak akan mungkin lagi.
"Kalau kamu sedih peluk aku aja ya? Jangan dipendam lagi."
Aku hanya tersenyum sinis ketika kenangan itu muncul dipikiran ku.
"Kalau kamu sakit aku bakalan sakit. Kalau kamu bahagia aku juga bakalan bahagia."
Dasar pembohong!
"Kamu tak akan sakit ketika aku sakit, kan?! Kamu sekarang pasti sedang berbahagia."
Aku pikir setelah 5 tahun berlalu perihal dirinya pasti akan hilang ditelan waktu. Mungkin sebagiannya benar, perasaan cinta ku padanya sudah berubah menjadi benci. Namun perihal kenangan yang di torehkan ternyata tak semudah itu untuk menghilang.
Tak ada gunanya mengingat kenangan. Aku menepiskan pikiran itu dan memilih untuk segera mandi. Semakin ku kenang semakin sakit yang ku terima.
Hari ini aku ada kegiatan. Beberapa kegiatan ku lakukan karna hobi dan untungnya dapat uang. Aku tak memiliki pekerjaan spesifik sejak pindah 1 tahun yang lalu ke desa pinggir pantai ini. Jadi banyak pekerjaan sampingan yang ku lakukan untuk biaya hidup ku sehari-hari sekaligus menyalurkan hobi ku.
Walau sejak kecil hingga sekarang aku dipaksa tumbuh dengan rasa sakit tapi diluar aku akan tampak baik-baik saja. Kalian jangan khawatir, aku sudah berteman baik dengan luka juga seperangkat rasa sakit.
"Naya, pagi ini bantuin aku di pasar ya. Ntar ku gaji," pesan Mimi.
"Nay, siang kosong gak? bantuin aku di rumah makan ya ada 3 reservasi hari ini. Nanti aku gaji lebih deh," pesan Tiva.
__ADS_1
"Oi Nay! malam sibuk gak? kalau gak bantuin kakek ku ya nangkap ikan. Pak Kardi lagi sakit jadi kamu gantiin dia, cuma semalam doang. Ntar gajinya ambil dari hasil tangkapan ikan ya!" pesan Juna.
3 pesan berturut-turut masuk ke ponsel ku. Jika ada kata gajinya pasti bakalan ku ambil.
Aku, Saka, Mimi, Tiva dan Juna sudah resmi berteman sejak aku pindah ke desa ini. Awalnya aku hanya berteman dengan Saka karna sebelum berumur 10 tahun kedua orang tua ku selalu mengajak ku berlibur di desa pinggir pantai ini. Disini tempat tinggal nya nenek ku.
Lalu kehidupan ku berubah. Nenek ku meminta ku untuk tinggal bersama nya namun ku tolak. Aku tak mungkin pindah ketika aku belum lulus, biaya perpindahan saat itu mahal. Jadi mau tak mau aku harus melanjutkan hidup sendirian setelah kedua orang tua ku tak mau mengurus ku lagi.
Bahkan setelah berpisah dengan pria itu aku masih tetap melanjutkan hidup ku dikota itu. Berkuliah lalu lulus dan kemudian bekerja ku lakukan sendirian. Sampai pada akhirnya berita kematian nenek ku terdengar saat itulah aku bergegas kesana.
Luka ketiga ku pun tertorehkan.
"Nak ... nanti kalau nenek sudah tiada kamu jangan seperti ini ya? jangan berlarut dalam kesedihan."
Itu ucapan yang nenek katakan ditelpon pada ku sehari sebelum dia meninggal.
"Nenek jangan khawatir pada ku, aku sudah terbiasa. Yang penting nenek harus cepat pulih."
"Maafkan nenek ... seharusnya dari dulu kamu tinggal bersama nenek. Setidaknya kamu tak akan terbiasa dengan rasa sakit. Maafkan nenek, nak ..."
Aku masih ingat suara bergetarnya. Suara itu bahkan tak bisa lagi ku dengar. Semuanya hanya tinggal kenangan yang menumpuk di kepala ku.
Tiap aku mengunjungi makam nya hanya ada dua kata yang ku ucapkan, "Maafkan Naya ... Naya sayang nenek."
Setelah itu ke-empat teman ku pun menghibur ku. Kami seumuran dan masih betah sendirian mungkin karna itu kami berlima cocok menjadi teman.
Aku bergegas keluar dari rumah ketika jam menunjukan pukul 07.25. Jadwal ku hari ini benar-benar sibuk. Tak ada waktu untuk mengingat kembali kenangan yang dulu. Walaupun aku sudah berteman baik dengan rasa sakit namun aku tak ingin mengingat nya.
__ADS_1
Aku melaju ke pasar dengan sepeda tua peninggalan nenek ku. Udara pagi di jalan pinggiran pantai terasa menyegarkan. Berbeda hal nya dengan di kota, jam-jam segini pasokan udara segar sudah habis dijajah polusi dari kendaraan. Dan macetnya tidak tertolong. Salah satu alasan yang membuat ku berpindah tempat.
Pemandangan cantik disisi kiri jalan terlihat. Air pantai yang terlihat cerah dihiasi dengan putihnya pasir pantai, benar-benar seperti lukisan.
"Naya!!"
Seorang pria menghampiri ku dari arah belakang. Pria yang tadi malam melarang ku untuk mabuk di pinggiran pantai. Siapa lagi kalau bukan Saka.
"Kenapa?" tanya ku.
"Sore nanti sibuk gak? ada kerjaan baru nih."
Aku hanya menggeleng.
"Bagus! ntar sore sekitaran pukul 4 temui aku dibalai desa ya, sore ini kamu jadi tour guide. Oke?"
Dengan mendadak aku menghentikan kayuhan sepeda ku. Begitu juga dengan nya.
"Kenapa berhenti, Nay?" tanya nya.
"Tour guide nya sampai kapan?"
"Katanya sampai tiga hari tapi mungkin bisa lebih dari itu. Kata ayah ku yang bakalan datang tu orang-orang tv. Gimana?" tanya nya lagi.
"Hari ini aku hanya bisa dari sore sampai jam 7 malam. Nanti malam aku sudah berjanji akan bantuin Kakek Juna menangkap ikan semalaman. Dan bakalan bisa lagi setelah sarapan."
"Oke gak masalah, untuk sementara biar aku yang lakukan baru sisa nya kamu."
__ADS_1
Aku hanya mengangguk dan kembali mengkayuhkan sepeda ini. Tak ada yang membuat ku senang kecuali gaji, begitulah yang ku rasakan sekarang.
Bagaimana dengan perasaan bahagia? ntahlah ... mungkin tak akan pernah kembali menyapa ku.