
Ada sebuah kebiasaan yang berulang kali ku lakukan. Duduk diam di tepi pantai setelah pukul 10 malam. Hanya ada cahaya samar-samar dari beberapa lampu kedai yang sudah tutup menemani ku. Juga sebotol minuman bersoda yang tak akan membuat ku mabuk.
Aku menyukai angin pantai yang berhembus lalu memberantakan rambut ku. Aku menyukai air pantai yang seenaknya membasahi kaki ku. Aku juga menyukai udara dingin nya yang memeluk seluruh tubuh ku. Inti nya aku sangat menyukai pantai.
"Kamu masih disini?"
Seorang pria menemui ku dengan membawa sepiring roti panggang dan sebotol Coca Cola. Dia teman ku.
"Padahal suasana nya lagi bagus, kenapa kamu kesini?"
Dan ketika kebiasaan itu ku lakukan, aku tak ingin orang lain menganggu ku. Tapi tampaknya pria ini tak memperdulikan ku.
"Tentu saja ingin menyendiri. Memang nya kamu saja yang boleh?"
Dia masih sama. Baik dengan dirinya di 10 tahun yang lalu dengan yang sekarang tak ada perubahan. Dia memang teman ku, nama nya Saka.
"Masih ada banyak tempat buat kamu menyendiri. Jangan didekat ku."
Aku mengusirnya. Tentu saja itu tak akan mempan untuk nya. Perkataan ku kan hanya seperti angin pantai ini, berlalu begitu saja.
"Mau bayar berapa kalau aku pindah tempat? lagian ya udah mau tengah malam masih juga disini. Ntar kesambet setan pantai."
Mendengar jawaban nya membuat ku tersenyum tipis, "Setan pantai nya yang takut pada ku."
Sebuahan jitakan dikepala ku mendarat.
"Ternyata kepala mu masih sama ya ... keras kepala nya tetap gak ilang walau umur udah seperempat abad."
Aku memelototi nya, "Thanks buat pujian nya. Aku harus bayar berapa?"
"Habisin tuh roti bakarnya. Itu harga untuk kamu bayar."
__ADS_1
Dia meletakan lebih dekat piring berisikan roti bakar buatan nya pada ku. Walau sifatnya masih sama tapi dia masih baik pada ku.
Tanpa basa basi dan sungkan aku melahap roti buatan nya. Tak bersisa dan berjejak.
"Agak gosong tapi okelah."
"Menghina lalu memuji, sepertinya hobi mu bertambah, Naya."
Sepertinya hobi ku memang bertambah. Melakukan banyak hobi membuat ku sibuk. Lebih baik sibuk secara fisik ketimbang sibuk dipikiran.
"Ya ... akan ku masukan ke list hobi terbaru ku."
Mata ku tertuju ke arah air pantai yang sedang tenang. Namun air yang tenang bisa berubah menjadi pasang surut. Hidup ku pun begitu. Sejak umur 10 tahun hingga umur ku 25 tahun pasang surut tak pernah meninggalkan ku.
Hidup ku akan pasang ketika hal-hal baik terjadi pada ku lalu kembali surut setelah hal-hal buruk menimpa ku. Bahkan sekarang aku merasa hidup ku kembali surut.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Suara Saka mengusik ku.
"Ya?"
Mata ku teralihkan dari air pantai kepada dirinya.
"Apa kamu senang dengan hidup mu?"
Pria dengan tampang agak kusut itu berhenti meminum Coca Cola nya.
"Sejauh ini aku cukup puas dengan hidup ku. Bagaimana dengan mu?"
Aku tak langsung menjawab nya. Pertanyaan nya membuat ku berpikir berulang kali dan meraba perasaan ku.
Pertanyaan itu pernah terdengar ditelinga ku. Pertanyaan yang tak asing dari pria yang pernah ku cintai. Saat itu aku tak akan berpikir lama untuk menjawabnya.
__ADS_1
"Aku sangat senang apalagi ada kamu dihidup ku!"
Setelah mendengar jawaban ku pria itu pasti akan langsung memeluk ku. Seakan-akan pelukan nya berkata hal yang sama dengan ku. Tapi ...
"Entahlah, hidup ku terasa biasa saja."
Aku menegak kembali minuman ku. Menghabiskan nya tanpa tersisa sedikit pun. Aku ingin minum lagi dan lagi hingga aku mabuk.
"Jika kamu merasa senang maka bilang senang. Jika kamu merasa sedih maka bilang sedih. Jika kamu merasa marah maka bilang marah."
Perkataan Saka benar.
"Diwarung mu ada soju? atau alkohol lain? sepertinya malam ini aku ingin mabuk."
Namun aku menghindar. Aku tak ingin mengatakan apa yang ku rasakan dalam keadaan sadar.
Saat aku hendak berdiri menuju warung nya, tangan nya menghentikan ku.
"Jangan disini, Naya."
"Kenapa?"
"Kamu akan terlihat lebih menyedihkan ketika mabuk di pinggir pantai, apalagi ini sudah malam."
Saka benar lagi tapi aku tak peduli.
"Lepaskan tangan ku, Saka."
"Tak akan, ayo pergi dari sini. Kamu bisa mabuk tapi jangan disini."
Dan Saka tak mau kalah.
Pada akhirnya aku mengikuti langkahnya menjauhi pantai. Tangan nya yang hangat memegang pergelangan tangan ku yang sudah dingin. Saat beranjak dari sana air mata ku menetes.
__ADS_1
Sialan, sesak di dada ku kembali kambuh.