Final

Final
Gagal Kabur


__ADS_3


30 menit setelah aku menangis.


Aku menatap wajah ku pada cermin yang ada diwarung nya Saka. Sesuai dugaan ku, wajah ku terlihat berantakan. Mata dan hidung ku memerah karna tangisan hebat itu. Aku yakin ini tak akan kembali normal dalam waktu dekat.


"Seharusnya ku tahan saja ..." lirih ku.


Jika begini Saka pasti akan bertanya-tanya. Seharusnya tak ku tunjukan tangisan ku padanya.


"Naya bodoh!" rutuk ku.


"Jangan merutuki dirimu sendiri, Nay."


Saka menghampiri ku dengan sebotol minuman dingin, "Ini."


Aku langsung mengambil minuman itu tanpa menatap matanya. Sekarang aku sedang merasa canggung.


"Makasih. Hmm ... soal yang tadi tolong lupakan saja."


"Soal yang mana? yang kamu nangis itu atau merutuki dirimu?" tanya nya.


"Yang menangis tadi. Kamu tau kan kalau aku bukan orang yang seperti itu?"


Aku ingin mengelak.


"Naya, sudah ku bilangkan kemarin malam. Jika kamu merasakan sesuatu baik sedih, senang, marah ataupun sakit lebih baik kamu jujur saja. Jangan di pendam apalagi dikubur. Sama seperti tadi, sakit kamu bilang sakit."


Aku mengerti perkataan Saka tapi aku tak bisa.


"Pokoknya lupakan saja, sudah aku mau balik."


Aku memaksanya tanpa menunggu jawaban.


Dengan langkah cepat aku berjalan keluar dari warung nya. Namun tangan nya mencegah ku.


"Mau kemana? bayar dulu."


Ku pikir dia akan memberikan minuman ini secara gratis pada ku. Nyata nya dia masih tetap menyebalkan.


"Yaudah berapa? sesekali gratis lah."


"Enak aja gratis kecuali kamu ceritakan kenapa bisa nangis kayak gitu baru deh ku gratiskan."


Tuh kan, dia memang menyebalkan.

__ADS_1


"Gak, ini duit nya. Makasih."


Aku meletakan uang seharga minuman itu dihadapan nya. Aku tak akan mau menceritakan padanya walaupun minuman ini gratis.


Sebelum aku melangkah menjauh dari warung nya, dia berteriak pada ku, "Naya jangan lupa sore ini!"


Aahh ... sore ini ya? orang-orang stasiun tv itu kan? berarti ada dia juga? aku tak ingin bertemu dengan nya. Tak akan!


Begitulah tekad ku sebelum ditarik paksa oleh Saka.


Pria menyebalkan itu menjemput ku yang sedang bersembunyi didalam rumah. Bagaikan cenayang dia menemukan ku padahal aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk tak bersuara dan diam di lemari pakaian.


Jam dinding dikamar ku menunjukan pukul 4 sore lewat 5 menit. Dan sedari 5 menit tadi telpon ku terus berbunyi, menandakan panggilan masuk dari Saka yang sengaja tak ku angkat. Lalu telpon ku kembali senyap, aku pikir dia sudah menyerah.


Saat kaki ku hendak melangkah kearah dapur tiba-tiba saja suara pintu terdengar. Seseorang menerobos masuk kedalam rumah ku dan aku tau siapa itu. Dengan langkah yang buru-buru aku kembali masuk kedalam kamar lalu bersembunyi di dalam lemari.


"Naya, aku tau loh kamu dirumah."


Suara Saka terdengar. Apa pria ini tak bisa pura-pura tak tau saja?


"Keluar dong Nay, pengap loh disitu," lanjut nya.


Tak bisa, aku harus tetap berpura-pura tak ada disini. Dia pasti hanya memancing ku. Padahal tadi sudah ku katakan lewat Whatsapp kalau hari ini tak bisa, mengapa di masih ngotot juga sih?


"Naya ... kita diam dulu disini ya? "


"Sudah ku duga kamu disini, ayo keluar."


Dan wajah nya menghilang ketika pintu lemari ini dibuka oleh Saka.


"Ayo, mereka udah pada nunggu."


Tanpa ragu Saka mengulurkan tangan nya dihadapan ku. Aku teringat kembali pada momen yang telah lalu, posisi Saka sekarang pernah juga dilakukan oleh pria itu. Dihadapan pria itu tak pernah sekalipun aku ragu.


"Ayo, Radi!"


"Sepertinya aku tak bisa, Saka."


Aku tak menjawab uluran tangan nya.


"Kenapa?"


"Aa ... aduuuh. Ku rasa perut ku mules jadi kayaknya aku gak bisa deh Saka."


Aku tak punya jawaban selain berbohong yang terlihat sangat kaku.

__ADS_1


"Jangan berakting deh, Nay. Kalau mules kenapa bersembunyi di lemari? kenapa gak langsung di kamar mandi aja? lain kali kalau mau berbohong dipikirin mateng-mateng dulu, udah cepetan keluar."


Wajah meledek Saka muncul, dia tak mempercayai alasan ku dan wajah malu ku tak bisa disembunyikan. Tolong siapa saja bawa aku pergi dari hadapan wajah menyebalkan ini!


10 menit setelah itu, disinilah aku berada. Di balai desa bersama Saka juga orang-orang stasiun TV termasuk pria itu.


"Jadi seperti yang saya katakan barusan untuk tour guide kalian akan dipimpin oleh Naya yang akan memperkenalkan desa ini pada kalian. Saya harap kalian menikmati tour guide selama 3 hari kedepan. Itu saja dari saya, sekian dan terima kasih."


Saka menyelesaikan ucapan nya. Sedangkan aku hanya tertunduk diam, tak berani menegakkan kepala ku karna yang duduk di depan ku adalah mantan yang ku benci.


Sedari awal aku duduk pria itu memilih tempat tepat di depan ku padahal banyak tempat yang kosong dan jauh lebih adem ketimbang disekitaran tempat ku duduk. Kalian tau kan kalau matahari sudah sore itu terasa panas?


"Nay ... Nayaaa."


Bisikan Saka terdengar. Dengan refleks aku menoleh ke kanan karna itu juga wajah kami menjadi dekat.


"Apa?"


"Ngelamunin apaan sih Nay? sekarang giliran kamu bicara," bisik nya lagi.


"Sorry, lupa Saka," balas ku.


"Sebelum tour singkat di sore hari ini kita mulai, perkenalkan saya Na Laya kalian bisa panggil Naya dan umur saya 25 tahun. Selama 3 hari kedepan saya mohon kerja samanya."


Setelah sekian lama kalimat itu ku sebutkan kembali. Terakhir kali aku mengatakan perkataan itu mungkin ... sewaktu kali terakhir aku bekerja sebagai budak kantoran. Budak? mungkin agak keterlaluan kalau di dengar tapi fakta nya memang begitu.


"Oh oke, kita perkenalan satu-satu dulu ya sebelum pergi. Siapa tau kita bisa lebih akrab, kan? kalau kata pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang jadi mari perkenalan diri kalian siapa tau kita bisa saling sayang!"


Diantara kecanggungan yang ku buat, Saka bagaikan malaikat yang membuat suasana menjadi cair kembali. Jika ada penghargaan di desa tentang pribadi yang menyenangkan pasti Saka pemenang nya.


Satu persatu dari mereka memperkenalkan dirinya, termasuk pria yang ada dihadapan ku.


"Saya Raditya Putra biasanya di panggil Putra. Namun saya lebih senang di panggil Radi oleh seseorang."


Mata ku bergerak ke arah nya ketika dia mengatakan kalimat terakhir. Aku mendapatinya yang juga tengah menatap ku. Kenapa dia menatap ku?


"Widih, siapa tu pak?"


"Pasti orang spesial kan pak?"


"Ehh Pak Putra punya orang spesial?"


"Kasih tau kami dong pak."


Dan komenter lain mulai bertambah, beberapa dari mereka menggoda pria ini. Namun pria ini tak menjawab ataupun bergeming sedikit pun. Dia hanya diam dan menatap ku.

__ADS_1


Dia sengaja ya?!


__ADS_2