Final

Final
Candu Yang Aneh


__ADS_3


Aku kembali bermimpi pada 7 tahun yang lalu.


Saat itu aku masih kelas 3 semester 1. Hari pertama sekolah aku malah terlambat dan berakhir dihukum satu jam di lapangan bersama beberapa siswa pria. Bayangkan, hanya aku sendiri yang perempuan saat itu. Aku dapat merasakan semua siswa melihat ku, tentu saja dari balik jendela kelas mereka.


"Cukup sampai disini. Kalau kalian terlambat lagi hukuman nya akan bertambah. Mengerti?!"


Pak Azis, guru kedisiplinan menatap tajam pada kami. Aku bahkan tak ingin membalas tatapan nya yang bagaikan laser itu.


"Mengerti pak!" teriak kami.


"Sekarang kembali ke kelas kalian!"


Dengan cepat kami berlari menuju kelas masing-masing. Aku bahkan sudah telat untuk ke kelas apalagi memilih bangku. Tepat di depan kelas 3-1 MIPA aku mengetuk pintu yang terkunci dari dalam. Beberapa detik kemudian pintu itu terbuka dan terlihat seorang wanita yang masih muda. Dia lah wali kelas ku, Buk Sarah.


"Maaf buk saya terlambat."


"Ya saya tahu."


Buk Sarah meninggalkan ku dan berjalan kearah meja nya. Aku pun begitu, dengan cepat aku menutup kembali pintu kelas lalu berjalan menuju bangku kosong yang disisakan untuk ku. Yap, bangku yang berada paling belakang dipojok kanan kelas.


"Siswa yang barusan masuk nama mu siapa?" tanya Buk Sarah.


"Na Laya buk."


Belum sempat aku duduk sudah ditanyain.


"Nala Ya?" tanya nya lagi.


"Bukan buk tapi Na Laya."


Aku menekan kan nama ku agar benar disebut Buk Sarah.


"Itu sama saja. Lain kali kalau ada yang terlambat poin kalian akan ibuk kurangi sebanyak dua poin. Hanya kali ini saja ibuk maafkan."


"Baik buk!"


Semua siswa dikelas ku serentak menjawab. Dan arahan dari wali kelas ku pun dimulai. Kalau di masa kalian dulu awal masuk sekolah ngapain aja? kalau dikelas ku sedang berlangsung pemilihan seperangkat siswa yang akan mengurusi kelas ini. Mulai dari ketua kelas, wakil nya, sekretaris, bendahara dan seksi-seksi nya.


"Ada yang bersedia menjadi ketua kelas dan wakil ketua kelas?"


Pertanyaan yang dilontarkan Buk Sarah membuat seisi kelas ku gaduh. Teman-teman baru ku saling berbicara siapa yang cocok untuk dua posisi itu.


"Buk, ketua nya biar Nurdin aja. Wakil nya si Anggi buk."


"Buk kalau menurut saya cocokan si Ahmad aja, kalau wakil nya si Ani buk."

__ADS_1


"Eeii ... gak bisa gitu. Ketua nya harus kita pilih dari yang tampan kayak Radi. Nah kalau wakilnya cocok si Anggi karna cantik!" timpal yang lain.


Tunggu ... Radi? pria yang diam-diam ku sukai?


Aku mengedarkan pandangan ku mencari sesosok laki-laki itu. Semua orang tertawa mendengar usulan yang dilontarkan tadi.


"Benar gitu, Radi? kamu mau jadi ketua kelas?"


Buk Sarah berjalan kearah kiri tepat di deretan pintu masuk kelas ku. Di barisan kedua ibuk itu berhenti dan terlihatlah wajah laki-laki itu. Ketika aku menatap nya, dia melihat ke arah ku.


Ii ... ini yang benar?! aku sekelas dengan nya?! wah, mimpi apa aku semalam!


Sejak saat itulah aku dan dirinya mulai dekat.


Lalu mimpi tentang nya kembali hilang ketika perlahan nyanyian dari Juna terdengar oleh ku.


"Juna ...?"


"Eh kebangun, Nay?"


Aku mengangguk dan mengambil posisi duduk disamping nya.


"Kamu gak tidur? udah tengah malam."


Aku melirik sekilas kearah jam tangan ku, di sana tertera pukul 03.15 menit.


Giliran dia yang bertanya. Aku menatap ke tiga cangkir kopi yang telah tandas tepat di tengah-tengah kami duduk. Pantesan saja dia tidak bisa tidur.


"Karna dengar kamu nyanyi."


"Kedengaran sampai didalam ya?"


Aku hanya mengangguk dan menatap lurus kearah lautan lepas. Gelap dan sunyi bahkan suara jangkrik pun tak terdengar.


"Yaudah tidur lagi aja, aku gak akan berisik."


Aku menggeleng, jika sudah terbangun ditengah malam akan susah untuk ku tidur kembali. Entah sejak kapan aku mulai mengalami nya tapi yang pasti semua hal didalam hidup ku terasa kacau setelah putus dengan Radi.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? serius banget natap laut nya."


Juna mengeluarkan sebungkus rokok lalu mengambil satu batang untuk dia nikmati. Aku menatap kearah bungkusan rokok itu, terlihat pesan peringatan di bungkusan itu tapi sepertinya Juna tak peduli.


"Kamu tak takut dengan pesan itu?"


Mata ku beralih pada nya dan bungkusan rokok itu secara bergantian.


"Pesan rokok ini?"

__ADS_1


"Iya, katanya merokok membunuh mu."


Aku menunjuk kearah tulisan itu.


"Dulu iya tapi sekarang untuk orang yang sudah dilevel kecanduan seperti ku ini, pesan seperti itu sudah tak membuat ku terpengaruh."


"Hanya itu saja?"


"Iya. Setiap hal yang membuat candu ketika ingin lepas saja susah apalagi berhenti. Kamu jangan coba-coba, Nay."


Dia memperingati ku lalu menghisap kembali rokok nya.


Aku terdiam untuk beberapa saat. Membiarkan nya menghisap lagi dan lagi rokok itu. Melihatnya yang tengah menikmati rokok membuat ku berpikir kembali.


"Aku memang bukan pecandu rokok tapi seperti nya aku kecanduan yang lain."


"Kecanduan apa? jangan bilang narkoba?!"


Sebuah cubitan mendarat di pinggang nya, "Enak aja."


Juna hanya mengaduh kesakitan sembari tertawa, dia senang ketika melihat ku kesal.


"Terus apa dong?"


"Kecanduan rasa sakit."


Aku kembali menatap telapak tangan ku yang sudah diperban. Sampai sekarang denyut dan rasa sakitnya masih belum berhenti tapi aku tak masalah. Ku rasa aku memang sudah kecanduan.


"Candu mu sungguh aneh, Nay."


"Memang aneh dan tak lazim tapi aku tak masalah," jawab ku.


"Orang lain gak berharap ngalamin rasa sakit kamu malah kecanduan, heran."


Aku hanya tersenyum kecil ketika Juna mengatakan itu. Bukan salah ku jika rasa sakit ini perlahan menjadi candu. Sejak kecil hingga sekarang rasa sakit dan luka tak pernah benar-benar meninggalkan ku.


"Aku pun juga heran. Padahal dulu nya bukan rasa sakit yang menjadi candu ku tapi diri nya."


"Dia siapa?" tanya Juna.


Dia menandaskan sebatang rokok nya sebelum mengambil kembali sebatang rokok lagi.


"Pria yang pernah ku cintai."


Sejak kelas 1 SMA hingga beberapa menit sebelum kata putus yang Radi ucapkan aku masih kecanduan pada nya. Rasa nya aku ingin tiap hari menikmati pria itu tanpa bosan sedikit pun tapi rasa candu ku sengaja dia putuskan hingga aku beralih pada yang sekarang.


"Juna, aku tak salahkan?"

__ADS_1


__ADS_2