Final

Final
Sore Hari Yang Kacau


__ADS_3


Di langit terlihat bentangan warna senja. Merah, orange, kuning keemasan terlihat selaras dipadukan dengan pantai. Disinilah kami berada. Setelah melihat beberapa perkantoran pemerintah yang ada di Desa pinggir pantai. Aku juga mengajak mereka berkeliling singkat di area restaurant yang sering dikunjungi pengunjung dari wilayah luar dan berakhir melihat matahari terbenam di sekitaran pantai.


"Salah satu spot yang tak boleh kalian lewati kalau berkunjung ke desa ini adalah melihat matahari terbenam dan terbit tepat di pantai ini."


Aku menunjuk lurus kearah matahari itu kepada 20 orang yang ada di depan ku, sebentar lagi tugas ku selesai.


"Kalian bisa mengabadikan momen ini, mungkin saja nanti setelah pulang kalian akan merindukan momen ini ditengah kesibukan kalian. Karna dengan melihat matahari terbenam saja itu sudah termasuk healing, bukan?" lanjut ku.


Mereka semua pada memangguk dan mengeluarkan ponsel masing-masing lalu berpencar mencari titik lokasi yang tepat sebelum matahari benar-benar tenggelam.


Aku kembali melihat kearah semburat senja itu dan ikut menikmati suasana ini. Walau sudah berulang kali ku lihat tapi aku masih ingin lagi dan lagi melihat matahari tenggelam di pantai ini.


Beberapa helai rambut ku tertiup angin dan aku membiarkan nya sesuka hati untuk mempermainkan rambut ku. Aku memang menatap lurus ke depan namun pikiran ku melalang buana. Hingga aku tak menyadari dia sudah berdiri disamping ku beberapa menit yang lalu.


"Cantik."


Suara nya menyadarkan ku. Aku menoleh ke kiri dan menemukan nya yang juga ikutan menatap senja.


"Ternyata ada juga tempat secantik ini."


Suara nya terdengar lagi namun aku hanya diam, tidak ingin menimpal apalagi berbicara dengan nya.


"Naya ..."


Sekarang dia memanggil ku. Aku ingin menutup telinga ku. Aahh tidak, sekarang aku butuh earphone dan musik yang keras. Tolong aku, aku tak ingin mendengar suara nya itu.


"Apa kabar? apakah tangan mu masih terasa sakit?"


Aku tak ingin menjawab pertanyaan mu. Jadi tolong ... tolong berhenti bicara dengan ku.


"Naya ..."


Kali ini suara nya terdengar lebih lembut. Tapi aku tak menyukainya.


"Selama ini aku mencari mu, aku pikir tak akan bisa bertemu dengan mu lagi."


Berhenti.


"Naya ..."


Aku sudah muak.

__ADS_1


"Tolong jangan panggil aku seperti itu."


Aku menekan kan ucapan ku, berharap dia menyerah.


"Aku merin-"


"Cukup, aku tak ingin mendengarkan ucapan mu."


Demi kebaikan ku, aku tak ingin mendengar perkataan sialan itu.


"Naya ..."


Breng - sek!


"Apa perkataan ku kamu anggap angin lalu? ku peringati sekali lagi jangan panggil aku seperti itu. Kita tidak pernah kenal."


Kacau, sore hari ini terasa kacau. Tidak, lebih tepatnya hari ku benar-benar terasa kacau oleh satu orang pria.


Aku berniat pergi tanpa melihat ekspresi apa yang akan dipasang nya setelah aku mengatakan hal itu. Namun tangan nya menahan pergelangan tangan ku, emosi kebencian ku langsung naik.


"Naya, sebentar. Ku mohon tunggu sebentar," pinta nya.


Aku membalikan tubuh dan menatap tajam kepada nya. Tangan yang hangat itu bahkan tak mau melepas ataupun gentar. Walaupun aku merasakan amarah padanya namun air mata ku tak mau berkompromi. Tepat disaat aku menatap mata nya setetes air mata jatuh ke pipi ku. Sialan, aku akan menangis lagi.


Suara ku mulai bergetar, aku tak sanggup untuk berteriak padanya karna sekarang tenaga ku sudah terkuras banyak gara-gara tangisan tadi.


"Lepaskan tangan mu ..."


Tepat di tetesan kedua air mata ku jatuh, dia melepaskan tangan nya. Untuk pertama kalinya aku dapat melihat mata nya yang memerah dan mimik wajah nya yang sedih namun aku tak peduli.


Aku hanya ingin menjauhi nya, aku tak ingin berada di dekat nya lagi. Aku tau ... kelemahan hati ku adalah dirinya. Aku tau jika ku teruskan pertahanan yang sudah ku bangun bertahun-tahun akan hancur berkeping-keping karna nya. Maka karna itu aku memilih untuk membenci nya. Kalau tidak aku akan menjadi wanita yang bodoh, aku tak mau begitu.


Bersamaan dengan matahari yang tenggelam dan sinar senja yang beranjak pergi, aku pun berharap semua yang tersisa tentang pria itu pun ikutan pergi. Pergi menjauh dari ku dan menyerah seperti yang ku lakukan setelah satu tahun mencari nya.


Malam pun tiba saat aku baru saja sampai di rumah. Hanya berjalan kaki saja tanpa ditemenani siapa pun, aku sudah terbiasa sendiri.


Masih tersisa 40 menit lagi sebelum aku pergi ke pelabuhan seperti yang diminta Juna. Malam ini aku akan membantu Kakek nya untuk memancing, setidaknya ada kegiatan baru untuk ku agar segala tentang dirinya cepat menghilang.


Setelah selesai mandi dan makan malam aku langsung mematikan semua lampu rumah lalu pergi ke pelabuhan bersama Juna yang sudah menjemput ku 3 menit yang lalu.


"Sudah semua?" tanya nya.


"Sudah, ayo pergi."

__ADS_1


Dia mengangguk lalu mulai mengkayuh sepeda nya, aku yang duduk di belakang nya pun memegang kuat pinggang nya agar tak terjatuh. Maklum tangan ku masih sakit untuk bersepeda.


Hanya butuh 10 menit untuk kami sampai di pelabuhan. Dari area parkiran sepeda sudah terlihat Kakek Juno yang sedang menunggu kami.


"Kakek maaf kami agak terlambat," tutur ku.


"Tak masalah nak, malam masih panjang. Ayo naik dulu."


Baik aku dan Juna pun mengangguk. Juna naik terlebih dahulu lalu mengulurkan tangan nya pada ku, "Ayo, Nay."


Aku menyambut tangan hangat itu.


"Terima kasih."


Dia hanya mengangguk.


Setelah merasa aman dan tak ada yang ketinggalan, kapal milik Kakek Juno perlahan meninggalkan dermaga menuju lokasi pemancingan mungkin kira-kira satu jam lagi.


Selama perjalanan aku hanya duduk diam sembari menatap pantulan langit dari atas air. Ketika aku melihat ke atas, terlihat jelas bulan yang terang dihiasi bintang-bintang yang gemerlapan.


"Cantik."


Ucapan pria tadi terngiang di kepala ku.


"Naya?"


Seseorang menyentuh pundak ku.


"Kenapa, Juna?"


"Kenapa melamun? lagi banyak pikiran ya? mau ku buatkan teh?" tanya nya.


Kentara sekali ya?


"Boleh, gula nya sedikit aja ya."


Aku tak ingin menjawab pertanyaan nya yang satu itu.


"Oke."


Juna kembali kedalam dan meninggalkan ku seorang diri.


Hari ini ... aku pikir dapat bersikap biasa-biasa saja jika bertemu dengan nya tapi ternyata aku salah.

__ADS_1


__ADS_2