Final

Final
Satu Hari Setelah Kita Putus


__ADS_3


Jam beker dikamar ku mulai berdering. Suaranya berisiknya menghiasi pagi ku yang sudah berantakan. Tepat pukul 00.05 diawal tahun baru pria itu menuturkan sesuatu yang membuat bahagia ku luntur.


"Naya ... ayo kita putus."


Jangan tanya bagaimana reaksi ku.


Padahal beberapa menit yang lalu mata binarnya menatap ku hangat. Padahal beberapa menit yang lalu ucapan nya terdengar manis ditelinga ku. Padahal beberapa menit yang lalu kami masih baik-baik saja!


"Ke ... kenapa? kenapa tiba-tiba kamu mengatakan itu?"


Suara meriah dari kembang api masih terdengar. Cantiknya kembang api masih dapat terlihat. Suara meriah dan tepuk tangan dari orang lain juga masih terdengar. Tapi mengapa hal ini terulang lagi?


"Radi ... kita bahkan tak pernah bertengkar hebat. Tapi mengapa kamu mengucapkan kata itu? apa yang salah?"


Untuk kedua kalinya aku bertanya padanya namun dia hanya diam. Tatapan matanya telah berubah, raut wajahnya juga. Bibir yang sering mengecup ku itu pun tertutup rapat.


"Aku tak ingin, aku tak bisa. Kamu pasti cuma bercanda doang kan? ya kan?!"


Lagi-lagi aku bertanya pada nya. Ingatan saat aku berumur 10 tahun itu kembali muncul. Persis sama suasana nya seperti saat itu.


"Maafkan aku."

__ADS_1


Hanya dua kata itu yang dia ucapkan dan rasa bahagia ku yang tadinya membuncah seketika runtuh. Pertahanan ku jebol, air mata ku keluar begitu saja dengan dada yang terasa sesak.


"Kenapa?!!"


Aku tak bisa, ucapan maafnya membuat hati ku sakit.


"Maafkan a-"


Sebuah tamparan ku daratkan tepat di pipi kanan nya. Bahkan setelah menamparnya pun hati ku masih terasa sakit.


"Aku tak butuh kata maaf mu, aku butuh penjelasan mu!"


Untuk pertama kalinya nada suara ku lebih tinggi darinya. Sejak kami berpacaran tak pernah sekalipun suara ku seperti ini, tak pernah sekalipun aku merasakan sakit hati padanya.


Netra nya menatapku dengan sendu. Sekilas terlihat matanya berair. Bekas tamparan ku pun terlihat di pipi nya. Aku merasa tak sanggup jika dia hanya diam seperti ini. Aku tak akan sanggup jika kami harus berpisah.


"Rencana perpisahan tak pernah ada di list bahagia ku. Bukankah kamu tahu itu? bukankah kamu sudah berjanji untuk selalu bersama ku? bukankah kamu-"


Tanpa bisa ku prediksi bibir yang sedari tadi diam bergerak menuju bibir ku. Dengan seenaknya dia mencium ku dan membuat ku tak dapat berbicara.


Seperti orang yang sedang kerasukan, ciuman nya terasa dalam sekaligus menyakitkan. Aku bahkan tak bisa menutup mata ku dan menikmati ciuman yang dia berikan. Aku ingin melepaskan nya tapi tak bisa, tenaga ku telah dia curi.


Ciuman ini terasa lebih lama. Ciuman ini membuat dada ku terasa lebih sesak. Ciuman ini membuat ku menangis. Ciuman ini adalah ciuman terakhir sebelum dia menghilang.

__ADS_1


"Breng - sek! Radi breng - sek!"


Saat itu aku membanting jam beker yang terus berbunyi hingga pecah berkeping-keping di lantai kamar ku. Lalu berlanjut dengan benda-benda lain nya hingga kamar ku berantakan dengan pecahan kaca.


Aku merutuki nya dan mengadaikan jam tidur ku dengan tangisan yang tak mau berhenti. Bahkan setelah mencium ku dengan seenaknya dia juga pergi begitu saja. Dia benar-benar meninggalkan ku sendirian ditengah orang-orang yang sedang berbahagia.


"Kamu tega! kamu jahat! kamu memang breng - sek!"


Untuk kedua kalinya 360° kehidupan ku berubah. Satu hari setelah kita putus terasa menyesakkan. Aku menangis berhari-hari dan jam tidur ku berantakan. Hari-hari ku berlalu begitu saja tanpa adanya semangat. Hidup ku terasa menyedihkan setelah kita putus.


Asal kamu tahu, selama sebulan itu aku bagaikan orang gila yang tak terurus. Bawah mata ku yang menghitam, pakaian ku yang tak rapi, penampilan ku yang terlihat acak-acakan dan wajah yang pucat terpampang jelas. Bahkan aku menghiraukan perkataan teman dekat ku.


"Naya ku mohon ... jangan hidup seperti ini. Aku tak sanggup melihat mu," ucap Dara.


"Tapi mengapa dia pergi? mengapa dia meninggalkan ku setelah berjanji untuk membahagiakan ku? mengapa dia setega itu pada ku, Dara ..."


Sejak saat itu perasaan ku telah mati untuknya. Aku menyerah setelah satu tahun mencari nya yang tiba-tiba menghilang tanpa memberikan jawaban. Aku menyerah setelah menyadari bahwa selama ini hanya aku yang mencintai. Aku menyerah pada cinta hingga sekarang.


5 tahun telah berlalu, penderitaan ku telah berubah menjadi keterbiasaan. Aku bahkan memilih bersembunyi di sebuah desa yang jauh dari kota itu. Aku memilih untuk menguburkan segala macam perasaan di masa lalu jauh didalam hati ku.


Hingga suatu hari suara pria itu kembali terdengar.


"Naya?"

__ADS_1


__ADS_2