
Apa yang akan kalian lakukan jika suatu hari secara tak sengaja bertemu dengan mantan kekasih? apakah kalian akan menyapa nya? atau hanya terdiam tanpa berucap satu kata pun?
"Naya, ada apa ini?"
Tiva yang sedari tadi berada di dapur bergegas ke depan setelah mendengar suara keributan.
"Naya ..."
Suara itu terdengar lagi, suara pria yang ku benci.
"Naya!"
Mendapati tak ada respon dariku dengan cepat Tiva menyentuh bahu ku, membuat ku sadar setelah beberapa detik aku menatap penuh kebencian pada pria itu.
"Sorry Tiva ... tangan ku licin. Akan ku bereskan."
Aku menyingkirkan tangan Tiva yang masih berada di bahu ku. Tanpa berpikir panjang aku langsung memungut pecahan gelas itu tanpa sarung tangan.
"Jangan langsung dipunggut begitu, tangan mu akan terluka," tutur pria itu.
Aku tak ingin menyebut namanya dan aku tak memperdulikan nya. Aku hanya ingin segera pergi dari hadapan nya. Jika tidak, aku takut lepas kendali.
"Hei ... aku sudah bilang ja-"
"Lepaskan ..." lirih ku.
Dengan seenaknya dia menyentuh pergelangan tangan ku.
"Naya ..."
Untuk ketiga kalinya dia memanggil ku dengan lembut dan aku tak suka.
"Lepaskan tangan ku breng - sek!"
Aku menepis tangan nya dengan kasar. Pecahan gelas yang awalnya hanya ku pungut sekarang ku genggam dengan kuat. Aku menatapnya dengan amarah, semua perasaan negatif berkumpul menjadi satu di dada ku. Sudah ku bilangkan aku takut lepas kendali dan lihatlah apa yang sekarang terjadi.
Mata kami bersitatap. Aku dapat melihat dengan jelas wajah terkejutnya yang bercampur sedih. Tapi benarkah itu? pria yang pernah meninggalkan ku ini bisa berekspresi seperti itu?
Tidak, dia pasti berpura-pura.
"Naya, kenapa kamu begini?"
__ADS_1
Saat pertanyaan itu dia ucapkan, mata ku langsung terasa memanas. Beberapa bulir yang keluar membuat pandangan ku berkabut. Sepertinya tangisan ku akan segera pecah.
"Ya ampun Naya ... lihat tangan mu berdarah!" teriak Tiva.
Aku menatap tangan kanan ku yang sudah berdarah. Warna merah dari darah membuat perasaan ku makin terasa kacau.
Sakit!
"Nay, udah nanti biar aku yang be-"
"Hanya luka ringan, aku akan membereskanya Tiva."
Tanpa memperdulikan ucapan Tiva yang sudah melarangkan ku juga pria itu, aku langsung memungut semua pecahan gelas itu ke tangan ku lalu berjalan kearah dapur tanpa menoleh sedikit pun.
Rasa sakit ditangan ku mulai menjalar tapi rasa sakit itu tak seberapa ketika kenangan lama bersama pria itu muncul. Saat itu dalam kondisi yang sama pria itu mengomeli ku.
"Sudah dibilang jangan langsung pakai tangan, jadi berdarahkan ... bandel sih."
"Maaf ... tadi aku lupa. Kamu marah?"
Dia hanya menggeleng.
"Terus kenapa gelagatnya kayak marah?" tanya ku.
"Hukuman buat kamu."
Kenangan itu bahkan lebih menyakitkan.
Aku membuang sisa-sisa pecahan gelas itu kedalam tong sampah. Lalu menatap kembali tangan ku yang sudah penuh dengan darah.
"Naya, sini aku obatin dulu."
Tiva menyusulku dengan sekotak obat yang dia miliki.
"Makasih Tiva tapi aku bisa sendiri."
Dengan menggunakan tangan satu nya lagi aku mengambil kotak itu.
"Tapi Nay—"
"Udah aku bisa kok, kamu lanjut aja masak nya."
Aku menyeka air mata yang hampir turun ke pipi ku. Setidaknya kalau ingin menangis, aku tak ingin menangis didepan teman ku.
__ADS_1
"Dan maaf kayaknya aku akan langsung pulang. Gelas yang pecah potong saja dari gaji ku hari ini, Tiva."
Aku mengambil beberapa kain kasa dari kota obat itu lalu menekan luka ditangan ku, berharap pendarahan nya bisa segera berhenti.
"Kamu yakin gak apa-apa?" tanya Tiva.
Aku mengangguk dan mengambil tote bag milik ku sebelum pergi.
"Maaf Tiva telah mengacukan restaurant mu."
Hanya itu yang dapat ku katakan dan langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari nya. Aku keluar melalui pintu belakang restaurant ini walaupun harus memutar jalan setidaknya aku tak akan bertemu dengan pria itu.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku menangis. Walau tak terisak tapi aku sedang berusaha menahan sekuat tenaga agar tangisan ku tak pecah. Seperti terakhir kali aku menangis.
Aku pikir, aku akan kuat ketika suatu hari tak sengaja bertemu dengan nya. Aku pikir, aku tak akan menangis ketika menatap wajah yang pergi meninggalkan ku itu. Aku pikir, sesak di dada ku tak akan kambuh ketika mendengar suaranya. Tapi ternyata aku salah.
"Kenapa Tuhan mempertemukan aku dengan nya lagi?! Aku sudah cukup letih untuk melupakan nya selama ini ..."
Suara ku yang bergetar ditambah dengan isak tangis yang tak mau berhenti membuat ku tak sanggup untuk melangkah. Aku ingin menangis sepuasnya tapi disini bukan rumah.
Aku bersembunyi dibalik pohon yang ada di pinggir jalan. Kaki ku tak sanggup melangkah dalam kondisi seperti ini. Yang hanya bisa ku lakukan sekarang adalah berjongkok lalu menenggelamkan wajah ku. Menutupinya dari pandangan orang-orang.
Dalam kondisi menyedihkan ini aku menangis. Perasaan sesak di dada ku terus menerus meminta untuk dikeluarkan. Luka ditangan ku juga makin terasa sakit. Dan air mata ku tak ingin segera berakhir. Apa yang bisa ku lakukan kalau sudah begini?!
"Naya? kenapa disini?"
Sebuah suara terdengar ditelinga ku, padahal aku sudah berusaha untuk bersembunyi.
"Naya? ada apa?"
Aku tak ingin menjawab nya. Tidak bisakah dia pergi saja dan menghiraukan ku?
"Naya, coba lihat aku."
Dia memegang kedua bahu ku yang sudah bergetar, dengan sekali percobaan dia berhasil menegakkan kepala ku. Menampilkan wajah ku yang sudah berantakan akibat tangisan yang tak mau berhenti.
"Kenapa kamu menangis?" tanya nya dengan suara yang panik.
"Sa ... saka ...!!"
Melihat wajah nya yang panik membuat ku makin menangis. Hal yang paling tak ku sukai sudah terjadi, teman ku melihat diriku yang sedang kacau ini.
Tanpa basa basi dan permisi, Saka memeluk tubuh ku yang gemetaran. Dengan begini tangisan ku tak akan berhenti dalam waktu dekat. Aku sudah terlambat untuk mengatakan kebohongan kalau aku baik-baik saja.
__ADS_1
"Sakit ... rasanya sakit sekali, Saka!"
Tanpa ku sadari dari jarak yang tak terlalu jauh berdiri seorang pria yang kalian pasti tau siapa orang nya.