Final

Final
Kejutan Untuk Ku


__ADS_3

...Warning 18+ ...



6 tahun yang lalu tepatnya ditanggal 20 Mei, pria yang pernah ku cintai memberikan kejutan. Saat itu umur ku baru memasuki usia 19 tahun.


"Selamat ulang tahun kekasih ku ..."


Aku masih ingat dengan baik betapa tampan nya dirinya saat itu. Hoodie oversize dengan celana jeans sembari membawa tiga hadiah ditangan nya. Satu buket bunga, satu kado dan satu mini cake untuk ku.


"Ih kesini kok gak bilang-bilang?"


"Kalau bilang kamu ntar gak jadi kejutan nya."


Aku tau itu adalah hal yang biasa saja tapi saat itu terutama untuk ku hal yang keliatan biasa saja malah lebih berarti.


"Makasih hmm sayang."


Tentu saja aku masih malu memanggilnya dengan panggilan manis itu.


Ditengah gelapnya malam dan sunyi nya suasana hanya diterangi lampu kamar kost ku, aku dapat melihat binar matanya yang menatap ku hangat. Untuk beberapa detik aku hanya terpaku dan memperhatikan lebih detail wajah tampan nya.


"Kenapa kamu tampan sekali? aku jadi takut."


Perkataan itu keluar begitu saja.


"Katanya kalau kita menemukan orang yang tepat pasti dia akan berbicara seperti kamu."


Perlahan tangan nya yang hangat mengelus pipi ku.


"Tetap saja aku takut. Bagaimana jika kamu diambil wanita lain?"


Dia hanya tersenyum.


"Aku tak akan membuka celah untuk wanita lain. Cukup dengan kamu saja aku sudah bahagia."


Ucapan manis nya membuat ku merasa akan melayang. Dia membuat ku senang.


"Bagaimana dengan ku? bagaiman jika ada pria yang ingin mengambil ku dari mu?"


Aku mengalungkan kedua tangan ku dileher nya, saat itu jarak diantara kami begitu dekat bahkan hembusan nafasnya menggelitik wajah ku. Aku ingin menggoda nya.


"Jika begitu aku akan memberikan nya bogem mentah. Atau ku gigit dia bagaikan anjing gila."


Setelah itu kami tertawa. Tawa bahagia itu keluar selama beberapa detik sebelum hal panas terjadi.


"Aku mencintai mu ..."


Dengan keberanian yang selama ini ku tumpuk, ku keluarkan saat itu juga. Aku mencium nya dengan perlahan. Ciuman yang pertama kali ku mulai dengan nya.


Memang durasi nya tak lama, hanya beberapa detik saja. Tapi perasaan senang ku membuncah begitu saja. Saat itu aku mengakui kalau aku sangat mencintai nya.

__ADS_1


"Kenapa berhenti?"


Deru nafas yang hangat menyapa ku. Bibir yang barusan ku kecup itu terlihat mengkilat. Aku kembali menatap mata nya yang seakan berkata ingin lebih.


"Ma ... maaf. Aku merasa malu."


Wajah ku terasa panas setelah mencium nya. Mungkin kalau penerangan nya disaat itu sedang terang pasti dia dapat melihat wajah ku yang memerah seperti kepiting rebus.


"Tak apa sayang ku ... kita mulai lagi ya?"


Aku mengangguk setuju. Rayuan dari mata nya membuat ku terlena, aku tak kuat menahan keinginan yang sama dengan nya.


"Aku juga mencintai mu, Naya."


Kali ini dia yang memimpin. Aku menutup mata untuk menerima ciuman panas nya. Dengan kelembutan dia mengecap bibir ku. Lidah nya dan lidah ku juga saling terhubung membentuk suara-suara yang membuat kami berdua makin bersemangat. Dia mencium ku dengan dalam tanpa menyakiti ku. Aku menyukai nya, sangat menyukai nya. Bahkan setelah itu aku terus merasa candu dan ingin lagi.


"Boleh?"


Ciuman nya telah berhenti dan berganti dengan seutas tali yang dia pegang dari bahu ku.


"Bo ... boleh apa?"


Aku merasa gugup. Dia menatap ku lebih dalam.


"Aku ingin memberikan mu hadiah yang ke-empat. Tapi jika tak boleh, tak apa-apa."


Aku tak menjawab dan beberapa detik kemudian dia menarik diri untuk menjauh dari ku. Namun aku tak bisa, aku sudah dimabukan oleh nya.


Dengan cepat aku menarik lengan nya dan membuat nya jatuh ke sisi atas ranjang ku. Dia terhempas begitu saja tanpa adanya perlawanan. Perlahan aku menaiki nya dan duduk tepat dibagian bawah pusarnya.


Dari atas aku dapat melihat wajah tampan yang juga mencintai ku. Dia memperlihatkan senyum dan wajah senangnya pada ku.


"Kemari lah sayang ..."


Hanya dengan satu kalimat itu kami memulai nya. Malam yang panas terjadi dan hadiah ke-empat ku sudah didapat. Saat itu aku tak menyangkal kalau aku sangat mencintainya.


Lalu kenyataan menyadarkan ku.


"Dia sudah pergi, kenapa aku masih mengingat nya? bodoh!"


Aku mengumpati diriku sendiri. Kenangan itu bahkan terlintas ketika aku sedang bekerja.


"Naya, kenapa?"


Aku menoleh ke arah kiri dan mendapati Tiva yang sedang mengernyitkan dahi nya.


"Oh ... gak apa-apa. Berapa lagi pesanan nya?"


"Hmm gitu. Masih sisa 5 lagi, Nay."


"Oke."

__ADS_1


Aku kembali memfokuskan diriku pada pekerjaan saat ini. Menepiskan kenangan itu dengan menyadarkan diri bahwa aku membenci nya. Tak ada lagi cinta yang tersisa dihati ku, tak ada lagi ruang kenangan untuknya di kepala ku.


Begitulah semangat ku sebelum Tiva meminta ku untuk mengambil beberapa piring kotor dari pelanggan.


"Naya ... ntar bantuin aku didepan ya?"


"Oke."


Setelah memastikan kembali lima piring sesuai pesanan aku mengambil dua buah nampan dengan diisi masing-masing dua piring dan 3 piring. Aku meletakan kedua nampan itu di atas meja kasir lalu membunyikan bel tanda makanan sudah siap.


"Ada lagi, Tiva?"


"Pesanan udah gak ada lagi cuma di meja 1 dan 5 masih ada piring kotor. Tolong dibersihkan ya, Nay. 5 menit lagi ada 1 reservasi yang masuk."


"Oke."


Aku bergegas menuju meja yang disebutkan. Membersihkan sisa-sisa kotoran di meja itu sebelum pelanggan Tiva datang. Saat hendak membersihkan meja satunya lagi suara kerincing dari arah pintu masuk terdengar. Menandakan ada pelanggan yang tiba.


"Selamat datang di Crazy Seafood, ada yang bisa dibantu?"


Berusaha sebaik dan seramah mungkin aku menampilkan senyum ku seperti yang dikatakan Tiva saat aku baru datang. Padahal aslinya aku sangat jarang tersenyum.


"Kami sudah reservasi kemarin."


"Oh dari pihak stasiun tv?"


Mereka pun mengangguk.


"Baiklah ... silahkan duduk disini ya."


Mereka pun mengikuti arahan ku. Dengan cepat aku menyelesaikan beres-beres ku sebelum kembali ke dapur.


"Tiva, yang reservasi udah datang tuh."


"Oke, Nay. Tolong kasih minuman nya dulu ya, makanan mereka sedang ku masak."


Aku pun mengangguk lalu kembali berjalan ke arah mereka dengan membawa sebuah nampan yang berisikan beberapa minuman yang telah dipesan.


"Permisi, ini minuman nya."


Aku meletakan dengan perlahan minuman itu dihadapan mereka namun sebuah suara mengintrupsi ku.


"Naya ..."


Aku menoleh ke arah suara yang baru saja memanggil ku. Wajah yang sudah lama menghilang itu kembali terlihat. Mata yang masih sama itu menatap ku terkejut, begitu juga dengan ku. Rasa kaget membuat segelas minuman yang sedang ku pegang meluncur begitu saja. Semua orang yang ada di restaurant itu pun ikutan kaget dengan suara gelas yang pecah berkeping-keping.


"Breng - sek!"


Hanya kata itu yang dapat keluar dari mulut ku. Hanya kata itu yang mewakili air mata yang perlahan keluar dari mata ku. Hanya kata itu yang mewakili sesak dada ku yang kambuh. Hanya kata itu yang ku lontarkan pada pria yang pernah ku cintai ini.


Kenapa kamu kembali?!

__ADS_1


__ADS_2