
Suara lolongan anjing bersahutan dari dalam hutan, angin malam yang berhembus menambah kesan mistis bagi siapa saja yang berada diluar rumah saat ini. Dari kejauhan tampak iring-iringan sekelompok orang sedang membawa keranda mayat sambil melantunkan ayat-ayat suci. Saat sedang khusuknya, angin datang menerbangkan penutup keranda mayat dan tampaklah tubuh yang sudah berbungkus kain putih itu dengan banyak noda darah berceceran keluar.
"Astaghfirullah! Ya Allah!" Seru beberapa ibu-ibu yang ikut serta mengantar mayat kekediaman terakhir nya
Suara lolongan anjing kembali terdengar dari hutan, angin yang semakin kencang membuat mereka semakin khawatir
"Pak ustadz bagaimana ini?" Tanya bapak-bapak pada seorang lelaki yang memakai pakaian serba putih dengan sorban dikepalanya itu
"Cepat turunkan mayatnya dan kembali pasang penutup, kita harus mandikan kembali mayat ini." Seru pak ustadz
Tangis seorang ibu-ibu pecah, sepertinya mayat itu adalah salah satu anggota keluarganya. Sepanjang perjalanan menuju rumah, gonggongan anjing tidak pernah berhenti.
"Bagaimana ini buk, saya semakin percaya kalau ini semua adalah teror dari Aidah." Bisik seorang ibu pada teman disampingnya, walau dia berbisik namun masih terdengar jelas ketelingaku
Dalam tiga hari terakhir ini sudah ada tiga warga kampung kami yang meninggal dengan cara tidak wajar. Semua mayat ditemukan dalam keadaan tidak berbusana dan Bermandi darah di tubuhnya serta luka sayatan di seluruh wajah dan lengan. Semua kejadian yang terjadi selalu disangkut pautkan warga dengan kematian Aidah. Wanita hamil yang baru saja pindah ke kampung kami itu meninggal empat hari yang lalu. Setelah kematiannya banyak kejadian aneh menimpa desa ini.
Aku Nur. Aku tinggal bersama ibuku Didesa terpencil di Sumatra Utara, umurku sekarang beranjak 19 tahun. Aku baru saja tamat sekolah menengah atas dan bertahan dikampung karena tidak bisa melanjutkan pendidikan. Ayahku pergi merantau ketanah Kalimantan dan menjadi buruh sawit disana. Ibuku bernama Ijah yang bekerja sebagai petani di desa ini.
"Padahal baru empat hari dia meninggal, masa sudah gentayangan saja." Ibu-ibu itu tampaknya masih saja membicarakan orang yang sudah meninggal itu.
"Sudah buk, nggak baik ngomongin orang yang sudah dipanggil sama Allah." Aku sudah tidak enak mendengar pembicaraan mereka yang beralih pada hal-hal konyol lainnya
"Alah Nur, kamu mana tau omongan orang tua. Kamu saja baru lahir kemarin." Seru ibu Desi padaku, dia adalah wanita biang gosip dikampung ku. Wanita itu Setiap hari pasti selalu berkeliling desa untuk mencari teman untuk menggibah atau sekedar ngobrol.
Aku hanya terdiam dan ikut duduk didekat mereka bersama ibu karena mayat sudah sampai dirumahnya kembali. Para pengurus mayat menurunkan keranda yang masih berisi almarhum bapak Sauki yang meninggal tadi sore itu. Dia ditemukan terkapar dikebun miliknya dengan luka sayatan di sekujur tubuh dan tanpa sehelai benangpun ditubuhnya. Darah masih tetap mengalir dari dalam kain putih itu walau kain sudah sempat diganti tadi sore.
"Nur kamu kan tetangganya Aidah, masa kamu nggak lihat hal aneh dari dia sebelum kepergiannya." Ibu Desi menatap padaku, aku hanya bisa terdiam dan menatap ibu yang berada disampingku.
"Kita nggak tau apa-apa buk Desi, saat dapat kabar nak Aidah sudah tidak bernyawa." Kini ibuku yang menjawab dan menuturkan segala apa yang kami lakukan saat itu.
"Bapak sama ibuk sekalian sepertinya almarhum tidak bisa kita makamkan malam ini, hujan sudah mulai turun dan almarhum masih kita mandikan kembali." Seru pak ustadz dari dalam rumah.
__ADS_1
Nur dan beberapa warga kembali kerumah masing-masing sedang sebagian lagi bertugas menjaga mayat malam ini. Para warga bergegas menuju rumah masing-masing, mereka takut akan melihat penampakan yang akhir-akhir ini meresahkan warga. Jam masih menunjukkan pukul setengah delapan malam, namun desa sudah sangat amat sepi. Sayup-sayup hanya terdengar suara lantunan ayat suci dari kediaman almarhum bapak Sauki. Nur yang sedari tadi ingin tidur merasa resah karena mendengar suara tangisan bayi dari samping rumahnya.
Dia beranjak dari tempat tidurnya dan membuka jendela kamar yang tergembok dengan tali saja. Nur menatap keluar rumah, dia melihat seorang ibu sedang menggendong bayinya diteras rumah pak Arman suami dari almarhum Bu Aidah. Melihat hal itu Nur hanya bisa pasrah akan berteman dengan lagu tidur dari ibu itu. Nur kembali menutup jendela kamar namun disaat hendak mengaitkan tali kepaku yang tertancap didinding kamar, tangisan bayi itu terdengar sangat dekat dengan kamarnya sekarang. Nur membuka kembali jendela kamarnya, ibu itu sudah tidak berada diteras rumah itu. Suara bayi masih terdengar jelas dan sesekali diselingi suara isakan tangis dari seorang wanita.
"Nur... Jaga anak kakak Nur..." Suara seseorang mengagetkan Naya, dia melihat kesamping jendela kamar disana sudah berdiri ibu-ibu yang tadi dengan rambut menutupi wajahnya.
Perasaan Nur mulai resah, lolongan anjing terdengar dari kejauhan, hujan yang tadi mengguyur desa kini hanya tampak gerimis saja.
"Kak... Kakak jangan diluar ayo masuk, biar Nur bukakan pintu dari luar." Nur memberanikan diri untuk bicara. Wanita itu tertawa mendengar ucapan Nur dan menatap Nur yang masih berdiri didepan jendela kamar
Mata Nur terbelalak tat kala melihat wajah wanita itu adalah Aidah yang meninggal empat hari yang lalu. Tubuhnya tidak bisa dia gerakkan, keringat dingin sudah bercucuran dari tubuhnya. Mulutnya bungkam, kini Aidah mendekat dan menatap Nur dengan senyum mistisnya. Bayi yang dia gendong sedikit demi sedikit berubah warna menjadi hitam gosong.
"A-Aidah..." Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Nur
"Nur, kenapa jendelanya dibuka nak." Suara Ijah membuat Aidah seketika menghilang dari hadapan Nur, dan tubuh Nur ambruk kelantai dan tidak sadarkan diri
"Ya Allah Nur! Kamu kenapa nak?!" Ijah berlari dan memangku putrinya
"Nur! Bangun Nur! Tolong! Tolong!" Ijah sudah berderai air mata menatap wajah putrinya yang mulai memucat
"Nur kenapa bisa pingsan Mak?" Seru bapak-bapak yang berdatangan
"Mamak tidak tau, tadi saat mamak masuk Nur berdiri didepan jendela kamar. Mamak sempat mendengar dari luar dia bicara dengan seseorang, tapi mamak tidak melihatnya saat membuka kamar tadi."
"Sudahlah Mak, mungkin Nur sedang capek." Ucap pak Imam selaku kepala desa dikampung itu
Ijah hanya bisa menangis melihat keadaan putrinya itu sekarang. Bapak-bapak meninggalkan kediaman Nur dan kembali untuk jaga malam. Ijah beranjak untuk menutup jendela kamar putrinya itu, seketika angin berhembus membuat suara geprakan dari jendela yang membentur dinding. Ijah kaget dan buru-buru menutup jendela itu, samar-samar terdengar kembali tangisan bayi dari kejauhan, sedang lolongan anjing masih saja bersahutan dari hutan desa.
Malam ini Ijah menemani putrinya tidur, dia takut akan terjadi sesuatu pada putrinya. mengingat teror yang sedang terjadi di kampungnya, membuat tubuhnya seketika merinding. Ijah merebahkan tubuhnya disamping Nur yang masih pingsan, hujan yang tadi sudah tinggal gerimis kini kembali deras disertai angin kencang.
.
__ADS_1
Kumandang adzan subuh terdengar dari ujung kampung, disana berdiri sebuah musholla yang selalu menjadi tempat beribadah warga desa dari dulunya. Ijah melihat kesampingnya, Nur masih tidur dengan balutan selimut ditubuhnya, sepertinya putrinya itu sedang kedinginan. Ijah beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk mencuci wajah dan mengambil air wudhu. Biasanya Ijah selalu membangunkan Nur untuk menunaikan ibadah sholat bersama, mengingat kejadian semalam Ijah mengurungkan niatnya karena merasa kasihan pada putrinya itu.
Nur mendengar kumandang adzan dan langsung bangun dari tidurnya, dia mengucap hamdalah karena sudah tiga hari ini kumandang adzan tidak terdengar dan baru pagi ini kembali terdengar. Nur melihat kearah jendela, dia mengingat kembali kejadian semalam. Apakah itu mimpinya saja? Tapi kejadian itu begitu nyata, dia masih ingat Aidah yang meminta agar anaknya Nur jaga.
Nur kembali mengingat masa sebelum Aidah wafat, wanita yang dia panggil kakak itu sangat cantik dan baik hati. Aidah dan Arman suaminya pindah ke desa baru sebulan lamanya, dan saat mereka pindah banyak warga yang mengatakan bahwa mereka diusir dari kampung sebelah karena telah melakukan hubungan sebelum sah sebagai suami istri. Gosip itu rupanya sampai pada telinga Aidah dan membuat dia sempat mengurung diri di rumahnya.
Arman sebagai suaminya hanya bisa membujuk Mak Ijah dan Nur untuk menghibur istrinya. Melihat Aidah yang mulai bangkit dari keterpurukannya Arman memutuskan pergi ke kota mencari pekerjaan, sebab didesana ini hampir seluruh warganya berprofesi sebagai petani saja. Arman tidak bisa mengandalkan gaji yang datang saat musim panen tiba saja.
Satu hari sebelum kematiannya, Aidah sempat mendatangi rumah Nur untuk membujuknya agar menemani dirinya malam nanti dirumah. Namun saat itu ternyata Nur dan Ijah sedang bermalam di rumah saudaranya dikampung sebelah. Itu yang dikatakan Bu Nita pada Aidah saat datang kerumahnya.
Paginya saat Nur dan Ijah pulang kerumah, sudah banyak warga desa yang mengerubungi belakang rumah Aidah. Nur bertanya pada seorang bapak-bapak yang hendak pergi kesana juga.
"Pak, disana ada apa ya? Kenapa banyak orang?"
"Aidah Nur, dia bunuh diri." Seru bapak itu sambil berjalan kembali
Nur tida percaya dan ikut berlari menuju belakang rumah Aidah. Matanya terbelalak saat mendapati tubuh Aidah masih tergantung dipohon jambu, hatinya sakit melihat tubuh wanita yang dia panggil kakak itu terdapat sayatan dilengan dan kakinya. Wajahnya membiru seperti habis dipukuli, mana mungkin wanita itu menyakiti dirinya sendiri dan memutuskan bunuh diri.
Arman yang baru pulang dari kota pagi itu juga tampak menangis meraung-raung dihadapan istrinya, dan beberapa menit kemudian jatuh pingsan.
"Pak siapa yang menggantung kak Aidah?!" Tangis Nur pecah melihat keadaan Aidah seperti itu
"Apa maksudmu Nur! Kamu lihat sendiri kan dia yang gantung diri!" Ketus pak Sahrul suami dari Bu Nita.
Nur menggeleng, dia tidak percaya Aidah melakukan itu semua. Biarpun Aidah sedang bersedih, tapi dia tidak pernah mengatakan akan mengakhiri hidupnya.
"Ayo pak, bantu turunkan Bu Aidah. Kita harus segera menyemayamkannya." Seru pak kades pada bapak-bapak yang berada ditempat itu
Saat diturunkan semua orang bertambah kaget melihat perut Aidah yang sudah mengempes. Saat ibu-ibu mulai membersihkan Aidah mereka sontak berteriak histeris melihat tali pusar yang tergantung dari *********** Aidah dan tali itu sudah terputus
"Ya Allah! Astaghfirullah!" Seru ibu-ibu itu
__ADS_1
Nur yang menyaksikan semua kejadian itu hanya bisa meneteska air mata, bagaimana bisa orang sebaik Aidah bisa meninggal dalam keadaan seperti itu.
Nur tidak bisa melihat keadaannya yang begitu memprihatinkan, dia berlari kerumah dan menangis dalam kamarnya.