
Kembali pada empat hari setelah kematian Aidah, warga sudah semakin resah akan teror makhluk halus yang selalu mengganggu ketenangan warga dan para pendatang yang baru memasuki kampung. Tidak berpikir malam atau siang, makhluk itu selalu gentayangan seperti sedang mencari sesuatu yang belum dia selesaikan selama hidup dibumi.
"Nur! Jangan melamun terus nanti kemasukan!" Teriak Ijah dari dalam rumah. Sudah tiga hari ini Nur tampak terlihat murung dan sering menangis sendirian, entah apa yang dipikirkan putrinya itu?
"Mak, Nur selalu kepikiran sama kak Aidah terus." Ucap Nur sambil melangkah mendekat kearah Ijah yang sedang mengulek bumbu di dapur.
"Ya jangan dipikirin lagi kalau gituh, do'ain biar Aidah tenang dan mendapat tempat yang lapang." Seru Ijah sambil terus mengulek cabe merah, ia hendak memasak telur balado untuk Nur.
Nur hanya diam menanggapi ucapan ibunya itu, dia masih sedih atas kepergian wanita sebaik Aidah. Selama menjadi tetangganya, wanita itu selalu menyapa dan sesekali memberi dia dan ibunya makanan. Tidak jarang juga Aidah mengajaknya kepasar yang berada dikampung sebelah.
Nur kembali berjalan kedepan, dia kini duduk dibangku teras rumahnya. Matanya menatap kerumah Arman yang pintunya terbuka lebar, tidak terlihat pergerakan manusia disana, namun asap dari belakang rumah tampak membubung tinggi pertanda pemilik rumah sedang memasak. Aidah bilang dia tidak mau memakai kompor gas ataupun minyak karena rasa masakan akan terasa berbeda dilidahnya, namun tadi pagi Nur lihat ada seorang bapak-bapak yang mengantar sebuah kotak besar kedalam rumah Arman. Terlihat dari gambar dikotak, itu adalah sebuah kompor gas lengkap dengan tabung yang dijinjing pria itu.
TARRRRR!!!
Suara Sambaran petir membuat Nur tersentak dan langsung berdiri dari duduknya. Cahaya putih tajam itu melesat tepat kearah pohon jambu di belakang rumah Arman. Nur menatap langit apakah ada pertanda akan turun hujan, namun hanya warna biru yang menghiasi langit tanpa ada awan tergantung disana. 'petir disiang bolong' gumam Nur sambil menautkan kedua alisnya
"Nur! Suara apa itu nak!" Teriak Ijah menghampiri putrinya yang masih berdiri diteras rumah.
"Kayaknya petir Mak, Nur lihat tadi ada cahaya putih yang datang tiba-tiba seperti saat mati lampu terus hidup lagi." Ucap Nur sambil melihat ke arah pohon jambu yang tersambar petir, daun-daunnya seketika layu dan berubah coklat. Nur juga melihat Arman berdiri tepat didepan pohon jambu itu detik kemudian pandangan mereka beradu dengan Arman menatap tajam ke arah Nur. Nur yang melihat tatapan tajam dari Arman hanya berusaha menyunggingkan seulas senyum, dia akui dirinya ramah tapi untuk tatapan dari Arman senyumnya seakan takut dan bersembunyi.
"Ayo masuk, apa kamu nggak takut petir itu datang lagi. Mana sekarang terik matahari dan nggak ada awan, bisa-bisanya ada petir yang menyambar." Seru Ijah sambil menarik lengan putrinya masuk kedalam rumah
"Bang Jaya apa kabar Mak?" Tanya Nur saat sedang makan siang berdua dengan ibunya
"Kasihan Jaya Nur, padahal belum sampai seminggu dia menikah tapi sekarang udah nggak bisa ngomong sama gerakin kedua tangannya."
Sesaat Nur berhenti makan mendengar apa yang ibunya katakan, entah mengapa perasaannya tertuju pada Aidah sekarang.
"Benar Nur..."
Suara halus seketika melintas dipendengaran Nur dan membuat bulu kuduknya berdiri kala itu juga, ia menghentikan aktivitas makannya dan melihat kesekeliling. Tidak ada apa-apa, hanya Ijah yang tengah asik menyantap makan siangnya dengan lahap.
Nur memperhatikan ibunya yang sedang makan, lambat laun Nur melihat tubuh ibunya seperti ada wajah Aidah disana. Dia menatap dengan lekat, Aidah menunduk dengan wajah pucat dan mata terpejam. Bayangan putih Aidah seperti sedang sedih sekarang, ibunya tidak merasakan apapun dari tadi dan masih asik makan. Melihat Nur menatap dirinya dengan mata tidak berkedip, Ijah mengibaskan tangannya tepat dihadapan Nur dan membuat putrinya itu tersentak kaget.
__ADS_1
"Kamu kenapa Nur?" Tanya Ijah dengan wajah heran
"Ng-nggak papa Mak, tadi Nur kayak ngelihat sesuatu dibelakang umak."
Ijah melihat kebelakangnya, tidak ada apa-apa, hanya ada rak piring yang terpajang disana.
"Kamu ada-ada saja, makanya jangan melamun pas makan. Bisajadi nanti kamu tertidur pula pas makan." Ucap Ijah sambil menyuapkan kembali makanan dihadapannya kedalam mulut
"Hehehe iya Mak, Nur kayaknya salah lihat."
"Emangnya kamu lihat apa?"
"Nur lihat kak Aidah."
Byurrrr
Makanan yang Ijah kunyah menyembur tepat diwajah Nur, dia kaget mendengar penuturan anaknya itu. Ijah menatap tajam ke arah Nur, dia ingat kata tetangganya dan para ibu-ibu dikampung itu. Siapa yang melihat arwah Aidah pasti ada sangkut paut dengannya.
"Kamu lakuin apa sama Aidah?" Seru Ijah menatap tajam kearah putrinya itu
"Kamu tau, siapa saja yang melihat arwahnya akan mendapat kesulitan dan mendapat musibah." Tegas Ijah. Dia masih menatap lekat wajah putri satu-satunya itu
"Nur nggak ngelakuin apa-apa Mak, Mak tau juga kan. Selama ini Mak juga selalu bersama Nur." Nur terisak, ia berpikiran ibunya sudah menuduhnya yang tidak-tidak
Ijah menghela nafas berat, ia pandangi Nur dengan rasa penyesalan. Dirinya sudah terbuai dengan kata-kata warga kampung, sampai lupa putrinya itu selalu berada di dekat ketiaknya mulai dari lahir dan kecuali saat sekolah dulu.
"Maaf ya Nur, Mak tidak bermaksud seperti itu. Mak cuma khawatir sama kamu. Kata warga Jaya bisa seperti itu karena diganggu sama arwah Aidah yang masih berada dikampung ini." Jelas Ijah. Nur hanya terdiam dan mencer setiap ucapan ibunya
"Berarti bang Jaya tahu sesuatu tentang kematian kak Aidah?" Ucap Nur dengan masuk terisak
Ijah terbelalak mendengar ucapan putrinya itu, benar juga, kata warga hanya orang yang bersalah terhadap Aidah yang diganggunya.
"Lagian kenapa bang Arman tidak menindak lanjuti kasus istrinya itu? Sudah tau kematiannya tidak wajar malah dibiarkan begitu saja." Ucap Nur. Kali ini Ijah menyetujui pendapat putrinya itu
__ADS_1
"Sudahlah, itu urusan keluarganya sendiri. Kita tidak boleh ikut campur." Ijah mulai merapikan bekas makan siang mereka
"Arwah itu sebenarnya tidak ada Nur, itu hanya jin yang menyerupai manusia." Lanjut Ijah. Kini ia sudah berada di sumur dan mencuci piring
"Tapi Mak, kenapa jin itu berbuat jahat kepada orang yang telah menggangu almarhum?" Nur makin penasaran dengan ucapan ibunya. Semasa sekolah mereka tidak membahas hal demikian dan hanya menghafal do'a dan ayat suci yang bersangkutan dengan Tuhannya Allah Azza wa jalla. Mereka juga membahas sedikit hadist dan sunnah-sunnah Rasul setelah itu hanya mempelajari ilmu dunia.
"Jin pada hakikatnya memang pengganggu Nur, mereka akan berbuat apapun untuk membuat manusia takut. Jin ataupun setan dan sejenisnya akan terus-menerus berbuat ulah agar keimanan seseorang tergoyah dan beralih percaya pada mereka. Mereka akan menyesatkan dan memperjauh kita dari Allah."
Nur hanya manggut-manggut mendengar ucapan ibunya itu, dari hal itu dia sangat yakin kalau Jaya ada hubungannya dengan kematian Aidah. Dia harus mencari tau juga kenapa Arman tidak terlihat begitu sedih atas kematian istrinya dan anak dalam kandungan Aidah.
"Kenapa bengong Nur?" Tanya Ijah melihat Nur menatap dengan tatapan datar
"Nggak papa Mak, Nur cuma berpikir kenapa akhir-akhir ini kak Aidah selalu mendatangi Nur lewat mimpi ataupun secara langsung walau Nur juga kurang percaya."
"Makanya lebih sering beribadah, yang datang itu bukan Aidah lagi Nur tapi jin qorin ataupun ifrit yang menyerupai dirinya selama di dunia." Tegas Ijah pada putrinya
Nur pernah dengar tentang jin qorin dan jin ifrit dari guru mata pelajaran agama mereka. Dia ingat jin qorin itu adalah jin yang hampir melekat pada diri sendiri dan selalu menemani bahkan gurunya mengatakan jin tersebut seperti kembar dengan diri kita. Sedang jin ifrit, guru mereka bilang itu adalah suhunya para jin. Bisa dikatakan jin itu adalah rajanya para jin, dialah yang sering merasuki ataupun membuat manusia yang lemah imannya kesurupan.
Nur tidak habis pikir dengan sesuatu yang diciptakan oleh Allah SWT, jika kita melogikai semua itu kita bisa gila dan terus menerus mencari tau. Tugas kita hanya meyakini adanya mereka dan adanya dunia lain selain kehidupan manusia.
"Apa manusia yang sudah meninggal dan berubah menjadi hewan buas itu benar umak?" Tanya Nur lagi. Tidak bisa dipungkiri, semua warga desa mereka masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan adat istiadat dari leluhur. Bahkan hal mistis sekalipun masih dipercayai masyarakat dan tidak jarang banyak orang yang mendatangi dukun untuk berobat ataupun meminta sesuatu. Warga meyakini bahwa orang yang bunuh diri akan gentayangan dan berubah menjadi hewan buas seperti beruang dan harimau.
Selama musim buah berlanjut warga akan sering menjumpai penampakan demi penampakan, mereka akan berasumsi siapa saja yang melihatnya akan mendapat kesialan ataupun musibah yang tidak biasa.
Ijah menatap tajam putrinya yang duduk dibangku dan menghentikan aktivitas mencucinya. Dia berjalan dan duduk kembali dibangku didepan Nur, Ijah menghela nafas berat dan urung untuk menjawab pertanyaan putrinya
"Ya, itu hanya menurut orang-orang yang sudah mendahului kita. Mereka meyakini orang yang meninggal bunuh diri itu tidak akan diterima tanah dan akan terus mengambang di dunia. Ingat Nur, banyak orang bilang arwah tersebut akan dimanfaatkan oleh orang yang berjiwa iblis untuk merusak orang lain." Tegas Ijah
"Maksud umak?" Dahi Nur mengerjit mendengar ucapan ibunya itu, arwah bisa dimanfaatkan oleh orang yang berjiwa iblis? Nur sangat tidak mengerti
"Seperti orang yang mengirim guna-guna, dia juga akan menggunakan arwah yang tidak diterima bumi untuk melukai orang lain. Itu kepercayaan orang dulu, tapi kita tidak boleh menganggap remeh semua itu."
Nur paham sekarang, cerita orang yang mengatakan bahwa harimau Sumatera yang menyerang warga itu adalah jadi-jadian dan itu dilakukan oleh orang yang berjiwa iblis. Nur sering mendengar cerita bahwa di hutan yang hampir mengelilingi kampung mereka ada banyak makhluk yang terlihat dan tidak kasat mata, termasuk harimau yang menjadi legenda bahwa itu adalah jelmaan dari leluhur mereka untuk menjaga wilayah hutan Mandailing dan sungai Batang gadis yang menjadi pusat peradaban manusia dikawasan Mandailing Natal.
__ADS_1
Cerita tentang hantu perempuan yang selalu bersemayam dibatu putih yang terletak disungai mereka juga Nur pikirkan, apa itu arwah yang belum tenang atau tidak diterima tanah juga.