FITNAH

FITNAH
bab 2


__ADS_3

Melihat putrinya berlari Ijah mengikutinya dari belakang


"Sudah Nur, kita mending bantu Arman ya. Disini tidak ada saudaranya yang tinggal." Ucap Ijah pada Nur yang masih menangisi. Nur mengangguk dan mereka kembali ke kediaman Arman dan Aidah.


"Pantas saja di usir dari kampungnya, lihat semua pakaiannya saja begini." Seru Bu Desi saat membongkar lemari untuk mencari kain panjang, dia menemukan banyak lingerie tergantung dalam lemari. Ibu-ibu disana tertawa pelan melihat saat Bu Desi menyocokkan baju itu dihadapan banyak ibu-ibu.


"Astaghfirullah Bu, nggak boleh begitu." Seru Ijah melihat tingkah perempuan itu


"Alah mak, Kamu saja yang belum tau kelakuan mereka itu seperti apa. Mereka di usir dari kampung karena sudah berbuat zina. Masih untung warga kampung ini mau menolong." Tegas Bu Desi


Ijah hanya bisa mengelus dadanya yang terasa sesak


"Aku masih penasaran, bayi Aidah yang sudah hampir lima bulan itu pergi kemana?" Ucap Bu Nita pelan dan hanya terdengar oleh beberapa wanita yang berada didalam


"Paling dia gugurin, terus dimakan anjing. Dikampung kita kan banyak hewan itu." Seru Bu Desi lagi


"Aku nggak percaya kalau kak Aidah yang melakukan ini semua." Kini Nur yang mengeluarkan pendapat, hatinya sudah tidak tahan lagi mendengar kata-kata "mungkin saja" dari mulut ibu-ibu di kampungnya itu


"Kenapa kamu bisa bilang begitu Nur?" Tanya Bu Desi yang baru saja datang dari mengantar kain panjang kedepan


"Coba ibuk yang jadi dia sekarang. Apa ibu masih sanggup menaiki pohon setelah kandungan ibu baru saja hilang, dan banyak sayatan menganga disekujur tubuh ibu?"


Semua mulut bungkam mendengar ucapan Nur, mereka tidak berpikir sejauh itu.


"Kenapa diam, takut kalau kak Aidah datang lagi dan meminta keadilan." Lanjut Nur


"Hus!!! Nur nggak boleh bilang gituh." Seru Ijah


"Alah, aku nggak percaya kalau orang lain yang berbuat seperti itu. Jelas-jelas dia malam itu tinggal sendiri dirumahnya, bukannya dia sudah stres saat itu juga." Kini Bu Nita yang berargumen


"Sudah buk, sudah. Nggak baik ngomongin orang yang sudah tiada." Ijah masih melerai mulut-mulut yang haus akan bahan omongan itu. Ijah mencubit lengan Nur, pertanda agar putrinya tidak ikut-ikutan


Mayat sudah selesai dibersihkan dan sudah lengkap dengan balutan kain putih ditubuhnya, semua warga keluar dari dalam rumah untuk mengantar mayat kekediaman terakhir nya. Suara ayat-ayat suci berkumandang mengiringi perjalanan menuju makam, tangis Arman kembali pecah sambil memeluk batu nisan yang bertuliskan nama istrinya.


Nur menatap kembali kepohon tergantungnya Aidah semalam, dia kaget melihat Aidah berdiri disamping rumahnya sambil tersenyum kearahnya. Nur mengedipkan matanya beberapa kali dan saat melihat sudah tidak ada orang disana, bahkan rumah sudah nampak kosong. Bulu kuduknya berdiri dan angin mulai membelai penutup keranda, dia melihat jelas saat keranda diturunkan untuk memperbaiki penutupnya kembali. Bau amis menyeruak dan darah mengalir dari tubuh mayat itu, mereka tidak memperdulikannya lagi sebab kain sudah diganti beberapa kali.

__ADS_1


.


"Semalam aman bang?" Kekeh Adam pada seorang pemuda yang baru menikah kemarin lusa


"Hahaha... Aman lah, bahkan lebih nikmat dari yang kubayangkan dam." Seru Jaya


Mereka kini tengah berjalan pulang setelah selesai dari pengajian Aidah. Gerimis yang kini mulai turun membuat langkah mereka semakin cepat. Adam dan Jaya mengangkat sarung yang mereka kenakan keatas kepala masing-masing agar terhindar dari hujan malam.


Langkah mereka terhenti di saat sebuah cahaya putih melesat tepat dihadapan mereka berdua.


"Kamu lihat kan Dam." Seru Jaya menatap kearah Adam, Adam hanya mengangguk dan melotot kearah Jaya


"Kamu jangan nakut-nakutin aku dam, aku bukan orang penakut." Ketus Jaya pada Adam yang masih melotot kearahnya. Adam masih diam ditempat saat Jaya sudah melangkah kedepan


"Kamu ngapain lagi Adam?!" Teriak Jaya dari depan. Kini Adam menunjuk lurus kearah pohon besar ditepi jalan


Jaya mengikuti arah tangan Temannya itu, mulutnya menganga ketika melihat sosok putih sedang bertengger di atas pohon itu


"Ya Allah dam lariiiii! Bukan diam aja!" Teriak Jaya sambil berlari mengangkat sarungnya


Adam sudah pingsan ditempat ketika sosok putih itu menatap kearahnya dengan mata merah menyala


"Ya Allah! Ampuni aku ya Allah!" Teriak Jaya berlari kencang dia melihat kebelakang, sosok putih itu mengikutinya dan dengan cepat sudah berada didepannya


Jaya terjatuh ketanah dia kini merangkak masih ingin jauh dari sosok putih itu


"Bang Jaya... Ini aku..."


Deg!


Suara itu, suara yang sangat Jaya kenal. Jaya mendongak keatas melihat siapa yang bicara padanya


Mata Jaya melotot melihat wanita yang berdiri dihadapannya, Aidah dengan wajah manis ayunya tengah tersenyum menatapnya. Lama kelamaan wajah cantik itu berubah mengerikan dengan banyak sayatan dimuka dan mulut mengeluarkan darah kental.


"A-Ai..."

__ADS_1


Belum sempat Jaya berucap tubuhnya sudah terhempas kesamping dan membentur pohon besar, Aidah kembali mendekat kearah Jaya. Tubuh pria itu terangkat keatas dan dengan cepat kembali terjatuh ke tanah


"Sakit Jaya... Sakit!" Teriak Aidah dengan suara memekakkan telinga


Jaya sudah pingsan dengan darah segar yang keluar dari mulutnya


Hii kiikkk Kiiik Kiiik


Tawa mengerikan kembali terdengar bersamaan dengan hilangnya sosok Aidah dari kegelapan malam


.


"Ya Allah bang! Abang kenapa?! Tolong! Tolong!" Teriak seorang wanita sambil memangku Jaya


Pagi sudah menyapa dan orang-orang yang mendengar teriakan minta tolong berhamburan datang untuk melihat.


"Astaghfirullah! Jaya kenapa Nita?" Seru bapak-bapak yang berdatangan


"Nggak tau pak, tadi pas saya sedang menjemur pakaian saya lihat Jaya sudah terkapar disini." Jelas Nita


"Ayo cepat bantu dia." Lanjut Nita


Bapak-bapak membopong tubuh Jaya dan membawanya kerumahnya


Nur yang mendengar keramaian datang melihat bersama Ijah


"Ada apa Bu Nita?" Tanya Ijah melihat Jaya dibopong pergi oleh bapak-bapak


"Si Jaya Mak Ijah, dia saya temukan terkapar disini terus dari mulutnya keluar banyak darah." Jelas Nita


"Astaghfirullah, kenapa bisa begitu buk?"


"Ya mana saya tau Mak, saya jumpanya dia sudah begitu." Ketus Nita


Nur dan Ijah kembali kerumah, mereka kini sedang bersiap untuk pergi ke kebun. Nur yang sudah selesai dengan segala keperluannya sekarang menutup semua jendela rumah, saat hendak menutup jendela kamarnya. Nur kembali menatap kearah pohon tempat Aidah ditemukan, dari jendela kamarnya pohon itu terlihat sangat jelas.

__ADS_1


Nur memperhatikan pohon itu, tali tambang yang mengikat leher Aidah masih tergantung disana. Semakin lama dia memperhatikan tali itu semakin jelas dia lihat ada darah yang mengalir deras dari tali tersebut. Jantungnya berdetak cepat dan keringat dingin mulai berjatuhan, sesekali tangannya menyeka keringat itu. Lambat laun dia melihat tali itu bergoyang-goyang kesana kemari seolah ada yang menggerakkannya.


"Nur ayo cepak nak!" Teriakan Ijah membuat Nur tersentak dan dengan cepat ia menutup jendela kamarnya


__ADS_2