
"aku akan meneruskan usaha ayahku Nur, kamu tau kan, setelah ayah meninggal semua kebunnya di pegang oleh adiknya ayah sementara. Dia sekarang sudah tua, dan tidak bisa bekerja lebih keras lagi." Ucap Firman mereka kini sudah masuk kedalam rumah
Hachimm!
Nur bersin menghirup aroma cabe goreng yang menyengat kehidung karena kekurangan minyak
"Alhamdulillah" seru Nur. Namun lagi-lagi dia bersin karena seluruh rumah mereka sudah dijamah oleh aroma cabe goreng ibunya
"Kalian sudah pulang, ayo duduk. Umak sudah siapkan makanan pagi ini." Seru Ijah yang masih mencampurkan ikan dengan bumbu cabai tadi
"Wah, sudah lama tidak makan ikan yang baru diambil langsung dari kolam." Wajah Firman tampak sumringah melihat hidangan dimeja makan, disana sudah tersaji tumis kangkung dan ikan goreng lengkap dengan nasi dan lalapan timun
"Ayok, Firman ambil duluan. Umak cuci tangan dulu di sumur." Ucap Ijah berlalu dari hadapan Nur dan Firman
"Ikan dari belakang rumahkan Nur?" Ucap Firman memastikan
"Iya, mereka sudah beranak Pinak disana. Umak tidak mau menjual walau seekor pun karena harganya murah." Seru Nur sambil menyendokkan nasi kedalam piringnya.
Udara yang dingin dan air yang selalu mengalir dari perbukitan membuat ikan mas betah berada dikolam, ditambah lagi air yang selalu mengalir jernih tanpa ada hambatan apapun.
Hampir semua warga mempunyai kolam ikan sendiri, mereka memanfaatkan alam dengan baik dan benar. Air yang mengalir dari perbukitan langsung bisa dialirkan kesetiap rumah warga tanpa ada pembangkit atau tenaga mesin yang membantu.
Untuk warga taraf kebawah seperti Nur, mereka sudah sangat senang walau akan mandi didalam ruangan yang hanya berdinding terpal seadanya, sedang yang sudah memiliki harta dan terpandang mereka enggan untuk memanfaatkan nya dan memilih untuk menggali sumur sendiri dan menjadikannya kamar mandi di dalam rumah. Kolam ikannya bisa ia buat hasil dari tabungannya selama sekolah SMA.
Firman makan dengan lahap sampai menghabiskan satu ikan mas berukuran setengah kilo, Nur dan ibunya tersenyum melihat Firman yang tidak sungkan untuk makan dirumah mereka. Nur baru ingat, pasti semalam Firman tidak makan malam karena menginap dirumah Sahrul suami dari Bu Nita. 'pantas saja dia makan dengan lahap' gumam Nur sambil menyendokkan nasi kedalam mulutnya
__ADS_1
"Tolong! Tolong!"
Terdengar teriakan minta tolong dari samping rumah Nur. Nur dan Firman yang baru saja selesai makan langsung berlari keluar meninggalkan Ijah yang masih akan memulai aktivitas makannya
"Kenapa pak!" Seru Firman melihat pak Sahrul sudah berlutut diteras rumahnya sambil menangis, Firman dengan cepat mengangkat bahu Sahrul agar berdiri
"Tolong aku Firman, istriku..." Sahrul tidak melanjutkan kata-katanya dan malah berlari masuk kedalam rumah. Firman ikut masuk kedalam rumah bersama Nur dan terlihat Ijah juga mengikuti mereka dari belakang.
"Astaghfirullah!" Seru Nur dan Firman bersamaan.
Bu Nita tampak sedang kejang-kejang dan mencekik lehernya sendiri dengan kuat, matanya melotot melihat keatas dan suara yang terdengar semakin serak. Nur yang berada diambang pintu melihat jelas dibalik jendela kamar Bu Nita berdiri Aidah dengan senyuman mengerikan, mulutnya menganga lebar dengan deretan gigi runcing yang menembus daging mulutnya sendiri. Nur mematung melihat Aidah menatap tajam kearahnya, semua kulit wajah Aidah perlahan berubah hitam dan mengelupas, darah hitam kental perlahan mulai menetes dari wajahnya.
Nur enggan beranjak dari tempatnya berdiri walau Ijah sudah berdiri dibelakangnya dan menarik tangan Nur, tubuhnya kaku dan tidak mendengar ucapan Ijah yang memanggilnya, sedang Nita sudah tampak tenang sesusah Firman membacakan ayat suci didekat telinga Nita. Nur masih melihat Aidah berdiri dibalik kaca jendela, sekarang wajahnya mulai kembali terlihat memutih dan lukanya perlahan menghilang. Rintihan sakitnya sangat terdengar jelas di telinga Nur, Aidah mulai terlihat merasakan panas dan berteriak kencang karena mendengar lantunan ayat yang dibacakan oleh Firman.
Nur tidak mendengar sama sekali teriakan ibunya, tatapannya seakan enggan untuk berpaling dari Aidah yang kesakitan. Firman tau Nur melihay sesuatu, dia terus membaca ayat suci Al-Quran didekat Nita yang sudah terpejam. Sahrul menepuk pelan wajah Nur agar bisa tersadar, namun nyatanya tidak sama sekali.
Nur melihat Aidah mencekik lehernya sendiri dan dari matanya terlihat darah mengalir dan setetes demi setetes berjatuhan sebelum akhirnya dia menghilang, tangannya masih sempat ingin menggapai Nur namun sepertinya dia sedang ditarik sesuatu entah apa itu. Suara raungan dan teriakan Aidah membuat telinga Nur seakan mau pecat, Nur dengan cepat menutup telinganya dan detik kemudian tersungkur kelantai.
Keringat dingin mulai berjatuhan dari wajahnya, dan tangan gemetar sambil mencari sesuatu untuk dijadikan pegangan.
"Allahu Akbar!" Pekik Ijah seraya memeluk tubuh putrinya. Firman mendekat dan memberikan air putih pada Nur, segelas air putih di tengguk habis olehnya. Dengan nafas yang masih ngos-ngosan Nur kembali menatap kearah jendela kamar, dia lega sosok Aidah sudah tidak ada lagi disana.
"Apa yang kamu lihat Nur?" Tanya Firman. Dia yakin Nur sudah melihat sesuatu
"A-Aidah, dia disana." Tunjuk Nur kearah jendela kamar dengan tangan gemetar
__ADS_1
"Astagfirullah!" Ucap pak Sahrul dan Bu Ijah bersamaan
"Bahkan, walau sudha pagi arwahnya masih saja meresahkan warga. Aku yakin, dia ingin meminta keadilan atas kematiannya." Seru pak Sahrul dengan nada tegas
"Memangnya ada yang menjanggal dengan kepergian Bu Aidah pak?" Tanya Firman. Dia belum mengetahui jelas peristiwa meninggalnya Aidah. Yang dia tau hanya penampakan yang selalu datang meresahkan warga
"Dia meninggal gantung diri, dan disekujur tubuhnya banyak luka sayatan serta anak yang dikandungnya menghilang begitu saja." Ucap Sahrul
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un." Seru Firman sambil mengelus dada
"Apa kita beritahu sama Arman saja, dia seolah sudah melupakan istrinya itu." Kini Ijah yang angkat suara. Semenjak kepergian istrinya, Arman selalu mengurung diri dirumah. Ijah hanya melihat seorang bapak-bapak yang selalu datang untuk mengantar sesuatu kerumahnya akhir-akhir ini
"Jangan dulu Mak. Kalaupun kita kasih tau, apa yang akan terjadi selanjutnya?" Tanya Firman. Dia tidak mengerti dengan hal gaib, dia hanya mempelajari do'a dan ayat suci Al-Quran yang bisa menjauhkan diri dari setan yang ingin menggoda ataupun mengganggu. Namun semua itu berbalik Kediri sendiri, bagaimana cara kita menyikapi hal yang demikian. Allah hanya memberikan kata-kata yang bisa menghalau, namun jika hati masih tidak mempercayai, maka musnah sudah semua yang kita pelajari.
"Firman benar Mak. Kita tidak boleh gegabah dan menuduh yang tidak-tidak dulu. Nanti saya akan bicarakan dengan kepala desa dan warga kampung dulu, kami sudah merencanakan akan mengadakan jaga malam kembali seperti dulu." Seru Sahrul
"Memangnya dulu juga pernah terjadi seperti ini pak." Nur menatap Sahrul lekat, dia yang dari tadi diam kini angkat suara juga
"Iya Nur, tapi yang dulu hanya penampakan yang dilihat oleh warga. Itu terjadi 12 tahun lalu, saat itu kasusnya hampir sama dengan Aidah. Namanya Dewi, dia ditemukan terkapar di batu putih yang berada di sungai. Wanita itu meninggal dalam keadaan tanpa busana, sekujur tubuhnya seperti sudah di gerayangi banyak manusia bejat tanpa perasaan." Sahrul menatap kedepan seperti tengah mengingat masalalu
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un." Seru Firman kembali
"Terus, bagaimana cara agar penampakannya tidak datang lagi pak?" Nur sangat tidak nyaman dengan Aidah Yangs selalu datang membayangi dirinya. Bisa-bisa nanti dia mati karena jantungan
"Yang bapak ingat, seorang dukun yang sudah memusnahkannya dan menguncinya dibatu tempatnya meninggal. Umak juga tau itu kan." Sahrul menatap Ijah, wanita itu hanya mengangguk pelan sambil membelai lembut rambut Nur
__ADS_1