
Senja sudah bersemayam di ufuk barat, keindahannya akan selalu memanjakan mata. Sayup-sayup terdengar panggilan suara adzan Magrib dari kejauhan, Nur semakin penasaran dengan orang yang sudah berani keluar pada saat hari sudah mulai malam seperti ini. Sudah dua waktu sholat dia mendengar adzan dengan suara Muazin yang sama, ketika subuh dan Magrib ini.
"Mak, kita sholat di surau yok." Pinta Nur pada ibunya. Wanita berumur empat puluh tahun itu menatap Nur tajam, apa putrinya tidak yakin dengan teror Aidah pada malam hari?
"Umak nggak mau, nanti sehabis pulang dari surau hari sudah gelap dan semua orang akan mengunci pintunya rapat." Ucap Ijah dengan nada tegas, berharap putrinya itu mengerti ketakutannya
"Tapi orang yang adzan itu tidak takut Mak."
"Dia orang baru dikampung ini, dia belum percaya dengan penampakan yang dilihat warga." Ketus Ijah berlalu ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu
"Dia siapa Mak?!" Seru Nur mengekor dibelakang ibunya
"Dia anaknya mendiang haji Bakri, namanya Firman. Kamu kenal dia kan?"
Nur manggut-manggut, Firman sebaya dengan Nur dan mereka teman dekat saat SMP dan SMA dulu. Mereka sempat menjalin cinta monyet dan ketahuan oleh ayahnya Firman saat SMP. Saat memasuki SMA, mereka sudah tidak sedekat dulu lagi, karena haji Bakri melarang tegas putra satu-satunya itu berteman dengan orang kalangan bawah seperti Nur. Nur mundur dan terus menjauh dari Firman sampai mereka tamat SMA dan akhirnya Firman dikirim ayahnya ke kota untuk melanjutkan pendidikan.
"Ayok, cepat wudhu! Jangan melamun!" Ijah menyentil telinga putrinya membuat Nur tersadar kembali dari lumanan pahitnya itu. Orang miskin seperti keluarganya dilarang keras berharap pada orang kaya, apalagi orang tersebut terlihat angkuh dan sombong. Walaupun almarhum Bakri menjiwai sifat angkuh, namun sifatnya itu tidak menurun pada anaknya itu. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya itu ternyata tidak berlaku untuk semua orang.
.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuat Nur dan Ijah seketika menghentikan aktivitas makan malam. Mereka saling berpandangan, satu Minggu ini tidak ada lagi yang berani keluar rumah malam hari, terus yang mengetuk pintu mereka itu siapa?
"Biar Nur yang bukakkan Mak." Nur berdiri dan beranjak menuju pintu, namun tangannya ditarik langsung oleh Ijah. Dia takut bukan orang yang mengetuk pintu mereka barusan.
__ADS_1
"Kita lihat dari kaca dulu Nur." Bisik Ijah pada putrinya. Jantungnya sudah berdetak cepat karena takut apa yang dia pikirkan benar.
Nur mengintip dari balik tirai, jendela kaca yang berukuran kicil berjejer rapi keatas menyulitkannya untuk melihat jelas apalagi lampu diteras mereka baru saja putus. Dia masih tidak melihat ada siapa-siapa disana dan akhirnya menyibak tirai lumayan lebar agar cahaya lampu bisa keluar
"Aaakkkhhh!"
Teriak Nur saat melihat sosok mengerikan dengan mata melotot kearahnya sudah berada dibalik kaca. Ijah berteriak histeris begitu juga dengan Nur, dia menarik tangan putrinya itu dengan kasar menuju kamar dan langsung mengunci pintu bilik itu.
Tubuh Nur sudah melemah dengan apa yang dia lihat barusan, sedang Ijah memeluk erat putrinya dengan berlinang air mata. Tubuh mereka berdua gemetar dan detak jantung yang sudah berpacu cepat
TOK! TOK! TOK!
Ketukan pintu terdengar kembali, kalini ini suaranya terdengar seperti gedoran. Ijah semakin memeluk erat tubuh Putrinya sedang Nur berusaha menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Baru kali ini dia melihat sosok mengerikan seperti itu, mata yang hampir keluar dan wajah yang sudah hancur melepuh serta darah kental yang terus keluar dari lubang-lubang wajahnya.
BRAKK!!!
Hening, tidak ada suara apapun lagi, namun pelukan keduanya belum juga kendur.
"Mak! Nur!" Teriak seorang pria dari luar kamar
Nur kenal dengan suara itu
"Kalian di dalam kan, ini aku Firman!" Teriaknya dan mengetuk pintu kamar yang terkunci dari dalam
Nur beringsut dari pelukan ibunya, dia melihat kecelah di bawah pintu kamar. Kakinya menapak dan terdapat sendal yang terpasang juga. Nur memberanikan diri untuk membuka pintu sedang Ijah enggan melihat apa yang dilakukan putrinya itu
__ADS_1
"Firman!"
Nur menghambur memeluk pria itu, Firman menyambutnya dan membalas pelukan Nur. Nur dengan cepat melepas pelukannya saat tersadar apa yang telah dia lakukan barusan.
"Maaf, maafkan aku." Nur menunduk dengan pipi sudah memerah karena malu
"Mak, ayo kesini." Pinta Firman pada Ijah yang masih terduduk dilantai kamar. Ijah memberanikan melihat keasal suara dan saat itu juga dia merasa lega, bukan sosok mengerikan itu lagi yang mereka lihat.
"Mak." Ucap Firman sambil mengambil tangan Ijah yang gemetar dan menyalaminya
"Firman, apa kamu tidak melihat sesuatu barusan?" Mata Ijah celingukan mencari sesuatu
"Tidak Mak, pas Firman pulang dari surau, Firman dengar suara teriakan, semua rumah sudah tertutup kecuali rumah umak ini. Maaf, kalau Firman sudah lancang masuk tanpa permisi."
"Tidak, umak sangat berterimakasih padamu." Ucap Ijah mempersilahkan Firman duduk dibangku yang terbuat dari anyaman bambu diruangan tengah rumahnya
"Kenapa kalian terlihat takut?" Tanya Firman. Dia merasa ada yang aneh dengan kedua anak dan ibu itu
"Tadi ada yang mengetuk pintu rumah bang, saat Nur lihat dari jendela tiba-tiba muncul makhluk aneh mengerikan dibalik kaca. Umak menarikku kedalam kamar dan bersembunyi disana, tidak lama setelah itu gebrakan pintu yang dibuka terdengar. Saat itulah Abang datang dan mengetuk pintu kamar." Nur menjelaskan semuanya dengan nada suara memburu, dia takut makhluk itu akan datang dan mengganggu lagi
Firman dengan antusias mendengarkan ucapan Nur barusan, saat dia masuk kerumah ini hanya bau amis yang tercium dimana-mana dan dia tidak melihat apapun sejak tadi.
"Apa ini yang warga maksud dengan teror Aidah itu?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Ijah membuat bulu kuduk Nur seketika meremang, angin malam yang masuk dari pintu yang terbuka mulai meraba tengkuknya.
Samar-samar dari kejauhan terdengar gonggongan anjing yang seperti katakutan disertai tangisan bayi yang hilang timbul terbawa angin malam. Nur dan Ijah menatap Firman bersamaan, berharap pemuda itu bisa melakukan sesuatu.
__ADS_1
"Apa kamu tidak takut Firman?" Tanya Nur pada Firman yang sedari tadi terlihat tenang saja. Tidak ada gurat ketakutan dari wajah pria itu dan malah tersenyum mendengar pertanyaan Nur
"Hmmmm... Mungkin untuk saat ini aku tidak takut, tapi ada kalanya ketakutan kita itu merajai diri dan membuat kita lupa akan Tuhan sendiri. Imanku masih sangat lemah, saat aku berada diposisi kalian tadi bisa saja aku juga takut atau hanya kaget. Aku sudah banyak dengar tentang makhluk itu dari para warga, tapi ada yang mengganjal dipikiran ku kenapa tiba-tiba makhluk itu muncul dikampung kita?"