
"TOLONG! AKHHH!"
Terdengar teriakan dari luar rumah membuat Nur dan ibunya saling menatap kembali. Firman berjalan memeriksa keluar dan melihat siapa yang memintai pertolongan.
"Astaghfirullah!" Seru Firman sambil berlari kehalaman rumah. Nur yang ikut mengekor dibelakang Firman tampak membulatkan mata melihat Bu Nita sedang memegangi tali tambang dilehernya sambil berlari. Jeritan minta pertolongan darinya semakin lama semakin lemah, para warga yang enggan keluar tampak menyalakan lampu teras masing-masing dan ikut mengejar Nita yang masih berusaha melawan tali tambang yang menyeret dirinya.
Hap!
Firman bisa mengejar dan menangkap pinggang Bu Nita, suara wanita itu sudah parau karena terlalu keras berteriak. Tarik menarik terjadi antara Firman dan tali yang seakan ditarik juga, tapi tidak ada yang melihat siapa yang menariknya.
Para bapak-bapak yang ikut mengejar bersusah payah melepaskan ikatan tali dari leher wanita itu, sedang yang lainnya menarik bagian tali yang lain agar tidak semakin mencekik leher Bu Nita. Dengan bantuan bapak-bapak tali yang mengikat leher Bu Nita bisa terlepas juga, sedang tali itu terbang dan menghilang entah kemana.
Sahrul suami dari Bu Nita langsung mengangkat tubuh istrinya itu kedalam rumah, para ibu-ibu kembali kerumah masing-masing sedang Firman dan bapak-bapak yang lain memustuskan bermalam dirumah pak Sahrul malam ini. Ijah dan Nur juga ikut serta disana, mereka masih takut berada dalam rumah mengingat kejadian barusan disambut pula dengan Bu Nita yang seperti gantung diri.
"Apa yang terjadi pak Sahrul?" Firman membuka suara menghilangkan keheningan malam dirumah kediaman Sahrul. Lima orang Bapak-bapak yang ikut menemani sedari tadi hanya diam sambil memegangi punggung leher masing-masing, Meraka terlihat khawatir dan ketakutan padahal dirumah itu banyak orang.
"Sehabis makan tadi dia bilang mau mengambil sendal yang tertinggal di depan rumah, tapi tidak kunjung datang lagi setelah itu. Saat hendak menemuinya, dia sudah berlari dengan tali yang terikat dileher." Pak Sahrul tampak murung dengan kejadian yang barusan menimpa istrinya itu
"Terimakasih Firman, jika kamu tidak datang tadi entah apa yang terjadi pada istriku." Sahrul memegang tangan Firman dengan wajah begitu lesu dan lemah. Kalau saja Firman tidak datang, sudah bisa dipastikan warga yang lain juga akan enggan mengejar istrinya. Dia tidak bisa memikirkan apabila hanya dia yang mengejar istrinya dikegelapan malam.
"Sama-sama pak, sudah kewajiban kita sesama muslim untuk membantu." Ucap Firman
__ADS_1
.
Tidak ada azan Subuh pagi ini, tapi semua bapak-bapak sudah terbangun dari tadi begitu juga dengan Nur dan Ijah. Nita masih terbaring lemah diranjangnya dengan leher sudah memerah dan terluka karena ikatan tali yang begitu kencang.
Diluar belum ada cahaya matahari yang terlihat menyinari, hanya ada embun yang bersemayam dikampung mereka saat ini. Dinginnya udara dipagi hari serasa menusuk tulang, wajar saja wilayah kampung mereka terdapat dataran tinggi dan sering di sebut warga dengan puncak. Banyak orang luar daerah yang datang kekampung mereka, baik untuk berlibur, berkemah, atau sekedar berkunjung untuk mencari udara segar.
"Ayok, kita sholat subuh disurau bapak-bapak." Ucapa Firman setelah terbangun dari tidurnya. Pak Sahrul dan kelima bapak-bapak yang lainnya hanya saling pandang, mereka enggan untuk beranjak dari duduknya untuk mengikuti Firman yang sudah keluar dari pintu rumah.
"Ayo Mak kita ikut juga." Pinta Nur berdiri dan menarik lengan ibunya, Ijah menarik kembali tangannya dan menggeleng pelan. Dia tidak mau keluar karena masih takut berurusan dengan makhluk mengerikan itu
"Baiklah, Nur akan pergi bersama Firman saja." Ucap Nur melangkah keluar dari rumah Sahrul, para bapak-bapak saling pandang kembali, mereka juga ingin ikut tapi enggan untuk melangkah karena takut
"Kalian pergilah, aku saja yang disini menjaga Nita." Seru Ijah pada bapak-bapak.
Ucapan Sahrul terputus karena langsung disambar Ijah dengan nada ketus
"Kalian pergi, masa kalah sama bocah baru lahir!" Ketus Ijah, dia pergi kebelakang rumah Sahrul untuk mengambil wudhu
Akhirnya dengan berpegangan tangan ke enam bapak-bapak itu sudah sampai di depan surau. Mereka tidak lagi merasakan udara yang dingin karena sudah bercucuran keringat dijalan menuju surau. Mereka selalu mendengar suara-suara aneh dari samping jalan menuju surau, bukan suara jangkrik ataupun hewan malam lainnya, melainkan suara teriakan dan tangisan yang sayup-sayup terdengar tipis digendang telinga.
Setelah semua bapak-bapak sudah mengambil wudhu terdengar Iqamah sudah dikumandangkan oleh Firman dari dalam surau, mereka semua bergegas memasuki surau dan memakai kain sarung masing-masing.
__ADS_1
Nur hanya sholat sendiri dibalik tirai pembatas antara kaum laki-laki dan perempuan. Semuanya sudah menjalankan sholat dengan khusuk, tepat pada rukuk yang terakhir suara seperti lemparan pada atap surau terdengar jelas dan lumayan keras membuat para bapak-bapak mulai gelisah begitu juga dengan Nur.
Dia mendengar jelas suara yang membentur atap, tepat saat salam dia juga mendengar suara wanita yang menjawab dari belakangnya dan melihat sekilas saat dia juga menoleh ke kiri saat salam terakhir. Nur enggan untuk melihat langsung dan kembali menghusyukkan diri dengan lantunan zikir yang dipimpin oleh Firman dari depan. Dia terhanyut dengan suara merdu teman masa kecilnya itu, hatinya ikut berirama selaras dengan setiap kalimat yang Firman lantunkan.
"Saya duluan Nur..." Suara seorang wanita menyebut namanya dari belakang. Nur langsung memutar posisi duduknya dan melihat kebelakang. Wanita dengan pakaian serba putih itu sudah berdiri diambang pintu sambil menenteng mukenah berwarna putih kusam. Wanita itu tampak melihat kebawah dan akhirnya berjalan lurus kedepan tanpa melihat kebelakang lagi
"Nur, kamu mau kemana?" Seru Firman yang sudah berdiri dibalik pembatas. Langkah Nur terhenti, dia hendak melihat dan menyapa wanita yang ikut sholat dengannya tadi.
"Itu, aku mau bilang sama wanita tadi. Dia membawa mukena masjid." Nur mendekat dan melihat kearah gantungan mukenah, matanya langsung membulat melihat tiga mukenah yang tergantung disitu masih utuh dan salah satunya dia yang memakai.
"Wanita?" Tanya Firman dengan alis tertaut
"Iya tadi dia ikut sholat berjamaah."
"Kami tidak melihat ada wanita lewat Nur." Seru bapak-bapak dari ambang pintu dibelakang Nur, rupanya mereka sudah tidak sabar untuk kembali pulang
"Benar pak, Nur tadi lihat ada wanita. Dia juga tau nama Nur." Nur masih tidak percaya apa yang di ucapkan para bapak-bapak itu, dia dengan jelas mendengar suara wanita itu menyebut namanya
"Sudah, mungkin dia lebih cepat keluar dari kita." Ucap Firman
Nur dan Firman berjalan berdua menuju rumah Ijah, Nur menawarkan sarapan dirumahnya saja. Mengingat Firman hanya tinggal sendiri dirumah karena kedua orangtuanya sudah lama menghadap sang pencipta.
__ADS_1
"Kenapa kamu pulang Firman?" Tanya Nur saat mereka sudah memasuki rumah, sedang dari dalam terdengar Ijah sudah mulai mengulek bumbu di dapur