
Suara kayu berderak di atas bara api memaksanya untuk membuka kelopak mata yang berat akibat kantuk. Gadis itu mengembuskan napas dan merasakan kontak udara dingin menyelimuti tubuhnya. Dengan cekatan ia memasukkan ketel berisi air dan memanaskannya di atas kompor.
Elea menyelesaikan beberapa rangkaian rutinitas paginya dan menyempatkan diri untuk sarapan sebelum berangkat. Gadis berambut coklat ini mengenakan gaun celemek biru bersulam favoritnya dengan mantel cokelat yang dijahit untuk melindunginya dari udara dingin di sekitar.
Suara lembut ombak lautan di sepanjang garis pantai dan keramaian yang berlalu-lalang adalah hal yang paling sering ia temui saat ingin memulai harinya.
Mendirikan sebuah toko bunga adalah keinginan orang tuanya sebelum keduanya meninggal dunia.
Bangkit dari kesedihannya, ia memenuhi permintaan terakhir mereka sebagai bentuk penghormatan serta menjadikan dirinya orang yang lebih baik seperti yang ia ketahui saat ini.
Elea melangkah masuk setelah membuka pintu, suara denting lonceng menjadi pembuka sebelum diikuti oleh rentetan kesibukan lainnya.
Tak heran jika di awal musim semi, semakin banyak pelanggan yang datang untuk membeli bunga. Gadis itu mengencangkan ketangkasannya dan menenggelamkan diri dalam keasyikannya.
Sore hari telah tiba, kerumunan orang telah berlalu. Gadis itu terkapar karena kelelahan.
Tak lama kemudian, seorang pemuda datang menghampiri toko tersebut. ia mencari suatu tanaman herbal untuk mengobati dirinya sendiri. Namun, Elea menggelengkan kepala karena pada saat itu ia tidak memilikinya.
Pemuda itu menahan rasa sakit akibat pendarahan dari kaki kanannya, tak sanggup untuk menopang tubuhnya lagi, ia pun akhirnya terjatuh. Menyebabkan gadis itu berteriak histeris. Tanpa pikir panjang ia memapah pemuda itu untuk segera memberikannya pengobatan
***
Matanya perlahan-lahan sedikit terbuka.
Suara mendengung tiba-tiba menjalar disaat ia mengangkat kepalanya. Ia meringis ketika rasa sakit menusuk dahi hingga ke otaknya. Seketika ia terjatuh ke atas bantalnya lagi, menatap langit-langit kamar yang kini terasa berbeda
Ia membungkuk pelan di tepi kasur dan menemukan luka parah di kakinya telah diobati dan diperban
Derap langkah kaki samar-samar mencapai telinganya.
"Apakah kau baik-baik saja? Apakah itu masih terasa sakit?"
"Y-Ya, tapi .... um, tidak apa-apa" Dia menggaruk tengkuknya untuk menghilangkan nada ragu. "Aku sudah lebih baik sekarang. mungkin bisa sembuh di atas 2 hari"
__ADS_1
keputusannya dibuat untuk maju ke depan
"Jadi, di mana aku sekarang?"
"Kau pingsan dan sekarang kau berada di rumahku".
Pemuda itu mencoba mengingat-ingat sambil meraba pelipis kirinya, beberapa saat kemudian ia baru menyadari bahwa sebuah perban telah membalut lukanya itu, yang membuktikan bahwa ia terjatuh ke lantai dengan sangat kasar. Ia pun mengangguk dalam diam dan mengerti apa yang telah terjadi padanya.
Gadis itu dengan ramah mengulurkan tangannya dan disambut oleh pemuda yang telah ditolongnya tadi.
"Aku Elea dan.. kau?"
"Lucas."
"Senang bertemu denganmu," disaat Elea ingin menambahkan kata-katanya, suara perut keroncongan mencapai ke pendengaran mereka. Lucas menundukkan kepalanya, malu. Elea membungkus tawa kecilnya.
***
"Silahkan, sepertinya kau sedang lapar"
Ia tersenyum "Terima kasih"
Elea menganggukkan kepalanya sambil menyalakan beberapa obor di dinding untuk penerangan tambahan.
Tanpa pikir panjang, Lucas melahap sebagian rebusan yang telah disajikan di atas meja. Senyuman simpul terukir di bibirnya, Gadis itu duduk di sebelahnya dengan wajah di pangkuannya sambil melamun untuk memperhatikan reaksi pemuda itu. Lucas, yang menatapnya dengan heran, kemudian membuka suara
"Apa aku menghabiskan makananmu? Maafkan aku..."
Elea menggelengkan kepalanya "Tidak. sama sekali tidak"
Dia menambahkan dengan muram, "Huh.. Sudah lama sekali..."
"Apa kau baik-baik saja?" Lucas mengalihkan pandangannya dan memperhatikannya.
__ADS_1
Elea menundukkan kepalanya. Ia telah menahannya untuk waktu yang lama. Lucas mendengar setiap pertukaran emosi sepanjang percakapan mereka. Ia menenangkan gadis itu dan bertindak sebagai pendukungnya.
Satu jam telah berlalu. Lucas masih menatap lilin yang hampir padam dihadapannya. Gadis itu sudah tertidur. Matanya yang sedikit sembab menarik perhatiannya. Tak lama kemudian ia menyandarkan gadis itu di tempat tidur agar ia bisa beristirahat.
Lucas merasa ada beberapa kesamaan terdapat didalam diri mereka. Dirinya yang juga lemah jika ditinggalkan, Namun, meskipun ia tak terlalu baik dalam hal emosi dan perasaan manusia, Lucas merasa bahwa Elea telah mengungkapkan sisi dirinya yang rentan dan percaya bahwa dia telah mendapatkan kepercayaannya.
Tetap dalam posisi menatapnya, Lucas beranggapan bahwa ia masih diberi kesempatan untuk hidup melalui dirinya. Suatu ketika Lucas hampir tertangkap oleh sekelompok pedagang budak yang melukai kaki kanannya. Ia diburu oleh mereka semenjak Guru yang mengadopsinya telah meninggal dan berhasil melarikan diri dengan menyusup ke dalam gerobak. Hingga beberapa hari kemudian ia masih dalam perjalanan untuk menemukan sebuah desa yang ia kira dapat ia singgahi untuk menyembuhkan lukanya yang kian parah. Namun, karena lukanya yang terlalu banyak mengeluarkan darah hingga kelaparan selama perjalanan, selain itu tubuhnya sudah berada di ambang batas, akhirnya ia pingsan. hanya teriakan histeris gadis itu yang terngiang-ngiang di kepalanya dan membuatnya sadar kembali.
.
***
Suara air yang mengalir dengan lembut yang mendorong puing-puing dan bebatuan dari pantai terdekat menyerbu telinganya untuk membangunkannya.
Elea mendapati dirinya terbaring di tempat tidur miliknya, tertutup dengan selimut. ia mengangkat kepalanya dan berbalik mencari pemuda yang ia temui kemarin, Lucas, namun ia tak kunjung ditemukan.
Saat Elea melangkah ke seberang ruangan, Elea menutup perhatiannya dari suara ketel yang sedang dipanaskan di dapur bawah tangga,
Elea memaksakan diri untuk berjalan dan mencari tahu. Saat ia turun, sebuah gema memecah keheningan
"Kau sudah bangun, Selamat pagi Elea"
"Uhh.. ternyata kau, Lucas. Selamat pagi, apa kau sudah merasa lebih baik?"
Lucas menjawab "ya, sudah sembuh." ia mengusap tengkuk lehernya yang tidak gatal
"Hei uhm... aku tak pandai mengucapkan terima kasih, tapi, aku telah membuatkan teh untukmu. Chamomile, passionflower, spearmint, dan lemonbalm dicampur dengan madu untuk rasa manisnya. Mungkin bisa membantumu untuk rileks" Lucas mengambil cangkir dari atas meja dapur seraya berjalan menghampiri untuk memberikan teh hangat kepadanya
Elea tersenyum lembut kepadanya, ia duduk di atas kursi kayu sembari perlahan menyambut secangkir teh hangat yang ditawarkan Lucas "Terima kasih, Lucas"
"Sama-sama" jawab Lucas dengan tatapan lembutnya yang tidak asing lagi
***
__ADS_1