FLORIOGRAPHY

FLORIOGRAPHY
Chapter 2. Caught by Them


__ADS_3

Matahari membumbung tinggi di langit. Burung-burung berkicau riang di dahan pohon ek.


Sinar matahari masuk dan bayangan pepohonan terlihat jelas mengarah ke sebelah timur. Gemerincing lonceng toko seakan memberi tahu tuannya bahwa ada seseorang yang datang.


Namun, bukan berarti hal itu dapat memecah konsentrasi sang gadis saat ia memeriksa beberapa bunga bakung kuning yang telah layu.


"Nona pegawai toko, tolong berikan Amarilis ini kepada tuanmu."


Elea menoleh tanpa memperhatikan pemilik suara itu.


"Maaf tuan, sepertinya bunga yang anda maksud sedang kosong. dan satu hal lagi,  saya adalah pemilik toko in--Lucas?!"


Lucas tertawa kecil pada Elea yang memasang ekspresi jengkel.


"Untukmu"


Ekspresinya berubah saat buket bunga ditunjukkan kepadanya


"Dasar.."


Keheningan menyelimuti mereka berdua. Tetapi, suara keributan dari luar mengalihkan perhatian mereka.


"Cari anak itu! Jangan biarkan dia lewat!!"


Segerombolan prajurit berkerumun di beranda. membanting pintu dan bergegas menuju pintu masuk


Elea tak bisa tenang dan tidak yakin apa yang akan terjadi. Tangan seseorang menariknya menjauh untuk masuk ke dalam lemari penyimpanan miliknya saat prajurit tersebut mendekati gagang pintu


"Lucas!?" karena kaget, Ia tak sengaja berbicara dengan nada tinggi, salah satu dari prajurit mendengarnya dan akan masuk ke dalam.


"Ssst... Berhenti berteriak. Mereka menuju ke arah sini."


Ucapannya membuat Elea terdiam


Para prajurit secara frontal melangkah ke depan tempat persembunyian mereka.


"Aku mungkin akan menemukan sesuatu yang menarik" gumamnya


"Hei! Sebelah sini!" Dia memanggil prajurit lain untuk masuk ke dalam.


Seorang prajurit mengikuti instruksinya untuk masuk ke dalam.


Saat mereka mendekat, jantung Elea seakan berhenti di tempat dan ia menjadi ketakutan. Lucas melihatnya dan mengamankannya agar tidak ketahuan.


Para prajurit masih berjaga di seluruh sudut toko. Ruangan itu berantakan akibat ulah mereka. Suara hentakan senjata dan sepatu bot besar mereka terdengar jelas. Meskipun kota itu diatur oleh hukum, mereka bersikap kasar dan sewenang-wenang terhadap penduduknya.


Tawa mereka yang menjijikkan terdengar, keributan yang tak henti-hentinya semakin memburuk sampai Elea hampir tak tahan.


"Hei, jangan panik," Lucas menenangkan, mencoba membuat gadis itu merasa lebih baik. Elea menarik napas dalam-dalam dan mengangguk perlahan


"Ya..."

__ADS_1


Keributan perlahan-lahan mulai mereda, Lucas mengulurkan tangan untuk membantunya keluar dari tempat persembunyian.


"Apakah kau baik-baik saja?" Kata Lucas.


"Ya, aku baik-baik saja," jawab Elea.


"Sepertinya mereka sudah mengetahui keberadaanku," singgung Lucas tiba-tiba.


"Akulah yang mereka incar. Insiden pengejaran tidak berakhir pada para pedagang budak saja, mereka bahkan mengerahkan prajurit kota ini"


"Jadi apa yang mereka incar darimu?"


"Entahlah, aku tidak tahu pasti"


"Kemungkinan mereka akan kembali lagi, dan kuharap kau tidak akan terkena imbas dari perbuatan mereka" tambah Lucas


"Jadi kau memutuskan untuk pergi? Apa kau tak tahu bahaya di luar sana?"


"Ini satu-satunya pilihan yang kumiliki"


                               -oOo-


Saat langit mulai gelap. Lucas membuat keputusan untuk segera meninggalkan tempat persinggahan sementara nya. Sementara Elea sibuk dengan kesibukannya, dia meninggalkannya tanpa sepengetahuannya.


Lucas berlari ke arah hutan, menelusuri jalur yang sama dengan yang sudah pernah ia lalui, akan tetapi, Pada saat sudah berada di seperempat perjalanan, seseorang  menariknya dan menjepitnya dengan paksa di pohon terdekat.


Tak lama kemudian, sekelompok prajurit mengepungnya. Mereka bersembunyi dari balik pepohonan.


Gadis itu mencoba memberikan perlawanan dengan memberontak, namun sia-sia. Ia pingsan setelah dipukul di bagian belakang lehernya.


Lucas menyerah, dan prajurit tersebut menyeret mereka berdua ke dalam gerobak penampungan. Mereka tidak jauh dari kurungan masing-masing. Lucas memanggil gadis itu berulang kali agar ia terbangun.


"Akhirnya kau sadar juga"


Elea merasakan sakit di lehernya saat ia mencoba untuk bangkit.


"Aduh.."


"Kau tidak apa-apa?"


"Sedikit memar tapi tidak terlalu parah"


"Kita sedang berada dimana?" Elea bertanya


"Mereka akan membawa kita ke kastil mereka. Maafkan aku. Mereka menahanmu karena kau terlibat denganku" jawab Lucas dengan rasa bersalah


"Sudahlah. sekarang kita harus mencari cara  untuk keluar dari tempat ini"


"Baik. Dengarkan aku, bolehkah aku mengambil jepit rambut mu? Mungkin dengan kemampuan pick locked kita bisa keluar dari kurungan ini"


Elea segera melepas jepit rambutnya dan memberikannya kepada Lucas.

__ADS_1


"Ini, ambillah"


Lucas mencoba meraba gembok yang terpasang pada rantai yang melingkari kurungan itu. Agak sulit dengan posisi nya saat ini yang berada di dalam kurungan, tapi bisa teratasi.


Kini, ia beralih untuk membuka kunci yang berada di kurungan temannya itu. dan dalam beberapa detik saja ia berhasil melepaskan nya.


Sambil mengamati sekelilingnya, Lucas sangat mewaspadai pergerakan musuh. Elea hanya menunggu aba-aba dari Lucas agar mereka tidak saling berpencar dan tertangkap.


Pada saat itu, ada sepasang prajurit yang mengendarai kuda tepat di belakang gerobak tempat mereka ditawan. Dan sisanya berada di barisan depan.


Mereka tidak bersenjata lengkap, Lucas mencoba mencari kesempatan untuk melarikan diri dengan mengalihkan perhatian mereka dengan menggunakan smoke powder miliknya. Ia melemparkan nya ke jalan dan dalam sekejap batang hitam itu mengeluarkan kabut asap di jalan, lalu dengan sekuat tenaga Lucas dan gadis itu melompat dari gerobak dan berlari melewati lembah kecil yang mengarah ke bukit dan menemukan gudang peternakan yang telah lama ditinggalkan. Terlepas dari kecerobohannya yang lama, Lucas telah mengakali sebagian dari jejak mereka selama perjalanan sehingga keberadaan mereka tidak akan segera dikenali oleh para prajurit yang mengejar.


                                 -oOo-


Langit yang semula kejinggaan perlahan berubah menjadi gelap, disertai dengan hawa udara dingin yang tak terbantahkan.


Malam itu, sudah tidak lagi ada tanda-tanda kedatangan pasukan prajurit yang mengejar mereka.


Lucas dan Elea bisa bernapas lega. Mereka memanfaatkan beberapa ranting pohon dan jerami untuk menyalakan api unggun di gudang tempat mereka tinggal sementara.


"Kelihatannya kau seorang alkemis"


"Kurang lebih seperti itu"


"Ayah angkatku adalah seorang alkemis" tambah Lucas.


Elea menanggapi pernyataan Lucas dan bertanya dengan nada ragu-ragu


"Kejadian ini, apakah ada hubungannya dengan ayahmu?"


"Sepertinya."


Mereka terdiam, angin malam yang berhembus kencang saat itu menembus kehangatan tubuh mereka, suara angin yang berhembus kencang di luar menjadi pertanda akan datangnya badai. Hujan ringan perlahan-lahan berubah menjadi hujan deras. Suara guntur yang menggema telah sampai ke telinga mereka. Elea mencengkeram gaunnya dengan erat. Lucas, yang tidak tega melihatnya kedinginan, memberikan jubah coklatnya kepada Elea,


"Pakailah, ini mungkin bisa membantumu sedikit lebih hangat"


Lucas mengulurkan jubah miliknya pada gadis berambut coklat itu.


Elea menggelengkan kepalanya "Jika aku mengenakannya maka kau akan kedinginan"


"Tidak masalah. Aku akan berjaga malam ini. Kau boleh tidur" Lucas berkata dengan lugas


Elea menganggukkan kepalanya lalu mengambil tumpukan jerami yang disusun untuk dijadikan alas tempat tidur.


"Lucas"


"Ya"


"Terimakasih"


Chapter II

__ADS_1


End


__ADS_2