FLORIOGRAPHY

FLORIOGRAPHY
Chapter 3. Apple and Tree


__ADS_3

Harum embun di pagi hari setelah hujan menimbulkan sensasi manis seperti gula dari buah.


Suara gemeretak api dari arang yang terakhir membangunkan Elea dari tidur lelapnya.


Satu-satunya gudang yang terletak paling ujung di antara deretan perumahan tak berpenghuni menyatu dengan ranting-ranting liar yang ada di sepanjang jalan, menjadi tempat bernaung yang paling aman untuk saat ini.


Tak heran dengan ketidak beradaannya, Elea mulai pasrah dan menyadari betapa seringnya Lucas memiliki kebiasaan selalu menghilang. Ia pun akhirnya muncul dari arah pintu masuk dengan tergesa-gesa membawa dua ekor ikan dan sekeranjang apel. Sambil menempatkan nya di sudut ruangan ia berkata, "Aku menangkap ikan di sungai, cukup jauh dari sini. Dalam perjalanan pulang, aku melihat gumpalan asap disekitar pohon dan menemukan buah apel segar ini"


"Syukurlah. Sepertinya cukup untuk makan malam"


"Biarkan aku yang membersihkannya"


Lucas berinisiatif untuk membantu, lalu gadis itu mengangguk mengiyakan.


Ia menatap nanar saat mereka terus berjalan untuk mengambil peran mereka masing-masing.


                             


                             -oOo-


"Jika sudah aman, aku akan kembali ke rumah"


Celetuk Elea tiba-tiba membuat Lucas membelalak seketika.


"Apa kau yakin? Ini berbahaya! Mereka sudah tahu tempat tinggalmu dan sedang menunggumu di sana."


"Katakan padaku pilihan apa yang kita miliki! Bahkan gudang yang kita tempati ini jauh dari tempat yang layak untuk ditinggali"


Lucas menundukkan kepalanya, kehilangan kata-kata. Bagaimanapun juga, dialah yang menyeret Elea ke dalam masalah ini, dan gadis itu kehilangan satu-satunya rumah yang sangat berharga baginya"


Lucas menarik napas kasar dan akhirnya menyetujui nya.


"Aku akan membantu mu pergi ke sana, tapi kita tidak bisa untuk mene--"


"Awas!!"


Lucas secara reflek mendorong lalu menangkap Elea hingga mereka terjungkal ke samping. Sebuah tombak dengan tiba-tiba hampir menghantam gadis itu dari arah depan, dan ia sama sekali tidak menyadari datangnya benda tajam itu. 


Sekumpulan bandit mengenakan celana braies tanpa tunik atau jubah dengan bertelanjang kaki.


Mereka berkumpul dan mengepung mereka di satu tempat, dan hampir tak menyisakan ruang untuk melarikan diri.


Pemimpin mereka, Nikolas, mengambil apel yang didapat Lucas dan maju ke arah mereka berdua.


"Kau punya nyali, hm"


Dia menunjukkan apel itu kepada Lucas


Dengar, apa kau tahu ini?" Nikolas menarik kepalanya ke belakang


"Ini adalah perangkap untukmu. Apa kau tak menyadarinya? Dan seluruh wilayah ini, berada dalam kekuasaanku!"


Ia membenturkan kepalanya ke dinding dengan sangat keras


Nikolas berbalik, "Ini dia tikus yang kita cari!"

__ADS_1


"Haahaha!!!"


Kawanannya merespons dengan tawa sinis. Nikolas berbalik ke arah Lucas dan mengangkat dagunya secara paksa.


"Lihatlah bocah pencuri yang lemah ini..."


Nikolas menahan pergelangan tangan Lucas lalu meninju perutnya berulang kali hingga mulutnya mengeluarkan darah.


"Bersiaplah untuk membayarnya"


"Berhenti!" Teriak Elea


Nikolas melirik sekilas ke arah Elea. Dan sekarang ia beralih ke gadis itu.


"Wow. kau membawa seorang gadis juga, ya"


Seperti sudah terbayang apa yang akan terjadi, Lucas mengancam pria itu.


"Menjauh darinya atau kau akan ku bunuh!!"


Nikolas mengabaikannya, tatapannya hanya tertuju ke gadis itu.


Ia mendekat lalu menyentuh wajahnya,


"Singkirkan tangan kotormu dariku!"


Elea menampar wajah Nikolas namun dibalas dengan cengkeraman kuat di pergelangan tangan, sehingga membuat dirinya meringis kesakitan.


Tangan pria itu menelusuri garis rahang Elea dan ibu jari nya berakhir di bibir bawahnya dan menekannya.


"Keindahan ini.."


"B**ngan!"


Mereka dengan bersamaan menodongkan senjata milik mereka ke arah Lucas


"Mencoba bergerak, maka kau akan mati"


Salah satu dari mereka mengancamnya


Tatapan Nikolas menjadi sangat liar.


Gadis itu mencoba memberontak tetapi dengan mudah ditangkis olehnya


Kebencian, kemarahan dan kesedihan bercampur menjadi satu dalam isakannya. Dirinya yang ditahan tak mendapatkan kesempatan untuk melawan.


Nikolas mulai menjadi beringas, sekarang ia akan menghancurkan gadis itu, seperti binatang buas yang siap menerkam mangsanya, tidak ada yang bisa menghentikannya, bahkan orangnya sendiri.


"Amuse-toi avec moi, bébé"  bisik Nikolas


Tidak terima dengan seluruh perlakuan menjijikkannya terhadap Elea, amarah pemuda itu memuncak dan kesabarannya habis. Untungnya, saat itu fokus mereka hanya tertuju pada Elea. Lucas mengambil kesempatan untuk mengeluarkan smoke powder yang masih tersisa di sakunya. Ia menarik Elea menjauh dari kerumunan.


Setelah mengaburkan penglihatan mereka, tanpa membuang waktu, Lucas melemparkan Incendium disekitar sumber api dari obor di dinding yang masih menyala yang jaraknya tidak jauh dari musuh.


"Ambil ini dasar pak tua hormonal!!" Lucas berseru

__ADS_1


"Boom!!"


Sebuah ledakan terdengar. Api merebak dengan cepat dan menjalar ke dinding. Gudang tersebut terbakar dan menyala dalam kobaran api yang membara.


Dalam kepanikan, para bandit melarikan diri ke segala arah untuk melindungi diri mereka masing-masing.


Lucas membawa Elea keluar dari wilayah musuh lalu memasang jubah coklat miliknya pada Elea yang sedang menggigil.


"Kalungku?!"


"Tenanglah. Benda itu aman bersamaku."


Elea menunduk, tak berani menunjukkan wajahnya pada Lucas yang sangat mengkhawatirkan kondisinya saat ini.


Lucas menyandarkan punggung tangannya di bahu Elea


"Hei, aku disini.. dan aku janji akan selalu melindungimu..." Lucas dengan nada lembut khas miliknya berusaha menenangkan pikiran Elea yang sedang campur aduk saat ini.


"Ini semua salah..mu" Elea terisak lagi namun teredam didalam pelukan Lucas


Bola mata Elea membulat seketika. Lucas mencoba mengatakan sesuatu.


"Maaf..."


Elea menatap Lucas dan tersenyum lemah kepadanya. Ia membalas pelukannya


                                 -oOo-


Lucas dan Elea berjalan di jalan setapak yang sempit menuju hilir sungai. Jalan setapak itu dipenuhi dengan pepohonan dan semak-semak yang tinggi.


Ketika mereka sampai di tepi sungai, Elea berhenti di atas batu besar yang menghadap ke aliran sungai, dan Lucas yang berada jauh di depan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Elea


"Elea?"


Elea mengikuti perhatian Lucas yang menghampirinya.


"Apa semuanya baik-baik saja?" Tambahnya


Elea menggeleng kepalanya


"Lucas, aku tak yakin" jawab Elea


"Apa maksudmu, Elea?"


"Prajurit itu... mereka sudah pasti memblokir jalur masuk dan aku tau itu terlalu berbahaya. Penjaga-penjaga itu kejam, dan aku tak ingin kau terluka"


Bulir bening melewati dua kelopak miliknya.


"Semuanya berantakan. Aku bahkan tak punya rumah untuk kembali. tapi pilihan apa yang aku miliki? Aku tak bisa tinggal di jalanan, dan aku juga tidak bisa kembali ke rumah"


Dengan nada serius, Lucas mencoba meyakinkan nya kembali "Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian, Elea. Kita akan pergi bersama dan menyelesaikannya. Aku yakin kita akan menemukan cara lain, jangan khawatir"


Elea mengangguk, dan mereka kembali melanjutkan perjalanan.


Chapter III

__ADS_1


End


__ADS_2