
Langkahnya meluncur dengan hati-hati menuruni tangga, memasuki lantai bawah yang tertutup oleh kegelapan. Ruangan yang dihadapinya tampak begitu aneh dengan berbagai macam pipa berkelok-kelok, silinder berisi zat-zat misterius, dan beberapa obor api.
"Ini pasti laboratorium yang Lucas ceritakan padaku kemarin," ingatnya
Ketika ia menjelajahi ruangan itu, dibelakang jajaran tabung-tabung kaca, ia menemukan temannya, Lucas, sedang berdiri mengamati percobaan di atas meja. Lucas tampak benar-benar asyik dengan pekerjaannya, sehingga tak menyadari kehadirannya.
Namun, tak lama kemudian, serentetan kata-kata buruk terdengar dari Lucas sambil menggores sesuatu dengan cepat di atas sehelai kertas. Suaranya terdengar seperti seorang yang benar-benar terkejut dan frustrasi.
"Sial!"
Gillbert tidak bisa menahan senyum saat melihat reaksi temannya. Ia tidak bisa menahan godaannya untuk mengungkapkan betapa lucunya situasi ini.
"Ohoho! Ada yang mengumpat," goda Gillbert menyebabkan Lucas melompat kaget
"Gillbert! Kau membuatku takut!" Serunya sambil menepuk-nepuk dadanya
Lucas, dengan segera, mengalihkan perhatiannya ke arah Gillbert, dan wajahnya yang penuh keterkejutan serta sedikit malu yang tidak bisa dielakkan.
Gillbert tertawa riang, menahan perasaan kemenangan di dalam hati.
"Kau benar-benar kelewat jenius dalam cara menghancurkan konsentrasiku" ucap Lucas
"Tentu saja, temanku. Aku hanya ingin melihat bagaimana kau bereaksi. Sepertinya laboratorium ini tidak hanya dipenuhi dengan alat-alat aneh, tetapi juga orang yang aneh, Hahaha"
Gillbert tertawa kecil, "Maaf," dia mengakui kesalahannya namun dengan melemparkan senyum ejekan
"Aku tidak pernah berpikir bahwa kau bisa mengumpat"
__ADS_1
Lucas mengangkat bahunya dengan lesu,
"Aku hanya manusia biasa, Gillbert. Aku berusaha untuk tidak melakukannya saat berada di depan guruku, tapi hal ini..."
Ia menghela nafas panjang sambil memperbaiki selembar kertas yang ia pegang.
"Ini membuatku gila"
Gillbert menunjuk ke atas meja di mana terdapat aneka bahan alkimia. "Kau melakukan apa?" Ia bertanya sambil condong dan menatap meja Lucas
"Aku hanya mencoba membuat ramuan baru. Aku ingin menemukan cara untuk menyembuhkan luka dengan cepat, tanpa ada rasa sakit yang berkepanjangan."
Mata Gillbert memancar kekaguman ketika ia melihat berbagai peralatan dan bahan-bahan misterius di sekitar mereka. "Kau benar-benar seorang alkemis yang brilian, Lucas. Aku takjub dengan semangatmu untuk mengejar penemuan baru"
Lucas tersenyum bangga, "Terima kasih"
Lucas menarik alisnya dengan rasa penasaran. "Apa yang kau temukan?"
Gilbert mengangkat sebuah amplop dari saku celananya dan mengulurkannya kepada Lucas. Lucas memperhatikan amplop itu dengan seksama. Terlihat masih baru seolah-olah baru beberapa hari surat itu dibuat. Dan terlebih lagi surat itu khusus ditujukan untuknya
Dengan hati yang berdebar-debar, Lucas merobek perlahan amplop yang ia dapatkan. Ia melihat selembar surat dengan tulisan tangan yang kusut, seperti dijarah oleh ombak pikiran yang tak terkendali. Napasnya berhenti sejenak, matanya terpaku pada setiap kata yang tertulis di dalamnya. Wajahnya perlahan-lahan mencerminkan kebingungan dan keheranan, tangannya gemetaran saat menggenggam surat tersebut.
Ingin rasanya ia tidak percaya dengan apa yang ia temukan. Surat itu datang dari Guru, seseorang yang selalu bersamanya dan memberikan nasihat kepadanya. Tapi kali ini, Lucas merasakan sesuatu yang berbeda. Matahari terasa semakin redup, langit kelam di atas kepalanya, dan dunia terasa seolah hancur di hadapannya.
Lucas membaca surat itu lagi dan lagi, berusaha mencari kejelasan di antara barisan kata-kata yang kusut. Setiap frase dalam surat itu menggugah perasaannya, menghancurkan ketenangannya. Ia memaksakan diri untuk memahami maksud di balik kata-kata itu, sementara hatinya terus berdebar seakan hanya menunggu satu jawaban, satu penjelasan.
Perlahan-lahan, wajahnya yang dulu cemerlang menunduk, mengalami kemunduran yang tak terelakkan. Raut kebingungan dan kehilangan menghiasi wajahnya yang dulu ceria. Nafasnya terasa semakin berat, sebagai beban berat tak terduga mulai menekan dadanya.
__ADS_1
Dalam keheningan yang membisu, Lucas merenung. Ia menyadari bahwa surat itu tidak hanya sekadar rangkaian kata-kata, melainkan potret kehidupan yang baru saja berubah. Ia merasa seolah-olah waktu berputar dengan cepat, dan takdirnya berubah ke arah yang tidak ia duga.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, Lucas mengangkat wajahnya yang tercengang. Ia tahu, dalam hatinya, bahwa saat ini adalah titik balik hidupnya. Surat itu telah mengungkapkan sesuatu yang tak bisa lagi diabaikan. Lucas memutuskan untuk menghadapinya, dengan keberanian yang tersisa dalam dirinya.
Dalam langkah-langkah ragu, Lucas menutup surat itu dan memeluknya erat-erat. Ia merasakan getaran kuat dari surat itu, seolah-olah surat tersebut menyampaikan pesan yang tak terucapkan secara langsung. Dalam kegelapan yang melingkupinya, Lucas tahu bahwa tantangan besar ada di hadapannya, namun ia siap untuk menghadapinya dengan kegigihan dan tekad yang baru ditemukannya.
Gillbert meraih lembaran surat yang Lucas baca sebelumnya. Menggenggamnya dengan tangan yang gemetaran, ia memperhatikan tulisan hancur yang menghiasi permukaan surat tersebut. Wajahnya yang semula berseri-seri seketika berubah menjadi suram saat matanya merayap menelusuri setiap kata yang tertulis di dalam surat itu.
Kabar buruk yang tak terduga melompat dari lembaran tersebut menghantam hati Gillbert, Ayah angkat atau gurunya Lucas yang dalam masalah serius dan dihukum mati atas kesalahan yang dijelaskan secara rinci di dalam surat tersebut. Dalam sekejap, keduanya terhempas oleh gelombang kesedihan dan kebingungan yang mendalam.
Perasaan takut melingkupi hati Lucas, seperti badai yang ganas meruntuhkan keberanian di dalam dirinya. Ia merasa hancur, tak tahu harus berbuat apa. Lamat-lamat, Lucas menyadari bahwa ia harus bertindak, sesuatu yang penting harus dilakukan untuk membantu Gurunya yang terjebak dalam lingkaran kelam ini.
"Ini sama sekali tidak benar. Aku harus kesana!" Ucap Lucas
Begitu rupa Lucas menghela napas berat, air mata pun terjatuh dengan derasnya membasahi pipinya.
"Semua sudah tertulis disana, Lucas. Jelas tidak ada penyimpangan, tuan Howard sudah meninggal"
Dengan nurani yang kuat, Gillbert memutuskan untuk menahan Lucas
Dalam keheningan malam yang sunyi, Gillbert berdiri tegak dan menutup mata,
Ia merenung dalam keheningan, memikirkan tentang perjalanan temannya yang tak mudah. Dalam kegelapan malam yang gelap, Lucas duduk sambil menatap ke arah lilin yang hampir meredup. Takdir yang ia temukan di hadapannya adalah jalan yang terjal, tanpa petunjuk jelas. Meskipun begitu, tetesan air mata yang masih basah di pipinya menunjukkan bahwa ia takkan menyerah.
"Ikuti kembali jalanmu," Lucas mengingat kata yang sering Gurunya ucapkan pada dirinya "Carilah keadilan di mana pun itu berada, huh"
Ia tertawa frustasi.
__ADS_1
Lucas mencari kekuatan dalam dirinya sendiri. Ia tahu bahwa ia tidak dapat mengandalkan siapa pun selain dirinya sendiri dalam perjalanan sulit ini. Dia harus memanfaatkan semua sumber daya dan keterampilannya untuk memenuhi keinginan terakhir gurunya.