FLORIOGRAPHY

FLORIOGRAPHY
Chapter 4. Kingdom of Cait


__ADS_3

Elea dan Lucas melanjutkan setengah perjalanan mereka menuju sebuah kota yang berada jauh di bawah tebing curam yang berbatasan dengan laut, wilayah kerajaan Credia.


Sebuah kota padat penduduk yang sebagian dihuni oleh beberapa kaum bangsawan. Lucas mengambil rute jalan pintas melalui gang-gang sempit yang mengitari kota untuk menghindari keramaian.


Saat tiba di lingkungan toko gadis itu, mereka  mendengar keresahan penduduk sekitar ketika melihat beberapa orang pasukan prajurit kerajaan Cait berjaga di pintu masuk toko bunga miliknya.


Lucas menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba. Ia menunjuk ke arah rumah kosong tepat didepan mereka,


"Kau harus bertahan disana, aku akan segera kembali"


Lucas mengendap-endap untuk melihat lebih dekat, keberuntungan berpihak padanya ketika hanya ada beberapa dari mereka yang masih berjaga. Ketika dia memutuskan untuk berjalan lebih dekat, perhatiannya teralihkan dan gerakannya terhenti ketika salah satu tentara mendekati kawanan yang masih berjaga.


"Tidak ada tanda-tanda mereka datang! Bajingan itu! Jika bukan karena menyembuhkan kutukan raja, kau tahu aku pasti sudah menghabisinya!"


"Berhenti mengoceh! Kembalilah bekerja! Jika kau tak berhenti dengan ocehan sampah mu itu, kau akan dipenggal!"


Keduanya terlibat dalam pertengkaran fisik. Salah satu pemimpin kelompok prajurit itu mencekik mereka dengan kedua tangannya dan kemudian membenturkan salah satu dari mereka ke dinding.


"Kau mau mati, Huh!?" Ia mengernyitkan dahi lalu mencengkeram lehernya dengan sangat kuat hingga orang itu kesulitan untuk bernapas.


Tidak punya hak untuk melawan, mereka menggelengkan kepala.


"Kau lihat siapa yang berkuasa!"


Kerajaan Cait memiliki reputasi sebagai kerajaan yang kejam dan imperialis.


Prajurit mereka berbaris di bawah kendali seorang raja yang tidak disebutkan namanya. Sejak kutukan beberapa tahun yang lalu, hal-hal buruk terus terjadi, Hampir seluruh penduduk kerajaan Cait menderita kelaparan hingga wabah penyakit.


Pemimpin prajurit itu melepaskan cengkeramannya. Mereka memburu napas dengan rakus ketika terlepas darinya.


"Waktu berakhir!"


Lucas terkesiap dan segera mencari tempat yang cukup jauh agar mereka tidak langsung menemukannya.


Mereka mengambil kuda lalu menunggangi nya untuk kembali' ke benteng pertahanan mereka. Lucas yang sudah tahu sedari awal dari pembicaraan para penduduk Credia bahwa kawanan ini hanya berjaga-jaga sebelum matahari terbenam.

__ADS_1


Kejanggalan ini membuat Lucas berasumsi bahwa salah satu kelemahan mereka adalah karena kastil itu kekurangan personel untuk pertahanan.


Sebuah kesempatan mereka untuk memasuki  tempat itu.


"Sepertinya mereka akan kembali setelah fajar tiba"


"Aku akan mengambil beberapa barang milikku disana, tunggu aku di rumah"


"Baiklah"


Elea kembali ke toko bunga miliknya. Wajah nya murung ketika melihat bunga yang ia rawat dengan baik layu dan hancur berantakan. Mengingat betapa susahnya membangun itu, ia terpaksa merelakannya. Tanpa menyia-nyiakan waktu lagi, ia segera menuntaskan beberapa hal yang ia sudah rencanakan. beralih ke rak pajangan. dan Mengambil barang-barang peninggalan orang tuanya.


***


"Kita tak bisa bertahan lebih lama disini, hanya untuk malam ini saja" ucap Lucas


"Aku tahu itu"


Suasana hening melanda keduanya.


Sesaat raut muka gadis muda itu terlihat gelisah seolah mencoba untuk mengatakan sesuatu.


"Katakan saja"


Elea menatap Lucas serta menganggukan kepalanya.


"Aku hanya berpikir apakah kedua orang tuamu sudah tiada?"


Lucas menggelengkan kepalanya.


"Aku sebenarnya tidak tahu mereka siapa, dan apakah mereka masih hidup atau tidak. Guru sekaligus ayah angkat ku mengatakan mereka menyerahkan atau menjual ku, tak perlu diingat-ingat lagi- disaat aku masih sangat kecil"  Lucas menambahkan dengan raut wajah yang muram. Baginya orang tua biologis nya hanyalah sepasang manusia yang tidak bertanggung jawab dengan menyalurkan nafsu mereka satu sama lain.


Merasa bersalah karena telah menanyakan pertanyaan yang sangat melukai perasaannya tanpa berpikir panjang, Elea berulang kali mengutuk dirinya sendiri dalam hati.


Ia menunduk ketika menatap Lucas yang berubah menjadi begitu pendiam.

__ADS_1


Lucas menatap nanar ke arah tungku perapian. Ia bergelut dalam pikirannya sendiri. Lucas sudah memendam kebencian kepada orang tua kandungnya di saat dirinya yang masih kecil sudah mengetahui kebenaran. Ia mencoba hidup mandiri sejak ditelantarkan. ia diadopsi oleh seorang pensiunan alkemis yang tinggal sendirian, Magister Howard.


Perlahan-lahan kehidupan Lucas berubah dan dia mencoba membalas kebaikan gurunya dengan melatih dirinya untuk menjadi seorang yang ambisius, seperti gurunya. Howard sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri.


Terkadang Lucas dan Howard sering melakukan perjalanan untuk memberikan pengobatan dengan sukarela kepada orang-orang yang sangat miskin di kerajaan Cait yang tidak mampu membayar untuk pengobatan. Bahkan berkat Magister Howard, beberapa penyakit langka dapat diobati dengan ramuan yang ia ciptakan. Hal tersebut memicu niat buruk pemerintah kerajaan Cait untuk memanfaatkan Howard dan memaksanya untuk melaksanakan perintah dengan ancaman akan dibunuh.


.***


Sinar matahari menyinari jendela-jendela kabinnya yang berdebu. Elea terbangun di pagi hari. Kulitnya yang pucat menjadi sedikit lebih hangat karena udara sekitar.


Elea belum sepenuhnya mengumpulkan kesadaran, lengannya segera ditarik oleh Lucas yang sudah siap untuk meninggalkan rumah itu.


"Mereka akan tiba sebentar lagi" gumamnya


"Tolong biarkan aku mengambil sebentar barang yang akan kubawa"


"Tenanglah. mereka ada pada ku"


Lucas dan Elea keluar dari pintu belakang, ke arah jalan kecil yang menuju ke pelabuhan kapal. Tiba-tiba sebuah tombak melayang di depan mereka.


"Hei! Berhenti!! Kalian sangat mencurigakan!!


Prajurit yang mereka hindari sudah muncul dalam beberapa meter. Mereka tak menggubris teriakan mereka. Suara hentakan sepatu bot mereka sudah sampai ke pendengaran. Mereka pun berlari sekuat tenaga menuju ke arah kerumunan.


Lucas dan Elea mengelabui mereka dengan menutupi kepala mereka dengan tudung jubah masing-masing hingga mereka kebingungan dengan penampilan mereka sebelumnya. Beberapa dari pengunjung dalam kerumunan mengenakan jubah yang sama. Para prajurit hampir kehilangan jejak mereka. Namun, hal itu segera diketahui ketika mereka menemukan Elea menabrak seorang wanita tua dan menjatuhkan barang-barangnya.


"Wanita itu di sana! Tangkap dia!"


Prajurit itu berseru


"Oh, tidak"


Pada detik-detik terakhir, Elea mempercepat gerakannya secepat mungkin. Untungnya, Lucas dapat menolongnya dan dengan nekat menggandeng Elea menjauh dan masuk ke dalam kapal pengangkut yang akan berlayar tanpa sepengetahuan mereka.


Untuk pertama kali dalam hidupnya, gadis itu memasuki sebuah kapal angkut. Ia tak bisa berhenti memperhatikan struktur rangka kapal yang kokoh dan tangguh, yang dilengkapi dengan tiga tiang dan tiga layar besar. Bentuk kapal itu memiliki ujung-ujung yang tajam dan lambung melengkung yang memudahkan kapal melaju dan menyesuaikan arah saat melintasi lautan yang ganas. Selain itu, kapal-kapal itu memiliki geladak yang luas sebagai ruang kargo untuk menampung barang dagangan, rempah-rempah, anggur, dan barang-barang mewah. Tidak mengherankan jika hampir setiap penumpang memiliki tujuan berlayar masing-masing.

__ADS_1


Chapter IV


End


__ADS_2