Gadis Cupu Bikin Candu

Gadis Cupu Bikin Candu
Tantangan


__ADS_3

Niatnya mengembalikan topi milik Kinan yang tempo hari dipinjamkan untuknya. Malahan dia mengaku sebagai pacar gadis itu. Pasalnya Hiro tidak tega saat ada seorang perempuan direndahkan. Apalagi ketika dia tidak bersalah.


"Aduh ... pakai acara pingsan lagi," gumam Hiro saat sampai di UKS.


Kinan adalah korban bullying dari teman-temannya. Setiap hari gadis itu selalu menjadi bulan-bulanan teman-temannya dalam segala hal.


"Mbak tolong obati cewek ini ya. Dia tiba-tiba pingsan di kelas," ucap Hiro kepada petugas UKS.


Hiro melihat sekilas gadis yang tidak dikenalnya, tetapi rela meminjamkan topi untuknya. Membela Kinan saat di kelas tadi sebagai balas budinya. Tetapi kenapa justru gadis itu pingsan karena itu. Bukankah harusnya dia senang?


"Mbak saya ke kelas dulu ya," pamitnya kepada petugas yang berjaga di UKS.


Tidak lama setelah dirawat oleh petugas UKS. Kinan mulai sadar dari pingsannya. Gadis itu mengedarkan pandangannya keseluruhan sudut ruangan serba putih itu.


"Sa-saya di-dimana?" tanya Kinan dengan lemah.


"Kamu sedang di ruang UKS. Katanya tadi pingsan di kelas ya?" ucap petugas UKS seraya tersenyum tipis.


Ingatan Kinan kembali pada tragedi saat di kelasnya tadi. Dia mengingat betul saat-saat terakhir sebelum pingsan. Ya, dirinya tiba-tiba dicium oleh cowok yang tidak dia kenal.


"Astaga! Iya!" pekiknya tiba-tiba.


"Ada apa dek?" tanya petugas UKS yang terkejut.


"Ehm ... e-enggak apa-apa, Mbak," kilahnya malu karena sudah membuat orang lain kaget.


Digeraayanginya bibirnya sendiri untuk memastikan bahwa bibirnya masih utuh. Ini adalah kali pertamanya dicium oleh lawan jenis. Tentu saja selain ayah Kinan sendiri.


"Ya ampun. Apakah aku bermimpi?" gumam Kinan dalam hati.


"Kenapa dia menciumku?"


"Aku tidak mengenalnya."


Kinan bertanya-tanya dalam hati kenapa ada cowok yang mau dekat dengannya. Biasanya baik cowok apalagi cewek ogah dekat atau berkenalan dengannya. Lalu kenapa anugerah itu tiba-tiba datang kepadanya.


"Kalau enggak salah bukankah cowok tadi mengatakan akan menjadi pasanganku diacara putra dan putri sekolah?" batin Kinan yang kini duduk bersandar disandaran tempat tidur.


Dia teringat betul kata-kata yang diucapkan Hiro sebelum menciumnya adalah mengaku sebagai pacarnya. Kemudian cowok itu juga mengatakan akan menjadi pasangan Kinan diacara putra dan putri sekolah.

__ADS_1


"Ya ampun. Aku baru ingat kalau katanya dia adalah pacarku? Yang benar saja?" Kinan terus membatin.


"Apa tujuannya dan kenapa dia seperti itu?"


Bayangan Kinan kembali pada saat matanya bertemu dengan mata cowok itu. Meskipun saat itu Kinan rasanya melayang. Tetapi dia masih sempat memperhatikan ketampanan cowok yang sedang menciumnya.


"Dia mengambil first kiss-ku?" tanya Kinan kembali menyentuh bibirnya.


Dia ingat betul saat cowok itu memejamkan mata saat menciumnya. Sesekali membuka matanya, terlihat matanya yang agak sipit. Tatapannya sungguh menawan dan menghanyutkan. Seolah-olah dari bola matanya saja dia sudah bisa menyampaikan kata-kata.


"Oh Tuhan bagaimana ini? Kenapa jantungku semakin berdebar-debar saat mengingatnya?" tanya Kinan bingung dengan apa yang dia rasakan.


Entahlah, ada yang aneh dari jantungnya yang berdebar lebih cepat dari biasanya. Mungkin itu terjadi karena ini baru kali pertamanya dekat dengan seorang cowok. Bahkan tidak ada jarak lagi antara tatapannya dengan tatapan cowok itu.


"Aku malu banget Ya Tuhan," gumamnya seraya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Jatuh cinta? Ya, mungkin itulah yang dirasakan Kinan, namun dia tidak bisa mendeskripsikan. Intinya dia selalu terbayang-bayang kejadian itu dan rasanya selalu deg-degan. Merasa senang, namun juga sangatlah malu.


"Kinan kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" Bahkan gadis itu masih senyum-senyum tanpa sebab ketika berada di rumah.


"E-enggak apa-apa kok, Bu," jawab Kinan.


"Enggak, Bu. Tadi itu cuma kecapekan saja," kilah Kinan.


"Ya sudah kalau tidak kenapa-kenapa. Istirahatlah dan jangan capek-capek," pesan ibunya.


Kinan tersenyum kepada ibunya. Gadis yang sudah berada di dalam kamarnya itu lalu menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Ditatapnya langit-langit kamar dan kemudian dia kembali tersenyum dengan harinya yang indah tapi memalukan itu.


***


Sementara malam harinya di sebuah klub malam. Tempat biasanya Hiro dan teman-teman gengnya berkumpul dan menghabiskan waktu. Mungkin hampir setiap hari mereka datang ke klub-klub malam yang berbeda.


"Hay bro. Tumben telat," sapa salah satu teman dari Hiro.


"Biasalah ada keributan dulu di rumah," jawabnya santai lalu duduk di sofa yang sudah mereka pesan.


"Ribut lagi?" tanya temannya.


Meskipun mereka masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas tetapi umurnya kisaran 18 tahun. Sudah masuk ke dalam peraturan dan izin masuk ke klub malam.

__ADS_1


"Eh, gue dengar-dengar Lo habis jadian cewek ya? Kok enggak kabar-kabar sih?" tanya Aven yang duduk di samping Hiro.


"Dan katanya cewek itu culun?" sahut Kristo dengan sedikit meledek.


"Iya. Tumben banget selera Lo turun drastis?" celetuk Danes.


Jangankan teman-temannya dia sendiri saja tidak menyangka kalau pacaran dengan Kinan. Gadis yang sama sekali bukan seleranya, hanya dalam rangka menolong gadis malang itu. Ya, meskipun hanya tidak beneran cinta. Tetapi Hiro harus bertanggungjawab dengan ucapannya sendiri.


"Enggak apa-apa. Sekali-kali sama yang lain. Sudah bosan dengan tipe cewek yang itu-itu saja," jawab Hiro santai.


"Cari suasana yang bedalah," imbuhnya.


"Ah kurang kerjaan!" ledek Kristo.


"Benar. Dimana-mana enak kan punya pacar cantik, seksi dan modis. Enak dipandang," timpal Danes.


Pendapat Danes diiyakan oleh teman-teman yang lainnya. Dalam circle pertemanan mereka adalah tipe-tipe bad boy. Sudah banyak cewek-cewek cantik menjadi korban buaya mereka. Dan kali ini Hiro akan memberikan tantangan untuk teman-temannya.


"Sudahlah diam kalian semua. Justru gue mau buat tantangan untuk kalian yang bisa mendapatkan cewek yang unik. Beda dari yang sebelum-sebelumnya," tantang Hiro.


"Menang gue kasih 10 juta," lanjutnya.


"Ogah!" tolak Danes mentah-mentah.


"Ngapain sih. Orang hidup kita sudah enak ngapain pakai menyiksa diri?" lanjut Danes.


Sejenak tidak ada obrolan lagi. Mereka hanya menikmati musik lalu menuangkan minuman ke dalam gelas mereka dan meneguknya habis.


"Halah ngeles saja kalian ini. Bilang saja kalau enggak bisa menerima tantangan gue. Pakai banyak alasan lagi," ejek Hiro saat tidak ada satu pun diantara teman-temannya yang menggubris tantangannya.


"Mudah saja kita dapat cewek modelan yang kaya gitu. Mereka gampang untuk ditaklukkan," sahut Kristo.


"Bahkan kalau gue mau. Gue bisa saja merebut cewek Lo saat ini," sombong Kristo.


"Coba saja kalau bisa," sambut Hiro debgab senang.


Kristo menyunggingkan senyumannya, "Oke kalau Lo nantangin. Gue akan merebut siapa cewek Lo?"


"Ki-nan?" tanyanya mengernyitkan alis.

__ADS_1


__ADS_2