
Niatnya membantu Kinan berbuntut panjang. Setelah mengikuti babak penyingkiran putra dan putri sekolah. Rupanya keduanya masuk ke babak semifinal.
"Selamat ya kalian masuk ke semifinal dan semoga bisa menjadi pemenangnya nanti," ucap salah seorang guru perempuan bernama Tria.
Beberapa guru senang melihat kekompakan yang ditunjukan Hiro dan Kinan. Berbanding dengan kebanyakan siswa-siswi yang tidak suka dengan kebersamaan mereka. Tidak terima saja, cowok ganteng nan populer itu dipasangkan dengan gadis cupu.
"Iyuh ... enggak ada cewek lain apa? Masa ganteng-ganteng pasangannya cewek jelek kaya gitu sih," ucap salah satu siswi yang merasa iri.
"Iya mending juga gue yang gantiin posisi cewek itu," sahut siswi yang lain.
"Gue juga mau kali."
Banyak orang yang berbisik-bisik mengenai ketidakcocokan mereka. Ada juga yang mendoakan agar mereka gagal masuk ke babak final nantinya.
"Setelah tahap ini kalian harus mengikuti karantina," kata Tria yang merupakan penanggungjawab acara tersebut.
"Persiapkan diri kalian untuk rangkaian acara berikutnya," pesan Tria meninggalkan mereka.
Di belakang panggung Hiro duduk bergeming. Di sebelahnya ada Kinan yang ingin mengajaknya bicara, namun bingung mau mulai darimana. Baru dekat dengan cowok itu saja sudah membuatnya panas dingin.
Dua puluh menit berlalu dengan hanya diam saja. Hingga akhirnya Kinan berkata, "Ehm ... ma-maafkan aku."
Gadis itu merasa bersalah karena dirinyalah Hiri harus lebih lama berpura-pura menjadi kekasihnya. Dan karena dia pula Hiro baru menjalani karantina untuk membangun chemistry/kekompakan antara mereka berdua. Mungkin karantina itu akan menyita banyak waktu Hiro.
"Ma-maafkan aku membuat jamu terjebak dalam acara ini," ucapnya lagi.
Cowok yang diajak Kinan bicara itu hanya diam saja. Seperti sedang melamun dengan pandangan kosong lurus kedepan.
"Hei ... a-apa kau mendengarku?" tanya Kinan.
"Ma-maaf ya sudah merepotkan kamu."
Hiro menoleh sebentar kearah tempat duduk Kinan. Lalu kembali menatap kearah depan seperti sebelumnya. Tidak enak juga membuat gadis cupu disebelahnya itu merasa bersalah atas kejadian ini. Toh, memang dia sendiri yang berniat membantu Kinan kan.
"Sudah terlanjur, tidak ada yang perlu dimaafkan," ucap Hiro seraya bangkit dari duduknya dan berlalu pergi.
__ADS_1
Hari itu adalah kali pertamanya Kinan berbicara secara intens dengan Hiro. Kesan pertamanya Hiro adalah tipe cowok yang sangat dingin dan cuek. Tidak akan berkata-kata jika tidak ditanya, itu pun harus lama menunggunya mengeluarkan jawaban langsung dari mulutnya.
"Aduh ... gimana ya? Kok aku jadi enggak enak sendiri sama dia," gumam Kinan seraya merem4s rok yang dia kenakan.
Kinan yang pulang dan berangkat sekolah menggunakan angkutan umum sedang berjalan menuju halte. Mungkin hanya dia satu-satunya siswa yang naik angkutan umum. Lainnya menggunakan kendaraan pribadi atau dijemput oleh sopir.
"Ah ... masa iya gadis culun jadi putri di sekolah kita yang elit ini? Enggak pantaslah ya," ucap salah seorang siswi yang bisa terdengar ditelinga Kinan.
"Benar banget masa sekolah kita diwakili putri sekolah seperti dia sih. Enggak ada cantik-cantiknya sama sekali. Aduh ... turun kasta sekolah kita nanti," sahut siswi yang lain.
"Apa lagi ngomongin putri sekolah yang baru saja diumumin tadi ya? Sudah tenang saja dia enggak akan menang kok. Yang lebih cantik dan pintar masih banyak," timpal siswi yang baru saja bergabung dengan obrolan mereka.
Kinan mempercepat langkah kakinya keluar dari gerbang sekolah. Rasanya dia ingin menutup telinganya rapat-rapat agar tidak bisa mendengar gunjingan demi gunjingan tersebut.
***
Hari pertama latihan temanya tentang public speaking. Dimana setiap peserta harus bisa berbicara atau membawakan acara di depan banyak orang. Jujur saja Kinan merasa keberatan dengan tema ini.
"Kinan, are you okey?" tanya Tria yang memerhatikan Kinan yang banyak diam dari tadi.
Sebenarnya dia adalah tipe orang introvet yang lebih memilih diam daripada banyak bicara. Tidak bisa banyak berkata-kata, apalagi didepan banyak orang. Presentasi didepan kelas saja sudah membuatnya grogi bukan main. Apalagi nanti dia akan disuruh membawakan acara didepan seluruh masyarakat sekolah.
"Kak Hiro ... " panggil Kinan kepada pasangannya di dalam lomba itu.
Hiro yang duduk disampingnya dan sedang membaca naskah yang diberikan panitia lomba menoleh. Mengernyitkan alisnya tanpa menanyakan ada apa Kinan memanggilnya.
"Sepertinya aku menyerah saja dari lomba ini deh," ucap Kinan menatap Hiro meski cowok itu sibuk dengan kertas naskah.
"Aku memilik demam panggung, Kak. Aku tidak bisa berbicara di depan orang banyak," ungkap Kinan.
Lebih baik Kinan jujur sekarang sebelum semuanya terlanjur. Mumpung masih tahap awal latihan dan belum banyak yang mereka lakukan. Mendingan kalau mau menyerah sejak saat ini saja.
"Enggak!" tolak Hiro singkat, padat, dan jelas.
"Te-tapi Kak. Aku engg---" ucap Kinan.
__ADS_1
"Enggak ada yang enggak mungkin. Harus dilatih supaya terbiasa," ucapnya datar dengan mata yang terus menatap naskah.
Berbeda dengan Kinan, kalau Hiro memang sudah terbiasa membawakan sebuah acara. Bahkan dia cukup ahli dalam hal berbicara di depan umum. Namanya juga cowok populer, sudah biasalah tampil didepan banyak orang.
"Berlatihlah lebih keras. Gitu saja sudah mau menyerah," ledek Hiro sarat akan makna.
Dia berkata seperti itu agar cewek itu memiliki motivasi lebih untuk berusaha keluar dari zona nyamannya.
"Kau tidak lihat perjuanganku yang sudah terlanjur basah kuyup karena nyemplung ke acara ini?" kata Hiro.
"Aku tidak akan menyerah ditengah jalan dengan apa yang sudah aku mulai."
"Kalau sudah mulai ya harus diakhiri sampai selesai."
Dia berkata tanpa menoleh kearah Kinan sama sekali. Namun, apa yang dia katakan memang benar semuanya. Kinan sudah membawa Hiro masuk ke dalam lomba itu. Jadi dia juga harus menyelesaikannya secara bersama-sama.
"Ba-baiklah a-aku akan berusaha," ucap Kinan terbata-bata.
Hiro hanya menganggukkan kepalanya dan tetap fokus dengan naskah yang ada ditangannya.
"Aku harap lomba ini segara berakhir. Agar aku tidak lagi pura-pura berpacaran denganmu," lanjut Hiro.
Kini giliran Kinan yang menganggukkan kepalanya. Dia harus sadar diri sudah ada yang mau membantunya dalam lomba ini. Jadinya dia harus semangat ditengah-tengah keterbatasan dan hambatan yang dia lalui.
"Kau juga harus siap menerima perkataan buruk dari siswa-siswi lain ketika kita putus nanti," lanjut Hiro berkata.
"Pasti adalah orang yang akan mengatakan yang tidak-tidak tentang kita."
"Aku sebagi pria populer di sekolah ini sudah biasa dibicarakan baik yang positif ataupun negatif."
"Dan kau tinggal menyiapkan mental saja jika nanti mendapatkan kata-kata yang tidak enak dihati."
Dan lagi Kinan menganggukkan kepalanya. Dia menangkap makna dari perkataan Hiro bahwa bisa jadi setelah ini bully-an yang dia dapatkan bisa lebih kejam dari sebelumnya.
###
__ADS_1
Apakah Kinan bisa melewati itu semua nantinya?