
Bayangan Hiro masih terngiang-ngiang di kepala Kinan. Terutama kejadian tadi malam saat Hiro memberikan beberapa pesan untuk menguatkan dirinya. Meskipun agak takut menjalankan pesan Hiro agar bisa melawan orang-orang yang membully-nya. Tetap saja Kinan merasa sedikit takut kalau cara itu tidak berhasil.
"Tetapi kenapa Kak Hiro tidak memerbolehkan aku untuk dekat dengan cowok lain ya?" gumam Kinan saat menyiapkan diri berangkat sekolah.
"Lah memangnya ada gitu cowok yang mau dekat denganku? Kecuali dia yang memang berniat membantuku waktu itu."
"Bingung banget sama pesan terakhirnya semalam," ucapnya lagi.
Bagaimana tidak bingung dengan orang yang saat ini bukan siapa-siapanya tetapi melarangnya untuk dekat dengan cowok lain. Akhirnya Kinan menyimpulkan dan berkata, "Mungkin dia takut kalau drama kita mendapat hujatan kalau aku dekat dengan cowok lain."
"Kalau memang begitu kenapa dia menyudahi drama pacaran itu?" gumam Kinan.
"Eh tapi takut juga pura-pura jadi pacar cowok populer di sekolah. Musuhnya terlalu banyak, semoga setelah aku menjauh darinya. Sudah tidak ada lagi yang memusuhi aku," harap Kinan.
Pada satu sisi Kinan takut dekat dengan Hiro karena membuat teman-temannya memusuhinya. Disisi lain Kinan mulai terbawa perasaan dengan sikap Hiro yang diberikan kepada Kinan. Ya, Kinan tahu Hiro hanya memberikan perhatian karena sedang menjalankan misi pura-pura pacaran.
"Ya Tuhan dia pria yang sangat manis kepada pasangannya," gumam Kinan terus terbayang-bayang wajah Hiro.
"Siapa pun cewek yang menjadi pasangannya adalah cewek yang paling beruntung sedunia," lanjutnya kagum.
Hanya satu bulan menyandang status pacar pura-puranya Hiro. Tetapi selama itu pula Kinan diperlakukan seperti pacar Hiro yang sesungguhnya saat berada dihadapan umum. Darisana juga Kinan dapat menyimpulkan sikap Hiro yang sangat lembut memerlakukan perempuan.
"Ya Tuhan aku sungguh baper dengan semua ini," batin Kinan lagi.
"Tetapi siapa-lah aku?" batinnya sedih.
"Hanya gadis miskin, cupu, dan kampungan," ucapnya minder melihat teman-temannya yang mayoritas cantik di sekolahnya.
Pagi itu selama di perjalanan menaiki angkutan umum, perasaan hati Kinan berbunga-bunga. Apalagi teringat jalanan yang dilaluinya itu semalam baru saja dilalui bersama Hiro yang mengantarkannya pulang. Kinan sangat senang disaat-saat terakhir Hiro mengucapkan salam perpisahan setibanya Kinan di depan gang. Maklum saja rumah Kinan harus masuk ke dalam gang sempit dan motor gedhe milik Hiro hanya mampu mengantarkan sampai di depan gang itu.
"Kinan ..." panggil Tria saat melihat Kinan yang baru tiba di sekolah.
"Oh ya, Bu?" Kinan mendekati gurunya itu.
"Nanti siang temui saya di ruangan ya. Ajak Hiro juga, saya ingin membicarakan sesuatu," pintanya.
__ADS_1
"Emm ... baik Bu."
Waktu istrirahat Kinan dan Hiro menemui Tria di ruangannya. Guru perempuan yang menjabat sebagai guru bimbingan konseling (BK) itu menyampaikan keingingannya kepada pemenang putra dan putri sekolah. Bahwa lomba tersebut akan lanjut ke tahap nasional. Rencananya Kinan dan Hiro akan menjadi wakil sekolah mereka diacara tersebut.
"Apa? Tingkat nasional?" seru keduanya bersamaan. Tentu saja keduanya kaget kalau lomba asal-asalan yang mereka ikuti harus lanjut ke tingkat nasional. Padahal niat Hiro hanya ingin membantu Kinan saat penyisihan awal dulu. Saat murid-murid baru yang diwajibkan ikut lomba tersebut dan saat itu Kinan dibully oleh teman-teman satu kelasnya.
"Saya tidak bisa mengikuti lomba tersebut, Bu," tolak Hiro.
"Ibu mohon Hiro. Ini demi sekolahan kita," pinta Tria memohon.
"Kau tahu sendirikan setiap tahunnya sekolah kita selalu memenangkan lomba-lomba tingkat nasional," lanjutnya.
"Kita tidak bisa menyia-nyiakan lomba ini begitu saja Hiro. Ini kesempatan yang bagus agar popularitas kamu semakin tinggi," bujuk Tria.
Gurunya itu tahu kalau murid laki-lakinya ini memang seseorang yang sangat populer, bahkan menyandang ssebutan selebgram di Instagram. Harapannya dengan Hiro mengikuti lomba tingkat nasional itu akan banyak yang mendukungnya. Sekolah mereka akan semakin terkenal dan tentu saja Hiro semakin dikenal juga.
"Mohon maaf, Bu. Saya benar-benar tidak bisa," kekeh Hiro.
"Ada banyak hal yang harus saya kerjakan saat ini," imbuhnya.
Tampak kekecewaan diwajah Tria yang mendapat penolakan dari Hiro. Tidak jauh berbeda dengan gurunya, Kinan juga sangat menyayangkan penolakan Hiro. Menang lomba tingkat nasional adalah mimpinya, tetapi langsung pupus saat Hiro menolak menjadi pasangannya untuk lomba tersebut.
"Kinan, apakah kau bisa membujuk Hiro?" tanya Tria.
"Saya tidak yakin bisa membujuknya, Bu. Kalau Ibu saja ditolak olehnya, apalagi saya?" akunya.
"Kinan, ibu mohon kamu tetap bisa membujuknya ya. Ibu tahu kamu anak yang berprestasi dan menginginkan mengikuti lomba ini. Jadi berusahala membujuk Hiro," pesan Tria.
"Aku yakin kalau dibujuk olehmu pasti dia mau." Tria tersenyum kepada Kinan.
"Bukankah kau berpacaran dengannya?" tanya Tria.
Mendadak kedua pipi gadis itu bersemu merah. Dia sangat malu mendapatkan pertanyaan tersebut dari gurunya sendiri. Bagaimana bisa kabar dirinya berpacaran dengan Hiro bisa didengar oleh guru. Apa jangan-jangan gosip bahwa Hiro menciumnya dua kali didepan umum juga sampai ditelinga para guru. Jika itu memang benar, sungguh Kinan sangatlah malu.
"Tidak usah malu-malu Kinan. Yang penting rayu Hiro sampai mau ikut lomba lanjutan tingkat nasional ya," ucap Tria.
__ADS_1
"Kamu adalah harapan ibu supaya bisa membujuknya," pungkasnya sebelum waktu istirahat usai.
Sebenarnya Kinan merasa keberatan dengan tanggung jawab barunya yaitu membujuk Hiro. Tiba-tiba Hiro membantunya dan mau menjadi pasangannya saja sudah sangat berterimakasih. Tetapi untuk meminta hal yang lebih dan mengajak Hiro ke lomba nasional. Jujur saja Kinan tidak berani melakukan itu semua.
"Ya ampun. Apa yang harus aku katakan kepada Kak Hiro?" gumam Kinan seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kalau dia sudah menolak saat diajak Bu Tria. Apalagi saat aku yang mengajaknya," keluhnya.
Sore itu Kinan pulang lebih lama dari biasanya. Dia harus menyelesaikan beberapa tugas di perpustakaan. Karena keterbatasan biaya untuk membeli buku, jadinya setiap hari sepulang sekolah Kinan mampir ke pepustakaan. Disana dia menyelesaikan semua tugasnya hari itu dengan buku-buku yang ada di perpustakaan.
"Kok belum ada bus yang lewat ya?" gumam Kinan menoleh kearah datangnya bus.
"Apa sudah terlalu sore?" dia berdiri dari tempat duduk yang ada di halte itu.
Menengok ke kanan dan kirinya dan jalan didepannya sudah mulai gelap. Sudah jarang juga kendaraan yang lewat disana. Hanya beberapa kendaraan pribadi yang lalu lalang dihadapannya. Sama sekali tidak terlihat bus atau pun angkot yang lewat didepannya.
"Aduh kayaknya memang sudah kesorean," gumamnya mulai panik.
"Bagaimana aku harus pulang?" pikirnya seraya mengingat uang yang ada didompetnya tidak cukup untuk naik ojek.
Disaat kecemasan melanda dirinya. Tiba-tiba sebuah motor gedhe yang mayoritas digunakan siswa cowok di sekolahannya berhenti di depannya. Samar-samar terlihat seorang cowok menoleh kearahnya. Dari motor yang dia gunakan, Kinan menebak itu adalah Hiro.
"Ayo aku antarkan pulang," ajak cowok itu.
Kinan berusaha sekuat tenaga memicingkan matanya untuk memastikan siapa cowok dengan motor gedenya itu. Maklum saja matanya yang minus itu semakin buram tatkala malam hari.
"Oh baiklah," ucapnya mendekati motor dan mulai membonceng dibelakang cowok itu.
Baru beberapa menit perjalanan Kinan seolah menyadari bahwa cowok yang memboncengkan dirinya bukanlah Hiro.
###
Lho lalu siapa yang memboncengkan Kinan? Apakah ada niat jahat cowok itu? Darimana Kinan tahu dia bukan Hiro. Lalu bagaimana kelanjutan nasibnya.
🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.
__ADS_1