Gadis Cupu Bikin Candu

Gadis Cupu Bikin Candu
Trauma


__ADS_3

Terpaksa Hiro mengantar Kinan pulang ke rumahnya, karena lokasi rumah tersebut jauh dari keramaian. Meskipun dengan perasaan dongkol sebagai lelaki Hiro tidak tega jika harus membiarkan Kinan pulang sendiri. Apalagi setelah mendapatkan perlakuan seperti itu dari temannya sendiri.


"Kak ..." lirih Kinan memanggil Hiro. Sepanjang perjalanan pulang Kinan terus saja menangis tanpa mengeluarkan suara. Rasanya air matanya tidak mau dibendung dan ingin terus menetes keluar. Pertama, karena kejadian hampir saja dip3rkosa. Kedua, karena melihat Hiro yang marah kepadanya.


Hiro paling tidak suka jika ada seseorang yang tidak mendengarkan peringatannya. Padahal peringatan yang Hiro berikan untuk keselamatan orang yang bersangkutan. Sungguh Hiro benar-benar kesal akan Kinan yang pulang berboncengan dengan orang asing.


"Terima kasih banyak, Kak atas semua bantuannya," ucap Kinan saat turun dari atas mobil sport milik Hiro.


"Dan maaf---" lanjutnya namun terhenti karena Hiro melenggan begitu saja meninggalkan dirinya.


Kinan memahami kekesalan yang dirasakan oleh Hiro. Mungkin Hiro sudah menduga kejadian ini akan terjadi kepadanya. Makanya Hiro berpesan kepadanya supaya lebih hati-hati kepada siapa pun terutama kepada cowok asing yang mendekatinya.


"Maafkan aku, Kak," lirih Kinan dengan lemas seraya berjalan menuju rumahnya.

__ADS_1


"Maafka aku yang ceroboh dan tidak mendengarkan pesanmu," sesalnya menyalahkan diri sendiri.


Sesampainya di rumah Kinan langsung membersihkan diri dan mengurung diri di dalam kamar. Untungnya anggota keluarganya tidak ada di rumah. Mereka semua masih di luar rumah untuk bekerja. Jadinya tidak ada yang menanyakan kenapa pulangnya terlalu larut.


"Ya Tuhan kenapa aku bisa bertemu dengan orang sejahat itu," gumam Kinan saat berbaring di atas tempat tidur.


"Bagaimana nasibku kalau tidak ada Kak Hiro tadi?" lanjutnya.


Kinan terus menangisi kejadian tragis yang barusan dia alami. Kejadian itu terus berputar-putar di dalam kepalanya. Berulang kali Kinan mencoba mengalihkan pikirannya, namun pikiran itu tidak bisa hilang dari dalam otaknya.


"Ya Tuhan aku takut," lirihnya dengan memeluk kedua lutut yang dia tekuk di depan dada.


"Apa yang harus aku lakukan, Tuhan," ucapnya seraya mengusap pipinya yang dibanjiri air mata.

__ADS_1


Semalaman penuh Kinan merasa cemas dan ketakutan. Sehingga matanya sulit terpejam dan tidak bisa tidur sampai pagi menjelang. Tidur pun palingan sepuluh sampai lima belas menit, lalu tiba-tiba terbangun sendiri.


"Tolong! Tolong! Tolong!" pekik Kinan mengigau.


"Kinan apakah kau sakit? Ini sudah pagi kenapa kau belum juga bangun? Apa tidak masuk sekolah?" tanya ibunya Kinan yang baru saja masuk ke dalam kamar putrinya.


Dilihatnya memang Kinan baru saja membuka matanya dan berteriak mengigau seperti itu. Tentu saja membuat ibunya menjadi khawatir dengan putrinya. Tidak seperti biasanya Kinan bangung kesiangan seperti hari ini.


"Kau tidak kenapa-kenapa Kinan?" tanya ibunya duduk di tepi tempat tidur Kinan.


Ditempelkannya punggung tangannya di dahi Kinan dan kemudian berkata, "Kau demam? Kenapa tidak bilang sama ibu?"


"Ibu akan mengambilkan kompres untukmu," ibunya bergegas keluar dari kamar Kinan menuju ke dapur.

__ADS_1


Akhirnya hari itu Kinan tidak masuk ke sekolahan, namun dia juga tidak berani mengatakan apa yang sudah dia alami semalam kepada ibunya. Takut ibunya akan ikutan khawatir dengan keadaannya. Kinan memutuskan untuk menyimpannya sendiri di dalam hati.


__ADS_2