
"Tidak ada pengunduran diri dari lomba ini!" ucap suara berat yang tidak asing ditelinga mereka semua.
"Lomba berpasangan ini akan tetap lanjut menuju final!" lanjut suara tersebut.
Satu persatu siswi-siswi yang hendak melangkah pergi itu menoleh ke sumber suara. Rupanya seseorang pemilik suara tersebut sudah berjongkok dihadapan Kinan. Tangannya sudah memegang kedua tangan Kinan dan perlahan mengajak gadis itu berdiri dari lantai.
"Kalian mengira dengan cara ini bisa menghentikan kami menuju final?" tegas orang yang rupanya adalah Hiro.
"Dasar orang-orang b0d0h yang bertingkah seperti hewan!" umpat Hiro kesal.
"Jika kalian tidak suka dengan kesuksesan kami. Saingilah dengan cara yang cerdas bukannya seperti ini!" lanjut Hiro.
Kini Kinan sudah berdiri tegak disamping Hiro dan satu tangan Hiro merangkul pundak cewek yang jauh lebih pendek darinya itu. Sebuah senyuman sengit terbit dari bibir Hiro untuk semua siswi yang berada disekitarnya. Hiro tahu semua siswi itu adalah fans beratnya yang tidak mau kehilangan perhatiannya.
"Apa kalian yang kalian mau?" tanya Hiro kepada semuanya.
"Memangnya kenapa kalau Kinan berpasangan denganku? Apa kalian rasa kami tidak pantas? Apa kalian merasa kalian-lah yang lebih pantas menjadi pasanganku? Apa kalian merasa lebih cantik darinya? Kalian merasa lebih pintar darinya? Iya? Hah?" berondong Hiro dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Gue heran sama kalian semua yang tidak bisa menghargai sesama manusia dan keputusan orang lain!" lanjutnya kesal.
Kembali sebuah senyuman sinis tersungging dari bibirnya. Seraya Hiro berkata, "Apa kalian ingin aku membuktikannya lagi di depan kalian kalau Kinan memang layak dicintai?"
Beberapa detik kemudian Hiro langsung menarik Kinan kedalam dekapannya. Didekatkannya wajahnya sampai berjarak beberapa centi saja. Dan didaratkannya bibirnya pada bibir gadis tersebut.
"Oh my God! Tidak!" teriak seorang siswi tidak terima dengan keadaan tersebut.
Tidak menghiraukan teriakan histeris dari para cewek yang ada disana. Hiro tetap mencium dan *****4* bibir tipis nan ranum milik Kinan. Tubuh Kinan bergetar ketakutan dengan aksi cowok tersebut.
"Tidak! Jangan lakukan ini dihadapanku!" teriak siswi yang lain.
Berbeda dengan Kinan justru Hiro tampak menikmati ciuman tersebut. Sampai-sampai cowok itu memejamkan matanya. Sembari bibirnya terus bermain diarea bibir milik Kinan.
Kinan terpaksa mendorong pelan tubuh Hiro agar menjauh darinya. Napasnya tersengal-sengal saat merasa berkurangnya oksigen yang masuk ke dalam tubuhnya. Gadis itu tampak memegangi dadanya yang sesak.
"Hei, mau kemana Sayang," teriak Hiro saat Kinan tiba-tiba melarikan diri dari tempatnya.
Pandangan Hiro beralih kearah teman-temannya uang masih tetap diam disana. Tatapan tidak suka diberikan Hiro kepada semuanya. Dia benar-benar muak dengan tingkah laku teman-temannya yang berlebihan dan terlalu mencampuri hidupnya.
"Mulai sekarang jangan pernah mengatur hidup gue!" tegas Hiro dengan nada suara tinggi.
__ADS_1
"Dan kau Jeje!" ucapnya mengarah Jeje.
"Kau kan dalang dibalik semua ini?" tebak Hiro.
"E-enggak kok," elaknya agak terbata.
"Jangan bohong, Je!" gertak Hiro.
Hiro mengenal Jeje secara dekat karena memang Jeje adalah saudara sepupunya. Selain itu mereka sama-sama siswa populer di sekolahnya. Juga sering main dan nongkrong bersama.
"Gue tahu Lo selalu menjadi sok jagoan kalau sekolah sedang ada masalah. Tetapi kali ini jangan ikut urusin urusan gue! Atau Lo akan menanggung akibatnya!" ancam Hiro sebelum berlalu pergi.
Sore hari setelah pulang sekolah Hiro sengaja mencari keberadaan Kinan. Dia membujuk gadis itu supaya tetap melanjutkan lomba yang sudah mereka ikutin. Dan menyarankan supaya gadis itu tidak takut dan minder lagi selama di sekolah.
"Jika kau tidak mampu menutup mulut mereka satu persatu. Kau hanya perlu menutup kedua telingamu saja," ucap Hiro.
"Te-tapi Kak," ucap Kinan hendak protes.
"Tidak ada tapi-tapian," potong Hiro.
"Kau hanya perlu berlagak tuli dan jangan minder saja. Dengan begitu semua beres," imbuhnya seraya berlalu pergi.
Keesokan harinya rasanya Kinan benar-benar tidak ingin berangkat ke sekolah. Selain rasa takut dan minder, dia juga masih trauma dengan kejadian tempo hari. Padahal hari ini adalah acara final dari lomba putra dan putri sekolah.
"Ayolah Kinan kamu harus bisa membanggakan ibu dan bapak," gumam Kinan masih di dalam kamarnya.
"Kak Hiro juga sangat mendukungmu. Kau hanya perlu menutup dua telingamu saja, Kinan," ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Ucapan Hiro selalu terngiang-ngiang dalam otaknya. Selain itu dia juga harus bisa membanggakan kedua orang tuanya.
"Semangat Kinan! Hadiahnya lumayan buat tabungan," gumamnya lagi mulai mempersiapkan diri.
Buru-buru Kinan berangkat ke sekolah. Setelah menempuh perjalanan menggunakan angkutan umum. Sampailah Kinan di sekolahannya, dia berjalan cepat masuk ke area sekolah.
"Mammpus kau!" ucap seseorang dari dalam mobil saat berhasil menyipratkan air sisa hujan semalam kearah Kinan.
Mobil itu terus melaju begitu saja masuk ke area parkiran. Seseorang di dalam mobil itu merasa puas dengan tingkahnya sendiri. Dengan begitu Kinan tidak bisa mengikuti acara final lomba hari ini. Begitulah pikiran jahat yang ada di dalam otak cewek yang mengendarai mobil itu.
"Kinan. Kau pakai seragamku saja," tawar seseorang yang berada di dalam toilet saat itu.
__ADS_1
Kinan mengernyitkan alisnya saat seorang gadis berpenampilan tomboy menghampirinya. Dia adalah Mariska teman satu angkatan, tetapi beda kelas. Tidak terlalu kenal dekat, tetapi Mariska merasakan apa yang dirasakan Kinan yang selalu dibully oleh hampir satu sekolahan.
"Tidak apa-apa, Kinan. Aku bisa menutupi seragam kotor itu dengan jaket," sambung Mariska.
"Terima kasih banyak, Mariska," ucap Kinan dan keduanya segera bertukar seragam.
Setelah merasa masalah di pagi itu sudah selesai. Kinan menuju ruangan yang disiapkan panitia sebelum acara final lomba berlangsung. Disana sudah ada beberapa peserta lomba dengan pasangannya.
"Kenapa Kak Hiro lama sekali," gumam Kinan yang mulai cemas.
"Apa dia lupa ya kalau hari ini final?" lanjutnya membatin.
"Tetapi enggak mungkin lupa, kan dia kemarin yang mengingatkan aku."
Gadis itu berjalan mondar-mandir menanti kedatangan pasangannya dalam lomba ini. Sementara di pojok sana Jeje sudah tersenyum sinis melihat kegelisahan Kinan.
"Kinan dimana Hiro?" tanya Tria yang merupakan guru sekaligus panitia lomba.
"Belum datang, Bu," jawab Kinan lesu.
"Kok belum datang. Ini sudah mai dimulai acaranya," ucap Tria yang langsung meraih ponselnya.
Guru itu langsung mencoba menghubungi nomer telepon milik Hiro. Beberapa panggilan ditujukkan kepadanya Hiro tetapi tidak diangkat sekalipun.
"Enggak diangkat," ucap Tria kepada Kinan.
"Kita tunggu sepuluh menit lagi ya," lanjutnya yang langsung diangguki oleh Kinan.
Sepuluh menit berjalan Hiro belum juga menampakkan dirinya. Hingga menit ke dua belas barulah seseorang yang ditunggunya tiba dengan penampilan tidak seperti biasanya.
"Kak Hiro kau kenapa?" sambut Kinan yang langsung berdiri dari duduknya.
"Enggak apa-apa. Gue siap-siap dulu," ucapnya seraya menuju toilet.
Kinan bertanya-tanya dengan penampilan Hiro yang berantakan. Bahkan wajahnya terlihat sedikit agak lebam. Hal itu membuat Kinan bertanya-tanya, "Ada apa dengan Kak Hiro?"
###
Kira-kira kenapa ya Hiro kaya gitu dan kenapa terlambat? Ya kita tunggu jawabannya di bab selanjutnya
__ADS_1
😊 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar.