
"Cepat makan atau kau ku adukan, jika Chaaya Raveena tidak melakukan tugas yang sebenarnya kepada bos galak itu." Kata Fia dengan nada mengejeknya.
"Silahkan, kau mana berani mengadukan ku dengan bos, kau saja mencium parfumnya sudah seperti di perkosa, menjerit bakal kesetanan." Aya menantang dengan senyum remeh nya.
"Kau ini mulutmu tidak disekolahkan ya frontal sekali." Dengan tangan yang tak lupa menyentil kencang mulut seksi Aya.
"Sakit bodoh."
"Dasar wanita jahanam, berani sekali kau." Aya dengan menggebu-gebu dan tangan yang siap menyakar wajah Fia.
Tapi tak kunjung ia lakukan karena di sana didekat pintu masuk ruangannya ada sesosok menyeramkan sedang membawa kertas panjang yang sengaja digulung membentuk gulungan panjang, dengan gaya menepuk-nepuk kan gulungan panjang itu ditangannya dan tak lupa wajah yang selalu terkesan marah yang menambah aura mencekam ruangan itu.
Melihat target yang juga kebetulan sedang memperhatikannya, wanita dengan rambut yang tak pernah absen disanggul rendah itu mulai berjalan kearah dimana target utamanya sedang menanti seperti akan menyambut bom yang siap kapanpun akan meledak.
Pelan dengan pandangan yang tak pernah putus dari kedua objek ungu saat ini sedang melihatnya.
Seluruh karyawan yang berada di ruangan itu seketika berhenti dengan aktifitas masing-masing dan memfokuskan perhatiannya untuk melihat kejadian apalagi yanga akan terjadi sebentar lagi.
"Ada apa ini heh!." Tanya wanita berambut sanggul itu dengan mata yang melotot menatap kedua pelaku yang saat ini masih saja dalam mode ingin berkelahi.
__ADS_1
"Heh!!." Dengan intonasi yang lebih tinggi.
Dengan cepat kedua orang yang menjadi objek penghuni ruangan itupun langsung memisahkan diri dan berdiri tegak dengan kepala di tundukkan seperti anak yang akan mendapat omel dari si ibu.
"Aya saya menyuruh mu apa kemarin hah!." Tanya wanita bersanggul itu lagi.
"Sebelum kamu menyerahkan berkas kepada Bapak direktur, jangan kamu serahkan terlebih dahulu. Revisi kan berkas ke saya dulu!."
"Jangan merasa paling benar kamu ya!."
"Kamu juga. " menunjuk Fia yang dirinya merasa tak melakukan salah.
Menatap sang pemilik suara yang sampai saat ini masih dominan menguasai ruangan divisi produksi itu.
Niat hati ingin memberikan berkas revisi kepada Aya, tak taunya ia juga harus bertemu dengan salah satu makhluk yang sama spesial dengan Aya, alias Fia karyawan yang sangat pintar bin ajaib itu.
Ia tak mau cepat menua hanya karena makhluk spesial itu. Bu Susi sesegera mungkin mengakhiri perdebatan unfaedah ini.
Mengangkat kedua tangan tanda menyerah, Bu Susi tanpa kata memberikan kertas yang digulung tadi kepada Aya, yang menjadi tujuan awal Bu Susi ada di ruangan divisi produksi.
__ADS_1
Dan tanpa kata ia hanya menunjuk jari telunjuknya didada Aya yang terdapat kertas yang baru saja ia berikan untuk segera di revisi.
🦋
Setelah melewati drama di pagi hari di ruang divisi produksi tadi. Akhirnya Aya memutuskan rehat sejenak dari toxicnya pekerjaan yang ia lalui. Mengakhiri percintaannya dengan komputer kesayangannya untuk sejenak mengisi perut yang bergetar ingin diisi.
Saat ini Aya berada di sebuah cafe dekat kantornya persis di depan gedung kantor perusahaan ia bekerja.
Sebenarnya Fia ingin ikut tapi saat mereka berdua tiba di loby kantor, pas mereka ingin keluar dari lift baru saja pintu lift terbuka dan akan keluar. Fia mencium aroma-aroma bahaya.
Mengintai sekitar layaknya spy di film action. Mata nya langsung tertuju kepada bos besar perusahaan yang menjadi musuh tak kasat mata Fia.
Seperti kesetan tanpa melihat sekitar Fia langsung mengeluarkan jurus lari secepat kilat agar tak terlihat oleh musuh. Sangat dramatis ya memang itu nama tengah dari mereka berdua.
Dan akhirnya Aya duduk sendiri memilih tempat ujung dan berhadapan langsung dengan view kota. Kota Jakarta yang tak pernah sepi, macet nama kedua kota itu.
Termenung, tatapan kosong, berisik didalam. Rutinitas yang tanpa Aya sadari akhir-akhir ini sejak kejadian tak mengenakan dulu.
Dan membuat pribadi baru muncul tanpa dirasa.
__ADS_1
Americano kesukaannya sudah habis di minumnya.
Dan mulai meminum kopi yang barusan ia pesan, ya begitulah Aya sebernya jika sendiri, melamun entah apa yang difikirkan.