
🦋
“Mba Ayaa” Teriak anak laki-laki. Dengan penuh tenaga keluar dari rumah berlari menuju objek yang saat ini dipanggilnya sedang memperhatikan dengan senyum hangatnya terpapar di wajah ayunya.
Dengan kedua tangan kecilnya merentang tanda ingin sebuah pelukan dari wanita yang saat ini duduk berjongkok menyambut pelukan hangat dari anak laki-laki itu.
“Es krim Iyo mana~” tagih nya dengan nada tak sabarnya.
“Cium dulu dong Mba”. Pinta Aya sambil menunjuk kedua sisi pipinya. Dengan senang hati laki-laki yang bernama Iyo itu segera mengabulkan permintaan wanita di depannya.
“Sudah, sekarang es krimnya”. Kata Iyo dengan tak sabarnya.
“Ini Tuan Muda”. Jawab Aya sambil mengusap rambut kepala anak laki-laki yang saat ini terlihat sangat senang karena apa yang diinginkan sudah ada ditangannya.
“Ayah kemana Iyo”. Tanya Aya sambil menggandeng tangan adiknya sambil menuju kedalam rumah, karena hari sudah larut.
Yang ditanya sedang asik memakan es krim pesanannya sampai-sampai pertanyaan kakaknya tidak didengar olehnya.
Karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari adiknya Aya dengan sengaja mengambil es krim di tangan Iyo dan memakannya.
“ish mba!, es krim Iyo~”.
“sinii~, mba enggak ikhlas ya beliin Iyo es krim?”. Tanya Iyo dengan membuntuti kakaknya itu.
Aya dengan tenangnya berjalan menuju kamarnya sambil sesekali menjilat es krim ditangannya.
__ADS_1
Sampai di dalam kamar Aya, pun masih diikuti iyo di belakangnya sambil menarik kemeja belakang yang dipakai Aya. Tapi Aya dengan tenangnya dan tanpa terganggu oleh manusia di belakangnya.
Tak kunjung mendapatkan es krimnya Iyo tiba-tiba bersuara.
  Â
“Ayah lagi keluar mba”. Kata Iyo dengan nada pelannya.
“Kata Ayah ada urusan sebentar di rumah Jaya”. Jelas Iyo mengenai Ayahnya.
Menghembuskan nafas dan melahap habis es krim yang tinggal sesuap itu dan membuang stik es krim kedalam tong sampah di sudut kamarnya.
Menghampiri adeknya yang saat ini hanya diam dengan kepala yang di tundukkan. Mengusap pelan penuh sayang.
“Iyo gak sampai in pesan mba tadi pagi ya?”, Tanya Aya.
Malam sudah larut dan yang ditunggu juga tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Aya ditemani tv untuk memecah keheningan di tengah malam yang seharusnya waktu untuk kita mengistirahatkan tubuh.
Tapi tidak untuk wanita satu ini, Ia sedang menunggu Ayahnya yang dari awal pulang sudah ia nantikan keberadaanya.
Namun sampai sekarang belum juga pulang.
Padahal jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan Ayahnya yang keras kepala itu tidak membawa handphonenya yang tadi Aya lihat dikamar Ayahnya itu.
__ADS_1
Aya juga sudah menghubungi asisten rumah dikediaman pak Jaya. Dan katanya Ayahnya itu akan segera pulang.
Mengingat dari obrolan yang disampikan oleh asisten rumah Pak Jaya kalau majikannya itu akan pulang setelah isya’.
Tapi hari sudah semakin larut dan Ayahnya itu belum juga pulang.
Aya hanya sendiri di ruang tamu, Iyo sudah tidur di kamarnya mengingat anak itu harus sekolah besok pagi.
Sebenarnya Iyo tadi ingin menemani kakaknya itu untuk menembus kesalahan karena Iyo tidak menyampaikan pesan dari kakaknya itu.
Suara deritan pintu membuat Aya yang saat ini setengah tidur terlonjak kaget dengan bunyi suara itu.
Dengan segera bangun dan melihat siapa pelaku yang telah membangunkannya.
“Kok lama?” dengan suara serak tapi ada sedikit nada kasar dari Aya yang saat ini sedang melihat objekÂ
“Ayah dari mana aja sih?”. Tanya Aya lagi karena tak kunjung menerima jawaban dari sang AyahÂ
“Ayah udah gak sayang Aya lagi ya?, sampai Ayah gak mau denger omongan Aya?” Aya lagi-lagi bertanya kepada sang Ayah, kali ini dengan nada yang tidak lagi kasar.Â
Nada yang kali ini lebih terasa lelah bercampur sedih melihat sang Ayah yang jarang mendengar omongannya.
Sang Ayah hanya terdiam sejak kejadian Aya memergoki dirinya yang baru sampai di rumah pada tengah malam.Â
Ia kira anak gadisnya itu sudah tidur di kamarnya, makanya ia baru sampai sekarang.
__ADS_1
Dengan keadaan masih terkejutnya situasi sekarang sang Ayah pun menghampiri putri kesayanganya.
Ingin memeluk anak gadisnya, tapi sang anak justru melangkah mundur tanda tak mau dengan ajakan sang Ayah.