
đź–¤
Hari ini Keane memiliki jadwal untuk mengunjungi salah satu anak perusahaan dari ayahnya di daerah Jakarta.
Hal seperti ini kadang yang membuat Keane membenci sosok Ayahnya itu yang hobi sekali memaksa tanpa omong-omong dan bahkan tanpa persetujuan nya.
Tak satu dua kali Keane harus dan bahkan hampir setiap hari mendatangi acara semacam ini.Â
Entah itu hanya acara minum bersama ataupun rapat dengan staff kantor.
Dengan dalih pendewasaan dan juga membantu bisnis Ayahnya karena terlalu banyak kata Ayahnya.
Dengan penampilan yang sangat berbeda dengan penampilannya sehari-harinya..Â
Keane dengan suit all black dengan dasi terikat pas di leher jenjangnya.
Jam tangan rolex abu melingkar apik di tangan kekarnya pun ikut mendukung tampilanya hari ini.
Tak lupa rambut messy nya yang biasanya tak pernah terpoles dengan krim rambut hari ini berubah rapi dan tertata apiknya.
Sepatu yang biasanya sneaker atau convers kini hilang tergantikan dengan pantofel hitam legam tapi berkilau menambah nilai plus ketampanannya.
Yang biasa sifat slengean dari Ethan turun kepada Keane kini tergantikan dengan penampilan yang lebih dewasa dan berwibawa.
Sikap yang lumayan lama tak ia lakukan karena memang sudah lama tak menghadiri acara seperti ini.
Duduk dengan tenang tanpa perlu repot-repot menyetir karena ada sang sopir yang sekarang melakukan pekerjaanya.
Tak masalah bagi Keane untuk tak menyetir malah ia sangat senang dan mungkin ia akan mencoba bernegosiasi dengan sang Ayah untuk mencarikannya sopir pribadi sebagai ganti karena sudah membuat anaknya itu harus terdampar di acara ini.
Sampai di lokasi tujuannya, Keane turun dari singgasana tanpa perlu repot-repot membuka pintu mobil, sopirnya itu dengan cepat keluar dan membukakan pintu untuk tuan mudanya yang sekarang menjelma sebagai sosok bos besar.
“Makasih Pak Ris”. Ucap Keane kepada supir ayahnya saat turun dari mobil.
__ADS_1
“Sama-sama Den, seperti biasa ya den?”. Ucap sang supir sambil bertanya kepada Keane seusai menutup pintu mobil.
“Yoi”. Jawab Keane sedikit memukul pelan pundak sang supir dengan senyum khasnya dan berlalu masuk ke dalam gedung yang mungkin acara sudah dimulai, karena diluar lumayan sepi dengan tamu-tamu.
Sangat berbeda dengan image asli dari anak bosnya itu, yang biasanya slengean dan suka bercanda itu.
Kini berubah menjadi sang pangeran menurut Keane sendiri sih.
Dalam suasana yang lumayan awkward dan sangat membosankan Keane rasakan kali ini.
Karena ya menurutmu saja, acara yang memang dan seharusnya dihadiri oleh sang AyahÂ
Yang mayoritas dari kalangan berumur dan ada juga yang lanjut usia kini semua berkumpul di acara ini.
Dan hanya segelintir mungkin bisa dihitung jari yang seumuran dengannya, mungkin lebih tua darinya.
“Bocah kemarin sore, udah disini aja?”. Suara dari sosok laki-laki yang dari tadi memandangi Keane.
“Mamanya kemana dek?, sendirian nanti diculik lo~?” Timpal teman laki-laki tadi.
Sebenarnya keane dari awal masuk sudah merasa bahwa ada seseorang yang memperhatikanya dan Keane tahu pasti orang itu.Â
Musuhnya di jalanan. Yang umurnya hanya terpaut 3 tahun lebih tua darinya.
Entah sejak kapan orang ini menaruh dendam kepadanya. Setiap bertemu entah dimanapun itu, orang ini selalu mencari masalah dengannya.
Keane tak tahu pasti penyebab dari masalah orang itu padanya. Tapi yang pasti ini ada kaitannya dengan masalah yang dulu.
Yang ia kira sudah tuntas tapi ternyata ia lupa dengan bekasnya dari masalahnya.
Sebagaimana luka yang meninggalkan bekas.
“Gue gak pengen ada acara tambahan disini”. Keane meminta ketiga orang tadi untuk tidak mencari masalah dengan baku hantam.
__ADS_1
“Mending jangan dulu”. Tambahnya dengan santai sambil minum minuman berwarna putih dengan sekali teguk memberikan efek panas di tenggorokannya.
Tak menghiraukan ketiga orang yang hanya bisa memperhatikannya dari tadi.Â
Keane bangkit dan menuju ke segerombolan tamu yang salah satu diantara tamu itu teman dari sang Ayah.
Sampai di tempat tamu yang tengah asyik dengan permainan uno dan segelas bir di tangan masing-masing tamu tak melihat keberadaan Keane.
“Oh nak Keane?”. Ucap salah satu bapak yang pertama melihat kedatangan Keane dan menjulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Keane tersenyum dan berjabat tangan dengan salah satu rekan kerja Ayahnya juga.
Begitupun tamu yang lain yang tadi tak melihat kedatangannya, memfokuskan perhatiannya kepada Keane.
“Lama kamu tak datang di acara seperti ini nak”. Tanya tamu berjas abu dengan uban yang mewarnai rambutnya pertanda memang sudah berumur.
“Hai Son, How's Your day?”. Tanya salah satu tamu dari teman ayahnya yang terlihat mencolok dari tamu yang lain.
“I'm good, maybe?”. Jawab Keane dan menerima uluran tangan untuk berjabat tangan begitu dengan tamu yang lain juga.
Mungkin sedikit berbincang dengan mereka tidak masalah bukan Keane juga lama tak bertemu dengan rekan kerja Ayahnya sebelum ia pamit untuk pulang.
đź–¤
Keluar dari gedung tempat acara tadi dilakukan, Keane berjalan menuju dimana mobilnya terparkir.
Sebelum sampai di mobilnya tiba-tiba saja ia merasa ada orang yang menyenggol dirinya dari arah belakang tubuhnya.
Melihat siapa gerangan yang menyenggolnya Keane melihat sesosok wanita yang tadi menyenggolnya berlari tanpa meminta maaf pun melihat ke arah Keane pun tidak.
Benar-benar tak sopan pikir Keane dalam hati.
“Sialan tuh mbak-mbak!”. Maki nya sambil melihat wanita tadi.
__ADS_1
Karena terlalu malas Keane hanya bisa menghela dan melanjutkan jalannya yang tertunda karena insiden senggol tak sopan tadi.
đź–¤