Gairah Psikopat Cantik

Gairah Psikopat Cantik
Chapter 10


__ADS_3

Cassie tersenyum manis pada Devon. Lelaki jangkung berkulit putih tersebut rupanya tetap setia menunggu dirinya kembali.


Senyuman yang jarang sekali ia dapat meski pernah berkeluarga. Rasanya sangat bahagia ketika mendapat seorang lelaki yang perhatian padanya. Namun, ia tetap menjaga hati agar tidak terluka untuk kedua kalinya.


"Maaf telah menunggu lama, Tuan Devon."


"Jangan panggil, Tuan. Panggil saja nama Devon."


"Waduh, rasanya kita belum terlalu dekat, jadi sebaiknya memanggil Tuan saja, ya."


Tanpa malu-malu, Devon justru menarik tubuh Cassie hingga membuat ia duduk tepat di pangkuan Devon. Lelaki manis tersebut mendekatkan wajahnya ke arah wajah Cassie.


Deru nafas yang saling beradu membuat Cassie tidak bisa berkutik. Sementara itu Devon menebar pesona yang tersembunyi kepada Cassie.


Penglihatannya seketika buram ketika Devon mencuri ciuman darinya. Otaknya seketika bereaksi. Tanpa malu-malu lagi, Cassie pun membalas ciuman Devon dan menyesapnya dalam waktu cukup lama. Hingga ia tersadar saat ini mereka sedang di restoran.


"Gila, apa yang terjadi tadi? Hadeh, Cassie! Harusnya kamu jaga image!" rutuknya dalam hati.


Pergolakan batin terjadi, jiwa manusia Cassie seolah muncul dan membuat sistem tersingkir untuk sementara waktu.


...[Sepertinya meninggalkan manusia yang sedang kasmaran akan jauh lebih baik. Lagi pula Nona sedang menikmati masa bahagianya]...


...[Dah, lah. Sistem mau jalan-jalan dulu. Sebagai hadiah kebersamaan kalian, waktu di sekeliling kalian akan aku hentikan sementara]...


Bahkan sistem yang tadinya hendak memberikan hadiah, sejenak mengurungkan niatnya dan membuat waktu terhenti untuk area sekitar meja Cassie dan Devon. Memberi waktu untuk keduanya menikmati getaran cinta sebagai manusia biasa.


"Tuan, sepertinya Anda sangat kecanduan dengan ...."


Jari telunjuk Devon seketika menyentuh bibir Cassie. "Cukup kamu yang mengetahui, karena bagaimanapun semua sudah menjadi takdir dan akan mengikat kita berdua selamanya."


Senyuman Cassie merekah dengan malu-malu. Begitu pula dengan Devon yang berbunga-bunga karena baru saja merasakan jatuh cinta di dalam usianya yang menginjak matang.


Bahkan saat ini tanpa malu Devon menggendong Cassie masuk ke dalam mobilnya. Terkejut tentu saja, tetapi Cassie tidak bisa menolak karena tubuhnya yang jauh lebih kecil dari Devon.


Tujuan utamanya kali ini adalah menuju ke sebuah apartemen. Sebuah hadiah besar pun sedang dipersiapkan untuk sang kekasih hati.


Sepanjang perjalanan ke apartemen, tidak ada pembicaraan di antara keduanya hingga membuat Cassie bosan. Akhirnya si pemilik ciuman maut itu mulai bertanya.


"Tuan, kalau boleh tau, mau kemana kita sekarang?" ucap Cassie sambil melihat ke arah Devon.

__ADS_1


"Menurutmu?" Devon hanya melirik dengan ekor matanya. Sambil sesekali mencuri pandang ke arah Cassie.


"Entahlah," ucap Cassie sambil mengedikan bahunya.


Sementara itu Devon kembali fokus pada kemudi dan membiarkan Cassie menerka-nerka. Rasanya saat itu Devon benar-benar gila karena langsung membawa Cassie ke sebuah tempat yang akan dijadikan hadiah buatnya.


Padahal hubungan mereka belum pasti, tetapi dengan penuh percaya diri Devon menyiapkan segalanya. Waktu terus bergulir, hingga membawa kedua insan tersebut ke sebuah hunian yang sangat nyaman dan elit.


Kedua mata Cassie terkagum dengan hunian tang tersaji di depannya. Bagaikan gadis patuh, Devon menarik lembut tangan Cassie agar mengikuti langkahnya.


Rupanya Cassie diajak ke sebuah apartemen mewah. Awalnya ia sama sekali tidak curiga. Sampai dimana ia melihat Ken menyelesaikan beberapa dokumen kepemilikan salah satu unit.


"Oh, mau menemui Ken, rupanya?" gumam Cassie.


Hal yang mencengangkan adalah ketika semua barang maupun salah satu unit apartemen kini telah menjadi miliknya.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya," sapa Ken ramah.


Devon hanya berdehem sementara Cassie mengulas senyum untuk Ken. Asisten Devon tersebut sedikit membungkuk lalu menyerahkan sebuah dokumen kepada Cassie.


Kening Cassie mengeryit, "Apa ini, Ken?"


Devon berbalik lalu menghadap ke Cassie, "Buka dan bacalah!"


Kini bukan Cassie yang aktif melainkan Devon. Setelah Ken pergi, lelaki tampan tersebut mendorong tubuh Cassie hingga mentok dinding. Menatapnya dengan nafas memburu lalu mendekatkan wajahnya ke arah Cassie.


"Tidak ada yang berlebihan. Bukankah kau menginginkan sebuah rumah? Maka tinggallah di sini."


"Ta-tapi---"


Belum sempat Cassie menyelesaikan ucapannya, Devon kembali mencium Cassie. Reflek tangannya mengalung pada leher Devon. Membuat sang pemuja sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Cassie. Hal itu pun membuat ciuman mereka semakin mendalam.


Tepat pukul satu siang, keduanya telah selesai pemanasan. Rupanya Devon telah tunduk pada sosok Cassie. Menciumi bibir gadis tersebut dengan penuh cinta dan lebih dari lima kali.


Kemunculan sistem terkadang membuat Casie terkejut dan hampir saja mengigit lidah Devon. Beruntung lidah Devon memimpin permainan sehingga tampak profesional.


...[Mengumbar kemesraan di depan publik bisa menambah imun]...


Selepas berciuman, tubuh Cassie terkejut karena tangan Devon hampir saja menjamah dirinya. Meskipun sudah beberapa kali ciuman dengan Devon, Cassie tampak menjaga bagian lain dari tubuhnya.

__ADS_1


"Maaf, jika tindakan barusan membuatmu terkejut. Sorry."


"No problem, i see."


Di saat kecanggihan, sehingga sebaiknya salah satu pasangan tersebut pergi. Sehingga tidak terlalu terlihat jika mereka hampir saja melakukan hubungan fatal.


...[Kluntang ... Klunting]...


...[Selamat karena telah menyelesaikan misi dengan sempurna]...


...<>............<>...........<>...


...[Hadiah: 250 pesona Dewi, skill menembak sudah ditambahkan. Sementara itu motor Honda Scoopy warna putih telah berada di area parkir]...


...<>............<>...........<>...


"Untung saja, Cassie diam. Jika tidak maka bisa dipastikan pertemuan kami akan sia-sia," gumam Devon sambil mengusap kembali bekas bibir Cassie yang tertinggal di sudut bibirnya.


"Manis dan memabukkan. Kamu memang wanita spesial Cassie. Semoga saya tidak akan mengecewakan kamu nanti."


Entah mengapa Devon justru berdoa agar ia dan Cassie bisa berhubungan setelah ini. Devon tidak akan pernah rela jika melihat Cassie diperlakukan tidak adil di sana. Maka dari itu setelah mendapatkan semua informasi, ia langsung memberikan sebuah apartemen bergengsi untuknya.


......................


Cassie tampak mengeratkan kedua tangannya hingga terdengar bunyi gemerutuk dari kedua tangannya. Sementara itu terlihat Devon tertidur lelap di atas tempat tidur.


"Huft, akhirnya pengisian daya berhasil dan satu hal lagi, Cassie sudah berhasil menaklukkan Tuan Devon!" ucapnya sambil tersenyum devil.


Tidak lupa Cassie mengucapkan terima kasih kepada dirinya sendiri dan juga sistem. Ia baru merasa sangat puas untuk pertama kalinya.


"Ternyata balas dendam sungguh nikmat. Apalagi ketika melihatnya jatuh terpuruk di dalam jeruji besi!"


Selepas membersihkan diri dan merapikan penampilan, ia bergegas turun ke area parkir. Ia ingin mencoba sepeda motor miliknya yang baru.


"Selama menjadi Cassie yang lugu, tidak pernah ada kesempatan untuk menyentuh sepeda motor. Katanya banyak debu, nanti jadi kotor, bla bla bla ...."


"Akan tetapi, saat ini rasanya puas sekali. Bisa mencoba naik motor dan menjadi sosok yang kejam," ucapnya sambil menyeringai.


"Sekarang saatnya membuat perhitungan kepadamu Andrew. Jika dulu kau selalu menindas dan menyakiti, maka di kehidupan kedua ini, tidak akan menjadi orang lemah yang mudah ditindas lagi."

__ADS_1


"Semua yang kalian rebut, akan dipastikan menjadi milik Cassie Emersyn lagi."


Setelah menyemangati dirinya, Cassie segera melajukan motornya menuju Polrestabes untuk menjenguk musuh bebuyutannya. Siapa lagi kalau bukan Andrew .


__ADS_2