Gairah Psikopat Cantik

Gairah Psikopat Cantik
Chapter 19


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Cassie dan Devon memang selamat, tetapi hal itu membuat keduanya berpikiran lain.


"Jangan-jangan dia hendak mencelakai kamu, tetapi justru mobilnya yang meledak?"


"Mungkin saja, karena ia masih penasaran apakah istrinya itu benar-benar mirip denganku atau tidak?"


Devon mengangguk membenarkan perkataan Cassie barusan. Di luar semuanya Devon merasa beruntung karena Cassie yang mungkin saja adalah target utamanya justru masih selamat. Tidak henti-hentinya ia bersyukur karena hal itu.


"Sudahlah, sebaiknya kita segera pergi meninggalkan lokasi ini."


Cassie mengangguk lalu Devon segera menginjak gas mobil. Hingga akhirnya tanpa membuang waktu lebih banyak, mobil mereka kini sudah sampai di apartemen Cassie.


"Bagaimana, apakah ada yang masih kau khawatirkan?"


Cassie menggeleng, lalu menoleh ke arah Devon. "Tidak ada, sebaiknya kita segera masuk!"


"Baiklah jika itu yang kamu mau." Devon segera keluar dari mobil dan membuka pintu untuk Cassie.

__ADS_1


Dengan tersenyum Cassie segera meraih uluran tangan dari Devon. Melangkah dengan tegas seiring ukiran senyum yang terlukis di wajahnya. Devon memang menyukai Cassie, entah mengapa perilaku aneh Cassie sama sekali tidak pernah dipermasalahkan, yang terpenting pujaan hatinya tetap bisa tersenyum.


Devon masih ingat betul dengan segala informasi yang berasal dari asistennya. Tentu saja hal itu berkaitan dengan latar belakang Cassie.


"Ini data yang Tuan inginkan."


"Apakah kemiripannya 100%?"


"Tentu saja, Tuan."


"Nama : Cassie Emersyn. Tidak ada riwayat buruk yang tercatat di media sosial. Seorang wanita pebisnis no 1 di Indonesia. Pernah menikah dengan Tuan Andrew, tetapi entah mengapa ia dikabarkan meninggal secara misterius dan diketemukan di halaman sebuah hotel dengan bersimbah darah."


Devon masih memandang Cassie dengan sejuta pertanyaan. "Apakah benar, kamu adalah Cassie yang sama? Pernah menjadi suami dari partner kerjaku sendiri?"


Cassie yang merasa diperhatikan segera menoleh ke ayah Devon. "Kamu kenapa? Tenanglah, semuanya sudah membaik. Bolehkah beristirahat di kamar?"


"Oh, tentu. Silakan saja."

__ADS_1


"Terima kasih, " ucap Cassie dengan segera lalu melangkah cepat ke arah pintu kamarnya.


Di dalam kamar, wajah yang semula terlihat baik-baik saja kini berubah sendu. Ada hal yang tidak bisa ia kendalikan di dalam hati dan pikirannya. Air matanya menetes membayangkan mantan suaminya terbakar di dalam mobil tersebut.


Salah satu tangannya mengusap perut yang rata tersebut. "Dulu, kamu pernah ada di dalam sini, tetapi sekarang kamu sudah pergi."


"Jika saja, mereka tidak bersikap seperti binatang, mungkin pernikahan kami bisa bahagia hingga akhir."


Tangannya mengepal menahan gejolak di dalam sana. Ada rasa cinta yang tertinggal, tetapi rasa ingin balas dendamnya jauh mendominasi.


Di sisi lain, Devon melihat kembali data diri Cassie di dalam kamarnya. Matanya menerawang jauh ke depan. Membayangkan segala kemungkinan terburuk karena perubahan sikap Cassie ketika mengetahui kabar Andrew saat kecelakaan terjadi.


"Apa dia benar-benar Cassie mantan istri Andrew yang dikabarkan meninggal itu? Jika bukan, kenapa sorot matanya menyimpan dendam dan cinta dalam waktu yang bersamaan."


Semua data dirinya sama persis dengan data yang diperoleh. Namun, jika itu yang terjadi maka dengan sangat terpaksa ia pun akan membantu Cassie membalas dendam. Baginya lelaki brengsek harus menerima hukuman setimpal atas apa yang telah dilakukan olehnya.


"Maaf, sepertinya kau memang pantas mendapatkan hukuman atas apa yang telah terjadi!" ucapnya dengan kedua tangan yang mengepal.

__ADS_1


__ADS_2