Gairah Psikopat Cantik

Gairah Psikopat Cantik
Chapter 7


__ADS_3

"Nggak tahu lagi, Bu. Kamu pikirkan saja semuanya sendiri. Seharusnya kamu bisa menyelesaikan masalah ini sendiri."


Tuan Hendra mendudukkan diri di sofa. Ia tampak begitu lelah menghadapi semua permasalahan yang dibuat oleh putranya sendiri. Sejujurnya, ia masih sayang pada menantunya Cassie, tetapi Tuhan justru mengambilnya lebih dahulu.


"Kok kamu bilang begitu, Pak?"


"Bu, aku sudah lelah dengan sikap anak kita yang selalu bergonta-ganti wanita dan sekarang setelah Cassie meninggal pun, ia sama sekali tidak menghormati mantan istrinya tersebut dan justru tergila-gila pada sosok artis yang baru naik daun ini!" ucapnya sambil mengarahkan jari telunjuk tepat ke arah Brigita.


Brigita yang mendengar hal itu tentu saja tidak suka. Apalagi pandangan Tuan Hendra terhadapnya sudah tidak mengenakkan. Terlihat sekali jika beliau justru masih sayang pada mantan menantunya, yaitu Cassie.


"Tunggu dulu, kenapa seolah Om membenci saya? Bukankah kita belum saling mengenal sebelumnya?"


Tentu saja Tuan Hendra marah, "Dasar perempuan bisanya cuman buat repot para lelaki! Seharusnya kamu paham jika saat ini kamu mendekati Andrew hanya karena hartanya."


"Ingat! Kamu tidak akan mendapatkan harta sepeserpun dari mendiang istrinya. Perlu kamu ketahui jika saat ini Andrew sedang mendekam di penjara!"


"Apa! Nggak mungkin, Om!"


Kedua mata Brigita tampak membola. Ia sama sekali tidak menginginkan hal ini terjadi. Semua rencana indah yang sudah dibangun bersama Andrew seketika hancur berantakan.


Tangannya terlihat mengepal, urat syarafnya terlihat menonjol. Brigita benar-benar tidak tahu diri. Sebagai pelakor ia sama sekali tidak mempunyai hak untuk terus menyalahkan Cassie. Jika bukan karena ia yang bermain api lebih dulu, tentu api itu tidak akan membakarnya kemudian.


Mama Eva tidak berani bicara lagi. Kenyataan yang baru saja ia dapat benar-benar membuat harga dirinya jatuh sebagai seorang ibu. Gagal karena telah mendidik Andrew dengan cara yang salah dan justru membuatnya masuk ke dalam jurang pesakitan.


Sejujurnya beliau turut andil dalam masalah ini. Apalagi Mama Eva sering menuntut Cassie dan Andrew untuk segera memberikan momongan. Mungkin itu yang menjadi dasar perselingkuhan, karena Cassie tidak pernah mengatakan jika ia sebenarnya sudah hamil dan tidak mandul seperti tuduhan Mama Eva.


Andai saja waktu bisa diulang, mungkin Mama Eva akan lebih menjodohkan Brigita dibandingkan Cassie. Nasi sudah menjadi bubur, ia bahkan kehilangan calon kedua cucunya dalam sekali waktu.


......................


...Kantor Devon...


Asisten Devon, Ken sedang memasuki ruangan CEO Bumi Angkasa. Dia tampak terburu-buru dalam melangkah karena Devon meminta untuk segera menemuinya.


"Maaf, saya terlambat lima menit," ucap Ken sambil menundukkan wajahnya.


Devon tampak memutar kursi kebesarannya lalu menatap Ken dengan tajam.

__ADS_1


"Aku ingin kau menyelidiki siapa gadis ini!" ucapnya sambil menyodorkan sebuah foto pada asistennya tersebut.


Dengan cepat Ken meraih foto yang diberikan atasannya.


"Berikan laporanmu hari ini juga! Waktumu hanya 24 jam saja!"


"Baik, Tuan. Tugas ini akan saya selesaikan cepat waktu."


Bergegas Ken segera menuju meja kerjanya setelah berpamitan. Rasanya angin segar memenuhi seluruh rongga dadanya setelah ia berhasil keluar dari ruangan Devon.


Namun, ekpresinya seketika berubah bahagia karena atasannya sudah hidup normal lagi.


"Nyonya, bersyukurlah karena putra Anda sudah menemukan calon jodohnya," batin Ken bahagia sambil menatap foto Cassie.


......................


Di sisi lain, kedua orang tua Andrew sudah kembali ke rumahnya. Beban pikiran Tuan Hendra bertambah karena Andrew masih dimintai keterangan di kantor polisi.


Mama Eva tampak melepas jaket yang dipakai suaminya, "Pa, kenapa Papa berkata begitu pada Brigita tadi?"


Tuan Hendra tampak menghela nafasnya, "Kamu tidak takut jika keluarga besan pada akhirnya akan mengambil semua fasilitas yang telah diberikan oleh Cassie sebelum meninggal?"


"Bodoh! Berpikir dengan logis, Bu! Mana mungkin ia baru saja berhubungan. Dokter saja mengatakan jika kehamilan Brigita berusia sepuluh minggu sementara Cassie baru satu Minggu yang lalu meninggal!"


Mama Eva tampak syok saat menyadari itu. Rupanya kepalanya sudah oleh sejak ia kehilangan Cassie.


Tiba-tiba saja kedua orang tua Andrew tersebut terkejut melihat ada wanita cantik duduk sambil menyilangkan kakinya di sofa ruang tamu.


"Ca-Cassie! Mana mungkin itu kamu!" ucap Mama Eva dengan suara berat dan bergetar.


Begitu pula dengan Tuan Hendra yang menatap Cassie dengan rasa tidak percaya pada penglihatannya.


"Syukurlah, Nak jika kamu masih hidup," ucapnya spontan.


Cassie tersenyum menyeringai. Lalu ia pun mulai bangkit dan berjalan mengelilingi dua orang mantan mertuanya.


"Hai mertua, tetapi saya bukan Cassie. Lebih tepatnya hantu dari wanita malang yang kehilangan calon anak dan hidupnya karena telah dibohongi!"

__ADS_1


Deg! Detak jantung Mama Eva berdetak sangat kencang. Raut wajahnya seputih kertas sama dengan ekspresi Andrew ketika pertama kali melihat Cassie berdiri di hadapannya setelah seminggu yang lalu dimakamkan.


"Ma-maksud kamu?"


"Anda, adalah ibu mertua yang selalu saja menuntut menantu untuk hidup sempurna, tetapi tidak becus mendidik putranya agar tetap menghormati ikatan pernikahan."


"Jika Anda tahu, itu sangat menyakitkan. Beruntung Tuhan masih berbaik hati pada saya untuk menitipkan kehidupan lain di sini!"


"Ja-jadi dulu kamu sedang hamil?"


"Ya, satu hal yang perlu Anda ingat! Dia tidak bisa terlahir karena ibunya sudah meninggal dengan tragis dari ketinggian lantai dua puluh! Sakit hatinya belum mengering, ia kehilangan cinta dan juga kehidupannya dalam waktu kurang dari satu jam! Begitu miris, bukan?"


...[Selamat Nona. Mencaci maki ibu mertua kejam membuat Nona mendapatkan 100 poin kebaikan]...


Kata-kata yang terlontar dari bibir Cassie benar-benar menusuk tajam ke arah kedua mertuanya tersebut. Ia benar-benar menumpahkan semua kekecewaan yang disimpannya rapat-rapat.


"Maafkan, Mama Nak Cassie. Mama benar-benar tidak yakin jika Andrew selingkuh dengan Brigita."


"Kalian pikir aku bodoh! Memangnya apa yang kalian bicarakan tadi aku tidak mendengarnya?"


"Harusnya hari itu Andrew tahu kabar bahagia itu. Akan tetapi kejutan yang kalian berikan justru membuat Cassie terbunuh!"


"Apakah kalian puas setelah berhasil menyingkirkan menantu malang itu?"


Bagaimana pun sakit hatinya tidak bisa dengan mudah terhapus. Cassie hampir menangis, tetapi sistem menahannya.


...[Peringatan sistem! Jangan berlarut-larut dalam bersedih. Hal itu bisa menurunkan daya dengan cepat jika tidak segera mendapatkan asupan gizi ]...


"Cukup, Nak. Maafkan Mama, Papa dan Andrew."


Cassie berbalik dan menatap kedua mertuanya secara bergantian. "Maaf, mintalah maaf pada nisan menantumu yang malang itu!"


Dengan cepat Cassie menghapus jejak air matanya lalu seketika menghilang dari rumah tersebut tanpa pamit. Seketika tubuh Mama Eva luruh. Suaminya yang tidak tega memapahnya hingga sofa.


"Kenapa hantu Cassie bisa muncul di sini, Pak?"


"Kenapa dia menuntut semua kejadian tidak terduga itu pada kita?"

__ADS_1


"Wajar jika dia meminta keadilan. Wanita mana yang rela jika suaminya berselingkuh. Belum lagi harus kehilangan nyawa diri dan juga calon anaknya."


__ADS_2