
"Terima kasih karena sudah menemani Cassie dalam membalas dendam, tetap dukung selalu Novel ini, ya," Cassie Emersyn.
"Sistem akan membalas setiap tindakan buruk yang pernah kalian lakukan pada Nona di kehidupan sebelumnya! Kemanapun kalian bersembunyi sistem akan tetap menemukannya!"
......................
Cassie mengulum senyumnya ke arah Tuan Devon. Dengan lembut ia memegang tangan lelaki tampan tersebut.
"Tuan, jangan pergi dulu, ok. Ada sedikit masalah yang harus diselesaikan saat ini."
"Oke, cepat kembali."
Bagaikan tersengat aliran listrik, untuk sekali lagi tubuh Devon tidak bisa menolak permintaan Cassie. Pandangan matanya pun tidak bisa lepas dari bibir Cassie yang tipis dan berwarna merah muda yang selalu menggodanya itu.
Entah mengapa bayangan ketika mereka berciuman selalu membayangi setiap langkah Devon. Membuatnya menggila karena terlalu banyak berhalusinasi.
Dengan bantuan sistem di kepalanya, Cassie memesan satu menu dessert dan diserahkan ke meja No. 28. Namun, di dalamnya ia sudah mencampur sebuah bubuk ajaib.
Tanpa ragu Cassie melangkah ke arah meja Mini dan Miko untuk sekedar menyapa. Tentu saja keduanya terkejut, terutama Miko yang lamgsung tersedak.
"Sayang, kamu nggak apa-apa?"
Miko menggeleng lalu meraih segelas air putih untuk menenangkan rasa tidak nyaman di lehernya.
"Cassie? Benarkah itu, kamu?"
"Bukankah kamu sudah mati?"
Cassie tentu saja mengulas senyum terbaiknya. Lalu menyapa mereka.
"Memang, terus apakah setelah mati tidak boleh lapar?"
"Memangnya ada hantu yang kelaparan?"
"Ada, buktinya seperti yang berada di hadapan kalian saat ini. Oh, ya apa kabar? Bolehkah bergabung di meja kalian?"
Mama EvaMama Eva
"Te-tentu saja boleh," ucap Miko sambil menatap Cassie, tetapi Mini yang cemburu segera menginjak kaki Miko.
"Sakit, Sayang!" cicitnya.
Tidak lama kemudian pelayan datang dan membawakan menu dessert.
"Maaf menganggu obrolan Tuan dan Nona, kebetulan meja kalian terpilih acak mendapatkan hadiah tambahan."
__ADS_1
"Te-terima kasih!"
"Silakan dinikmati," ucap pelayan itu sambil pergi.
Mini dan Miko saling memandang satu sama lain. Seketika keringat dingin membasahi dahi dan tangan.
"Jangan takut, aku nggak gigit, kok!"
"Sudah pergi sana, kedatangan kamu hanya merusak selera makan!"
"Ya, sudah jika kalian tidak menyukai kehadiranku, papayo ...."
Akan tetapi Cassie hanya berniat memastikan apakah mereka bahagia menerima kejutan darinya dan sekaligus menyapa lalu permisi pergi.
Setelah Cassie pergi, dengan cepat kedua manusia sampah itu segera melahap menu dessert yang harganya sangat fantastis. Mereka benar-benar mengira semuanya gratis. Tidak perlu menunggu waktu lebih lama, obat ajaib itu segera bereaksi dan membuat sensasi aneh di perut keduanya.
Terdengar bunyi kentut yang bersahutan. Tentu saja aksi keduanya membuat pengunjung lain tidak nyaman. Belum lagi bau gasnya begitu menyengat dan membuat para pengunjung di sebelah meja Mini menutup hidungnya.
"Say, kenapa perut ini sakit sekali?"
"Ya, dah ke toilet aja, sana!"
"Titip tas dan dompet ya, Say!"
"Oke, Sayang."
Mini tampak memegangi perutnya lalu segera berlari ke toilet. Baru juga lima detik, Miko pun merasakan hal yang sama. Akhirnya keduanya berlomba-lomba keluar masuk bilik toilet.
Raut wajah mereka yang semula penuh kesombongan kini seketika berubah sangat pucat. Dari kejauhan Cassie tersenyum, lalu terdengar derap langkah petugas kebersihan.
"Baru juga mau berulah, karma sudah lebih dulu datang!" ucapnya penuh seringai.
Sorot mata Mini menangkap bayangan Cassie. Amarahnya tentu meluap, apalagi saat ia datang entah keberuntungan darimana meja mereka mendapatkan hadiah dessert yang membuat sepasang kekasih itu harus bolak-balik masuk toilet.
"Hei, Cassie! Kau pasti dalang di balik semua kejadian yang menimpa kami, ya!"
"Enak saja kau menuduh! Niatnya tadi hanya ingin menggunakan toilet, kenapa kau melimpahkan kesalahan pada orang lain?"
"Nggak percaya!"
Sialnya lagi jam yang mereka gunakan adalah jam bersih-bersih toilet. Sehingga lantai yang digunakan mereka saat keluar terakhir kali justru masih basah. Apalagi petugas kebersihan baru saja menuang cairan pembersih ke seluruh lantai.
Baru saja petugas itu akan mengepel terdengar suara dentuman yang sangat besar dan menggelegar. Tubuh Mini terpeleset hingga ia jatuh tersungkur hingga wajahnya tertimpa cairan pembersih lantai.
Bagaimana tidak, kakinya mendorong ember itu hingga mentok di dinding dan tiba-tiba saja terlempar ke atas, lalu jatuh tepat mengenai wajah Mini.
"Aargghhhh!" pekiknya kesal.
__ADS_1
Sudah tubuhnya basah kuyup, pergolakan di perutnya juga belum usai. Di tambah lagi badan yang terasa sakit akibat terpeleset. Wajar jika Mini berteriak.
Miko yang baru selesai menuntaskan hasratnya segera berlari keluar karena mendengar suara teriakan Mini. Burung kenari miliknya bahkan belum tertutup resleting dengan sempurna, hingga terlihat mengintip dari celah celana.
"Ka-kamu kenapa, Sayang?" teriaknya panik lalu bergegas mendekati kekasihnya itu.
Mini yang melihat ujung burung kekasihnya mengintip segera meraih tubuh Miko. Dikarenakan Miko kurang bisa menjaga keseimbangan, ia pun jatuh tepat di samping Mini.
Lalu tangan Mini pun segera meraih resleting celana Miko agar tertutup sempurna. Niat hati ingin membantu, eh ternyata justru ulah Mini membuat burung kenari Miko terjepit bagian ujungnya. Apalagi Mini menariknya dengan kencang.
"Aduh! Burungku!" teriak Miko sambil meringis.
Bukan hanya menangis, rupanya Mini justru memarahi Miko karena teledor. Akhirnya Mini memaki Miko dan hal itu membuat Cassie cukup puas dengan aksinya.
Mbak-mbak petugas kebersihan yang masih berada di sana ikut tertawa. Bahkan ia sangat terhibur dengan aksi kocak kedua pasangan aneh itu.
"Awas aja kamu, Cassie!"
Dengan tertatih keduanya pun memilih pergi dari pintu darurat di belakang restoran. Tatapan tajam sedang mengawasi pergerakan mereka.
"Tunggu! Mau pergi kemana kalian!"
Sontak keduanya menoleh. Kini tampaklah Manager restoran segera datang ke sumber kegaduhan. Tanpa mereka sadari, manager restoran itu sudah cukup lama mengawasi Mini dan Miko.
"Sudah cukup kalian membuat kegaduhan di sini! Sudah makan dessert pesanan khusus secara gratis! Meninggalkan tagihan di meja, lalu kabur ke sini! Apa kalian ingin mangkir dari pembayaran?"
"Ka-kami sudah bayar tagihannya setelah makanan tiba!" elak Mini.
"Iya, tetapi itu baru setengahnya, dan setengahnya belum dibayar!"
Dengan lantang manager restoran segera membacakan nominal seluruh pembayaran sekaligus ganti rugi karena telah membuat perangkat bersih-bersih rusak parah di dalam toilet.
"Nggak mungkin, kami hanya memesan makanan sesuai isi kantong kami! Jadi nggak mungkin habisnya segitu."
"Kalau nggak mampu bayar, jangan jadi sok kaya dengan memesan makanan mahal!"
"Serius, kami nggak berbuat seperti itu, Nyonya!" ucap Miko membantu kekasihnya.
"Security! Cepat seret tubuh mereka ke arah pencucian piring. Biarkan mereka membayar dengan dengan tenaga mereka. Cepat antar mereka, sekarang!"
"Ba-baik, Nona."
"Tolong jangan tarik-tarik! Kami bisa pergi sendiri!"
Merasa jika pembalasan awal baru saja dimulai, Cassie semakin bersemangat untuk balas dendam.
"Ini baru permulaan, Sayang. Nikmati saja yang berada di hadapan kalian!
__ADS_1
Cassie segera berbalik menuju meja Devon.
"Misi selesai, sistem! Cepat transfer hadiahku!"