
"Rupanya energi di Tuan Devon sangat banyak, pantas saja sistem menyuruhku untuk menaklukkan hatinya," gumam Cassie sambil melihat punggung Devon meninggalkannya.
...[Bagaimana, apakah Nona merasa bahagia karena cara yang dipilih sistem tidak pernah merugikan siapapun]...
"Merugikan sih, enggak! Hanya saja membuatku harus memutus urat malu. Kamu tau sendiri jika aku pemalu!"
...[Pemalu? Pecinta ciuman laki-laki berumur, begitukah]...
Ucapan sistem membuat kedua mata Cassie melotot. Bisa-bisanya sistem membuat lelucon di saat ia sedang konsentrasi berpikir.
"Astaga, sistem! Sepertinya kamu sedang BUG!"
[Oh, tentu tidak! Sistem tidak pernah mengalami BUG. Kalau Nona sedang galau, lebih baik segera keluar cari angin]
"Hm, makasih sistem bengek!"
Saat ini, Cassie memang tidak menuntut Devon untuk menunggunya lagi. Apalagi ia sudah menunda rapat selama dua jam hanya demi menemani Cassie di dalam kamarnya.
"Ya, Tuhan! Aku masih berada di dalam kamar Devon!" pekiknya sambil terbangun tiba-tiba.
Tanpa menunggu waktu lama lagi Cassie segera bangun dan meninggalkan kamar tersebut sesaat setelah Devon turun ke ruang makan.
Dengan cepat Cassie menuju ke dalam kamarnya. Pengisian daya tadi belum maksimal, sehingga ia wajib mengistirahatkan kembali tubuhnya agar tidak terlihat sakit.
Lagi pula pengisian daya belum juga sempurna. Sayang, ia belum bisa menaklukkan hati Devon. Sehingga tidak bisa setiap saat menciumnya.
"Seharusnya pengisian daya sudah optimal, kenapa tenagaku belum terisi full?"
...[Apa Nona tidak ingat jika harus berciuman selama lima menit selama lima kali dalam sehari, itu baru dikatakan pengisian daya full]...
"Ya, Tuhan, kenapa kau tidak bilang dari tadi?"
...[Nona tanya kenapa? Bukankah Nona tidak terlalu memperhatikan sistem ketika menjelaskan sebuah misi]...
"Baiklah, seharusnya semua penjelasan darimu dicatat, supaya tidak lupa. Begitu kan maksudmu?"
...[Benar, syukurlah jika tingkat kecerdasan yang diberikan sistem berguna untuk Nona]...
Sesampainya di kamar, Cassie masih memikirkan bagaimana cara ia bisa mendekati Devon. Apalagi sistem tidak memberikan kisi-kisi sebelumnya. Sehingga hal itu memaksanya untuk berpikiran lebih.
__ADS_1
"Haruskah bertanya pada sistem tentang caranya?"
"Akh, sebaiknya jangan. Nanti kalau tanya sama dia dipotong pajak!"
......................
Suasana di ruang makan terasa sepi karena Cassie tidak berada di tempat tersebut. Sejenak teringat akan keadaannya, Devon pun menyuruh Mbok Sarinah untuk mengantarkan sarapan kepada Cassie yang tidur di kamarnya.
"Mbok, tolong antarkan sarapan ini untuk Nona Cassie yang tidur di kamarku!"
"Ha-ah! Di kamar Tuan Besar? Sejak kapan Nona Cassie berada satu kamar dengan Anda!"
Sontak saja Devon menepuk keningnya.
"Maaf, Mbok. Ma-aksudku tolong antarkan makanan ini ke kamar Cassie. Dia sedang tidak enak badan, makanya tidak bisa ikut sarapan bersama kita."
"Oh, kirain."
Mulut Mbok Sarinah membentuk huruf O dalam beberapa saat, lalu dengan segera ia mengantarkan sarapan untuk tamu istimewa di rumah tersebut. Sebenarnya bukan hanya Mbok Sarinah yang terkejut akan ucapan Devon barusan, tetapi Brian juga.
Akan tetapi ia lebih banyak bungkam karena tidak ingin terlalu banyak mengganggu pamannya yang super sibuk itu. Bagi Brian semakin sedikit ia berinteraksi dengan Cassie akan lebih menguntungkan baginya.
"Spada! Permisi, Non. Ini sarapan paginya!" teriak Mbok Sarinah dari depan kamar.
Cassie yang semula masih terlihat mondar-mandir segera berlari ke tempat tidur dan merebahkan dirinya. Tidak lupa ia menutupi selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya.
"Masuk aja, Mbok. Pintu nggak dikunci," ucap Cassie.
Mbok Sarinah tersenyum dan menatap penuh kasih sayang terhadap gadis tersebut. Ia juga turut bahagia ketika akhirnya rumah Devon terasa berwarna ketika Cassie mulai hadir di rumah tersebut.
"Kata Tuan Devon, Nona sedang sakit. Sebenarnya sakit apa?"
Cassie yang tidak enak pun segera duduk sambil bersandar pada dashboard ranjangnya. Lalu menatap Mbok Sarinah.
"Bukan! Sepertinya aku tidak terlalu cocok tinggal di ruangan ber-ac. Buktinya badanku sudah tidak enak, Mbok."
"Ya ampun! Gitu aja kok repot to, Non. Dimatiin 'kan bisa toh ac-nya."
"Ya maaf, Mbok. Saya kan nggak tahu. Maklum saya cuman orang udik, Mbok. Jadi tidak terlalu paham dengan hal-hal seperti itu."
__ADS_1
Saat ini wajah Cassie sudah tidak terlalu pucat seperti tadi. Namun, Mbok Sarinah mesti memastikan keadaan tamunya tersebut karena ia juga diberikan mandat untuk melaporkan setiap jam keadaan Cassie pada Devon.
"Ya, sudah. Kalau tidak butuh bantuan, Mbok mau kembali ke dapur. Nanti kalau ada apa-apa Nona bisa menelpon atau memanggil Mbok dari sini."
"Terima kasih banyak, Mbok"
......................
...Rumah Sakit Ibu dan Anak Setia Medika...
Setelah 20 jam mendapatkan pertolongan dengan cepat, kini Brigita sudah siuman. Ia pun terkejut karena melihat dinding putih yang terlihat di hadapannya. Belum lagi bau obat-obatan yang menyeruak di dalam indra penciumannya.
Reflek tangannya langsung meraba ke arah perut, lalu air matanya mengalir deras dari sana. Ia bisa memastikan jika saat ini sudah kehilangan anaknya.
"Semua ini gara-gara kamu! Andai saja bisa memastikan kamu meninggal, sudah pasti hal ini tidak akan terjadi."
Namun, sepertinya Brigita hanya bermimpi, karena sesungguhnya Cassie memang belum meninggal. Sehingga pantas saja ia melakukan balas dendam saat ini.
Selama ini Andrew hanya menumpang hidup kepada istrinya. Jika sampai ia terbukti berselingkuh, tentu saja keluarga besarnya tidak akan tinggal diam.
Lamunan Brigita terhenti ketika ia melihat banyak orang yang memberitakan dirinya kecelakaan. Apalagi saat ini posisi Brigita adalah artis pendatang baru yang sedang naik daun. Pantas saja banyak paparazzi yang memburu beritanya.
Senyumnya tersungging, karena hal ini keburukan keluarga Cassie pun terbongkar. Sehingga ia bisa dengan mudah membalikan fakta. Jika keluarga Cassie yang menyuruh seseorang untuk melukai dirinya.
Padahal ia belum mempunyai kedekatan dengan Andrew, tetapi semua itu justru menyudutkan keluarga Cassie yang membiarkan seorang lelaki sampah justru membuat nama baiknya tercoreng.
"Sudah seharusnya berita ini muncul. Dengan begitu setidaknya Andrew akan mudah ditaklukkan."
"Jika saja kamera di sana bisa merekam bagaimana kejadian kemarin, bisa dipastikan jika dia akan mendekam di penjara!" ucapnya penuh seringnya jahat.
Tidak lama kemudian ternyata Mama Eva dan suaminya datang. Mereka langsung memasuki kamar rawat Brigita dan memastikan keadaan putri sahabatnya itu baik-baik saja.
"Hallo, Sayang. Apakah kamu masih mengingat Tante?"
Brigita tersenyum, tentu saja ia ingat, karena kedua orang tua di hadapannya ini adalah calon mertuanya kelak. Seketika ia pun langsung memasang wajah sendu agar memikat hati calon mertua.
"Tentu ingat, tapi maaf Tante, karena calon cucumu sudah pergi sebelum ia lahir, " ucapnya sambil tergugu.
Kaki Mama Eva mundur spontan. Ia tidak menyangka jika gadis baik-baik tersebut memang berhubungan dengan putranya. Bahkan kemarin ia sempat mengandung calon cucunya.
__ADS_1
Mama Eva menatap suaminya dengan penuh tanya, "Bagaimana ini, Pak. Padahal kamu tahu sendiri jika kuburan Cassie masih basah dan ternyata Andrew justru berhubungan dengan gadis ini dan baru saja ia kehilangan calon anaknya."