
Suara nyaring yang ditimbulkan oleh kedua tangan Andrew membuat beberapa taman satu selnya berjingkat. Namun, ada salah seorang napi yang justru bergerak maju untuk mencengkeram leher Andrew karena telah mengusik tidurnya yang lelap.
"Hei, kamu orang baru sudah banyak berkilah, bosan hidupkah, kau!"
"A-ampun, Bang. Tidak ada maksud untuk menyinggung. Maafkan kejadian barusan ya, Bang."
"Enak saja minta maaf! Nih, buat napi yang sok ganteng dan berani memerintah kami!"
Sebuah bogem mentah kini telah berhasil mendarat dengan sempurna pada wajah Andrew. Ketampanan yang dulu ia banggakan kini sirna sudah.
Nyeri, tentu saja. Akan tetapi hal itu pantas ia dapatkan karena telah berani mengusik kehidupan Cassie yang awalnya baik-baik saja hingga kini harus menjalani reinkarnasi untuk menjadi sosok wanita cantik berhati psikopat.
Sebuah senyuman terukir indah di dalam wajah Cassie. Melihat bagaimana Andrew menjadi bulan-bulanan dari salah satu napi di sana membuatnya paham jika ia harus menggunakan taktik yang cantik.
"Sepertinya menjadikanmu bahan mainan di dalam sana tidak akan cukup membuat efek jera di dalam hatimu. Okey, kalau begitu bersiaplah untuk menerima karma dari Tuhan!"
Cassie bangkit dari tempat duduknya dan hendak berjalan ke arah dapur. Akan tetapi ia mencium bau yang sangat familiar dan membuat hasratnya bangkit.
Seolah mendapatkan angin segar, tubuh yang letih membawa Cassie mendekati kamar Brian. Sayang, baru beberapa langkah ia sudah terlihat oleh Devon.
"Sayang, ternyata kamu di sini?"
__ADS_1
Sontak Cassie menoleh dan menatap manja ke arah Devon.
"Kamu sudah pulang? Sorry, karena takut sendirian di apartemen, akhirnya datang kemari, deh."
Devon mengulas senyumnya. Lalu berjalan mendekati Cassie. Tangannya segera meraih tubuh Cassie dan membawanya ke dalam kamar.
Kedua tangan Cassie mengalung indah di leher Devon, seolah tau jika asupan energinya tersebut sedang bersemangat.
"Sepertinya asupan malam ini begitu lezat. Apakah ia akan berhasil membuat sistem kembali bangkit?" ucapnya menyeringai sambil memainkan tangannya di leher Devon.
Bukannya kegelian, Devon justru menikmati sentuhan tangan dari Cassie. Terus mengulas senyum dan tanpa sadar kini Devon menindih tubuh Cassie.
"Sayang, bolehkah meminta sesuatu darimu?"
"Kita hanya boleh tidur satu ranjang, tetapi tidak boleh melakukan hal yang lebih dari sekedar berpelukan ataupun berciuman."
Devon tersenyum dengan sangat manis lalu mengangguk. "Ucapanmu adalah perintah. Sebagai calon suami yang baik, melakukan semua keinginan istri adalah prioritas."
Kenalin ya pada readers, ini asupan energi utama Cassie ketika daya sistem melemah. Namanya Devon AbimanyuğŸ¤
__ADS_1
......................
Keesokan harinya.
Begitu ia menyadari jika semua yang telah dilakukan olehnya sia-sia membuat Andrew begitu terpukul. Belum lagi kabar jika saat ini Brigita pun mengalami nasib yang sama dengan dirinya.
"Kenapa semua ini terjadi begitu cepat?" ucapnya tampak tidak terima.
Bagaimana pun saat ini Andrew tidak memiliki apapun lagi. Di tambah lagi Andrew seringkali membuat semuanya bertambah runyam, seketika Mama Eva membuat langkah kaki Andrew semakin salah.
"Ma-mama? Kenapa datang kemari?"
"Harusnya kamu sadar! Semua ini terjadi gara-gara kamu gegabah! Sudah dibilang jaga istrimu baik-baik dan tidak usah berulah tapi kamu nggak dengerin kata-kata Mama!"
"Ma, dengar penjelasan dariku, dulu!"
Mama Eva menghempas tangan Andrew, lalu meninggalkannya begitu saja. Andrew semakin frustasi begitu pula dengan Brigita.
Wajah frustasi begitu terlihat nyata saat ini. Bagaimanapun kisah mereka akan menjadikan mereka merasakan namanya karma di balas instan.
Terbiasa menggantungkan hidup pada mendiang istrinya membuat Andrew benar-bnear menjadi manusia tidak berguna. Buktinya saat ini ia justru menangis darah karena ternyata tuntutan yang diberikan Cassie tidak main-main.
__ADS_1
"Sialan, sudah mati masih membuatku sengsara! Atau jangan-jangan dia tidak mati."
Kini pikiran Andrew berkelana, mencoba mencari celah apakah istrinya itu benar-benar mati atau tidak. Kira-kira Cassie pernah meninggal atau enggak, sih?